
“Dari mana aja kamu baru pulang jam segini?”
Lilith berkecak pinggang, menghadang Ellard yang baru pulang setelah pergi dua hari. Matanya yang bulat membesar, menatap Ellard dengan nanar. Dagunya terangkat dan kedua tangan diletakkan di pinggang.
Pria yang baru saja sampai di depan pintu apartemennya, menatap Lilith dengan wajah kusut. Sangat kontras dengan rambutnya yang tertata rapi, dan kemeja barunya yang licin dan harum. Penampilan Ellard sangat stylish, layaknya seorang actor yang hendak syutin iklan.
“Kayaknya nggak perlu ku jawab, kamu juga udah tahu, deh,” balas Ellard acuh. Dia menabrak tubuh Lilith dan menerobos masuk.
“Jadi kamu nggak merasa bersalah sedikit pun padaku? Kamu udah punya istri, tapi malah menghabiskan waktu selama dua hari bersama wanita lain di luar sana.”
Lilith menaikkan intonasi suaranya, dan membentak suaminya dengan kasar. Dadanya bergerak naik turun, selaras dengan Irama napasnya yang menghembus kasar.
“Haaaah … Bisa nggak sih kamu berhenti mengajakku bertengkar, setiap aku baru pulang? Kepalaku pusing jadinya,” kata Ellard menghentakkan kakinya ke lantai. “Padahal ku pikir kamu udah biasa dengan hal seperti ini,” sambung Ellard dengan geram.
“Biasa? Kamu bilang hal seperti ini biasa?” Lilith membuang napas dengan kesal.
“Iya. Kamu dulu juga pernah ngelakuin hal yang sama dengan Anella, kan?” balas Ellard dengan sindiran tajam.
“Ugh!”
Mulut Lilith yang sudah siap untuk membalas ucapan Ellard pun mendadak bungkam. Kata-kata yang dilontarkan pada sang suami sangat tepat sasaran. Dulu malah dia melakukan hal yang lebih kejam pada Anella.
“Tapi dulu kan memang keinginanku untuk bersamaku. Berbeda dengan kasus kita sekarang,” kata Lilith setelah menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas Ellard.
“Memang berbeda. Karena kamu sendiri kan yang memintaku untuk menggoda Arella, supaya mendapatkan lebih banyak uang. Tapi kenapa sekarang malah kamu yang protes?” jawab Ellard.
Lilith memutar bola matanya dan menelan salivanya dengan kasar, setelah ditembak untuk yang kedua kalinya oleh Ellard.
“Lagian kemarin itu pertemuan terakhirku dengannya sebelum …”
“Pertemuan terakhir? Memangnya kesalahan apa yang kamu buat sampai dia meninggalkanmu?” Lilith tak sabar mendengarkan ucapan Ellard sampai selesai, dan langsung menyela.
“Dengarkan dulu omonganku sampai kelar. Ini pertemuan terakhir dengannya, sebelum dia pergi ke luar negeri. Jadi selama dua bulan, dia menyerhkan semua bisnis ini pada kita berdua,” jelas Ellard.
“Wah, benarkah? Berarti dia udah percaya banget sama kamu. Kamu hebat, sayang.” Dalam waktu sekejab, sikap Lilith langsung berubah serratus delapan puluh derajat. Bagaikan seekor bunglon yang mengubah warna kulitnya.
“Eh, tapi gimana dengan renovasi dan launchin toko kita? Apa jadi dilaksanakan?”
“Haaah, sudahlah. Tadinya aku mau memberikan rekening pendapatan hotel dan sewa gedung padamu. Tapi sekarang aku jadi nggak mood.”
Ellard menepis tangan Lilith yang hendak memeluknya. Sambil menghembuskan napas perlahan, pria itu meninggalkan sang istri dan bersiap untuk mandi.
“Duh, sayang. Maaf tadi aku salah paham. Habisnya dari kemarin yang mengangkat teleponku wanita itu terus. Aku kan jadi curiga, kamu ketiduran karen habis menghajarnya beberapa kali.”
Lilith mengekor Ellard yang sudah lebih dulu masuk kamar. Intonasi suaranya sudah kembali turun, dan wajahnya terlihat sumringah.
“Aku siapkan air hangat dan sabun aroma terapy untuk mandi, ya,” imbuh Lilith lagi.
