
"Hei, pelan-pelan makannya. Nanti kamu tersedak."
Arella menopang dagunya dengan kedua tangan. Netranya yang biru bagaikan lautan menatap pria di hadapannya uang sedang asyik memakan es krim black forest. Pria tampan berambut pirang itu tampak seperi bocah lima tahun yang makan lahap.
"Kamu mau?" Railo menggeser piringnya ke arah Arella.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Aku udah kenyang. Emangny gak cukup ya makan cake apel tadi?" ujar Arella sambil menepuk-nepuk perutnya yang ramping.
"Ini adalah hiburanku, kalau sedang penat bekerja," kata Railo. Tangannya menyendok es krim dari piring ke dalam mulutnya.
"Seenak itu, ya?" kata Railo lagi.
"Hm, iya. Aku suka makanan di sini. Semuanya enak," jawab Railo.
"Jangan terlalu banyak makan-makanan manis. Nanti gigimu bisa berlubang," ucap Arella layaknya ibu-ibu menasehati anaknya yang masih balita.
"Uhuk! Ahaha ... Apa kamu bilang?" Railo meletakkan sendoknya. Dia lalu menatap Arella sambil menahan tawa. "Kamu lupa kalau aku seorang dokter?" ucapnya.
"Nggak, kok. Cuma aneh aja lihat dokter suka makanan beginian," balas Arella. Padahal sebenarnya dia tadi beneran lupa, kalau Railo seorang dokter.
"Memangnya kamu pikir dokter itu pola makannya gimana? Makan makanan sehat setiap hari?" ucap Railo. "Kamu tahu nggak, kalau dokter itu malah banyak yang memiliki sakit maag, karena makan dan tidurnya gak teratur." Railo kembali menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.
"Ya terus kamu ngapain ke sini? Bukannya dokter itu sibuk banget, sampai gak sempat makan dan tidur?" kata Arella menyindir Railo.
"Aku khawatir membiarkan kamu ketemuan sama dua orang laknat itu," ucap Railo. "Jadi karena hari ini libur, aku datang untuk melihat keadaanmu."
"Nah, sekarang udah lihat, kan? Aku baik-baik aja. Lagian kan ada Rhea yang menemani aku di sini," jawab Arella. "Ngomong-ngomong sekarang dia di mana? Pasti kamu larang dia datang, kan?" tuduh wanita itu.
Namun Railo hanya terdiam. Dia tak membantah kalimat Arella barusan. Wajahhya dengan ekspresi datar, menatap Arella tanpa berkedip.
"Kamu kenapa, sih? Gak usah modus, deh. Bilang aja kamu cuma cari alasan biar bisa libur, kan?" cibir Arella.
"Aku ke sini untuk ketemu kamu, La," gumam Railo dalam hati.
...***...
Cring!
"Selamat datang. Apa Anda sudah pesan meja?"
"Ah, aku udah janji sama teman," ucap Ellard sambil menunjuk ke salah satu meja.
"Baiklah. Silakan ..."
__ADS_1
Ellard melangkahkan kakinya perlahan, menuju ke meja Arella. Dari kejauhan dia melihat wanita itu sedang bercengkerama dengan seorang pria. Sesekali terdengar juga tawanya yang renyah.
"Arella itu sangat ceria. Saat bersamanya aku merasa aman. Hanya dengan melihatnya, jantungku sampai berdebar begini."
Ellard tak melepaskan pandangannya, dari wanita yang duduk sejauh dua puluh hasta darinya. Pria dengan rambut hitam itu merasa debaran di dadanya semakin kuat, bagaikan anak remaja yang baru mengalami puber.
"Aku baru pertama kali merasakan hal seperti ini seumur hidupku. Perasaan yang gak kutemukan pada Anella maupun Lilith," gumamnya lagi.
"Kalau terus bersama dengan Arella, aku pasti bisa merasakan hal seperti ini terus setiap hari. Tapi siapa laki-laki di sebelahnya? Kenapa dia tertawa bersama Arella? Dan kenapa dia bisa ada di restoran apartemen wanita itu?"
Semakin mendekati wanita itu, Ellard pun bisa melihat dengan jelas pria yang duduk mendampingi rekan bisnisnya itu. Dari sudut pandang pria, Ellard mengakui jika pria itu memiliki wajah yang cukup tampan. Dadanya yang bidang, membuatnya terlihat gagah.
"Oh, Ellard. Kamu udah sampai?" Arella melambaikan tangannya memanggil pria yang mengenakan kemeja berwarna hijau army dipadukan dengan sweater itu.
Ellard pun membalas lambaian tangan Arella. Matanya terus memandang ke arah Railo yang sedang menghabiskan es krimnya.
"Mari kuperkenalkan. Dia Railo, temanku. Railo, dia rekan bisnisku yang aku ceritakan tadi," ucap Arella memperkenalkan kedua pria itu.
Grek! Railo menggeser kursinya ke belakang. Dia lalu berdiri dan menghadap ke arah Ellard. "Salam kenal Aku Railo Flynn."
"Oh, ya. Salam kenal. Rekan bisnis Arella juga?" ucap Ellard agak ketus.
"Oh bukan. Aku asisten Arella. Tapi bertugas di luar kota," jawab Railo menyembunyikan identitas aslinya.
