
Ahh Andra terimakasih sudah menjadi bagian dari hidupku.
Namun, Aku juga harus menjaga perasaannya Jody. Aku gak mau Ia salah mengira.
Andra sudah pamit pulang, tapi dengan syarat kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk memanggilnya.
Aku masuk ke kamarku, menjatuhkan tubuhku ke atas tempat peristirahatanku.
Kuambil boneka winnie tadi. Kudekap dalam pelukanku. Teringat kembali kata-kata Sky. Aku berutang menemaninya sebulan.
Gila! kalau Andra atau Jody tahu akan hal ini bakalan rumit ceritanya.
Tapi, apakah Sky benar-benar mau berubah?
Kejadian beberapa waktu lalu memang menyisakan trauma di diriku, namun apakah jika Ia memang berubah apakah Aku harus menutup kesempatan?
Aahh,baikkah keputusanku?
Pemikiran yang berat membuatku terlelap dengan boneka yang tetap dalam dekapanku.
***
Aku terkejut bangun saat kudengar suara dari luat. Astaga, hari sudah pagi dan Aku melewatkan malkan malam.
"Ke.." terdengar suara Mama dari luar.
Aku bangun, membuka pintu kamar."Iya Ma.."
"Astaga,Ke.Mama pikir Kamu sakit. Kamu melewatkan makan malam.Kecapean ya kamu?" tanya Mama sambil mengelus lembut rambutku.
"Hehehe iya Ma.Keke ketiduran sampai lupa makan."
"Ya sudah, sekarang sarapan dulu. Mama berangkat dulu ya."
"Iya Ma.." jawabku lantas berjalan ke kamar mandi.
***
Aku membantu Bibi hari ini dengan membereskan dapur dan halaman depan.
Aku menghindari membersihkan ruangan dalam karena pemikiranku masih dengan kejadian dengan Paman tempo hari.
Selesai membersihkan halaman, Aku duduk sekedar melepas lelah di depan rumah.
"Makasih ya Ke sudah membantu Bibi hari ini." tiba-tiba saja Bibi sudah muncul dari dalam rumah dan juga sudah duduk disebelahku.
"Iya Bi,gak papa kok. Keke juga biasa melakukan pekerjaan ini."
Dan, kamipun berbincang-bincang.
***
Selesai makan siang, Aku kembali masuk ke dalam kamarku.
Mengambil boneka winnie dan mendekapnya. Aahhh,, apa yang Aku pikirkan.
Aku kembali mengingat kejadian di Mal dan di taman kemarin.
Hmmmm,kira-kira cara apa yang harus Aku gunakan untuk membalas Sky?
Aku berpikir, berpikir, dan berpikir.
Aaahhhaaaa, Aku menemukan ide.
Aku segera bangun dari tempat tidurku, menuju lemari pakaian dan segera berganti pakaian.
"Bii..."
"Iya Ke ada apa?"
"Keke pamit sebentar mau nyari barang Keke dulu ya Bi."
"Iya,Ke. Hati-hati yaa...Jangan pulang kemalaman."
"Iya,Bi."
Aku segera menuju ke Mal kemarin. Menuju ke tempat boneka winnie kemarin.
Setelah Aku tahu harga boneka itu, Akupun segera melangkah keluar.
Tapi, bagaimana menemukan Sky...
pikirku dalam hati. Tapi, ya sudahlah pasti Aku bisa bertemu Dia sebelum habis liburan.
Lagian, Sky kan seperti hantu yang tiba- tiba bisa muncul.
Aku segera melangkah pulang kembali ke rumah.
Aku memilih berjalan kaki, menikmati waktuku dan memilih membuang waktuku dengan hal ini.
__ADS_1
Yah, daripada di rumah dan Aku juga suntuk entah apa yang bisa Aku lakukan.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depanku. Dan, yang keluar dari dalam mobil itu adalah...
Jody!
"kenapa melihat Aku seperti melihat hantu,Ke?" tanya Jody.
"Lho, bukannya kamu...." tak menghabiskan kalimatku.
Jody tersenyum sepertinya Ia tahu apa pemikiranku.
"Iya, Aku balik sehari. Besok kembali lagi."
Ckckckck, beginilah orang yang punya uang. Kemana-mana terserah mereka.
rutukku dalam hati..
"Napa,Ke?" Jody melihat tatapan yang aneh dariku.
"Eh, gak kok." sambil melebarkan senyuman.
"Hahaha, ada-ada saja Ke.Yuk, Aku antar kamu pulang."
Dan Jody membawaku pulang ke rumah.
"Jo..."
"Iya.."
"Kenapa kok besok harus kembali lagi?"
"Kenapa, gak mau yaa Aku balik."
"Bukan gitu. Bingung saja."
" Sama, Aku juga bingung. Tapi, katanya Aku harua mwnjemput saudara tiriku dulu karena Ia masih disini."
"Kenapa Saudara tirimu tidak pergi sendiri?"
