
Ellard menghentikan mobilnya di bawah sebuah pohon besar. Semak belukar setinggi lutut menyambutnya. Pria itu pun terpaksa menyibakkannya dengan sebuah ranting kayu, untuk membuka jalan.
"Pasti aku beneran udah gila, mencari cincin berlian di tubuh orang yang udah mati," gumam Ellard pada dirinya sendiri.
Pria yang hampir putus asa itu pergi ke hutan di pegunungan, tempat dia membuang jasad Anella dulu. Dia hendak mengambil cincin berlian yang diberikan untuk perayaan anniversary mereka kala itu. Dia juga sudah mempersiapkan seutas tali tambang, untuk turun ke dalam jurang, tempat istrinya dibuang.
"Tapi orang mati nggak bisa ngapa-ngapain lagi, kan? Semoga aja sekarang jasadnya sudah tinggal tulang di dalam jurang itu. Jadi aku nggak susah menemukan cincinnya," pikir pria itu.
"Udah ku duga kau ada di sini."
Seorang wanita dengan baju lusuh dan rambut acak-acakan, mendekati Ellard dengan wajah garang. Langkahnya begitu tegas. Matanya yang terbuka lebar pun tampak berapi-api.
"Li-Lilith?" Ellard terkejut melihat sosok wanita yang tak ingin dia temui lagi. Pria itu ingin mundur dan berlari kembali ke mobil. Tetapi wanita lincah itu dengan cepat menghadangnya.
"Kau menggunakan namaku untuk meminjam uang dari rentenir? Kau seenaknya saja menjual tokoku, lalu menjual namaku pada para lintah darat itu. Kau nggak beneran mau kabur dengan wanita itu, kan?"
Lilith yang sudah dikuasai oleh rasa amarah, mencengkeram kerah baju Ellard dan mendorongnya ke sebuah pohon besar.
"So-soal itu ... " Ellard bingung mau jawab apa. Maju atau mundur, saat ini dia tetap bakalan kena.
"Ngomong tuh yang jelas! Jangan bohong!" bentak Lilith sambil mendorong kepala Ellard hingga terantuk ke batang pohon oak raksasa di belakangnya.
"Apa mungkin anak buah Grifith udah menemuimu?" gumam Ellard lirih.
__ADS_1
"Mungkin katamu? Mereka memang udah datang ke rumah dan merampas semua benda berharga milikku. Ah, nggak semua, sih. Karena sebagian juga kau ambil, kan?" balas Lilith dengan geram.
"Huh, iya deh. Aku memang pinjam uang kepada rentenir. Tapi semua itu juga gara-gara kamu yang terlalu royal menghabiskan semua uang dari Arella!" Ellard yang udah habis kesabaran, balas membentak wanita simpanannya itu.
"Kau menyalahkanku?" sanggah Lilith tak terima.
"Ya, kenyataannya emang gitu, kan? Dari awal semuanya memang salahmu. Andai saja kau membiarkanku membaca surat perjanjian kerjasama itu, kita nggak akan tertipu oleh Arella. Kau juga terlalu boros, makanya aku meminjam rentenir dengan namamu sebagai balasannya," balas Ellard dengan nada tinggi.
Lilith melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Ellard. Wanita itu kemudian mundur beberapa langkah, dan mengamb sesuatu di antara tumpukan dedaunan.
"Ellard, kau benar-benar udah ngehancurin hidupku! Kau pantas mati!"
Wanita bertubuh mungil itu sudah gelap mata. Dia memgangkat sebilah pisau yang dibawanya entah dari mana, dan hendak menikam Ellard. Pria berkulit cokelat itu mengelak ke kanan dengan cepat.
"Huh? Kau pikir aku bisa tenang, setelah semua hartaku kau rebut?" teriak Lilith histeris. "Sekarang aku malah terlilit hutang sama rentenir!" Jeritnya lagi.
Ellard mengambil sebuah ranting pohon yang terjatuh di dekatnya. Dia menghindari pisau yang ditodonglan Lilith, menggunakan ranting kayu tersebut.
"Kau menghindar? Sini brengsek!" Lilith semakin nggak bisa dikendalikan.
"Brengsek! Udah jelas sejak awal kau yang memerasku! Dari awal semua harta itu juga bukan milikmu!" bentak Ellard.
"Kau barusan memanggilku brengsek? Kau yang brengsek! Jadi laki-laki nggak bisa diandalkan," balas Lilith dengan nada melengking. "Semua yang kau lakukan salah tapi malah brengsek? Lepaskan aku!"
__ADS_1
Emosi Ellard telah meluap dari ubun-ubunnya. Dia pun mendorong tubuh Lilith menjauh darinya. Pisau yang dipegang Lilith pun terlepas. Ellard langsung mengambilnya dengan cepat, dan menodongkan benda tajam itu tepat di atas dada selingkuhannya.
"Kalau kau mau ambil semua harta milikmu, ya ambil aja. Semuanya ada di mobil. Belum ku jual," kata Ellard. Dia lalu mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, dan membuka pintu mobil yang terletak sekitar tiga puluh meter dari tempatnya saat ini.
"Lah, kenapa kau nggak bilang dari tadi." Wajah Lilith yang penuh emosi mendadak berbinar. Langkah kakinya begitu ringan menuju ke arah mobil.
"Tapi sayangnya itu semua barang KW. Kau udah ditipu sama pemilik toko. Semua surat barang berharga itu pun palsu," teriak Ellard dari kejauhan.
"Apa? Nggak mungkin! Mereka menjamin kalau ini semua asli!" kata Lilith nggak percaya.
"Kau pikir kenapa aku belum menjualnya sampai sekarang? Bahkan diberikan sama para gelandangan pun nggak bernilai sama sekali," jelas Ellard sambil tertawa licik.
"Aaarrrrghhh! Dasar Iblis! Awas aja kau! Nggak akan ku biarkan kau hidup."
Lilith merasa malu karena telah tertipu dan membeli barang palsu. Namun dia tak tahu harus melampiaskannya ke mana. Wanita itu pun menyerang Ellard dengan sebuah batu.
Beruntung, Ellard dapat mengelak. Namun naas, kakinya terpeleset dan menabrak wanita di hadapannya. Batu di tangan Lilith terhempas ke permukaan tanah, disusul dengan tubuh Lilith yang juga terhempas dengan kuat.
"Li-lilith."
Ellard membuang pisau di tangannya, lalu menghampiri Lilith yang mengerang kesakitan. Ellard menganga, melihat rembesan darah di permukaan daun. Ternyata kepala wanita itu membentur batu yang terjatuh tadi.
Beberapa detik kemudian, Ellard tak bisa lagi merasakan hembusan napas Lilith.
__ADS_1
(Bersambung)