
"Ellard?"
Ellard dan Arella berpapasan dengan Lilith. Sialnya, Ellard dan Arella sedang bergandengan tangan.
"Haaah! Lilith?"
Ellard melompat kaget melihat istrinya berada di sana. Pria itu merenggangkan gandengan tangannya dengan Arella. Namun wanita cantik itu justru semakin mempererat gandengan tangannya.
"Sialan! Kenapa dia mengikutiku ke sini, sih? Bikin malu aja," umpat Ellard dalam hati.
"Aku nggak bisa berasumsi dan menarik kesimpulan hanya karena aroma itu. Jadi aku ke sini untuk memastikan, apakah dugaanku salah atau benar."
Lilith menatap Ellard dan Arella dengan mata berapi-api. Kedua tangannya mengepal dan napasnya memburu. Namun demi kelancaran bisnis, dia masih menahan diri untuk melabrak Arella.
"Tak disangka, aku malah menangkap basah mereka berada apartemen ini dan saling bergandengan tangan. Apa maksudnya? Apalagi mereka janjian liburan weekend bersama-sama."
Ekspresi wajah Arella datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun pada Lilith yang hampir meledakkan emosinya. Toh sebenarnya dia masih menjadi istri sah dari Ellard, karena pria itu belum mengucapkan kata talak padanya. Dulu Lilith juga pernah melakukan hal yang sama dengannya.
"Kenapa malah diam-diaman begini, sih? Kan jadi terasa canggung. Aku pikir tadi Ellard pergi sendirian tanpa kamu?" ucap Arella membuka pembicaraan di antara mereka.
"Oh, memang benar, kok. Suamiku pergi sendirian. Tapi kebetulan aku juga ada pertemuan dengan teman-temanku di sini. Gak disangka kita malah saling berpapasan," balas Lilith. Dia sengaja menekankan kata-kata suami pada Arella.
"Oh, hanya bertemu dengan teman? Laki-laki atau perempuan?" balas Arella. Perempuan yang masih istri sah Ellard itu mengangkat dagunya dengan angkuh, tanpa merenggangkan gandengan tangannya sedikit pun.
"Duh, Bu Arella bisa aja. Pasti karena Anda belum pernah menikah, jadi kurang paham. Kalau bertemu berduaan laki-laki dan perempuan, apalagi di tempat seperti ini bisa membuat orang lain salah paham," kata Lilith dengan nada sindiran.
"Walau pun hanya duduk di restorannya. Aku nggak mau orang-orang salah paham seperti itu, makanya berhati-hati," sambungnya sambil mencibir.
"Oh, ya? Kenapa begitu? Bukankah itu hal biasa dalam urusan pekerjaan? Apalagi sekarang zamannya pikiran orang sudah lebih terbuka," kata Arella. Tak sedikit pun dia merasa tersindir dengan ucapan Lilith.
__ADS_1
"Ehm, Lilith. Aku terkejut kamu tiba-tiba datang ke sini. Padahal tadi bilang bakalan sibuk di toko seharian. Padahal aku dan Arella hanya ..." ucap Ellard panik.
"Dia cuma menemaniku aja hari ini. Lagian bisnis kita kan baru berjalan besok setelah tanda tangan kontrak. Suami kamu ini ramah dan sopan banget sama perempuan. Dia jadi sungkan menolak ajakanku," kata Arella.
Sikapnya begitu manja pada Ellard. Tubuhnya bergelayut di tubuh pria itu, bahkan bagian dadanya menempel dengan jelas ke tangan kiri Ellard.
"Dia pasti merasa kesal, kan? Dulu dia juga melakukan hal yang sama padaku. Bermesraan di jalanan umum depan toko kue waktu itu. Sekarang aku melakukan hal yang sama padanya." Arella tertawa senang dalam hati.
"Aku nggak salah paham, kok. Anda pasti merasa sangat nyaman, dengan sifat sopan dan lembut suami saya, kan?" kata Lilith sambil menyeringai tipis.
Namun tubuhnya berkata lain. Matanya yang bulat dan besar, menatap sang suami siri dengan sorot tajam. Ellard hanya berdehem pelan, mendengar sindiran dari istrinya tersebut.
"Lagian aku juga udah tahu kalau suamiku berada di sini sejak tadi malam. Karena aku mencium aroma khas sabun vanilla mewah dari tubuhnya," balas Lilith. Perlahan tapi pasti, dia berusaha menguak hubungan spesial antara Ellard dengan Arella.