"Karena katanya Ia tidak mau. Sedangkan, Mama tiriku sangat ingin Aku mengenalnya. Kamu tau Ke, Padahal saudara tiriku satu sekolah denganku. Dan, Aku sama sekali tak tahu tentang hal itu."
"Satu sekolah?" tanyaku lagi dan dijawab Jody dengan anggukan.
"Lucu bukan? Aku bahkan tak mengenali saudara tiriku sendiri."
Jody punya saudara tiri? satu sekolah? Aku juga penasaran.
"Katanya Ia tingga di sebuah apartemen. Mama sudah memberikan alamat padaku."
"mmmm....."
"Kenapa Ke?"
"mmmm...kalau boleh yaa..."
"Iya, ada apa."
"Aku juga ingin berkenalan dengan saudara tirimu itu. Boleh kan?"
Ada senyuman di wajah Jody.
"Bolehlah.Bahkan, Aku senang kalau Ke mau berkenalan. Biar tau juga ya."
"Iya." aku mengangguk.
Dan akhirnya,Kita melaju menuju alamat yang diberikan Mama tiri Jody.
Dan,sampailah Kita di sebuah apartemen termahal di kota ini.
Aku berdecak kagum dengan keindahan plus kemewahan apartemen ini.
"Wow..." hanya itu yang keluar dari bibirku.
Jody memegang tanganku, menautkan jarinya dengan jariku sambil berjalan masuk ke dalamnya
Dengan malu Aku mengikutinya.
Kita berada di lantai 33 tempat dimana saudara tiri Jody tinggal.
"Wow...." lagi-lagi hanya itu yang keluar dari bibirku.
Sungguh kemewahan yang hakiki.
Dan, tibalah di depan pintu apartemen tersebut.
Jody melihat bel yang ada disitu dan segera memencet tombol itu.
Sekali, dua kali, tiga kali, namun tidak ada sahutan dari dalam apartemen itu.
__ADS_1
Lagi Jody memencet bel. Masih hening dan sunyi.
"Jo..."
"Ya..."
"Kamu gak punya nomor teleponnya?"
"Aahhhh....kenapa Aku melupakan hal itu?" segera Jody mengambil handphonenya dan mulai menelepon.
"Mam....." dan Jody terlibat pembicaraan dengan Maminya.
"Baik Mi." ucap Jody sambil mematikan teleponnya.
"Kata Mami, Mamipun tak memiliki nomornya Ray."
"Ray?"
"Ya. Mami memanggilnya dengan nama itu."
"Ow.." dan segera berpikir siapa anak di sekolah yang namanya Ray.
"Trus bagaimana?" tanyaku lagi.
"Hmmm.....Aahhhh bodohnya Aku." rutuk Jody.
"Kenapa?" tanyaku bingung.
"Kan ada penjaga apartemen ini kan. Pasti taulah siapa Ray."
"Oh ya. Ide bagus!"
Dan, Aku dan Jody kembali turun ke lantai bawah.
Sesampainya di lobi, Aku dan Jody langsung bertanya.
"Jo.."
"Ya Ke ada apa?"
"Aku ke toilet sebentar ya.."
"Oh ya sudah biar Aku yang bertanya."
"Iya,Jo."
Aku yang sudah kebelet dengan setengah berlari menuju toilet dan membiarkan Jody mencari gahu sendiri.
Selesai dari toilet, Aku segera melangkah menuju tempat Jody tadi sambil merapikan baju dan celanaku.
Bruukkkk.....
Tanpa sadar Aku menabrak seseorang.
"Maaf..maaf.." kataku.
Aku mengangkat wajahku hendak melihat siapa yang Aku tabrak. Dan....
"Sky!" sedikit menjerit karena kaget.
"Astaga Ke. Kamu kangen ya nabrak Aku? dimana-mana Kita bertemu selalu seperti ini." jawabnya sambil tersenyum.
"Maaf...eh, ngapain disini?" tanyaku lagi.
"Rumahku!" jawabnya singkat.
"Rumah? eh?" kaget Aku.
"Kenapa? oh, ngapain Kamu disini? hmmmm...mencariku kah? atau, mau membayar hutangmu?" sambil terlihat senyuman seperti menang lotre.
"Ihh, gak kok. Aku lagi mencari orang." jawabku.
"Siapa?" kali ini dengan wajah serius.
"Saudara tirinya Jody. Siapa tadi namanya. Oh, Ray. Kamu kenal gak? katanya Dia tinggal di lantai 33." jelasku panjang lebar.
"Gak tau!" jawab Sky dan langsung berlalu dari hadapanku.
"Eh..." aku ingin mengejar Sky tapi..
"Ke..." Jody memanggilku.
Astaga, aku melupakan kalau Jody belum tahu tentang kedekatanku dengan Sky.Aahh, untung Dia tidak melihatku dengan sky tadi..
Aku tersadar kalau Aku sedang bersama Jody.
"Bertemu siapa?" tanyanya lagi.
"Eh, gak kok..Tadi Aku hampir nabrak orang."
__ADS_1
"Makanya lain kali hati-hati Ke.." sudah labgsung menggenggam tanganku.
Huuffttt, hampir saja.....