
Tolong ... Tolong aku."
"Duh kenapa mobilnya nggak mau menyala, sih? Padahal sedang hujan lebat.
Sepasang muda-mudi memperbaiki mobil mereka yang mogok di tengah hujan.
"Tolong ... Tolong aku."
"Railo, apa kamu mendengarnya? Sepertinya itu sebagai wanita meminta tolong."
Wanita dengan jaket tebal itu bergidik ngeri, mendengar suara rintihan yang sangat menyayat di sela-sela riuhnya suara hujan.
"Udah, jangan di dengerin. Kalau itu orang jahat yang ingin merampok kita bagaimana? balas Railo yang sedang fokus mengecek mesin mobil.
"Kalau dia beneran minta tolong gimana?" balas Rhea.
"Tolong ... Tolong aku."
Railo menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara rintihan itu. Bulu kuduknya berdiri, dia merasa merinding.
"Siapa yang meminta tolong di tengah malam seperti ini?" gumamnya.
"Tolong aku." Suara rintihan yang mengartikan itu kembali terdengar.
"Gyaaaaa! Railo, lihat itu!"
Rhea menjerit menjadi ketakutan saat melihat seorang wanita merangkak dari pinggir jalan dengan ground hitam yang compang-camping. Rambutnya yang panjang terlihat kusut dan wajahnya yang penuh darah tampak sangat mengerikan.
"Rhea, ada apa?" Railo melompat kaget. Dia belum meluhat, apa yang dilihat oleh Rhea.
"Lihat itu," ucap Rhea menunjuk ke arah wanita yang merayap di antara rintik-rintik air hujan.
"Jangan takut. Coba senter ke arah sana," kata Railo sambil bersembunyi di belakang Rhea.
"Kau bilang jangan takut, tapi kenapa kau malah bersembunyi di belakangku?" kata Rhea kesal. Senter di tangan kanannya dia arahkan ke wanita itu.
"Aku mohon, tolong aku," rintih wanita itu lagi.
Rhea dan Railo saling berpandangan lalu kompak berkata, "Dia bukan hantu." Kedua muda-mudi itu pun mendekati sosok wanita mengerikan tersebut.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kamu kenapa?" tanya Rhea sambil menutupi tubuh wanita malang itu dengan selimut yang dia ambil dari dalam mobil.
Rhea, nanti saja interogasinya. Kita bawa dulu dia ke mobil," tegur Railo. "Ayo bantu aku memapahnya."
Railo dan Rhea lalu memapah wanita malang itu ke mobil mereka. Dengan cekatan, Railo mengambil kotak P3K dan memberikan pertolongan pertama. Namun, batas ketahanan tubuh wanita itu sudah habis. Dia pingsan karena kehilangan cukup banyak darah.
"Hei, gimana ini? Kayaknya kita harus segera meminta bantuan polisi dan ambulans," ujar Rhea.
"Aku sih maunya juga gitu, tapi gimana mau beli kita aja masih mogok. Sinyal juga nggak ada. Kita nggak bisa menghubungi siapa-siapa," balas Railo.
"Ah sial! Masa kita harus mendorong mobil ini sampai menemukan perumahan terdekat, sih? Denyut nadi wanita ini semakin melemah," kata Rhea.
"Aku melihat sorot cahaya lampu dari jauh. Ayo kita keluar dan meminta pertolongannya," ajak Railo.
Mereka berdua lalu keluar dari mobil. Di bawah guyuran hujan yang kian lebat, mereka melambaikan tangan untuk meminta pertolongan pada mobil yang akan melintas. Beruntung, tak lama kemudian sebuah truk mobil batubara muncul dari balik tikungan, lalu menghentikan mobilnya tepat di dekat mobil mereka.
"Apa yang terjadi?" tanya supir mobil itu berteriak.
"Ada seseorang yang terluka dalam mobil. Kami harus membawanya ke rumah sakit, tetapi mobil kami mogok," seru Railo.
"Baiklah, ayo ikut. Aku akan mengantar kalian ke rumah sakit terdekat, tetapi aku tak bisa membantu kalian membawa mobil," ucap supir truk itu di tengah gemuruh hujan.
"Tak masalah, yang penting dia selamat," kata Railo, lalu bertema kasih pada supir truk itu.
...***...
Drrrttt! Drrrttt!
Drrrttt! Drrrttt! Benda elektronik itu kembali berdering dan suaranya memekakkan telinga.
"Uh, sialan! Mengganggu tidurku saja," Ellard mengumpat sambil meraih HP-nya tersebut.