__ADS_1
Ellard tidak merespon ucapan Lilith. Dia hanya menjatuhkan pakaiannya ke lantai, lalu bergumam pelan. “Menghajar apanya? Percuma tubunya bagus, tapi nggak bisa disentuk kayak landak.”
...***...
Dua bulan kemudian, Ellard dan Lilith kembali harmonis. Mereka hidup berfoya-foya dengan uang yang ada di rekening, tanpa tahu uang itu berasal dari mana. Renovasi toko pun terbengkalai. Mereka merasa bebas, karena Arella tak pernah memantau pekerjaan mereka.
Suatu malam, ketika mereka baru saja sampai di sebuah restoran mewah untuk makan malam.
Rrrr … Rrrr …
HP Ellard berdering. Pria itu melihatnya. Raut wajahnya sedikit berubah melihat nama yang muncul di layarnya.
“Dari siapa itu? Kenapa nggak diangkat? Kayaknya udah bunyi dari tadi, deh,” ucap Lilith sambil mengambil sepotong melon yang dihidangkan sebagai makanan pembuka.
“Oh, ini cuma spam. Nggak perlu dipikirkan.” Ellard kembali menyimpan HP-nya ke dalam saku celana.
Rrrr … Rrrr …
Baru beberapa saat, telepon itu kembali berbunyi. Kali ini ini durasinya lebih lama.
“Telepon itu dari Arella, kan?” tebak Lilith sambil menyipitkan matanya menatap sang suami.
“Eh, i-iya.”
“Kenapa nggak diangkat aja, sih? Nggak apa-apa. Santai aja jawab teleponnya. Nggak perlu sembunyi-sembunyi dariku,” perintah Lilith.
“Santai aja, kali. Nggak perlu sembunyi-sembunyi dariku. Toh aku juga udah tahu hubungan kalian,” kata Lilith mendesak Ellard untuk mengangkat teleponnya. “Atau kamu sengaja, Tarik ulur, untuk membuatnya penasaran, ya?”
“Hahaha, iya benar. Aku memang sengaja membuatnya penasaran.
Lilith kembali menyipitkan matanya, dan memandang Ellard dengan tatapan menusuk. Wanita itu merasa curiga, karena Ellard mengcopy paste ucapannya. Ini bukan sifat Ellard yang biasanya.
Tiba-tiba layar HP Ellard menyala, Tepat saat menu makan malam mereka disajikan. Mesikpun nada deringnya telah di non-aktifkan, Lilith tetap bisa mengetahui kalau ada telepon masuk.
“Ada apa lagi? Kenapa nggak diangkat juga? Apa wanita itu masih di Korea?” Lilith sudah mulai sebal, karena Ellard tak kunjung mengangangkat teleponnya.
“Kamu nggak perlu mikirin hal itu. Aku bisa menghubunginya nanti.” Ellard masih tetap menolak untuk mengangkat telepon masuk itu. Ini sangat aneh.
“Duh, sayang. Harusnya kamu menipu orang yang bisa ditipu aja. Seperti Anella yang bodoh itu. Kalau aku sih cewek peka. Pasti dia bolak balik meneleponmu karena ada masalah penting, kan?” cerocos Lilith dengan sombong. Dia mendesak sang suami untuk segera mengangkat teleponnya.
“Hehehe … Aku paham, kok. Kalau kamu nggak pintar, aku nggak akan mau bersamamu.”
“Hm, melihat dari tertawamu yang kaku, kayaknya beneran ada masalah penting, deh. Abaikan saja aku, kamu bisa pergi dan mengangkat teleponnya dengan tenang,” balas Lilith.
“Aku temani kamu makan malam dulu, lalu ku antar pulang,” ujar Ellard kembali menyimpan HP-nya ke dalam saku.
“Nggak perlu. Aku mau menghabiskan ini semua dengan tenng. Lalu berjalan-jalan di mall dekat sini bersama teman-temanku.” Lilith rela mengusir Ellard pada wanita lain, demi mendapatkan uang banyak.
__ADS_1
“Kamu nggak cemburu?” pancing Ellard.
“Untuk apa aku cemburu, kalau suamiku bisa menghasilkan uang banyak dari wajahnya. yang penting kan hatimu selalu untukku. Kita nggak perlu bekerja keras lagi.”
