
"Nyonya, bisa aku periksa kertas apa yang diberikan wanita pedagang itu?" pinta sang bodyguard, saat mereka sudah menuju ke rumah.
"Ah ... Kalian nggak perlu memeriksa apa-apa. Ini cuma kertas biasa." Wanita itu menyimpan kertas ke dalam saku jaketnya.
"Tapi aku harus melakukan pekerjaanku, Nyonya. Tolong jangan mempersulit pekerjaanku," desak sang bodyguard.
"Sudah kubilang kertas ini nggak ada apa-apanya. Nggak ada yang harus kalian takuti dan kalian curigai di sini," omel Nyonya Eleanor sambil mempercepat langkahnya.
"Nyonya, jangan sampai aku berbuat kekerasan pada wanita tua seperti anda. Ayo bekerjasama lah denganku." Bodyguard tersebut terus memaksa Nyonya Eleanor untuk memberikan kertas yang diberikan oleh pedagang tadi.
"Ck! Ya udah, deh. Ini kertasnya." Nyonya Eleanor merogoh saku jaketnya lalu memberikan lembaran kertas itu pada sang bodyguard. Wajahnya tampak masam dan mood nya berubah seketika.
"Halah! Cuma brosur dari toko buah kecil rupanya," umpat bodyguard suruhan Ellard itu dengan kesal. Tangannya meremas lembaran kertas itu lalu membuangnya ke sembarang tempat.
Nyonya Eleanor mencibir melihat tingkah pria bertubuh besar itu. "Sudah kubilang kan nggak ada yang perlu dicurigai," Sindir Nyonya Eleanor. "Lihai juga wanita itu mengganti lembar surat izin dariku dan kertas brosur ini," batinnya riang.
"Oh, apa kalian mau kue tart pisang kelapa? Ini enak sekali. Sayang, brosur itu udah kalian buang. Padahal lain kali aku ingin membeli kue di sana." Nyonya Eleanor menyodorkan kue tart, dengan wangi yang sangat menggoda itu.
...***...
__ADS_1
Empat bulan kemudian.
Seorang wanita cantik berjalan dengan Anggun bagaikan ratu kecantikan dunia. Bulu matanya begitu lentik bag wanita Timur Tengah. Kulitnya yang putih dan halus bulu angsa, dihiasi oleh gaun ungu yang sangat menawan. Senyumnya begitu menggoda membuat para lelaki yang menatapnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kau udah siap Arella?" tanya Rhea bersemangat.
Perempuan muda berambut keperakan itu memegang kunci mobil dan sebuah Notes di tangan kirinya. Dia sudah siap untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya.
"Tentu, ini babak baru dalam hidupku," ucap Anella yang kini telah bertransformasi menjadi Arella Andzelika alias sang malaikat dari surga.
Kling!
"Apa Anda pemilik tempat ini?" tanya Arella sambil tersenyum.
"Bukan, saya hanya pegawai di sini. Pemiliknya adalah wanita dengan blouse kuning di sana." Wanita itu menunjuk orang wanita berkulit pucat dengan wajah kemerahan, yang sibuk di mesin kasir.
"Ada apa mencariku?" tanya perempuan berbaju kuning, menyapa Arella dengan kening berkerut. Dagunya terangkat, dan kedua tangannya dilipat di depan dada, menunjukkan bahwa dia adalah penguasa di toko kecil ini.
"Hm, jadi Anda pemiliknya?" ucap Arella sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Ya, namaku Lilith. Anda siapa, ya? Ada keperluan apa di sini?" tanya Lilith menyipitkan matanya. Sikapnya sama sekali jauh dari kata ramah, layaknya pedagang pada umumnya.
"Namaku Arella Andzelika. Toko ini sangat bagus. Aku suka. Tata letaknya begitu apik dan klasik," ujar arella, memberi penilaian pada toko kue tersebut.
"Terima kasih," jawab Lilith dengan wajah datar. "tapi sebenarnya Apa tujuan anda ke sini anda mau membeli roti atau cuma melihat-lihat toko pelanggan ku hari ini cukup banyak. Aku nggak punya waktu untuk bermain-main," ucap Lilith dengan ketus, yang tak sabar melayani Arella.
"Hmm, aku cuma melihat-lihat aja, kok. Rencananya aku juga akan berinvestasi di sekitar sini," kata Arella. "Jadi seperti ini sifatnya pada pelanggan? Pantas pembeli nggak merasa betah," gumam Arella dalam hati.
"Oh, jadi dia calon sainganku?" Wajah Lilith semakin terlihat masam. "Dasar orang-orang sok kaya. Hanya menggunakan pakaian mahal dan tas branded bukan berarti dia bisa menang melawan ku di wilayah sini," batin Lilith mengumpat kesal.
"Begini, Nona. Aku tak punya waktu untuk melayani orang yang hanya ingin bermain-main. Masih ada banyak pelanggan yang harus aku layani," kata Lilith dengan ketus.
"Oh ya. Apa Anda nggak berminat investasi denganku? Aku tertarik untuk memiliki toko kue dan roti seperti ini. Apalagi kue dan roti di sini kualitasnya juga lumayan. Daripada bersaing, lebih bagus kita bekerja sama, bukan?"
Arella menahan Lilith untuk pergi, dan memberikan penawaran kerja sama bisnis.
"Apa? Lumayan? Kualitas kue disini yang terbaik, diantara toko kue lainnya di kota ini," umpat Lilith dalam hati. Dia semakin kesal menghadapi Arella. Wajahnya berkerut karena kesel. Dia lalu mengabaikan Arella, dan hendak pergi melayani pelanggan lain.
"Kamu yakin nggak mau mendengarnya dulu? Bukankah kamu lagi butuh uang, karena bisnis kalian sedang sulit?" ucap Arella melontarkan senjata ampuhnya.
__ADS_1
(Bersambung)