Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 23. Menggoda Suami


__ADS_3

"Anda pasti jadi incaran para cewek-cewek. Aku pun jadi menginginkanmu," ucap Arella dengan berani. Jemarinya bermain-main di permukaan gelas berisi es kopyor sebagai hidangan penutup.


"Apa ini? Kenapa aku merasakan hal yang berbeda dari cewek ini? Dia memang terlalu blak-blakan seperti Lilith. Tapi dia juga selalu memujiku dengan wajah polosnya."


Dada Ellard berdebar kencang, ketika mendengar kalimat rekan bisnisnya itu. Darahnya mengalir lebih cepat, dan serotonin tubuhnya meningkat. Tapi Ellard berusaha tetap tenang, supaya Arella tidak merasa ilfeel padanya.


"Nah, karena selama ini kau terus direndahkan dan diremehkan sama Lilith, kau jadi lemah terhadap pujian, kan?"


Arella tersenyum licik. Di antara mereka bertiga, hanya Arella yang tidak mabuk. Dia hanya meminum satu gelas tequila di awal, sebagai pemancing kepercayaan kedua orang laknat di hadapannya.


"Duh, maksudnya aku menginginkanmu sebagai rekan kerjaku. Semoga bisnis kita berjalan lancar dalam jangka waktu panjang. Maaf kalau kau salah paham. Mana mungkin aku berani menyukai lelaki beristri, apalagi rekan bisnisku," kata Arella sambil menundukkan wajahnya.


"Eh, aku nggak salah paham, kok. Aku mengerti maksudmu. Kadang ketertarikan terhadap rekan kerja itu perlu, untuk membangun chemistry dan membuat hubungan pekerjaan lebih rileks," kata Ellard dengan suara lembut.


"Wah, kamu profesional sekali. Aku jadi merasa dibimbing olehmu. Pasti pengalaman bisnismu udah banyak banget, ya? Jadilah rekan bisnisku selamanya. Dan kita akan meraih sukses bersama-sama."


Arella mengubah cara bicaranya menjadi non formal. Ellard sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian garis bibirnya sedikit naik dan membuat lengkungan ke atas.


"Hah! Aku baru tahu kalau dia bukan cuma suka mengincar harta orang. Tapi juga menebar pesona dengan perempuan, pasti dia begitu padaku juga karena uang, kan? Tapi apa yang dicarinya pada Lilith?"


Arella menatap perempuan yang telah mabuk berat itu dengan tajam. Dia jijik melihat wanita yang berbagi suami dengannya, selama lebih dari tiga tahun.


"Duh, jangan khawatirkan Lilith. Dia memang begitu kalau udah mabuk," kata Ellard. Pria itu membuka jasnya, lalu menggunakannya utk menutup punggung Lilith.


"Begitu, ya? Jadi kita bisa bebas mengobrol, dong." Arella mengedipkan sebelah matanya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Apa dia sengaja mau tarik ulur denganku? Kenapa sikapnya susah ditebak seperti ini?" pikir Ellard senang.


Selama berbulan-bulan setelah melakukan pembunuhan istrinya sendiri, Ellard hanya menjadi sasaran kemarahan Lilith. Hampir setiap hari mereka bertengkar, hanya karena hal-hal sepele. Sikap manis Lilith yang selama ini ditunjukkan wanita itu, lenyap seketika.


"Wanita mandiri seperti dia terlihat lebih menarik, daripada wanita yang hanya bisa bergantung dan mengandalkan suami seperti Lilith. Ah, kalau dipikir-pikir, Arella sedikit mirip dengan Anella yang mandiri, cerdas dan pekerja keras."


Ellard semakin tenggelam ke dalam pikirannya sendiri. Dia tak sadar sejak tadi senyum-senyum sendiri, dan mengabaikan seruan dari Arella.


"Ya ampun! Apa yang aku lakukan pada laki-laki yang udah menikah? Setampan apa pun dia, seharusnya aku gak boleh menggoda suami orang. Padahal tadi aku sendiri yang bilang soal profesional kerja," seru Arella pura-pura merasa bersalah.


"Hmmm ... Begini, Arella. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Biarpun kami sudah mengikat janji, tetapi kami belum mendaftarkan pernikahan kami secara resmi ke negara. Bisa dibilang kami ini cuma pasangan yang tinggal bersama."


