Skala Perbandingan

Skala Perbandingan
Lagi dan Lagi


__ADS_3

Hari-hari menyenangkan kulalui bersama Jody dan menurutku itu adalah hari yang terindah buatku. Jody adalah laki-laki yang terhebat menurutku.


Hari ini,ketika pulang sekolah, Jody yang tiba-tiba mendapat telepon mendadak dari orang tuanya akhirnya tidak mengantar ku pulang, dan juga karena hari itu Andra tidak masuk sekolah maka Akupun pulang sendirian.


Aku memilih untuk berjalan kaki pulang ke rumah.


Sampai di rumah,Aku melihat Mama sudah berada di rumah. Tumben Mama sudah pulang.


Aku masuk dan Kak Sandra juga ternyata sudah pulang dan Mereka berdua seperti sedang menunggu kepulanganku.


"Ada apa kok tumben semua sudah dirumah?" tanyaku sambil melepaskan tasku dan meletakkannya diatas meja lalu menghempaskan diri di atas kursi sambil membuka sepatuku.


"Aku mendapat pekerjaan di luar daerah." Kak Sandra memulai pembicaraannya.


"Bagus dong, Kak." jawabku sambil terus membuka sepatuku.


"Tapi, nanti Kamu dan Mama sendirian. Dan, Kakak takut kalau sampai sesuatu terjadi. Jadi, Kakak dan Mama memutuskan kalau Paman akan tinggal bersama disini. Lagian, rumah Paman juga sementara direnovasi." kalimat Kak Sandra membuatku sedikit menutup mataku, menarik napas panjang dan dalam.


"Kakak tahu, Kamu kurang begitu suka dengan Paman. Tapi, Kakak gak mau hal yang sama terjadi lagi!" kali ini pernyataan yang begitu tegas dari Kakak.


"Iya Ke. Mama sibuk seharian, kasihan kalau Kamu dirumah sendirian gak ada yang jaga." Mamapun juga mulai berpendapat.


"Tapi Ma, Aku bisa menjaga diriku dengan baik, kok." Aku berkilah walau sebenarnya ketakutan itu selalu menghantuiku.


"Pokoknya Kakak sudah memutuskan dan Kakak gak akan pergi sebelum Kalian menyetujuinya!" Kak Sandra kalau sudah begini, siapapun tak ada yang bisa membantah perkataannya.


Aku mengangguk lemah tanda setuju walau hati kecilku jauh dari kata itu.


**


Dan, akhirnya Paman dan istrinya benar-benar tinggal disini bersamaku dan Mama.


Awal yang buruk buatku. Setiap hari Aku hanya mendapatkan sindiran dari mereka. Aku gak bisa kerja lah, inilah, itulah.


Apalagi Mama bekerja sampai larut,alhasil mereka dengan leluasa membuat hidupku seperti di neraka. Tapi, apapun yang Mereka lakukan Aku diamkan dan menganggap angin lalu.

__ADS_1


Sampai pada suatu saat.....


Aku pulang dari sekolah dan hari itu cuaca sangat panas menyengat. Setibanya di rumah, Aku menuju kamarku, sejenak melepaskan penatku, dan karena udara yang teramat panas, Aku ingin sedikit mengguyurkan badanku di kamar mandi.


Aku melangkah menuju kamar mandi. Sampai di dalam, Aku melupakan handuk dan ingin keluar untuk mengambilnya.


Saat Aku membalikkan badanku, Aku terkejut karena Paman sudah di dalam kamar mandi.


"Paman,apa yang Paman lakukan?" Ia sudah memelukku.


"Pamaannn...." Ia membekap mulutku, mendorongku ke belakang sampai menyentuh dinding kamar mandi. Aku memberontak, namun tenaga Paman sangatlah kuat.


Dan, Ia menggerayangiku dengan tangannya, menahan tubuhku dengan tubuhnya, menutup mulutku dengan bibirnya.


Dengan keterkejutan yang teramat sangat, Aku tetap berusaha memberontak. Dan, akhirnya, dengan sedikit mengangkat lutut ku, Aku membuat Paman menunduk dan mengerang kesakitan di area selangkangannya.


Aku yang mendapat kesempatan untuk kabur, segera berlari keluar kamar mandi menuju kamar, mengganti pakaian ku dan dengan secepat kilat berlari keluar dari rumah.