Mendengar kalimat Lilith tadi, Arella justru tersenyum.
"Hah! Tepat sasaran jebakanku. Lilith sangat nengenali parfum itu dan langsung datang ke sini untuk menggerebek kami berdua. Ini menarik. Kekasihnya menginginkanku, sedangkan Lilith ingin memisahkan kami," ucap Arella dalam hati.
"Apa? Dia menyelidikinya sampai sejauh itu? Ku pikir dia hanya curiga bahwa bau parfum itu milik Anella," batin Ellard. Dia merasa ngeri dengan wanita yang sudah menjadi selingkuhannya sejak lama.
"Ternyata hidungmu peka juga, ya? Tapi dari mana kamu tahu, kalau apartemen ini memiliki aroma sabun itu? Bukankah masih banyak apartemen lain di kota ini?" balas Arella dengan sengit. Tanpa rasa takut dia terus menyerang Lilith dan membangkitkan emosi wanita itu.
"Ah, aku dan Ellard pernah menginap di sini, waktu merayakan anniversary kami," jawab Lilith.
Dia sengaja menyombongkan diri di depan Arella, bahwa dia juga bisa bergaya hidup hedon juga sperti wanita itu.
"Ehem!" Ellard berdehem kuat, memberi kode pada Lilith untuk diam dan meralat ucapannya.
"Wah, beneran? Jadi ternyata kamu punya kartu anggota eksklusif apartemen ini? Nomor anggota berapa?" tanya Arella. Kali ini dia sedikit merenggangkan rangkulannya di tangan Ellard.
__ADS_1
"I-itu ... "
Lilith terkejut. Dia nggak tahu kalau semua orang boleh memasuki hotel dan apartemen pada beberapa lantai tertentu. Tetapi untuk menyewa dan menginap di apartemen ini tidak sembarangan orang. Terutama menikmati kamar mewah yang memiliki aroma vanilla yang khas.
Dulu pasti Ellard diam-diam menggunakan kartu anggota milik Anella, untuk menginap di sini bersama selingkuhannya. Namun sejak Arella menghilang, semua keanggotannya di berbagai club pun dibekukan.
"Tapi kalau dipikir-pikir, kok aku nggak pernah lihat kamu di pertemuan anggota klub, yang diadakan dua bulan sekali, ya?" ujar Arella sambil mengerutkan keningnya. Ujung bibirnya naik ke atas, mentertawakan kebodohan Lilith.
"Hmm, ya. Sebenarnya aku memang jarang datang. Karena menurutku lebih baik mengawasi toko kueku, daripada menghabiskan waktu di acara klub," jawab Lilith asal bicara.
"Uhuk! Ehem! Ehem!" Ellard kembali memberi kode pada kekasihnya itu.
Arella menhembuskana pelan, sambil tertawa. Semakin banyak Lilith membuka suara, semakin banyak kebohongannya terbuka.
"Dia pasti nggak tahu, kalau untuk menjadi anggota, harus memiliki penghasilan minimal dua ratus lima puluh juta per bulan. Pengangguran dan pemilik toko kue kecil seperti mereka mana bisa? Bohongnya kok amatiran banget, sih?" batin Arella terbahak-bahak.
"Dasar Lilith bodoh! Kenapa dia harus ngaku-ngaku punya kartu anggota juga, sih? Sekarang Arella pasti tahu, kalau Lilith berbohong," batin Ellard kesal.
"Jadi, sekarang kalian mau ke mana?" selidik Lilith, sekalian mengalihkan pembicaraan.
"Kami cuma ..."
"Kami mau makan malam di luar. Ellard tadi janji mengajakku makan malam di tempat yang enak," balas Arella, sebelum Ellard selesai bicara.
"Oh ..." jawab Lilith dengan wajah masam.
Dia ingin sekali ikut dan mengganggu makan malam mereka berdua. Namun sayangnya sudah terlanjur bilang, kalau ada janji dengan seseorang. Jika dia tiba-tiba membatalkannya, terlalu klise dan kelihatan jelas kalau dirinya cuma ingin menguntit Ellard dan Arella.
"Duh, maaf. Kamu pasti kesal ya mendengarnya. Aku nggak bermaksud begitu. Tapi kami tetap nggak bisa mengajakmu. Karena kami cuma pesan untuk dua orang," kata Arella dengan wajah tersenyum senang.
__ADS_1
(Bersambung)