
"Hmm, memangnya apa rencanamu untuk membalaskan dendam pada iblis itu?" tanya Rhea penasaran.
"Operasi plastik, lalu mengganti identitasku secara legal," kata Anella dengan pandangan nanar. Dadanya bergemuruh melawan emosi. Bibirnya menyeringai jahat dengan sejuta rencana di kepalanya.
Rhea menatap temannya itu sesaat. Keningnya membuat kerutan dalam, meskipun bibirnya sedikit tersenyum. "Eh, apa hal itu bisa dilakukan?" tanya Rhea ragu. "Gimana kalau Ellard mengetahuinya?" ucap wanita itu lagi.
"Aku udah mencari tahu tentang hal itu. Kalau punya alasan yang kuat untuk mengubahnya, maka negara akan mengizinkan. Hal yang terpenting adalah surat persetujuan dari mamaku sebagai walinya," jelas Anella.
"Dan jika aku meminta perlindungan hukum, maka Ellard tidak akan bisa melacaknya. kecuali jika seseorang berkhianat," ujar Anella menambahkan.
"Kau yakin?" Rhea membuka bibir mungilnya. Dia masih tak percaya, hal itu bisa dilakukan semudah yang ada di film dan drama.
"Sangat yakin." Anella meneguk isi gelasnya beberapa teguk. Padahal dia hanya meminum air mineral, tetapi sikapnya tetap anggun tanpa dibuat-buat. "Railo pasti bisa nembantuku menjadi wanita yang berbeda, kan?" sambung Anella sambil menyeringai kecil.
"Ya-ya. Aku rasa Railo bisa membantumu. Apa kamu sudah membicarakan hal ini padanya? Aku akan mendukung semua keputusanmu," ucap Rhea dengan senyuman manis di wajahnya.
"Belum, sih. Makasih ya kamu selalu bantuin aku," balas Anella.
"Oh iya, di lembah Verde dekat dengan danau ada, villa milik
ayahku. Surat-suratnya lengkap di sebuah bank lokal. Aku akan membayar kalian dengan villa itu. Apa kira-kira cukup?
"Villa? Apa itu nggak terlalu berlebihan? Biaya yang sudah kami keluarkan tidak semahal harga villa itu." Rhea merentangkan tangannya dengan lebar, untuk menunjukkan betapa mahalnya harga villa itu.
"Rhea. Villa itu bukanlah seperti yang kamu pikirkan. Itu hanya sebuah rumah lama yang sudah tidak terurus lagi. Harga jual atau sewa nya pasti sudah sangat jatuh." Anella tertawa ringan melihat reaksi teman barunya itu. "Ah, kamu bisa mengeceknya melalui citra satelit," kata Anella.
Selama beberapa menit, kedua wanita muda itu berselancar di internet mencari villa yang dimaksud oleh Anella. Jemari Anella pun berhenti, tatkala citra satelit itu berhenti di tepi sebuah danau. Sebuah bangunan kayu oak berwarna cokelat pun terlihat jelas di antara hutan pinus.
"Anne, apa kamu yakin ini villa-nya?" Rhea membuka matanya lebar-lebar. Mulutnya ternganga, tak percaya bahwa villa yang menghadap ke tepi danau itulah yang dimaksud oleh Anella.
"Hu'um. Gimana? Apa ini cukup untuk membayar hutangku? Kalau kurang aku akan memberi beberapa simpanan perhiasanku juga," ucap Anella.
"Sebenarnya seberapa kaya sih keluarga mereka? Kenapa villa mewah seperti ini dibilangnya rumah tua dan gak bernilai? Ini sih villa super mewah bagiku,"gumam Rhea dalam hati, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tuh, kan ... Ini masih nggak cukup." Anella salah mengartikan gelengan kepala Rhea.
__ADS_1
"Eh ... Bukan. Ini cukup, kok. Bahkan lebih dari cukup," jawab Rhea dengan cepat.
"Kamu yakin? Ini bukan karena kamu sungkan sama aku, kan?" kata Anella. "Jasa kalian itu udah cukup besar, loh. Kalian memang tulus membantuku. Tapi aku nggak bisa memiliki hutang budi sama siapa pun. Jadi aku bakal ngelakuin apa aja untuk membayar kebaikan kalian," imbuhnya.
"Anne, dengarkan aku. Villa itu sangat mewah, ditambah lagi lokasinya yang sangat strategis. Bahkan bisa kamu pakai untuk operasi dari ujung kepala sampai ke ujung kaki," jelas Rhea.
"Jadi kamu setuju menerima rumah itu? Kalian bisa melihatnya langsung. Kalau nggak cocok, aku akan bayar pakai perhiasan," ucap Anella tersenyum riang.
"Aku akan bicarakan hal ini dulu pada Railo. Tapi kalau Railo setuju, apakah aku boleh mengubah villa ini jadi panti sosial dan perpustakaan umum?" tanya Rhea ragu.
"Hei, kalau villa ini sudah jadi milik kalian, terserah mau kalian gunakan untuk apa. Asal jangan tempat maksiat," ucap Anella sambil tertawa kecil.