Aku menangis sepanjang jalan.


Sky!


Entah apa yang bisa Aku lakukan lagi. Aku bahkan terlalu lemah untuk berlari. Aku hanya berjongkok, menundukkan kepala sampai menyentuh kedua lutut ku, dan kedua tanganku merangkul lutut. Aku menangis di depan Sky!


Satu menit berlalu. Tak ada tanda-tanda dari Sky. Aku mencoba mengangkat kepalaku ke atas, dan ternyata Sky masih berdiri disitu, dalam diam.


Ia terlihat berbeda. Sangat berbeda!


Ia hanya merogoh sakunya, mengeluarkan saputangan dari saku celananya dan memberikan saputangan itu kepadaku. Aku menerimanya, mengusap wajahku yang penuh airmata.


Aku kembali menatapnya, Sky tetap diam, namun sekarang dengan tangan kirinya mengulur ke depan seakan mengajakku berdiri.


Aku menggigit bibirku, tapi Aku mengangkat tangan kananku dan mengulurkannya padanya.


Sky menerima jariku, lantas membantuku berdiri. Badanku bergetar hebat. Sky yang seperti tahu akan hal itu, sedikit maju ke depan dan Sky merengkuh Aku dalam pelukannya.

__ADS_1


Sungguh berbeda saat Ia memelukku saat ini dengan saat Ia mendekati ku dulu. Dan, Aku kembali menangis tersedu dalam pelukannya.


Sky membiarkan Aku menumpahkan segala perasaanku dalam tangisan, dengan kedua tangannya menepuk nepuk punggungku, seakan membantu menenangkan diriku.


Sky lantas memegang kedua lenganku, menarik dari pelukannya, mengambil saputangan di tanganku dan menyeka airmata dengan saputangan itu.


"Sky,kenapaa...?" tanyaku kepadanya. Ia tidak membalas ku, namun tetap sibuk menyeka wajahku.


Aku menghentikan tangannya dengan menggenggam pergelangan tangannya.


"Biarlah Aku membersihkan wajahmu dulu." Ia melepaskan pegangan tanganku, kembali menyeka wajahku dan setelah itu membantu merapikan rambutku.


Lalu, Ia meraih tanganku,sedikit menarik menuju mobilnya. Aku mengikutinya. Sky lantas membuka pintu mobil, menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil tersebut, menutupnya, lantas menuju pintu satunya.


Ia melajukan mobilnya.


Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi, menutup mataku dan mencoba menarik napas dalam menenangkan diriku sendiri. Aku bahkan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padaku jika Sky melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.


Aku tetap menutup mataku, sampai Kurasakan mobil Sky berhenti. Aku perlahan membuka mataku,menelan salivaku. Bayangan yang tidak-tidak sudah bermain dalam pikiranku.


Sky sudah turun dari mobilnya, lantas membuka pintu untukku, mengulurkan tangannya.Aku menerima uluran tanganku dan beranjak turun.


Aku dan Sky berada di kafe dekat pantai.


Ia lalu menggenggam jariku dan sedikit menarik ku untuk mengikutinya masuk ke dalam kafe tersebut, dan memilih tempat di sudut luar kafe itu.


Ia menarik kursi untukku duduk, dan setelah Aku duduk, Sky pergi. Disini, Aku bisa melihat pantai dengan deburan ombaknya.


Sky kemudian kembali dan segera menarik kursi duduk di depanku.Aku menatapnya yang juga sedang menatapku. Aku menarik napas ku dalam, membuang muka darinya kembali menatap pantai. Dan, kembali menutup mataku,mengingat kejadian tadi, dan bulir air mata kembali mengalir turun dari pelupuk mata. Tanpa isakan, tetap diam.


Ku hanya mendengar helaan napas dari Sky. Tak lama berselang, waiters sudah datang mengantarkan pesanan yang dipesan Sky. Aku menoleh, sedikit tersenyum kepada si pembawa makanan dengan menganggu kan kepala tanda terimakasih.


Setelah pergi, Aku kembali menatap nanar pantai di depanku. Perasaanku kali ini tak bisa digambarkan lagi. Aku tetap diam tanpa bicara, dan Sky juga membiarkan Aku seperti itu sambil Ia menikmati makanannya.


***

__ADS_1


__ADS_2