
"Aku nggak membunuh Lilith! Aku bukan pembunuh! Ini murni kecelakaan!"
Ellard merasa panik, karena dia telah menghilangkan nyawa dua wanita di tempat yang sama. Darah kental mengalir dari kepala Lilith. Matanya terpejam rapat. Dan gerakan dadanya yang bergerak baik turun saat bernapas tak terlihat lagi.
"Apa aku tadi menyentuhnya terlalu banyak? Apa sidik jariku tertinggal di tubuhnya?"
Ellard bingung menghadapi situasi ini sendirian. Dia pun mengambil lagkah seribu, dan meninggalkan selingkuhannya tergeletak tak berdaya di atas dedaunan kering dan semak belukar.
"Nggak apa-apa! Semuanya pasti akan baik-baik aja. Nggak ada orang yang tahu aku telah membunuhnya. Nggak ada CCTV di tengah hutan begini."
Ellard berupaya menenangkan dirinya sendiri. Napasnya yang tadi sesak dan berat, kini mulai terasa ringan. Namun, tubuhnya masih gemetar kuat. Dengan tenaga sedikit tenaga yang masih tersisa, Ellard berlari kembali ke mobilnya dan buru-buru pergi.
"Aku cuma perlu pergi dari sini, sebelum mayat Lilith ditemukan seseorang. Aku akan pergi sejauh mungkin, ke tempat yang gak bisa dilacak polisi. Kalau aku bisa pergi sekarang, semua pasti akan baik-baik aja."
Lima belas menit berkendara, Ellard masih belum berpapasan dengan pengendara lain. Hatinya cukup lega. Itu artinya kejadian mengerikan tadi tidak memiliki saksi mata.
Rrrrr...
Bunyi dering HP miliknya, membuat jantung Ellard hampir melompat keluar. Dia melihat nama yang tertera pada layar, lalu mengangkatnya.
"Halo?"
"Ah, Pak Ellard. Akhirnya Bapak bisa dihubungi juga." Terdengar suara seorang pria di seberang sana.
"Ya, gimana? Kalian sudah mengubah suratnya?" tanya Ellard.
"Begini, Pak. Ada sedikit masalah dalam hak ahli waris semua gedung milik Nyonya Eleanor. Jadi kami nggak bisa merekayasa surat itu sembarangan, karen melibatkan orang lain di dalamnya. Bukan hanya Bapak dan Nyonya Eleanor aja. Kalau ketahuan kita berdua bisa dipidana," jelas pria itu.
"Kamu ngomong apa, sih? Muter-muter gitu? Langsung ke intinya aja!" bentak Ellard nggak sabaran.
"Ahli waris dari semua gedung dan harta benda milik Nyonya Eleanor adalah Arella Andzelika. Bukan Bapak Ellard," jawab pria di telepon.
"Siapa? Arella?" ulang Ellard. Hatinya terbakar mendengar nama itu.
"Benar, Pak."
__ADS_1
"Brengsek! Siapa sih, Arella ini? Jadi dia sengaja bekerja sama dengaj Nyonya Eleanor dan bermain-main denganku, untuk menghancurkan hidupku? Lihat aja nanti, aku akan menemukan mereka dan menghancurkan hidup mereka," geram Ellard. Kakinya menekan gas mobilnya lebih dalam lagi.
"Pak Ellard, apa Anda masih di sana? Aku belum selesai bicara," gumam pria di seberang sana.
"Ya, teleponnya masih tersambung," balas Ellard dengan malas.
"Sebenarnya Bapak bisa mengurus masalah ini secara legal."
"Caranya?" tanya Ellard.
"Bapak tinggal membawa surat nikah, kartu keluarga dan kartu identitas ke kantor notaris, lalu membawanya ke kantor notaris. Bapak bisa mengajukan diri sebagai ahli waris yang sah."
"Benersan bisa?" ucap Ellard.
"Secara hukum harusnya ya bisa. Karena Bapak satu-satunya keluarga Nyonya Eleanor, kan? Kecuali Nyonya Eleanor sudah membuat surat warisannya sendiri," ucap pria di telepon itu.
"Wah, kalau itu beneran, aku bisa merebut kembali aemua gedung itu, lalu menjualnya dan buru-buru kabur ke luar negeri. Tapi sebelum itu aku harus mencari Arella dulu, supaya dia bertanggung jawab atas semua perbuatannya padaku."
Ellard sudah tak sabar untuk cepat-cepat pergi ke kota, untuk mengambil kembali hak miliknya.