Railo tersenyum tipis. "Dia tampan, sih. Pantas dulu Arella tertarik padanya.Tapi atittude-nya sangat parah," batinnya.
"Oh, kamu mau membicarakan apa, Ellard? Bukankah kita baru berpisah tadi pagi dan pembicaraan bisnis kita udah selesai?" ucap Arella.
"Hmm, ada banyak. Aku baru teringat setelah di rumah," sahut Ellard.
"Ya sudah, kita bicarakan saja di sini sambil memesan minuman," balas Arella lagi. "Lebih bagus lagi kalau bersama asistenku. Jadi nggak perlu membuat laporan untuk kantor," imbuhnya.
Raut wajah Ellard tampak kusut mendengar jawaban Arella. Tapi dia nggak bisa ngomong apa-apa lagi, karena takut membuat Arella dan asistennya curiga.
"Nggak apa-apa, Arella. Aku bisa pergi sekarang. Lagian es krim udah habis, dan setelah ini ada janji ketemuan dengan orang lain," ujar Railo mengalah. Dia sengaja memberi ruang pada Ellard, dan memperhatikannya dari jauh.
"Railo, memangnya kamu ada janji dengan siapa hari ini?" ujar Arella dengan kening berkerut. Dia merasa sikap Ellard kali ini sudah keterlaluan.
"Teman kuliahku," jawab Railo sekenanya.
"Sudahlah, nanti kan kamu bisa ketemu dengannya lagi. Sedangkan aku susah mencari waktu untuk keluar," kata Ellard. Dia pun mengajak Arella pindah meja ke tepi jendela.
"Maksudnya mencuri waktu saat Lilith sibuk di toko kue? Aku udah menyangka dia bakalan datang lagi, tapi ini udah keterlaluan karena sampai mengusir Railo," batin Arella dalam hati. Wanita itu memandangi pria yang sedang sibuk memilih minuman dari buku menu.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa? Perlu tambah red velvet juga, nggak?" ujarnya.
"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan? Kayaknya ini masalah pribadi, ya?" tebak Arella. Dia tidak menjawab pertanyaan dari suami yang telah membuangnya itu.
"Oh, aku hanya ingin memastikan sesuatu." Ellard menutup buku menu, dan menunda pesanan.
"Memastikan sesuatu? Kamu masih nggak percaya padaku?" kata Arella sambil memanyunkan bibirnya. Lagi-lagi suaranya yang terdengar manja, membuat jantung Ellard berdebar kencang.
"Aku ingin, mulai sekarang pertemuan kita bukan hanya soal pekerjaan," ucap Ellard sedikit gugup.
"Terus?"
"Pertemuan kita karena dua alasan. Bisnis dan pribadi. Aku berterus terang padamu, bahwa aku ingin mendapatkan hatimu juga, bukan hanya sebagai rekan bisnis," kata Ellard. Suaranya terdengar bergetar, namun tatapannya tegas dan tajam.
"Oh, hebat. Berani juga kamu, ya?" Arella menanggapi ucapan Ellard dengan tertawa kecil. "Padahal aku menginginkanmu sebagai rekan kerja. Tapi kamj malah meminta lebih, ya?" ucap Arella.
"Yah, aku hanya ingin berterus terang. Selama di rumah perasaanku nggak tenang. Selalu teringat kamu," jawab Ellard.
"Huh, kata-kata andalan buaya darat purba udah keluar," ucap Arella merasa jijik.
"Gimana menurutmu, Arella? Kamu mau memberiku kesempatan, kan?" Ellard mendesak wanita itu agar segera merespin perasaannya.
"Hm, gimana ya? Apa aku bisa memiliki seutuhnya, laki-laki yang udah beristri?" balas Arella dengan nada sindiran.
"Aku dan Lilith belum resmi menikah. Lagipula kami juga sering ribut hanya karena masalah sepele. Jadi aku bisa menceraikannya kapan aja," kata Ellard dengan yakin.
"Oooww, menarik. Kalau begitu, cobalah mendapatkan hatiku. Tapi, aku nggak akan membiarkanmu pergi setelah mendapatkan hatiku," kata Arella dengan nada lembut dan menggoda.
"Hm, ternyata gak sesulit yang aku kira," ucap Ellard dalam hati, sambil nenyeringai lebar.
"Nah, untuk merayakan perjanjian baru kita, gimana kalau kamu mentraktirku makan di luar. Ini udah hampir waktunya makan malam, kan?"
Arella mengajak Ellard makan malam di luar. Bahkan di tempat yang cukup mewah. Ellard pun terpaksa menyetujuinya, meski keuangannya menipis.
"Apa kamu besok luang? Gimana kalau kita pergi menonton bioskop, setelah itu kita pergi minum wine sambil istirahat di kolam renang villa pribadi?" Ellard berusaha keras untuk mendapatkan hati Arella.
"Hm, boleh. Gimana kalau kita juga menginap? Aku tahu salah satu villa dengan view langit malam yang cantik," usul Arella pula.
"Ellard?"
Tepat saat Ellard dan Arella berbelok di ujung lorong hendak masuk ke dalam lift, mereka berhadapan langsung dengan Lilith. Sialnya, Ellard dan Arella sedang bergandengan tangan.
(Bersambung)
__ADS_1