
"Lihatlah, sekarang udah jam sembilan pagi. Ke mana pria sialan itu? Berani-beraninya bermain api di depanku?"
Lilith menghentakkan pisaunya kuat-kuat ke atas talenan, saat memotong wortel dan kentang untuk di dalam sop. Dading dada ayam yang masih beku pun dia potong-potong dalam waktu sekejap. Suasana dapur begitu riuh, kafena peralatan masak yang berdenting kuat di tangan Lilith.
Sesekali dia membuang napasnya dengan kasar. Ekor matanya melirik ke arah jam digital di atas lemari es berkali-kali. Giginya menggeretak kuat dengan rahang mengeras.
Cklek!
"Lilith, aku pulang."
Ellard menemui istri sirinya yang sibuk memasak di dapur. Namun wanita itu bergeming di tempatnya, tak menoleh sedikit pun. Tangannya sibuk memotong bawang bombay dengan pisau besar.
"Lilith? Dengarkan aku dulu. Aku minta maaf." Ellard menyentuh bahu sang istri dsn hendak memeluknya.
Cring! Lilith berbalik badan sambil mengangkat pisaunya tinggi-tinggi ke depan wajah Ellard, sebelum pria itu sempat memeluknya.
"Astaga, Lilith. Apa yang kau lakukan?" Sontak Ellard mundur beberapa langkah, untuk menghindari pisau tajam itu.
"Ya ampun! Kapan kamu pulang? Aku nggak mendengar suara pintu terbuka, karena asik mendengarkan musik melalui headset," ucap Lilith. Wajahnya terlihat santai dan semringah, tidak melukiskan kemarahan sedikit pun. Dia lalu buru-buru melepaskan headset nirkabel dari telinganya.
"Eh? Gitu, ya? Aku pikir kamu marah." Napas Ellard tertahan, karena tak bisa menebak-nebak apa yang dirasakan dan dilakukan istrinya saat ini.
"Untuk apa aku marah? Kamu udah sarapan apa belum? Mau sarapan denganku? Sebentar lagi supnya masak," kata Lilith. Dia terlihat begitu ceria menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.
"Be-belum, sih. Aku tadi langsung pulang begitu terbangun," ucap Ellard. "Duh, biarin deh sarapan dua kali. Yang penting nggak bikin dia ngambek," kata Ellard dalam hati.
"Ya udah, tunggu sebentar, ya. Aku akan membuatkan teh hangat sambil menunggu sup-nya mendidih," balas Lilith lagi.
Ellard pun mematuhinya. Dia duduk di meja makan, sambil menatap sang istri dengan curiga.
"Kenapa dia tiba-tiba berubah? Padahal jelas-jelas aku melihatnya marah tadi malam? Apa yang dibilang Arella, kalau Lilith akan mendukungku itu memang benar?" pikir Ellard bingung.
__ADS_1
"Lilith, aku dan Arella tadi malam ..."
"Ah, iya. Strategimu luar biasa banget. Aku gak menyangka kamu bisa punya ide cemerlang dengan merayu Arella, agar bisa dapat proyek darinya," kata Arella sambil membuat teh.
Glek! "Kayaknya Lilith udah beneran gila. Sebentar lagi pasti meledak," gumam Ellard ngeri.
"Lilith, sebenarnya ..."
"Oh iya, kamu semalaman di hotel sama dia dan baru pulang pagi, pasti proyek kita berjalan lancar, kan?" Lilith terus mengoceh, tanpa memberi kesempatan Ellard untuk bicara.
"Ya. Bukannya kemarin aku juga udah bilang, kalau besok kita udah bisa tanda tangan kontrak. Arella akan menyewa gedung di dekat kantor gubernur dan jalan layang. Lalu toko kuemu akan direnovasi. Bisa dibilang sembilan puluh sembilan persen proses kerja sama berjalan lancar," jawab Ellard.
"Serius? Baguslah kalau gitu." Lilith mengukir senyum lebar di wajahnya. Sorot matanya juga terlihat sangat ceria.
"Kamu sesenang itu?" gumam Ellard.
"Iya, dong. Aku jadi gak perlu khawatir lagi memikirkan biaya pengelolaan toko kueku yang hampir bangkrut," ucap Lilith bernapas lega. Kedua tangannya dengan hati-hati meletakkan sup ayam yang masih mengepulkan uap panas ke atas meja.
"A-ada apa lagi?" Napas Ellard terasa berat dan sesak. Tak bisa menebak apa yang dipikirkan Lilith saat ini.
