
"Selamat pagi."
"Gyaaaa ...!"
Ellard berteriak melihat seorang wanita dengan pakaian tidur tipis, berada di sebelahnya. Rasa kantuknya hilang seketika. Dia pun mencerna kejadian yang baru aja terjadi.
"Ish, kok responmu begitu, sih? Emangnya wajahku kayak hantu, ya?" kata Arella. Bibirnya dia majukan mirip paruh bebek, dan kedua tangannya dia lipat di dada.
"Maaf, bukan gitu. Tapi aku terkejut karena suasana tempat ini. Kok bisa kita ada di sini? Terus Lilith di mana?"
Ellard bingung. Tempat ini nggak asing baginya. Malah dia sangat mengenalinya, karena ini adalah rumah yang dia tinggali bersama Anella selama empat tahun. Arella juga mengenakan baju tidur milik Anella. Biji matanya hampir saja keluar, mengira bahwa Anella bangkit lagi dari kematian.
"Cih, kalau sedang bersamaku jangan sebut-sebut nama Lilith, dong. Katanya kamu mau merebut hatiku? Kalau hal ini aja kamu nggak bisa menjaganya, gimana dengan yang lain?" ujar Arella memasang wajah cemburu.
"Aduh, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud begitu, kok," ucap Ellard buru-buru mengakui kesalahannya di depan Arella.
"Jangan khawatirkan istrimu. Tadi malam dia memang terlalu mabuk sampai tumbang. Tapi Railo sudah mengantarnya pulang," kata Arella.
Wanita cantik itu menggulung rambutnya ke atas, memperlihatkan lehernya yang jenjang. Lekukan tubuh bagian depannya juga kian terlihat, karena bajunya yang sangat tipis.
"Malam? Emangnya pertemuan kita sampai malam? Bukannya kita ketemuan jam sepuluh pagi?" kata Ellard.
"Loh, tapi kamu mengajakku melihat-lihat gedung di luar kota? Lalu kita kembali ke sini malam hari. Aku sampai membatalkan dua pertemuan lho demi kamu," balas Arella.
"Astaga! Benar juga. Kok aku bisa lupa, sih?" gumam Ellard sambil menepuk jidatnya sendiri.
Setelah pertemuan di apartemen, mereka berempat melanjutkan diskusi tentang bisnis di kafe yang dijanjikan Arella. Namun pertemuan tak berhenti di sana. Pembahasan bisnis yang semakin panas, ditambah lagi ada beberapa investor dari luar negeri, membuat mereka terpaksa melanjitkan pertemuan dan melihat-lihat gedung yang hendak dikelola.
"Terus kita? Kok bisa ada di sini?" Ellard mengulang pertanyaannya yang tadi belum dijawab oleh Arella.
"Kamu lupa? Tadi malam setelah Lilith pulang, kamu mengajakku ke tempat lain untuk lanjut minum-minum. Tapi kamu malah membawaku ke sini dan muntah tepat di gaunku," jelas Arella.
"Duh, be-begitu y? Maaf, deh," ucap Ellard.
"Tentu saja itu bohong. Aku yang sengaja membawamu ke sini," batin Arella tersenyum sinis.
"Dasar licik. Kamu sengaja melakukan itu biar aku ganti baju dengan pakaian tipis ini, kan?" ucap Arella dengan nakal.
"Hehehe, ketahuan ya?" ujar Ellard pura-pura sependapat dengan Arella.
"Tapi kok aku bisa membawa dia ke sini, ya? Sebulan yang lalu aku datang ke sini, rumah ini kan kondisinya nggak terawat? Memang sih, aku membayar orang untuk bersih-bersih. Tapi masa bisa sebersih ini?" pikir Ellard bingung.
"Tapi memangnya ini tempat apa, sih? Kok mewah banget? Kenapa kamu dan Lilith nggak tinggal di sini aja?" tanya Arella pura-pura penasaran. Netranya yang biru cerah bak lautan, menatap setiap sudut kamar tanpa terlewat satu sentimeter pun.
