Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 41. Peringatan Dini


__ADS_3

"Hahaha ... Orang dealer tadi sombong banget, ya. Tapi waktu kita lemparkan uang ke depan mukanya, dia langsung bertekuk lutut menandatangani akta jual beli"


Lilith tertawa lebar saat berjalan menuju ke parkiran. Jalannya begitu angkuh, dengan dagu terangkat dan kaki melangkah santai.


"Hm, iya," gumam Ellard dengan tawa kecut.


"Ah, aku nggak menyangka bisa naik mobil impianku secepat ini. Walau pun masih harus membayar cicilannya nanti," kata Lilith senang.


"Hm." Ellard kembali berdehem tanpa membalas celoteh sang istri.


"Punya banyak uang memang menyenangkan, ya. Setelah ini tugas kita tinggal mencari jasa interior murah, terus memalsukan kwitansi renovasi toko," kata Lilith tanpa mempedulikan Ellard yang berwajah masam.


"Lilith, ku rasa kita harus berhenti mempermainkan Arella. Kalau kita seperti ini terus, lama-lama dia bisa mencium kebohongan kita berdua. Proyek kerjasama kita bisa terancam, kalau itu beneran terjadi," ujar Ellard mengingatkan.


"Iya ... Iya ... Duh, bawel banget. Nggak usah khawatir. Aku juga tetap ingat toko kita, kok," kata Lilith mendengus kesal.


...***...


Sinar lembayung senja yang temaram, terukir indah di langit. Burung-burung kembali pulang ke sarangnya. Angin sepoi-sepoi di awal musim semi ini membuat udara terasa segar dan sejuk. Rerumputan yang mulai bersemi pun turut bergoyang mengikuti arah angin.


Seorang wanita berkulit cerah duduk sendirian di bawah pohon apel tak berdaun. Sambil bersenandung kecil, dia membaca lembaran buku di tangannya. Wajahnya yang terlihat riang, tampak berwarna kuning keemasan diterpa sinar matahari senja yang hampir terbenam.


"Arella, apa nggak terlalu berlebihan memberi uang hampir satu milyar hanya untuk renovasi sumah? Kamu sampai terpaksa menjual satu unit gedung kecil, kan?"


Rhea membawa setumpuk buku ke atas meja, lalu duduk di sebelah Arella. Rambut pirangnya digulung ke atas, lalu disematkan menggunakan jepit rambut motif bunga anggrek.


"Oh, kamu mengkhawatirkan mereka?" ucap Arella sambil tertawa kecil. Tangannya menutup buku dengan sampul cokelat susu itu. Pandangannya kemudian dialihkan ke arah perempuan jelita di sebelahnya.


"Ish, ngapain aku khawatir sama mereka berdua? Aku justru khawatir sama kamu, karena memberikan uang sebesar itu pada lintah darat," kata Rhea dengan manyun.


"Hm, itu sih cuma uang kecil. Sebentar lagi pasti juga akan habis, sebelum renovasi toko mereka selesai," kata Arella dengan santai.


"Haaah ..." Rhea menghela napas cukup dalam. "Ya itu maksudku. Gimana kalau uang yang kamu berikan itu nggak dipakai sebagai mana mestinya. Kamu bakalan rugi, dong," jelas Rhea.


"Memang itu tujuanku. Biarkan mereka berfoya-foya sampai lupa diri, lalu aku menagih janji mereka merenovasi toko itu. Mereka pasti kalang kabut mencari uang untuk biaya renovasi, lalu ujung-ujungnya ribut," jawab Arella dengan santai.


"Duh, aku nggak ngerti deh sama jalan rencanamu," kata Rhea lagi.


"Tunggu aja tanggal mainnya. Nanti kamu pasti bakal tahu sendiri," kata Arella sambil tersenyum licik. Jemarinya yang lentik, berselancar di layar HP dan mencari sebuah nama.

__ADS_1


"Halo? Gimana kabar kalian? Bisakah kita ketemuan besok?" ucap Arella.


...***...


"Gawat! Kok bisa begini?"


Ellard terduduk lemas di sudut kamar. Matanya berulang kali menatap angka-angka yang tertera di M-bankingnya. Dia nggak percaya dengan penglihatannya sendiri.


"Kok bisa tinggal tiga puluh tujuh juta? Padahal renovasi toko belum dikerjakan sama sekali." Ellard merasa frustrasi melihat uang yang diberikan Arella hampir habis digunakan untuk berfoya-foya. "Aku kemarin terlalu membebaskan Lilith untuk belanja," pikir Ellard lagi.


Rrrrr ... Rrrrr ...


Rrrrr ... Rrrrr ...


