Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 58. Rencana Rahasia Arella


__ADS_3

"Mana mungkin aku bakalan menyerah, setelah kau rebut kembali semua harta milikku!" balas Ellard dengan nada tinggi.


Pria tamak itu lalu mencengkeram kedua tangan Arella dan menahan tubuhnya di dinding. Sebenarnya Arella bisa saja menendangnya di bagian perut, tapi wanita itu nggak ingin melakukannya. Bagaimana pun juga, Ellard adalah temannya sejak kecil.


"Kenapa kau jadi gini, sih? Dulu kan kau anak yang polos dan baik. Sampai sekarang aku bingung, ke mana perginya sosok Ellard yang aku kenal dulu," kata Arella dengan nada rendah.


"Kau aja yang bodoh! Untuk apa aku mau berbagi harta denganmu, kalau aku bisa memilikinya sendirian? Kalau aku bersamamu, aku cuma bakalan jadi bayanganmu terus. Orang hanya akan menilaiku sebagai pecundang," jawab Ellard.


Hati Arella pedih mendengarnya. Padahal dia sangat menyayangi dan mencintai Ellard, terlepas dari latar belakang pria itu. Arella bahkan rela memberikan hampir semua harta bendanya untuk pria yang ingin ditemaninya seumur hidup.


"Percuma saja aku dan papaku melompat ke dalam api untuk menyelamatkanmu, kalau akhirnya kamu seperti ini," bisik Arella hampir tak terdengar."


"Hah! Memang dari awal nggak ada gunanya. Aku selamat karena aku berlari menjauhi api. Bukan seperti mereka yang malah masuk ke dalam api, dan mengobral nyawanya. Bukannya jadi pahlawan malah mati konyol," balas Ellard sambil mencibir.


Plak! Arella membuat tato merah di pipi kiri Ellard. Netranya menyala-nyala, dan hembusan napasnya terdengar kasar.


"Arrrggghhh! Cewek sial! Berani-beraninya kau menamparku! Ku pastikan nyawamu akan dicabut hari ini."


Tanpa belas kasih sedikit pun, Ellard menendang perut serta dada Arella sampai wanita itu meringis kesakitan. Arella berusaha berdiri. Tetapi baru aja tangannya menumpu lantai untuk mengangkat tubuhnya, Ellard kembali menendangnya dengan kasar.


"Ah, aku lupa. Kembalikan dulu uangku. Semua gedung milikku, baru ku kirim kau ke neraka!" Ellard membentak dan memaksa Arella untuk memenuhi permintaannya.

__ADS_1


Buagh! Arella menendang paha Ellard bagian dalam. Sebenarnya dia mengincar bagian sensitif dari suaminya itu, namun karena tubuhnya masih merasa sakit, tendangannya sedikit meleset.


"Apa-apaan kau, bangsat!" teriak Ellard yang tersungkur ke belakang.


Buagh! Arella kembali menendang pria di hadapannya.


"Heh! Gimana bisa uang dan gedung itu jadi milikmu? Semuanya adalah milikku," balas Arella.


"Sialan, kau! Dasar nenek sihir penipu! Kau udah bosan hidup, ya!"


Ellard bangkit dan mengangkat sebuah kursi ke atas, hendak menjatuhkannya di atas tubuh Arella. Dengan cepat Arella menghindar, lalu menendang kaki pria itu.


Gedubrak! Kursi itu pun terjatuh dari tangan Ellard, dan hampir menimpa tubuh pria itu. Masih belum mau menyerah, Ellard kembali mengambil barang-barang di dekatnya, dan melemparnya pada Arella.


Kakinya yang sempat cidera di masa kecil, sewaktu terjatuh karena menyelamatkan Ellard dari kobaran api, masih terasa sakit hingga sekarang. Arella tak bisa terlalu sering menendang, dalam jarak waktu yang singkat.


Bruk! Ellard mencengkeram kedua tangan Arella dan menjatuhkannya ke lantai. Ellard menekan punggung wanita itu dengan kaki, untuk mengunci gerakannya.


"Jangan sok hebat hanya karena kamu mantan atlet taekwondo. Cepat buat surat wasiat agar semua hartamu berpindah ke tanganku. Setelah itu aku akan membuatmu pergi ke kerak neraka," perintah Ellard.


"Hah! Kenapa nggak kamu aja yang pergi ke kerak neraka? Memangnya aku datang ke sini sendirian kayak orang bodoh? Aku cuma perlu bukti tambahan untuk menyeretmu ke penjara," balas Arella dengan napas mulai sesak.

__ADS_1


Ellard sedikit merenggangkan cengkeraman tangannya mendengar ucapan Arella barusan. Dia ragu mau berbuat lebih kasar pada wanita itu. Kesempatan itu digunakan Arella untuk meloloskan diri dari Ellard.


Selang satu detik kemudian, para aparat kepolisian pun datang dan mengepung Ellard dengan senjata laras panjang. Seorang pria yang berdiri di tengah-tengah polisi itu membuat Ellard tercengang.


"K-kamu?" gumam Ellard tertahan.


Pria itu merupakan notaris yang dimintai bantuan ileh Ellard, untuk merekayasa surat ahli waris gedung milik Nyonya Eleanor.


"Huh! Kau pikir semudah itu mengganti hak ahli waris tanpa sidang di pengadilan?" cibir notaris tersebut menertawai kebodohan Ellard.


Pria itu tertunduk malu karena dengan mudah ditipu oleh notaris tersebut. Sifat tamaknya telah menutup pikirannya. Namun semua sudah menjadi bubur. Ellard nggak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Ma-maafkan aku. Tolong ampuni aku," ucap Ellard sambil bertekuk lutut di depan polisi yang mengepungnya. Tapi itu bukanlah ungkapan penyesalan, melainkan rasa takut menerima hukuman berat.


"Katakan dengan jelas!" perintah Ellard.


"Aku mengaku salah. Aku mohon padamu, tolong maafkan aku," ulang Ellard.


"Kesalahanmu itu sangat banyak. Bukan hanya menipu, merebut harta dan membunuh satu orang. Tapi kau sudah dua kali membunuh perempuan," kata Arella. "Jadi kau mau minta pengampunan yang mana?" imbuhnya.


Kepala Ellard mendongak. Kelopak matanya terbuka lebar, menatap Arella dengan nanar.

__ADS_1


"Kau ... Bisa tahu dari mana?" ucap Ellard semakin gugup.


(Bersambung)


__ADS_2