"Hm, kamu tahu, kan? Dulu aku pernah menikah. Nah ini rumahku dengan istriku dulu, sebelum dia lari ke luar negeri," ungkap Ellard sambil memasang wajah sedih.
"Ah, maaf aku mengorek luka lamamu," kata Arella menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, kok. Lagian dia juga nggak bakal pulang lagi," balas Ellard.
"Hmm? Apa maksudmu?" tanya Arella tak mengerti.
"Eh, nggak apa-apa, kok. Kayaknya dia nggak bakal berani pulang ke sini lagi. Dia pasti malu sama semuanya," jelas Ellard dengan senyum terpaksa. "Yah, sebenarnya dia udah nggak ads di dunia ini. Makanya dia nggak bakal bisa pulang ke rumah ini lagi," sambung Ellard dalam hati.
"Kamu kenapa? Kok bengong? Aku beneran minta maaf, deh. Aku nggak bakalan ungkit itu lagi," ucap Arella penuh rasa bersalah.
Arella mengusap punggung tangan Ellard dengan lembut. Posisinya yang sedikit menunduk dan baju tidur yang sangat tipis, membuat Ellard bisa mencuri pandang ke arah gundukan di balik baju tanpa bra itu. Bagian bulatan berwarna cokelat yang berada di puncaknya pun tampak menonjol ke luar.
"Aku beneran nggak apa-apa, kok. Kamu nggak usah khawatir."
Jemari Ellard mengusap rambut panjang Arella yang terurai hingga ke punggung. Tanpa sengaja tangannya menyentuh bola kenyal di balik kain tipis berwarna hijau muda tersebut. Arella pun mengerang pelan sambil menutup matanya.
Glek! "Cantik banget sih, dia?"
Ellard bisa merasakan darahnya mengalir dua kali lebih cepat hingga ke ubun-ubun. Serotoninnya pun meningkat, menimbulkan sensasi berbeda di dalam tubuhnya. Melihat reaksi Arella yang menikmati elusan tangannya, Ellard pun berani mencoba menyentuh bagian lain di sisi bagian dalam paha.
Kelopak mata Arella pun mendadak terbuka. Tangan kanannya memegang pergelangan tangan Ellard agar tidak bergerak lebih jauh lagi.
"Kamu lagi ngapain? Nggak mau mandi? Tadi malam kan kamu habis itu langsung tidur," gumam Arella yang membatasi gerakan tangan Ellard.
"Apa? Jadi tadi malam kita ngelakuin itu?" Ellard berseru keras. Dia merasa menyesal, karena nggak bisa mengingat momen enak itu.
"Duh, kamu mikir apa, sih? Nggak usah mesum. Maksudku, setelah kamu muntah langsung tertidur. Aku ingin memberimu air putih dan membuat makanan pereda mabuk, tapi di dapur nggak ada apa-apa," jelas Arella.
"Nggak, makasih. Sudah ku bilang, kan? Aku nggak melakukan hal itu sama rekan bisnisku," tolak Arella tegas.
"Huu, ya udah deh. Tapi bakal aku pastikan, kalau kamu bakal jatuh ke dalam pelukanku," kata Ellard dengan sombong.
"Hilih! Nggak akan aku jatuh ke lobang buaya yang sama," gumam Arella dalam hati.
"Udah, ih. Mandi sana. Perutku udah lapar, nih. Harus diisi makanan," kata Arella mengusir Ellard ke kamar mandi.
"Iya ... Iya ..."
Ellard pun mengalah, lalu turun dari tempat tidur. Namun baru satu detik, dia terpaku di tempatnya. Matanya melihat tubuhnya yang hanya ditutupi celana super pendek tanpa kain lainnya. Tadi dia nggak nenyadarinya, karena tubuhnya tertutup selimut.
"Kenapa?" tanya Arella sambil memasang wajah polos.
