Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 53. Akibat Orang Ketiga


__ADS_3

Beberapa saat sebelum Griffith dan anak buahnya datang ke apartemen.


Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke HP Ellard. Pria itu pun segera membacanya.


Pak Ellard. Ini sudah melewati batas janjimu untuk membayar hutang. Namun semua telepon dari kami diabaikan dan bahkan di luar jangkauan. Jika dalam waktu satu jam kamu nggak juga mengangkat telepon, maka aku akan mengirimkan anak buahku untuk melacak keberadaanmu. Bersiap-siaplah.


"Ah, sialan! Mereka lagi rupanya!" geram Ellard yang baru saja menuruni bukit, setelah kembali dari mansion horor di atas gunung.


"Hm, untuk apa aku takut? Aku kan udah ngelakuin hal itu."Dia lalu membalas pesan para rentenir tersebut sambil tertawa jahat.


"Ku kira surat perjanjiannya sudah kita perbaharui. Penanggung jawabnya sudah bukan aku lagi. Tapi orang yang menghabiskan seluruh uang pinjaman itu," tulisnya.


"Segeralah datang ke sana, sebelum dia menyadarinya. Kalian juga bisa menjualnya ke pasar gelap, kalau dia nggak melunasi hutang. Permainannya di atas r*anja*ng sungguh luar biasa," tulis Ellard lagi.


Lalu saat ini, pukul enam pagi di apartemen Lilith. Kegaduhan sedang terjadi. Namun seperti biasa, para tetangga yang hidup indivdualis acuh pada keributan itu. Mereka lebih memilih bersiap pergi bekerja daripada ikut terlibat dalam keributan itu.


"Ellard meminjam uang satu milyar? Lantas kenapa aku yang harus membayarnya? Kalau dia yang meminjam, harusnya dia juga yang wajib mengembalikannya," ucap Lilith tak terima.


"Memangnya aku ada meminjam uang dari kalian? Kenapa tiba-tiba datang dan merebut barang-barangku?" Lilith terus menjerit dan melempar para rentenir tersebut dengan gelas dan vas bunga dari dalam rak.


"Hei, tapi kamu juga memakai uangnya, kan? Dan ada bukti kalau kau juga meminjamnya," balas Griffith penuh penekanan.


"Aku nggak pernah kenal sama kalian. Jadi kapan aku meminjam uang pada lintah darat kayak kaliam semua?" bantah Lilith. Dengus napasnya yang kasar terdengar sangat jelas, seirama dengan gerakan bahunya yang naik turun.


"Heh! Berisik! Lihat ini!" Griffith yang udah nggak tahan mendengar lengkingan omelan Lilith, kembali mengeluarkan surat perjanjian hutang dengan Ellard. "Kamu tadi pasti belum baca sampai selesai, kan?" imbuh pria itu.


Mendengar hal itu, Lilith pun kembali membaca surat perjanjian itu dengan seksama. Ternyata di lembar berikutnya, terdapat kartu identitas, buku rekening, serta cap jari miliknya, yang mengatakan bahwa dia ikut terlibat dalam peminjaman uang tersebut.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Kenapa namaku ada di surat perjanjian dengan rentenir? Padahal kan aku udah menyimpannya sebaik mungkin."


Lilith mengingat-ingat, kapan kira-kira dia lengah dan Ellard mencuri data pribadi miliknya. Karena sejak berpacaran hingga menikah, Lilith sama sekali nggak mau menyimpan benda-benda berharga itu sembarangan.


"Tungggu! Apa mungkin saat kami membeli mobil baru waktu itu? Dia kan ada meminta kartu identitas dan buku rekening, supaya mobil itu bisa dibeli atas namaku."


Kedua mata Lilith terus membaca lembaran dari rentenir itu hingga usai. Surat tersebut juga menyatakan, bahwa seluruh hutang piutang tersebut dibayar oleh Lilith.


"Brengsek! Udah sejauh apa dia menipuku?" umpat Lilith sambil meremas kertas ditangannya.


"Nah, sekarang pertanyaanmu udah terjawab, kan?" Griffith buru-buru menarik kertas di tangan Lilith, sebelum remuk semua. Itu adalah surat perjanjian asli dengan Ellard.


"Memang hanya suamimu yang datang padaku. Tapi semua dokumennya lengkap. Jadi kamu harus mematuhi perjanjian itu, kan?" kata Griffith menyeringai lebar. Tangannya yang kasar menyentuh dada Lilith, yang memperlihatkan sebagian besar belahannya.