"Maafkan aku, Ma. Aku nggak bisa mengangkat telepon sekarang. Nanti aku hubungi lagi." Ellard mengirim pesan untuk ibu mertuanya.
"Ellard, kenapa kamu nggak menjawab telepon mama? Apa kamu sedang bersama Anella saat ini? Mama nggak bisa menghubunginya sejak tadi malam." Suara Nyonya Eleanor terdengar besar dan sengau.
"Aku lagi di bandara menunggu boarding pesawat, Ma. Mau keluar kota," balas Ellard lagi.
"Soal Anella, sebenarnya beberapa bulan belakangan ini dia menjadi sangat sensitif karena nggak bisa hamil. Dia jadi lebih sering marah-marah dan membuat Kami selalu bertengkar."
__ADS_1
"Dia menganggap nggak bisa hamil gara-gara aku. Selama ini aku enggak memberitahu Mama, karena khawatir akan membuat Mama cemas. Tetapi sejujurnya hubungan kami sudah sangat memburuk," tulis Ellard dalam pesannya.
"Apa benar begitu?" tanya Nyonya Eleanor.
"Iya, Ma. Kemarin waktu aku sedang bekerja di luar kota, Anella mengirimkan sebuah pesan, lalu nggak ada kabar sampai sekarang. Intinya dia ingin berpisah denganku dan pergi ke luar negeri," balas Ellard.
"Apa dia belum menghubungi Mama sampai sekarang? tulis Ellard lagi.
"Kalau dia sudah memberi kabar, Mama nggak akan panik seperti ini," bales Nyonya Eleanor dengan suara terbata-bata menahan tangis.
...***...
"Ma-mama!"
Kedua bola mata Elard hampir saja keluar, melihat seseorang yang sangat dia kenal berada di depan pintu apartemennya, bersama beberapa orang polisi. Sepertinya wanita itu sengaja menunggunya keluar dari dalam kamarnya. Padahal baru berselang sepuluh menit, sejak mereka saling bertukar pesan.
"Ellard, di mana Anella?" tanya ibunda dari Anella tersebut dengan wajah gusar. "Siapa yang ada di sana?"
"Kenapa Mama di sini? " tanya Ellard. "Aku tinggal sendirian di sini," sambungnya lagi.
"Jawab pertanyaan Mama! Di mana Anella? Dia menyuruh Mama datang ke sini, kalau dia menghilang secara tiba-tiba dan tidak bisa mengangkat telepon," kata Nyonya Eleanor.
"Apa? Berarti Anella sudah mengetahui hubunganku dengan Lilith?" pikir Ellard terkejut. "Ah, tapi itu sekarang sudah nggak berguna lagi, karena dia sudah mati," sambungnya.
"Cepat katakan! Di mana anakku? Barusan kamu sudah berbohong, katanya lagi di bandara," ucap Nyonya Eleanor menjerit histeris. Beberapa penghuni kamar apartemen lainnya keluar karena merasa terganggu.
"Sialan, aku nggak bisa berbuat apa-apa lagi karena di sini ada polisi dan terlalu banyak saksi." Ellard memutar otak dengan keras agar bisa meloloskan diri dari situasi ini.
"Duh, iya. Aku bersalah karena telah berbohong. Tapi aku nggak berbuat apa pun padanya. Justru yang korban adalah aku. Dia nggak bisa hamil dan mengancam untuk meninggalkanku," ucap Ellard beberapa saat kemudian.
"Apa buktinya? Polisi bisa menggeledah kamar ini!" bentak Nyonya Eleanor.
"Periksa saja. Tidak ada apa-apa di sini. Aku terpaksa tinggal sendirian di apartemen murah ini, karena diusir oleh Anella. Ini adalah pesan darinya kemarin."
Ellard menunjukkan sebuah pesan di ponselnya, yang dikirim oleh istrinya kemarin.
"Tetapi bukankah kalian seharusnya pergi makan malam bersama?" tanya Nyonya Eleanor. Nada suaranya sudah mulai turun, digantikan wajahnya yang mendung dan mata memerah.
"Seharusnya begitu. Aku ingin mengajaknya makan malam bersama malam ini. Tapi dia sudah duluan pergi dan nggak mengizinkanku memasuki rumahnya," balas Ellard lagi.
__ADS_1
"Mama nggak akan percaya begitu aja sama ucapanmu, Ellard. Mama akan memeriksa CCTV apartemen ini, dan melacak keberadaan HP Anella," ancam wanita yang telah membesarkan Ellard bagaikan anak sendiri itu.
(Bersambung)