"Berarti aku nggak perlu mengurus toko kue lagi, kan?" kata Lilith.
"Sayang, tentu aja kamu harus tetap mengurus toko," kata Ellard.
"Loh, kok gitu? Kita kan bisa membayar pegawai lebih banyak dari sekarang, dengan uang sewa yang kita punya," ucap Lilith sambil memanyunkan bibirnya lima sentimeter ke depan.
"Aku belum selesai ngomong, sayang. Maksudnya kamu harus tetap mengurus toko itu, karena kamu pemiliknya. Mulai besok kamu adalah CEO tempat kursus dan toko kue butterfly," kata Ellard memperjelas ucapannya.
"Beneran? Kyaaa ... Aku senang banget. Nggak sia-sia deh aku berjuang dari nol sejak dulu," kata Lilith. "Tapi, apa rahasia kita bakal aman di tangan Arella? Dia udah tahu tentang Anella, kan?" ucapnya sedikit khawatir.
"Tenang. Arella gak peduli soal itu. Di antara para investor yang menjauhi kita karena kasus kehilangan Anella, hanya dia yang datang bekerja sama dengan kita. Semuanya pasti aman. Asalkan kita nggak membuatnya kesal," kata Ellard dengan santai.
__ADS_1
"Huffth, syukurlah kalau begitu," ucap Lilith lega.
"Kamu nggak keberatan, aku bersama Arella?" Akhirnya Ellard mengucapkan kegundahan di dalam hatinya, pada sang istri.
"Selama kamu melakukannya murni untuk memperlancar bisnis kita sih nggak apa-apa," kata Lilith tenang. Kedua tangannya menyendok sop hangat ke dalam mangkuk lebih kecil untuk Ellard dan dirinya.
"Hah?" Ellard ternganga, mendengar ucapan sang istri yang diluar tebakannya itu. Dia sampai kehabisan kata-kata, untuk membalasnya.
"Coba kamu pikirkan. Menggunakan segala cara untuk melancarkan transaksi itu kan bagian dari bisnis. Sama seperti yang kamu lakukan pada Anella dulu," kata Lilith sambil menyeringai lebar.
"Biarkan aja dia menikmati wajah tampanmu untuk memikat Arella, agar terus memberi proyek pada kita. Itu namanya bukan selingkuh. Tapi bagian strategi dari bisnis," ucap Lilith lagi.
"Tunggu! Aku nggak paham maksudmu. Jadi maksudnya kamu membiarkan aku menjual tubuhku pada wanita kaya untuk mendapatkan uang?" ujar Ellard dengan kening berkerut.
Lilith menggelengkan kepalanya. "Kamu pernah melihat para artis? Mereka membuat usaha oleh-oleh atas nama mereka, dan menjadi sebuah brand mahal. Harga jualnya meningkat drastis, kan? Padahal kue dengan jenis yang sama juga banyak dijual di tempat lain," kata Lilith.
"Ah, jadi kayak kue-kue yang viral itu, kan?" Ellard akhirnya memahami maksud dari sang istri.
"Ya, gitu deh. Jadi kalau dia memegang kendali gedung-gedung itu, pasti bakalan lebih dilirik oleh investor dari luar negeri. Melihat latar belakang pendidikan dan bisnis Arella, aku yakin dia bakalan lebih sukses dari Anella," kata Lilith lagi.
"Kamu menyelidiki latar belakang wanita itu?" tanya Ellard. Wanita itu semakin membuatnya ngeri.
"Iya, karena aku takut ditipu lagi seperti sebelumnya," ucap Lilith. "Sebenarnya aku mencari keburukannya, sih. Biar bisa mempermalukannya dan memisahkannya dari Ellard. Aku juga sempat curiga, karena namanya begitu mirip dengan wanita sial yang udah mati itu," sambung Lilith dalam hati.
"Selain mengandalkan Arella, aku juga ingin membuka franchise toko kue di gedung-gedung kita yang lain," kata Lilith kemudian.
"Apa pun yang kamu inginkan, aku pasti mendukungmu," kata Ellard lagi. Perasaannya sudah lebih lega, karena Lilith tidak memarahinya.
"Oh iya, aku mau renovasi toko kue diserahkan padaku. Kita bisa menyesuaikan design interiornya sesuai keinginanku. Terus yang paling penting, kita bisa memanipulasi biaya renovasinya. Jadi kita untung besar," kata Lilith sambil tersenyum licik.
(Bersambung)
__ADS_1