
"Haaah, hampir aja aku mati jantungan beberapa hari ini. Bisa-bisanya wanita tua itu mendatangi apartemenku."
Ellard berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan gelisah. Cangkir berisi kopi yang dia bawa, sudah tidak mengepulkan uap panas lagi. Hampir dua puluh menit dia melakukan hal yang sama, menapaki lantai kamarnya yang luasnya hanya setengah, dibandingkan kamarnya di rumah utama.
"Kapan kita bisa bertemu? Aku bosan bersembunyi di kosan kumuh ini. Kau nggak mengingkari janjimu untuk membagi dua harta itu, kan?"
Mata Ellard kembali membaca isi pesan yang dikirim oleh Lilith satu setengah jam yang lalu. Hingga kini dia masih belum membalasnya. Beberapa kali telepon masuk dari selingkuhannya itu pun dia abaikan.
"Cewek sial! Bisanya cuma nyusahin aja. Emangnya dia nggak tahu, aku udah mengincar harta ini sejak belasan tahun yang lalu?"
Ellard menyeruput kopi dalam gelasnya dengan kasar. Ujung kakinya menendang sebuah keranjang kain, hingga seluruh isinya tumpah.
"Untung aku melarangnya pulang ke apartemen malam itu. Lalu membayar petugas CCTV untuk menghapus beberapa rekaman. Kalau nggak, aku sekarang pasti udah jadi bulan-bulanan media, karena kepergok berselingkuh oleh nenek sihir itu."
Tak memiliki rasa terima kasih sedikit pun pada wanita yang telah membesarkannya itu, Ellard justru memanggil Nyonya Eleanor dengan sebutan nenek sihir dan merebut harta kekayaannya.
"Tolong angkat teleponku, sebelum aku meminta para preman untuk menghabisimu," ancam Lilith melalui pesan singkat.
"Ya udah, datang aja kalau kamu dan para preman itu mau tertangkap polisi. Apartemen kita masih diawasi sama nenek sihir itu, ingin menangkap basah perselingkuhan kita. Kamu mau usaha yang udah kita lakuin tiga tahun ini hancur begitu saja?" balas Ellard.
Ellard menghempaskan HP-nya ke atas kasur. Pria itu lalu meninggalkan semua pakaiannya di lantai, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya yang atletis dan berkulit cokelat itu pun basah, terkena guyuran air dari shower.
"Mencari uang itu susah banget. Aku yang mikirin gimana cara melenyapkan cewek kaya itu, lalu melepaskan kartu ponsel milik Anella, dan menyelundupkannya ke luar negeri dengan ponsel lain. Sedangkan Lilith tahu apa?"
Ellard terus mengguyur tubuhnya dengan air, untuk mendinginkan kepalanya.
"Yah, tapi Lilith nggak buruk juga. Pelayanan tubuhnya sangat luar biasa," kata Ellard lagi.
"Sekarang sudah tiga hari berlalu, dan aku belum mendengar kabar mayat ditemukan di gunung itu. Sekarang pasti dia sudah jadi santapan hewan liar, kan?"
Rupanya pria itu masih merasa resah, karena membuang jasad Anella begitu saja di dalam hutan.
"Aku yakin nggak akan ada seorang pun yang menemukan jasadnya hingga jadi tulang belulang. Karena itulah, aku memintanya menggunakan gaun hitam, agar tak mudah terlihat orang lain."
__ADS_1
...***...
Anella menghembuskan napas kasar. Netranya melepaskan pandangan ke luar jendela. Suasana tampak sejuk, dengan awan nimbus dan stratus menggantung di langit. Dedaunan menari-nari ketika angin bertiup.
"Enak ya jadi daun. Bisa bebas ke mana pun dia inginkan." Anella mengacak rambut panjangnya, dan berpikir random untuk melepaskan keluh kesahnya.
Seorang tukang kebun pun berlari mengejar dedaunan yang baru saja disapu itu. Dia kembali mengumpulkan sampah daun kering itu ke dalam keranjang, lalu membawanya ke tempat pembuangan sampah.
Bersamaan dengan itu, beberapa ekor burung kecil berlompat-lompatan di depan jendela kamarnya. Cuitan burung-burung itu terdengar riang dan bersahut-sahutan.
"Ah, kayaknya nggak terlalu enak juga jadi daun. Bisa dicacah lalu dibakar. Apa mungkin lebih enak jadi seekor burung, ya?"
Benaknya terus memikirkan hal-hal random yang nggak penting sama sekali. Sebenarnya itu hanyalah pengalihan dari hatinya yang gundah.
"Sekarang aku harus gimana? Padahal aku kemarin sudah berencana ingin menghancurkan pria laknat itu. Tapi dia dan selingkuhannya selangkah di depanku."
Kedua tangan Anella mengepal, dadanya pun terasa sesak. Dia butuh sesuatu untuk mencurahkan rasa sakit yang menggumpal di dadanya. Ah, apa dia perlu ke puncak gunung, supaya bisa berteriak sekuat tenaga?
