Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Tidak Betah


__ADS_3

Sekarang, rumahku bahkan serasa lebih panas dari neraka. Aku bahkan sangat ingin untuk tidak pulang ke rumah. Perbuatan yang dilakukan Paman kepadaku selalu melintas di bayanganku dan itu membuatku enggan untuk di rumah.


"Ke..." Mama memanggilku ketika hati ini Mama pulang lebih awal dari biasanya.


"Iya,ma.." jawabku lantas duduk di sampingnya.


"Ada kegiatan di sekolahkah, Ke? kok akhir-akhir ini Mama perhatikan Kamu selalu pulang sore atau malam."


"Eh, iya Ma. Keke ikut beberapa ekskul Ma, jadi Keke sibuk." sedikit berbohong demi kebaikan menurutku.


" Ya sudah, gapapa juga. Sebenarnya, Mama juga senang kamu banyak kegiatan. Biar ada kesibukan juga sih." sambil membelai lembut rambutku.


Aku lantas membaringkan tubuhku dan kepala bertumpu di atas kaki Mama.


Ma,maaf Meiske gak jujur sama Mama. Meiske gak mau Mama jadi kepikiran. Lagian, kita juga hanya berdua disini..


Mama masih terus membelai rambutku dan Akupun menikmati setiap sentuhan yang Ia berikan kepadaku. Dengan intensitas pekerjaan Mama yang begitu padat, kesempatan seperti ini memang langka menurutku. Jadi, takkan kubiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.


***


Hari ini guru sekolah mengadakan rapat setelah ujian semester dan sebentar lagi liburan sekolah tiba.


Aku bingung dengan keadaan ini. Entah apa yang harus Aku lakukan disaat liburan. Tak mungkin hanya dirumah saja.


"Hei..Melamun." Jody mengagetkanku. Aku tersenyum menatapnya yang kemudian sudah duduk di sampingku.


"Mikir apa sih? kok serius sekali samoai-sampai Aku yang berdiri di depan gak diliat."


"Gak kok. Aku hanya berpikir,mau liburan kemana." jawabku.


"Maaf liburan ini Aku gak bisa sama-sama Kamu. Aku disuruh Ibuku untuk ke tempat Ayah tiriku sekalian berkenalan dengan saudara tiriku. Kamu tau kan Ke, Aku sama sekali belum pernah bertemu saudaraku."


" Iya,gak papa kok." Aku mencoba tersenyum namun dalam pikiranku masih mengembara ke tempat mana yang ingin kutuju.


"Tuh kan. Melamun lagi."


"Eh, maaf." menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Jody lantas berdiri,memegang tanganku.


"Ayo." sedikit menarik ku untuk berdiri.


"Kemana?" tanyaku yang sudah beranjak berdiri.


"Jalan. Udah lama Kita gak jalan berdua." sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aku memukul lengannya. Jody menggenggam erat tanganku dan Kita berjalan bersama.


***


"Kerumahmu dulu, ya..Biar kamu ganti pakaian seragam dulu." Aku mengangguk mengiyakan dan Jody sudah melajukan mobilnya menuju rumah ku.


Sampai disana, Kulihat Paman sedang duduk di depan rumah. Aku segera turun, melangkah masuk ke dalam sementara Jody mengikutiku dari belakang.


"Siang Paman." sapa Jody sopan kepada Paman. Yang disahuti membalas dengan senyuman singkat.


"Duduk disini Nak Jody. Paman mau kedalam dulu."


"Oh iya, silahkan Paman." jawab Jody.


Paman lantas berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Aku menuju ke kamarku,menutup pintu dan lantas duduk di pinggir tempat tidur hendak mengganti pakaianku.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Paman!


Aku sontak berdiri mengambil selimut, menutup tubuhku lantas bergeser mundur. Aku menelan salivaku dengan napas yang mulai tak beraturan.


Namun, Ia hanya berdiri, menatapku seperti sedang mengincar makanan, tersenyum licik, lalu kembali menutup pintu.


Aku menarik napas dalam-dalam, menutup mataku, namun secepat kilat menuju pintu dan menguncinya.


"Sial! Aku lupa menguncinya tadi!"


Sebenarnya, Aku hendak menuju ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan tubuhku. Namun, Aku membatalkan niatku.


Aku membuka pintu perlahan, ku tengok keluar. Sepi.. Aku melangkah perlahan, menoleh kesana kemari. Oh, ternyata Paman sedang duduk diluar bersama Jody.


Aku secepat kilat masuk ke kamar mandi, hanya membasuh mukaku saja dan lantas secepat kilat pula keluar dari kamar mandi dan masuk kembali ke kamarku, tak lupa mengunci pintu kamar, mengganti pakaianku, lalu keluar.


Aku melangkah keluar. Paman masih disana dan Jody.


"Udah siap?" tanya Jody yang membuat Paman menoleh ke arahku. Aku mengangguk membalas perkataan Jody.