"Ellard, kenapa kamu nggak angkat telepon? Itu telepon dari siapa?" Lilith berlari dari kamar mandi menuju ke kamar, karena mendengar suara telepon berdering beberapa kali.


"Ah, i-itu cuma spam, kok," jawab Ellard. Tubuh pria itu gemetar setiap telepon berbunyi.


"Ck, dia kenapa, sih? Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan," pikir Lilith curiga. "Sayang, telepon itu pasti bukan spam, kan?" Dia lantas merebut HP milik Ellard.


"Lilith!" tanpa sadar Ellard berteriak, saat HP miliknya berpindah tangan.


"Jangan di ang..."


"Halo, Arella." Belum sempat Ellard menyelesaikan kalimatnya, Lilith sudah lebih dulu mengangkatnya.


"Oh, Ellard ada kok. Mau bicara sama dia?" Lilith bercakap-cakap di telepon dengan Arella. Sementara Ellard yang sudah pucat pasi pun pasrah.


"Hei, sayang. Katanya Arella mengajak kita ketemuan malam ini," ucap Lilith riang, setelah Arella menutup telepon.


"Duh, apa nggak bisa ditunda? Badanku rasanya agak demam," jawab Ellard. Dia mencari-cari alasan untuk menghindari pertemuan dengan Arella.


"Loh, gimana, sih? Dia bilang ada hal penting yang harus dia bicarakan. Dan dia mengajak kita berdua," kata Lilith memaksa.


"Lilith, dengarkan aku. Ada hal lebih penting yang harus kita urus, sebelum ketemu sama Arella. Kita harus melakukan renovasi toko dan menyampaikan laporannya," kata Ellard panik.


"Ya udah, kan tinggal dikerjakan aja. Apa susahnya, sih?" balas Lilith acuh.


"Masalahnya, uang kita tinggal tiga puluh tujuh juta. Mana cukup untuk menyewa jasa dan merenovasi toko kita, seperti keinginan dia," jelas pria itu.

__ADS_1


"Duh, kamu ini gimana, sih? Itu kan tugasmu. Kenapa kamu bisa lalai gitu?" Lilith justru menyalahkan Ellard. "Lagian uang segitu masih cukuplah untuk renovasi toko," ucapnya enteng.


"Kamu nggak sadar? Uang itu kan kamu yang menghabiskan. Tapi kamu malah menyalahkanku? Lagian dengan uang tiga puluh tujuh juta, apa aja yang bisa di renovasi? Untuk mengganti kaca jendela dan cat pun nggak cukup." Ellard merebut HP-nya lalu meninggalkan kamar.


"Ellard, kamu mau ke mana? Terus gimana pertemuan dengan Arella nanti malam?" Lilith berlari mengejar sang suami.


"Tolong biarkan aku menenangkan diri. Lalu kamu, bantu aku mencari jalan keluar untuk renovasi toko. Kalau kau nggak bisa menyelesaikan malam ini, cari cara supaya dia membatalkan pertemuan itu," pinta Ellard sambil tetap berlalu pergi.


"Uh, sialan. Kenapa malah aku yang kena getahnya, sih?" umpat Lilith dalam hati.


Ellard tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, lalu membalikkan badannya ke arah sang istri.


"Oh, iya. Kalau sampai besok pagi kamu nggak bisa menemukan jalan keluarnya, maka akan aku jual semua tas dan sepatu mewah milikmu."


"Nggak! Aku nggak mau! Itu hartaku!" tolak Ellard terang-terangan.


Rrrrr ... Rrrrr ...


HP milik Ellard kembali berdering. Ellard mematung melihat nama yang tertera di layarnya. Demikian juga dengan Lilith.


Namun Arella tak menyerah. Dia terus menelepon Ellard hingga empat kali. Lilith kemudian merebut HP dari tangan sng suami dan menjawab telepon dari Arella.


"Halo, Arella."


"Lilith, maaf. Aku terpaksa membatalkan pertemuan malam ini. Mendadak ada tamu dari Korea dan Jepang," ucap Arella di seberang sana.


"Oh, ya. Nggak apa-apa, kok," balas Lilith sambil menahan senyum.


"Nanti akan aku buat jadwal baru untuk pertemuan kita," kata Arella lagi.


"O-oke," jawab Lilith terbata-bata.


"Haaah ... Lega ... Untunglah dia membatalkannya," seru Lilith setelah Arella menutup telepon. Tubuhnya lemas, bagaikan es krim yang meleleh terkena panas.


Sementara di tempat yang berbeda, Rhea menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah Arella. "Kenapa kamu ngajakin ketemuan, terus malah dibatalin lagi?" ucap gadis itu.


"Cuma pengen jahilin mereka aja. Sesekali mereka perlu dikasih peringatan, sebelum mendapat hukuman berat," kata Arella sambil tertawa jahat.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2