"Nggak kenapa-kenapa, kok," balas Ellard. Dia lalu nengambil handuk yang telah disiapkan oleh Arella, dan pergi ke kamar mandi. "Masa sih tadi malam kami beneran nggak ngapa-ngapain? Terus kenapa aku cuma pakai ini?" pikir Ellard penasaran.
Rrrrr ... Rrrrr ...
HP Ellard berdering. Arella lalu mengangkatnya.
"Halo?"
__ADS_1
"Sialan! Apa ini kamu, Arella?" Lilith membalas sapaan Arella dengan sebuah umpatan. Dia lalu mengubah telepon menjadi panggilan video.
"Iya. Ada apa, ya?" tanya Arella dengan santai.
"Ada apa? Kamu bertanya ada apa? Suamiku sedang bersama wanita lain semalaman, kamu pikir aku bakal baik-baik aja? Di mana suamiku?" Lilith menghujani Arella dengan omelan.
"Oh, kamu mencari Ellard? Ada nih. Lagi mandi. Dia nggak kehilangan dan kekurangan satu apa pun, kok," kata Arella santai.
Dia mengarahkan kameranya ke arah pintu kamar mandi yang agak transparan, dan memperlihatkan Ellard yang sedang mandi tanpa busana.
"Sialan! Habis ngapain mereka? Itu rumah milik Anella, kan?" Lilith sangat mengenali design interior kamar itu. Di tambah lagi pakaian Arella yang sangat terbuka. "Aku saja belum pernah diajak Ellard untuk tinggal di rumah mewah itu," umpatnya dalam hati.
"Sudah, kan? Aku juga mau mandi. Nanti akan aku suruh Ellard menghubungimu." Arella menutup telepon tanpa persetujuan Lilith.
"Hahaha ... Mampus kamu! Gimana rasanya suamimu direbut perempuan lain?" ucap Arella tertawa senang.
"Kamu kenapa, Arella? Siapa yang menelepon tadi?" tanya Ellard yang baru saja selesai mandi.
"Oh, itu Lilith. Dia tadi menanyakan keadaanmu. Tapi semua sudah aman, kok," jawab Arella.
"Astaga! Beneran?"
Ellard buru-buru mengambil ponselnya, dan membaca sebuah pesan singkat. Entah apa isi pesan tersebut, tapi wajah Ellard mendadak berubah. Dia lalu mengajak Arella untuk segera pulang.
"Duh, ngapain sih cepat-cepat pulang? Kamu lebih mementingkan aku atau istrimu?" Arella duduk di hadapan Ellard, dan bersikap manja pada pria itu.
"Emm, anu ..."
"Uh, sebel deh. Padahal ini pertemuan terakhir kita," gumam Arella lirih.
"Pertemuan terakhir kita?" Ellard meletakkan HP-nya di atas kasur, lalu duduk di sebelah wanita cantik itu.
"Iya, aku mau pergi ke luar negeri. Mungkin aja kita nggak bakal ketemu selama dua bulan ke depan," kata Arella menganggukkan kepalanya.
"Duh, gitu ya?" Ellard jadi ragu, harus memilih Arella atau Lilith. "Memangnya kamu mau ke mana?" tanya pria itu lagi.
"Aku mau ke Korea. Aku ada bisnis kosmetik di sana. Sebenarnya ini mendadak, tapi keberadaanku sangat dibutuhin di sana," jawab Arella.
"Kalau kamu mau menambah waktu satu hari lagi bersamaku, nanti aku akan membantu mengembangkan bisnismu di luar negeri, dan memperkenalkan hotel pada rekan-rekanku di sana."
Arella ternyata bisa menebak isi kepala Ellard barusan. "Kalau kayak gini, dia pasti bakalan memilihku, kan?" batin Arella dengan yakin.
"Oke, deh. Aku akan bersamamu satu hari lagi. Tetapi kita jangan di sini. Kita cari tempat lain yang lebih indah," ucap Ellard.
"Yes, akhirnya dia bisa memilihku. Lilith, rasakanlah apa yang aku rasakan dulu," batin Arella sambil tersenyum puas.
(Bersambung)
__ADS_1