...***...
"Sidik jari dan iris mata sesuai. Anda bisa melanjutkan transaksi," ucap pegawai bank dengan ramah.
"Syukurlah. Aku pikir harus mengurus surat-surat barang berharga dan surat kehilangan di kantor polisi dulu," ucap Anella lega.
"Anda bisa melakukan transaksi, asalkan data anda sesuai, Nona," jelas pegawai bank.
"Apa anda serius mau mengambil semua perhiasan dan srat tanah yang dititipkan di sini? Nggak mau diinvestasikan lagi? Beberapa tahun lagi harganya akan ..."
"Maaf, Bu. Tapi aku lagi butuh uang cukup besar, jadi aku harus segera mengambil semuanya." Anella memotong ucapan pegawai bank.
"Baiklah. Akan segera kami urus. Ini berkas-berkas yang perlu diisi," ucap pegawai itu, memberikan beberapa lembar berkas.
...***...
Beberapa hari kemudian. Seperti biasanya, Nyonya Eleanor lari pagi di sekitar rumahnya. Wanita berusia setengah abad itu masih terlihat cantik dan memukau, karena gaya hidup sehat yang dijalaninya bertahun-tahun.
Sinar mentari pagi yang berwarna kuning keemasan menjalar melalui sela-sela dedaunan pohon maple yang mulai berguguran. Beberapa ekor tupai pun tampak berlompat-lompatan, mengumpulkan biji-bijian untuk bekal musim dinginnya nanti.
"Fyuh!"
Nyonya Eleanor duduk di sebuah kursi kayu. Peluh mengalir di tubuhnya yang sintal. Bibirnya meneguk air dari botol, hingga tersisa setengah.
__ADS_1
Netranya yang berwarna biru kehijauan, menatap sayu sekelompok anak remaja yang tengah bersenda gurau. Bibirnya melengkung ke bawah. Hembusan napasnya pun nampak berat, karena teringat putri semata wayangnya yang menghilang.
"Selamat pagi, Nyonya. Apa Ands menyukai kue tart? Toko kami sedang berinovasi membuat kue tart buah tropis. Apa Anda mau mencobanya, Nyonya?" Seorang wanita muda mendekati Nyonya Eleanor sambil membawa sebuah keranjang berisi aneka ragam kue dan aneka buah yang tak dikenalnya.
"Maaf, Nak. Aku nggak bisa makan yang manis-manis," tolak Nyonya Eleanor dengan lembut.
"Wah, begitu ya? Sayang sekali. Tapi kalau buah segarnya mau, kan? Ini buah-buah tropis. Ada kedondong, sawo, rambutan dan manggis." Wanita muda berambut keperakan itu ngotot menawarkan dagangannya pada Nyonya Eleanor.
"Em, anu ..."
Nyonya Eleanor merasa nggak nyaman didesak seperti itu. Tapi kemudian matanya menangkap secarik kertas yang diselipkan di antara buah sawo.
"Nyonya, ini aku Rhea. Aku membawa pesan dari Anella." Begitulah isi pesan di kertas itu.
"Ah, yang benar? Apa buktinya?" balas Nyonya Elanor berbisik. Tangannya memilih-milih buah kedondong, yang bahkan dia pun tak tahu rasanya seperti apa. Rupanya dia langsung memahami situasi, dan berpura-pura tertarik pada dagangan Rhea.
"Aku punya pesan video dari Anella untuk Nyonya," bisik Rhea sambil melirik ke arah bodyguard ibunda Anella, yang dibayar dan diperintahkan oleh Ellard tersebut.
Beberap saat kemudian. Sang bodyguard mulai mendekat. Rupanya dia mencium aroma mencurigakan dari interaksi antara Nyonya Eleanor dengan penjaja makanan tersebut.
"Jadi jangan lupa membeli buah dari toko kami, Nyonya. Kami tunggu kedatangannya," ujar Rhea sambil memberikan uang kembalian Nyonya Eleanor.
"Ehem!" Sang bodygyard berdehem pelan, untuk memperingati Nyonya Eleanor.
"Astaga. Badan anda bagus banget. Tinggi dan atletis. Kulit Anda juga terlihat sehat. Apa Anda mau mencoba buah-buah segar dari toko kami, untuk menu baru cemilan Anda?"
Ternyata Rhea bukan hanya pandai menyamar, tetapi juga jago berdagang.
"Tidak, terima kasih. Aku tak memakan buah impor," jawab sang bodyguard, setelah yakin bahwa Rhea bukanlah orang yang berbahaya dan patut dicurigai.
"Ah, baiklah. Tidak apa-apa." Rhea pun menjajakan dagangannya, pada orang-orang yang sedang berolahraga.
"Yes! Aku udah dapatkan tanda tangan persetujuan Nyonya Eleanor, untuk operasi Anella," batin Rhea senang. Penyamarannya kali ini berhasil.
"Nyonya, bisa aku periksa kertas apa yang diberikan wanita pedagang itu?" pinta sang bodyguard, saat mereka sudah menuju ke rumah.
__ADS_1
(Bersambung)