"Duh, di mana sih? Kayaknya dulu disimpan Anella di sini?"
Ellard membongkar semua laci berkas milik istrinya dulu. Semua isinya telah pindah ke lantai, namun yang dia cari masih belum ketemu.
"Bodohnya aku. Kenapa dulu aku nggak mengambilnya? Ku kira itu nggak bakal digunakan lagi," sesal Ellard.
"Kamu ngapain? Lagi cari ini?"
Mendengar suara seorang wanita yang sangat dia kenali, sontak Ellard menoleh ke belakang. Matanya langsung terbuka lebar dan menyala-nyala. Gerahamnya bergeretak menahan amarah.
"Kau? Kenapa kau ada di sini, penipu brengsek!" bentak Ellard.
"Ya karena ini rumahku. Aku melihatmu datang dari pantauan CCTV," jawab Arella.
Wanita cantik bertubuh tinggi semampai itu melangkahkan kaki mendekati Ellard dengan anggun. Dia datang seorang diri dan tanpa membawa apa pun selain kartu keluarga di tangannya.
__ADS_1
Kening Ellard berkerut sesaat. Kemudian dia menodongkan sebuah gunting yang dia dapat dari dalam laci.
"Ah, sekarang aku mengerti alasannya kenapa ibu mertuaku nggak lapor ke polisi tentang kejahatanku. Bukan karena dia nggak tahu dan nggak punya bukti." Ellard menyeringai lebar dan melangkah maju, mendekati rekan bisnisnya itu.
"Jadi karena apa?" tantang Arella sambil menaikkan kedua alisnya.
"Tapi karena dia berkomplotan denganmu, untuk balas dendam langsung untuk kematian putrinya," kata Ellard menyambung kalimatnya tadi. "Sialan! Aku jadi seperti ini karena kalian!"
Gunting di tangan Ellard hampir saja mengenai leher Arella. Namun wanita itu mengelak dengan cepat. Satu kakinya naik, dan menendang pinggang pria itu hingga tersungkur ke lantai. Gunting yang dipegangnya terlepas, dan meluncur ke bawah kolong lemari.
"Kau! Berani-beraninya menendangku seperti itu!" bentak Ellard sambil berusaha bangkit kembali. Tangannya bergerak liar, mencari sesuatu yang bisa dia jadikan senjata.
"Kau lupa, kalau aku adalah juara tiga taekwondo tingkat nasional?" ujar Arella sambil mengatur napasnya.
"Kau? Juara tiga taekwondo tingkat nasional? Bagaimana aku bisa tahu tentang ... mu ..."
Ellard menghentikan kalimarnya. Ekspresk wajahnya mendadak berubah. Menjadi sebuah cengiran masam.
"Ka-kau masih hidup?" ucap Ellard dengan suara lirih dan bergetar.
"Ya, aku masih hidup setelah kau racun, kau pukuli dan kau buang ke jurang." ujar Arella alias Anella, istri sah dari Ellard. Tangannya mengusap make up di wajahnya dengan tisu basah, dan memperlihatkan bekas operasinya yang masih sedikit terlihat.
"Ma-mana mungkin? Dia pasti udah membusuk di dalam jurang sana," gumam Ellard lagi. Tubuhnya lemas, melihat sang istri yang selama ini dia anggap sudah mati, ternyata masih bersamanya selama ini.
"Kenapa nggak mungkin? Sebentar lagi kau lah yang akan membusuk di penjara," balas Arella.
"Jadi kau pikir aku bakalan takut, kalau kau adalah Arella ataupun Anella, atau siapa pun itu?" Ellard tertawa kencang bak orang gila. "Ayo kita lihat gimana hasilnya. Aku atau kamu yang bakalan hancur? Sini maju kalau kau berani!"
Tak ada benda lain yang bisa dijadikan senjata, Ellard pun memegang sebuah lampu belajar dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Duak! Sekali tendangan dari Arella, lampu belajar itu terjatuh dan patah menjadi beberapa bagian.
"Ellard, kau mau buat dosa apa lagi? Menyerahlah! Aku akan meringankan hukumanmu kalau kau menyerah sekarang," ucap Arella memberikan tawaran.
"Mana mungkin aku bakalan menyerah, setelah kau rebut kembali semua harta milikku!" balas Ellard dengan nada tinggi. Pria tamak itu lalu mencengkeram kedua tangan Arella dan menahan tubuhnya di dinding.
__ADS_1
(Bersambung)