
Selesai makan malam bersama si Bapak, Kamipun melanjutkan perjalanan.
Sekitar setengah jam Kita sampai di sekolah Aku.
"Pak, rumah Aku masih agak jauhan dari sekolah ini. Gapapa kan?" tanyaku pada si Bapak.
"Ooh, gapapa neng. Asalkan neng sampai rumah dengan selamat Bapak juga senang." jawab si Bapak sambil tersenyum.
Aahhh, memang benar terkadang kebaikan itu selalu datang tanpa diduga di saat yang paling sulit. gumanku dalam hati.
Aku tersenyum lega ketika sudah sampai depan rumah.
"Pak, tunggu ya Aku ambil dompet di dalam rumah Aku dulu." jawabku sambil sudah membuka pintu taksi itu.
"Neng, ga usah." jawab si Bapak.
"Eh, ga Pak. Paling tidak uang untuk mengisi BBM Bapak. Jauh lho Pak." jawabku ngotot.
Terlihat senyum di wajah Bapak. Aahhh, senyuman seorang Bapak kepada anak perempuannya.
Aku berlari kecil ke dalam, namun sesaat Aku berhenti, sedikit berpikir dan lalu berjalan kembali ke taksi si Bapak.
"Pak, turun dulu. Bapak istirahat sebentar. Aku bikinin minum buat Bapak." ujarku sambil sudah membuka pintu buat si Bapak.
"Gak usah repot-repot Neng." jawab si Bapak.
"Gak repot kok Pak. Ayo.." sudah memegang lengan si Bapak.
Si Bapak tersenyum dan segera turun dan mengikutiku sampai depan rumah.
Aku mempersilahkan si Bapak duduk di kursi depan sementara Aku masuk ke dalam membuat minuman dan sekaligus mengambil uang untuk si Bapak.
"Ke, kenapa pulang malam begini? tadi kan sama Jody? kok pakai taksi?" kata Bibi ketika melihat Aku pulang sendirian.
"Eh,Bibi. Maaf Keke pulang telat. Ada sedikit masalah tadi Bi makanya Aku pulang pakai taksi." jawabku.
"Eh, tadi temen Kamu si Indra? eh siapa ya?" kata Bibi.
"Andra?" jawabku.
"Iya Andra. Tadi nyari Kamu katanya penting."
"Oh, ya Bi. Sebentar kalau penting pasti Andra bakal balik lagi."
"Bi, Keke mau bikin minum dulu buat Bapak itu. Kasihan Dia nganterin Keke sampai kesini."
"Iya,Ke." dan Bibi pun sudah masuk ke kamarnya.
***
Sementara Jody dan Sky yang masih kebingungan disana.
Kembali Jody mengambil handphonenya dan mulai menelepon.
"Ndra, bisa kembali ke rumah Meiske? Please!" setengah memaksa.
Terdengar jawaban singkat dari Andra dan Jody pun mematikan handphonenya.
__ADS_1
"Apa Ke tahu tentang hal ini?" Jody membuka percakapan dengan Sky.
Sky mengangguk namun matanya tak lepas dari kemudi mobil.
"Huuuhhhh..Pantas!" Jody membuang napas berat.
"Kapan Kamu tahu tentang ini?" lagi Jody bertanya.
"Sejak Mamaku menikah lagi Aku tahu tentang dirimu!" tetap tak bergeming.
"Lantas, apa Kamu tahu kedekatan Aku dengan Meiske?" sedikit meninggikan suara.
Terlihat, Sky menoleh dengan tatapan yang marah.
"Ya, Aku tahu! tapi Aku lebih dulu mencintai Meiake daripada Kamu!" sedikit penekanan si kalimat terakhir.
"Mencintai dengan cara seperti itu?" semakin menunjukkan rasa apatis dalam penekanan ucapannya.
"Jangan pernah menghakimi Aku dengan kalimat seperti itu!" sudah sedikit menggeram dengan tangan sudah meremas kuat kemudi mobilnya.
"Menghakimi? siapa yang menghakimi? dengan membuat Meiske menderita? itukah cintamu padanya? dengan membuat Dia trauma? itukah?"
Terlihat Sky sudah menggeram. Terdengar gemerutuk giginya yang bertemu dengan kepalan tangan yang semakin kuat mencengkeram kemudi mobil.
"Aku mencintai dengan caraku sendiri!" jawab Sky setelah beberapa saat mengendalikan amarahnya.
" Hmmm...Caramu? wow, menakjubkan!" diiringi tepuk tangan dari Jody.
Sky menoleh ke arah Jody dengan tatapan nanar seperti hendak memakannya.
