
Sky melajukan mobil dengan sedikit kencang membuat Aku mulai berpikir ada sesuatu yang serius yang terjadi.
Sementara Aku melihat Andra juga mengikuti dari belakang dengan menggunakan motornya. Sky masih diam bahkan Ia terlihat lebih berkonsentrasi pada stirnya.
Aku membiarkan Ia seperti itu dan akhirnya ikut diam dan menunggu ke arah mana Ia membawaku pergi.
15 menit kemudian, mobil sudah dilajukan perlahan lalu membelok ke arah jalan tanah. Sedikit bingung karena tempat ini tak pernah Aku lewati.
Semakin ke dalam, ternyata ada sebuah rumah. Seperti rumah sih walau kelihatan kecil dan terbuat dari kayu.
Oh, ternyata seperti sebuah penginapan di pinggiran pantai. Eh, penginapan? ngapain?
Sky memberhentikan mobilnya bukan di rumah itu tapi lebih ke sebuah tempat yang tersembunyi. Ada apa gerangan? Kulihat, Andra juga sudah memakirkan motornya lalu segera berjalan menuju mobil Sky, mengetuk kaca mobil dan Sky lalu membuka pintu belakang dan Andra masuk duduk di dalam.
"Astaga Aku bingung dengan Kalian berdua. Kenapa tadi Andra tidak ikut saja dengan mobil? lalu, kenapa Kita disini? Mau apa?" tanyaku beruntun setelah Andra masuk.
Andra hanya mengangkat bahu. Aku menoleh ke arah Sky dan Sky sama sekali tak menunjukkan reaksi ingin menjawab pertanyaanku. Ia hanya fokus melihat pada rumah itu.
Ada apa sih dengan rumah itu? mau belikah? mau menunjukkan padaku kah? atau..... pertanyaan pertanyaan muncul di kepalaku namun Kutahu akan sia-sia jika Aku bertanya. Sky sangat fokus sekali.
Semenit, 2 menit tak ada apa-apa yang terjadi. Bahkan, rumah itu terlihat lengang tak berpenghuni. Juga pantai didepan terlihat kosong.
5 menit berlalu tanpa ada kejadian yang berarti. Aku sudah jenuh dengan keadaan ini. Aku bahkan menoleh ke belakang, ingin sekedar berbicara dengan Andra, namun sikap Andra masih juga seperti tadi.
6,7,8 menit berlalu. Aku seperti menghitung setiap menit yang berjalan. Seperti menanyakan apa gerangan yang sedang Kita tunggu.
"Ada apa sih? Sky tolong jelaskan!" Aku sudah hilang kesabaran.
Sky hanya menegok melihatku sebentar, namun segera kembali mengamati rumah itu.
Aku yang kesal dengan Sky dan Andra, akhirnya nekat membuka pintu mobil lalu membanting dengan cukup keras.
Aku berjalan ke depan mobil menuju ke arah rumah tersebut. Sky dan Andra yang melihat Aku langsung bereaksi turun dari mobil dan mengikutiku.
Sky mencoba mempercepat langkah untuk menghentikan Aku, tapi Aku justru setengah berlari menuju ke sana, memastikan apa yang ada disana.
__ADS_1
Dan........
Aku tiba di depan rumah itu dan seketika Aku seperti patung yang berdiri tak bergerak.
Ada sesuatu di depanku yang nyata dan membuat Aku sungguh bahkan tak sanggup berkata-kata. Bahkan, untuk hanya sekedar menelan salivaku saja terasa sulit.
Pemandangan di depanku sungguh seperti sebuah batu yang menghujam keras hatiku.
Sky yang telah sampai dekatku pun hanya bisa berdiri menatap tanpa sepatah kata yang keluar.
Andra yang terengah-engah sampaipun sama seperti Aku. Diam dan terpana.
Sungguh pemandangan luar biasa yang ada di depan Kami bertiga.
Didepan sana, tampak Jody bertelanjang dada dengan celana pendek sedang duduk di depan rumah tersebut memangku seorang wanita yang hanya mengenakan bikini. Bikini? ya bikini.
Kedua tangan Jody yang tengah memeluk wanita itu sementara dagu Jody diletakkan di bahu wanita itu sambil keduanya menikmati pantai.
Mereka berdua bahkan tak menyadari kedatangan Kami bertiga karena posisi Mereka yang sedikit menyamping.