Ellard mengungkapkan rahasiamya kepada Arella. Dia tidak takut, jika rekan bisnisnya itu akan membocorkan rahasianya ke publik. Karena Ellard sendiri sudah mulai muak dengan sikap Lilith yang toksik dan manipulatif.


Jemari pria itu bergerak perlahan hendak menyentuh tangan Arella yang mungil. Namun Arella buru-buru menariknya dengan cepat, sebelum dia muntah karena terlalu muak.


"Kita gak tahu kan, nasib orang ke depannya bakal gimana? Entah huhungan kami akan berakhir seperti apa nanti," sambung Ellard sambil menuangkan vermouth ke dalam gelasnya. Dia merasa sedikit malu, karena secara terang-terangan Arella menghindarinya.


"Oh, jadi kalian belum resmi menikah? Jadi dulu kalian cuma mengikat janji di rumah ibadah?" Arella menanggapi ungkapan hati Ellard dengan wajah sumringah.


"Ya, kami belum menikah resmi. Tapi kami juga nggak mengikat janji di rumah ibadah. Aku nggak mau merusak kesucian rumah ibadah, dengan sikap kami yang tak pantas. Jadi, kami hanya mengikat janji di depan beberapa teman dan kerabat dekat Lilith aja," ungkap Ellard lagi.


"Oh, jadi dia sadar, kalo apa yang dilakukannya itu salah?" Arella terkekeh di dalam hati.


"Ah, kenapa jadi ngomongin soal pribadi, sih? Kamu nggak merasa ilfeel, kan?" Ellard mendadak merubah nada bicaranya.

__ADS_1


"Nggak, kok. Aku maklum. Menikah memang bukan hal yang mudah. Awalnya suami istri mengaku tak bisa hidup, tanpa satu sama lain. Tapi akhirnya ada juga yang bisa saling bunuh karena harta dan perselingkuhan."


Ekspresi Ellard mendadak berubah, ketika Arella mengatakan hal itu. Kepalanya terangkat dan keningnya berkerut dalam. Dia menelisik setiap inchi wajah wanita itu dengan rasa curiga.


"Kenapa berita di TV belakangan ini aneh-aneh aja, ya? Aku jadi takut mencari pasangan dan menikah," ucap Arella seakan berbicara dengan dirinya sendiri. "Tapi kalau sifat cowoknya seperti Pak Ellard, mungkin aku nggak terlalu takut punya pasangan," sambungnya dengan wajah polos.


"Arella ..."


"Duh, aku ngomong apa, sih? Pasti aku udah mabuk," gumam Arella kembali meracau.


"Aku antar pulang, ya?" bisik Ellard sambil mendekatkan wajahnya ke depan Arella.


"Duh, jangan. Nanti pacarmu bisa salah paham," tolak Arella dengan lembut. "Ini kartu apartemenku. Kalau kamu masih mau melanjutkan obrolan kita yang belum selesai, datang aja. Tapi sendirian," kata Arella tersenyum menggoda.


Ellard tercengang mendengar ucapan rekan bisnisnya itu. Dia nggak menyangka, Arella akan mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Pria itu pun menjadi galau. Apakah Arella hanya mengetesnya, atau benar-benar menginginkannya.


"Ini apartemen mewah di kawasan elit. Harga sewanya per bulan bisa mencapai ratusan juta. Berbeda dengan apartemenku yang cuma empat setengah juta per bulan," batin Ellard.


"Sst, aku nggak menyuruhmu datang malam ini. Tapi kapan kau ada waktu luang. Dan aku memintamu datang sendiri, supaya kita bisa fokus membicarakan masalah bisnis tanpa gangguan," ucap Arella menjelaskan ajakannya yang terdengar ambigu.


"Apa kau tinggal sendirian di sana?" tanya Ellard penasaran.


"Ya, aku sendirian," jawab Arella.


"Asisten rumah tanggamu datang di pagi hari?" selidik Ellard lagi.

__ADS_1


"Aku nggak pakai asisten rumah tangga. Karena menurutku pekerjaan rumah itu nggak terlalu sulit. Apalagi tinggal sendirian," balas Arella. "Tapi kenapa kau tanyakan itu?"


(Bersambung)


__ADS_2