“Dasar rubah betina! Kau ini licik juga, ya. Menjual suamimu demi uang,” kata Ellard seraya bangkit dari kursinya. Sementar Lilith yang telah gelap mata akan harta, hanya tertawa kecil mendengarnya.
...***...
“Halo? Ada apa sih kalian bolak balik meneleponku? Tadinya aku mau membiarkan kalian begitu aja. Tapi kalian malah membuatku semakin jengkel.” Ellard mencari tempat yang sepi, dan menelepon balik nomor yang tadi meneleponnya.
“Jangan bersikap arogan seakan-akan kau adalah orang paling kaya di negara ini.” Seorang pria bersuara berat, membalas ucapan Ellard di telepon. “Kamu harus segera datang ke sini. Ada hal penting yang harus kita bicarakan secara langsung.
“Memangnya ada apa sampai kalian menyuruhku datang jam segini.? Apa kalian nggak tahu kalau aku sibuk?” Ellard menolak perintah pria itu.
“Kalau kamu mau nyawamu masih aman, kamu harus segera datang ke sini. AKu nggak akan memerintahmu dua kali,” desak pria misterius itu dengan tegas.
“Duh! Padahal aku membayar kalian tiap bulan, tapi kenapa kalian tetap menerorku? Apa kalian nggak yakin aku bisa melunasi semua hutang-hutang itu?”
“Hei, Ellard. Membunuh adalah pekerjaan kedua kami setelah menagih hutang. Bisa saja ini malam terakhirmu, kalau kamu menolak untuk datang. Silakan pilih, mau menikmati kehidupan di dunia, atau di neraka?”
Ancaman pria itu membuat tubuh Ellard gemetar. Dia lantas memutar mobilnya menuju ke apartemen. Dia menukar mobil sport-nya dengan mobil lama miliknya, sebelum pergi ke tempat para rentenir itu.
“Jadi ada apa?” Ellard yang baru saja sampai, melangkahkan kaki dengan angkuh, mencari Griffith sang pemimpin rentenir.
“Tadi anak buahku pergi mengecek fotocopy sertifkat gedung jaminan yang kamu berikan. Tapi rupanya terhitung dua bulan lalu, bahkan sebelum meminjam uang di sini, semua gedung jaminan itu bukan atas namamu lagi,” ucap Griffith.
“Kalian bercanda? Bisa aja anak buahmu berbohong demi keuntungan dia sendiri,” bantah Ellard.
“Coba lihat ini. Apa surat keterangan ini palsu? Jelas-jelas ini kop dan stempel resmi milik kantor agraria. Gedung yang kamu tnjukkan itu atas nama Nyonya Eleanor.”
Grifith menunjukkan beberapa berkas yang mereka dapatkan dari kantor agraria siang tadi.
“Sialan! Apa ada sebuah gedung yang luput dari pengawasanku, dan nggak diubah balik namaku?” pikir Ellard bingung. “Tapi rasanya semua gedung itu sudah jadi namaku. Dan aku yang membayar pajaknya,” batin Ellard setelah mengingat-ingat.
“Ah, tunggu. Kenapa balik namanya baru dua bulan lalu, ya? Itu artinya empat bulan setelah kematian Anella, kan? Dasar wanita tua licik. Bisa-bisanya dia menipuku seperti ini.”
“Heh! Kenapa bengong? Ini bagaimana? Berani-beraninya kamu memberi jaminan hutang, atas nama orang lain. Kamu mau membawa lari uang kami, ya?” Griffith menghentak meja, untuk menakut-nakuti Ellard.
“Tunggu! Kenapa kau begini? Semua jaminan itu nggak penting, asal aku membayar hutang dan bunganya tiap bulan, kan?” kata Ellard mencoba bernegosiasi.
“Kamu pikir kami nggak bakalan begini, kalau kamu nggak menunggak hutang selama dua bulan? Jangan coba-coba menipu kami! Kami nggak butuh wajah tampan dan polosmu itu!” bentak Griffith.
“Sepertinya ini ada kesalahpahaman, Aku akan segera menyelesaikannya,” pinta Ellard.
“Baiklah. Kami beri waktu tiga hari. Jangan coba-coba untuk melarikan diri, karena bagi kami, menemukan orang itu sangat mudah. Kalau kamu kabur dan bersembunyi, di lubang neraka pun akan kami kejar.”
(Bersambung)
__ADS_1