Aku yang mencoba mengatur napas dan hatiku, lalu mulai menggerakkan kakiku perlahan selangkah demi selangkah menuju Jody.
Napasku seolah memburu namun Aku berusaha untuk tetap tenang dan terus berjalan menuju ke tempat Jody.
Yang menoleh pertama adalah wanita itu. Lalu Ia menoleh ke arah Jody. Jody yang melihat wanita mulai menunjuk ke arahku lantas menoleh ke arahku.
Dan, Jody terkejut dengan kedatanganku dengan cara Ia langsung melepaskan pelukannya ke wanita itu, sedikit menolak agar Jody bisa bangkit berdiri.
Aku terus melangkah mendekati Jody lantas berdiri di depannya. Rasa panik luar biasa ditunjukkan oleh Sikap Jody. Ia berdiri tak tenang dan seakan lidahnya kelu bahkan hanya untuk berkata Hai kepadaKu.
Aku sudah berdiri di hadapan Jody. Aku diam. Membiarkan Jody yang membuka mulut dan menjelaskan semuanya.
Namun sia-sia. Jody hanya berdiri menatapku dengan pandangan yang sulit Aku artikan. Lalu wanita itu?
Ia berdiri di antara Aku dan Jody. Ia melihat ke arahku, lalu melihat ke arah Jody.
__ADS_1
"Beb, siapa Dia?" wanita dengan suara sexinya menanyakan perihal Aku kepada Jody.
"Mm..Aku tak mengenalnya! Ayo Kita pergi saja dari sini!" sudah melingkarkan tangannya ke pinggang si wanita lalu dengan serta merta berlalu dari hadapanku tanpa peduli padaku.
Aku menggigit kuat bibirku mencoba untuk tidak mengeluarkan sepatah kata ataupun air mata. Namun, hatiku serasa hancur lebur. Berantakan.
Aku, yang walaupun tak mendengar penjelasan Jody sangat sadar dengan apa yang dikeluarkan dari bibir Jody.
Aku tidak mengenalnya!! Kalimat itu terngiang terus di telingaku dan menandakan arti diriku buat Jody. Tak sadar, bibirku bergetar dan sebulir air mata akhirnya luruh.
Sky dan Andra yang menyaksikan hal itu, hanya berdiri tetap disana. Entah apa yang mereka pikirkan Aku tak tahu. Namun, Aku juga tak tahu apa lagi yang bisa Aku lakukan lagi.
Aku, setelah Jody menghilang dari pandanganku bersama wanita itu, tiba-tiba saja merasa lemas yang menyebabkan Aku jatuh terduduk.
Sky dan Andra yang melihat itu, segera lari mendekatiku. Aku sudah menangis. Sky lantas memapahku untuk berdiri, namun Aku seakan tak punya kekuatan bahkan untuk berdiri.
Sky yang tahu akan hal itu, secara mengejutkan mengangkatku dan menggendongku. Aku bahkan tak sanggup menolak. Aku menangis dalam pelukan Sky.
Sky membawaku ke mobilnya sementara Andra mengikuti dari samping dan segera membuka pintu mobil dan kemudian Sky mendudukanku di dalam mobil.
Andra pun setelah Aku duduk dalam mobil, segera menuju ke motornya, dan mulai melajukan motornya.
Sementara Sky yang sudah menutup pintu mobilku segera berlari kecil menuju pintu sebelah, membuka pintu lantas sudah menyalakan mobil dan juga mulai melajukannya.
Aku diam sepanjang jalan. Bahkan tangisankupun tanpa suara. Namun, airmata tak henti mengalir dari kedua mataku.
Sky membiarkan Aku seperti itu dan melajukan kendaraannya dengan sangat perlahan seolah memberi ruang untukku berpikir dan mengeluarkan semua yang ada dalam hati.
"Sky...." kataku lirih.
"Ya Ke.." jawabnya perlahan.
"Jangan bawa Aku pulang dulu." jawabku dan Sky mengangguk seolah tahu apa yang harus Ia lakukan.
Maka, Sky membawaku ke sebuah taman yang tidak terlalu ramai, memilih agak di pinggir dan hanya memarkirkan mobil disana tanpa keluar dari mobil.
__ADS_1
Aku dan Sky duduk di dalam mobil itu tanpa suara.
***