"Dasar bajingan!" Lilith menepis tangan Griffith dengan cepat. "Jangan asal ngomong, ya. Aku dan Ellard bukan suami istri. Jadi dia nggak bisa meminjam dokumen atas namaku. Surat perjanjian itu nggak sah."


"Kami nggak peduli hubunganmu dengannya seperti apa. Mau kumpul kebo sekali pun, itu nggak berpengaruh. Yang penting semua dokumennya asli dan lengkap," bentak Griffith yang udah kehabisan kesabaran.


"Lagipula, kan kau juga yang menghabiskan uang itu. Lihat ini!" Bos rentenir tersebut mengambil sesuatu dari dalam kantongnya, lalu menyerakkannya di lantai.


"Baca itu satu persatu. Dan total belanjamu dalam waktu satu minggu juga ada di situ. Bisa-bisanya menghabiskan uang hampir dua milyar hanya dalam waktu satu bulan," kata Griffith sambil menyeringai lebar.


"Dari mana Ellard mendapatkan semua ini? Jadi sebagian uang yang aku gunakan untuk belanja bukan uang hasil sewa gedung? Tapi dari para rentenir ini?"


Selama ini Lilith mengira, hanya menghabiskan uang dari pendapatan bisnis mereka, yakni satu milyar untuk renovasi toko dan satu milyar lagi dari uang hotel dan sewa gedung. Ternyata perkiraannya salah. Satu milyar yang terakhir adalah uang pinjaman dari para rentenir.


Lilith terduduk lemas di lantai, dengan pandangan kosong ke depan. Harapannya menjadi wanita konglomerat setelah merebut semua harta milik Ellard dan Anella pun sirna. Justru saat ini hidupnya yang hancur.

__ADS_1


"Sekarang kau udah paham, kan? Sekarang biarkan kami menyelesaikan tugas kami menyita barang-barang ini."


Griffith memerintah anak buahnya untuk membawa turun semua barang berharga di situ. Bahkan lemari baju satu set meja makan mewah pun dibongkar oleh mereka. Yang tersisa hanya benda-benda murahan seperti sepatu kw, gelas dan piring.


"Tapi ingat! Kau masih punya hutang sebesar sembilan ratus juta lagi. Ku beri waktu satu minggu untuk melunasinya. Kalau kau nggak membayarnya, siap-siaplah menjadi budak r*anja*ngku," ancam Griffith.


"Sialan! Aku harus cepat-cepat kabur dari negara ini," batin Lilith merinding ketakutan.


"Jangan coba-coba kabur dari kami! Karena menemukan orang yang bersembunyi di lubang neraka sekali pun adalah keahlian kami. Kabur ke luar negeri itu masih belum ada apa-apanya," ujar Griffith kembali mengancam. "Ini aku sita dulu." Pria itu rupanya juga mengambil buku rekening dan ATM milik Lilith.


Brak! Pintu apartemen nomor 1313 kembali tertutup rapat. Meninggalkan Lilith yang terpukul dan ruangan yang telah hampir kosong.


"Ellard! Kamu udah benar-benar menghancurkan hidupku! Ini semua gara-gara Arella, yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kami."


Lilith melempar sebuah gelas kaca ke arah cermin riasnya. Prang! Cermin berukuran besar itu pun pecah berkeping-keping.


"Tunggu dulu! Aku masih punya satu harta lagi. Tapi aku harus segera menjualnya supaya nggak kena tagihan bulanan.


Lilith teringat mobil sport mewah miliknya, yang masih menunggak cicilan tujuh puluh lima persen lagi, dari harga totalnya. Menggunakan baju seadanya yang masih tersisa dan tanpa make up, Lilith buru-buru turun ke parkiran mobil. Lilith berencana menjual mobil sport miliknya dengan murah pada seseorang, lalu kabur ke luar negeri secepatnya.


"Persetan dengan ancaman rentenir gila itu. Dia pasti nggak akan bisa menemukanku kalau aku pindah benua," batin Lilith sambil berjalan terburu-buru.


"Loh, Lilith? Mau ke mana pergi buru-buru? Ellard di mana? Semalaman aku nggak bisa menghubunginya."


Mulut Lilith menganga lebar, melihat orang yang semalaman dia cari dan di telepon berkali-kali muncul di hadapannya dengam santai.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2