"Paman, Aku dan Meiske keluar sebentar." kata Jody dengan sopan.


" Iya..Hati-hati dijalan ya Nak. Ingat, jaga anak Paman baik-baik,ya. Jangan pulang kemalaman."


"Iya paman,pasti. " lalu Jody sudah berdiri dan melangkah.


Aku melewati Paman dengan menundukkan kepala karena Aku tak mau melihat wajahnya. Tapi, malah Paman meletakkan tangannya di bahuku yang membuat Aku sedikit terkejut.


"Jaga diri kamu baik-baik!" lalu menepuk bahuku.


Aku mempercepat langkahku tanpa Kurespon perkataannya dan secepat kilat masuk ke dalam mobil Jody.


Jody sudah melajukan mobilnya namun pikiranku masih mengembara mengingat peristiwa tadi.


"Astaga, apa sih yang Kamu pikir sampai terkejut seperti itu." Jody menatapku sambil jari tangannya sudah menggenggam jari tanganku.


"Eh, gak ada apa-apa."


"Hmm...apakah ada rahasia lagi yang tak mau Kau bahas,Ke?" tanya Jody. semakin kuat genggaman tangannya.


"Ga ada Jo." Aku mencoba menenangkan diriku.


"Hmm...Ya sudahlah.." dan Kita berdua diam.


Mobil Jody sudah terparkir di bibir pantai. Aku bergegas turun. Aahh,, Jody memang tahu kemana tempat yang bisa membuatku nyaman.


Aku memilih duduk di bangku yang menghadap langsung ke pantai, sementara Jody masih sibuk mencari tempat makan.


5 menit kemudian terdengar teriakan nya. Aku menoleh, Jody hanya melambaikan tangannya menyuruh Aku untuk segera kesana.


Aku melangkah ke arahnya. Disitu ada sebuah rumah kecil dengan kursi yang menghadap ke pantai.


"Duduklah. Mau makan apa,Ke?" tanya Jody ketika Aku sampai.


"Apa aj,Jo.." jawabku yang lantas Aku sudah duduk di kursi.


Ku lirik, Jody sudah memesan makanan dan Iapun duduk di sebelahku.


"Gimana.Nyaman?" tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum kecil.


Jody berdiri menuju ke arahku, lantas berjongkok di depanku.


"Semoga Kamu menyukainya. Dan, apa yang kamu pikirkan bisa secepatnya hilang."

__ADS_1


"Eh, kenapa?"


"Karena, Aku gak suka melihatmu melamun."


"Aku gak melamun."


" Oh ya? lantas apa?"


"Aku hanya berpikir."


" Berpikir apa?"


"Berpikir tentang liburan ini."


" Kenapa?"


" Aku ingin pergi ke tempat kakak, tapi kasian Mama nanti sendirian dirumah."


"Kalau gitu, dirumah saja bantuin Mama."


"Gak!" tekanan kalimat terakhir membuat Jody sedikit tersentak.


"Hmm..kenapa? ada hal yang Kamu sembunyikan lagi,Ke?"


"Eh, Aku..mmm..ga ada,Jo." gelagapan Aku menjawabnya.


"Ke! lihat Aku!" Aku lantas mengangkat wajah menatapnya. Namun, dengan bibir yang sudah kugigit.


"Katakan, ada apa?" tanya Jody lembut sambil menggenggam jemari tanganku.


Aku menggeleng dengan bibir yang tetap kugigit.


"Haiisss..." Jody lantas berdiri, mambalikkan tubuh membelakangiku lantas berjalan menjauh.


"Eh..." Aku kebingungan. Dalam kebingungan, Aku hanya menatapnya berjalan semakin menjauh.


Seketika tersadar, Aku bangkit berdiri, dengan langkah cepat mengikutinya lalu memeluk Jody dari belakang. Ia berhenti.


"Ke, Aku siapa?" tanyanya. Bingung apa yang harus kujawab.


Jody membalikkan tubuhnya,memegang kedua bahuku.


"Kamu anggap Aku apa,Ke?" tanyanya lagi.


Aku diam. Pikiranku kacau. Aku menggigit kuat bibirku.


"Apa arti aku di matamu?" tanya Jody lagi.


"Kenapa setiap Kamu ada masalah, bukan Aku yang Kau cari? haruskah Aku tahu dari orang lain lagi kah, Ke?" Aku menggeleng.


"Kalau begitu, beritahu Aku."


"Beritahu apa?"


"Semuanya yang Aku tak tahu." Aku menutup mataku,menelan salivaku.Masih diam.


"Apakah Aku tak berarti bagimu,Ke?" dan Aku masih diam mematung.


"Haaiisss.." Jody melepaskan pegangannya di bahuku lantas kembali melangkah.


Eh, bagaimana ini. Aku harus bagaimana...


--------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2