Sky melepaskan pegangan di kemudi mobilnya, lalu mengarahkan kedua tangannya ke arah kemeja Jody.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku. Jadi, jangan pernah menghakimiku! Lagipula, Meiske sudah memaafkan perbuatanku!" sedikit menaikkan ujung alisnya.
Jody sedikit terhenyak dengan ucapan Sky. Meiske sudah memaafkan? sejak kapan? apa Mereka bertemu? pertanyaan sudah memenuhi kepala Jody.
Tiba-tiba....
Krriiinggggggg......
Bunyi handphone Jody. Sky melepaskan kerah kemeja Jody kasar dan berfokus pada handphone Jody.
Jody mengambil handphonenya dan menerimanya.
"Ndra, bagaimana?" tanya Jody.
Jawaban dari Andra membuat Jody sedikit tersenyum lega, dan reaksi yang ditunjukkan Jody membuat Sky segera menyalakan kembali mesin mobilnya lalu segera melaju.
Sampai di apartemen Sky secara tiba-tiba, Sky menghentikan mobilnya.
Jody menoleh ke arah Sky.
"Pakai mobilmu sendiri." singkat ucapan Sky dan akhirnya Jody keluar dari mobil itu.
Tak menunggu lama lagi. Setelah Jody keluar, tanpa menunggu Jody ke mobilnya, Sky sudah mendahului Jody.
Setengah berlari Jody menuju ke mbilnya, membuka pintu mobil dan secara cepat Ia sudah menjalankan mobilnya ke rumah Meiske.
__ADS_1
***
Meiske sudah membawa nampan berisi minuman dan sedikit snack.
"Pak, ini minumannya." sudah menaruh di atas meja.
"Neng gak usah repot." kata si Bapak.
"Bapak juga daritadi repot sama Meiske. Oh iya, nama Aku Meiske Pak."
" Panji. nama Bapak Panji." jawab si Bapak dengan tersenyum dan sudah mengambil minuman yang disuguhkan.
Setelah meminum minuman itu, si Bapak hendak berdiri untuk segera pamit.
"Pak." kataku sambil sudah mengulurkan tangan memberikan si Bapak uang.
"Neng, ga usah!" tolak si Bapak dengan memegang tanganku dan sedikit mendorong.
"Jangan Pak. Jauh lho dari sana." kataku lagi.
Si Bapak tersenyum lagi.
"Bapak ikhlas kok! anggap saja Bapak sedang mengantar putri Bapak pulang." jawaban dari si Bapak membuat Aku sungguh terharu.
"Baiklah Pak. Tapi, ambillah sedikit untuk bensin Bapak. Kan, nganterin anaknya butuh bensin juga kan." jawabku sambil tersenyum.
Si Bapak akhirnya mengambil uang itu, lalu membagi 2 uang tersebut dan setengahnya Ia kembalikan padaku.
"Cukup segini Nak." sudah memanggil Aku dengan sebutan anak.
"Terima kasih Pak!" hanya itu yang bisa kujawab.
"Untuk anak Bapak, kata terimakasih saja sudah buat Bapak bahagia." kata si Bapak lagi.
Oh Tuhan, sungguh keajaiban luar biasa yang kudapat hari ini. Mendapat seseorang yang baru kenal namun dengan kebaikan luar biasa. Sosok kebapaan yang sungguh membuat aku meneteskan air mata.
Aku mengantar si Bapak sampai di mobilnya, membuka pintu mobilnya dan kemudian menutupnya ketika Ia sudah berada dalam mobil.
"Hati-hati,Pak! Jalan jangan ngebut yaa." sambil tersenyum Aku melambaikan tanganku padanya.
"Iya Nak. Terimakasih kembali. Bapak akan hati-hati." jawabnya lantas sudah menyalakan mobilnya lalu melajukan mobilnya perlahan.
Aku memandang ke arah mobil itu sambil dalam hatiku dipenuhi rasa syukur tak terhingga.
Aku mengantarnya melalui mataku sampai mobil si Bapak tak terlihat lagi.
Dalam hati Aku selalu mengatakan Terimakasih Pak dirimu sungguh seperti malaikat penolong bagiku.
Setelah si Bapak berlalu dan tak kelihatan lagi, Aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Ke..!" terdengar suara memanggilku.
Aku menoleh, dan kulihat Andra sudah di belakangku dengan motornya.
Aku berbalik hendak bertanya, namun Andra sudah mengangkat teleponnya dan memanggil seseorang.
Yang kudengar hanya, Keke sudah di rumahnya..
__ADS_1
***