"Ah, aku nggak bisa diam aja. Meskipun Mama melarangku pulang, aku harus tetap pulang. Karena aku nggak bisa membiarkan Mama sendirian menghadapi bocah gila itu," batin Anella.
"Anne, maaf aku ninggalin kamu cukup lama. Kamu udah makan? Aku bawain roti untuk kamu, nih." Rhea meletakkan kantong plastik itu di atas meja.
"Aku udah makan, kok. Udah mandi juga," jawab Anella. Bibirnya menyungginggakan sebuah senyuman yang cukup manis.
"Ah, baguslah. Aku juga membawa beberapa lembar baju lamaku untuk kamu pakai," kata Rhea.
"Hmm?" Anella berdehem kecil sambil menatap Rhea cukup lama.
"Oh, maaf. Apa aku menyinggungmu? Aku lupa, apakah pengusaha properti di ibukota mau memakai baju bekss seperti ini?" Wajah Rhea sedikit suram, karena respin Anella barusan. "Maaf, aku baru tahu pagi ini, kalau kamu pengusaha muda," imbuhnya lagi.
"Nggak, kok. Santai aja, Re. Aku nggak masalah pakai baju bekas. Yang ku pikirkan saat ini cuma satu. Kenapa kalian baik sekali padaku yang orang asing ini?"
"Kenapa kamu memikirkan hal sepele kayak gitu? Tentu aja karena kami yang pertama kali menemukanmu, kami bertanggung jawab padamu," balas Rhea sambil mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
Kedua tangan wanita itu dengan cekatan menatap beberapa lembar baju bekas yang dia bawa dari rumah. Setelah itu dia mengambil buah apel, dan mengupasnya untuk dimakan bersama.
"Padahal pria itu lebih dulu bertemu denganku. Dia juga resmi mengikat janji sebagai suamiku. Tapi tetap saja dia menghianati dan membuangku."
Rhea mendes*h pelan mendengar keluhan dari Anella. Pisau dan apel yang berada di tangannya, kembali diletakkan ke dalam piring.
"Anne, dengarkan aku. Saat ini kamu jangan berpikir terlalu berat. Kamu baru aja selesai operasi di kepala beberapa hari yang lalu, dan harus istirahat cukup," ucap Rhea mengingatkan.
"Aku mengerti, Re. Terus, aku tahu kamu punya yayasan amal. Tapi ... Aku boleh mengganti biaya yang udah kalian keluarin, kan?" tanya Anella. "Karena kayaknya aku bakalan nyusahin kamu dan Railo lebih banyak lagi," ujarnya menambahkan.
"Tentu aja boleh. Dengan senang hati aku akan menerimanya. Tapi sekarang kamu harus fokus pada kesehatanmu aja. Biar kamu bisa cepat balas dendam pada pria laknat itu," kata Rhea sambil tertawa.
"Hahaha, kau benar juga. Aku harus punya fisik dan mental yang kuat, kalau mau melawan iblis itu," ujar Anella menimpali.
"Nah, sekarang ceritain sama aku. Kamu butuh bantuan apa lagi?" tanya Rhea.
"Hmm, aku ingin mengetahui kabar salah seorang asistenku. Namanya Pak Alex. Seharusnya dia jadi saksi di kasus pembunuhanku. Tapi kenapa tidak ada satu pun polisi yang mengungkap kesaksiannya itu?" kata Anella.
"Baiklah, beritahu aku ciri-ciri dan alamat rumahnya. Anak buahku akan segera mencarinya," kata Rhea bersemangat.
Tiga puluh menit kemudian.
"Apa? Pak Alex tewas kecelakaan?" seru Anella. Dia lupa kalau saat itu sedang berada di rumah sakit.
"Ya, nggak perlu susah payah mencari infonya. Beritanya tersebar luas di semua media online. Seorang pria bernama Alexander Bowen tewas mengenaskan dalam kecelakaan tunggal beberapa hari yang lalu," cerita Rhea.
"Kecelakaan? Apa benar dia kecelakaan?" Anella merebut ponsel dari tangan Rhea, untuk membaca sendiri beritanya.
"Benar, ini Pak Alex. Tapi apa dia beneran kecelakaan seperti yang dibilang dalam berita itu? Ada CCTV nggak di sana, ya?"
Pak Alex ternyata meninggal di malam yang sama, dengan malam pembunuhan Anella. Mobilnya masuk ke dalam jurang sedalam dua puluh meter. Sepertinya dia terjatuh, saat akan menuju atau pulang dari restoran.
Nggak ada yang tahu kejadian pastinya. Tapi polisi mengatakan, bahwa ban mobilnya yang pecah, serta lampu jauh yang nggak menyala, menjadi pemicu terjadinya kecelakaan tersebut.
__ADS_1
"Aku nggak percaya Pak Alex bakal ceroboh seperti itu terhadap mobilnya. Pasti ada yang berusaha membunuhnya malam itu. Apalagi pihak restoran bekerja sama dengan Ellard." geram Anella.
(Bersambung)