
"Duh, masa aku harus kembali ke bukit itu lagi hanya untuk mencari keberadaan Arella?" pikir Ellard bimbang.
Setelah diusir dari perusanaan tadi, dia hanya mematung di dalam mobilnya yang masih parkir di basement gedung perusahaan. Pihak perusahaan menolak memberikan data-data perusahaan dan klien yang pernah bekerja sama dengan Arella, dengan dalih nggak bisa
Kepalanya tiba-tiba terbersit sebuah ide. Dia lantas bergegas mengambis HP dari sakunya, dan mengetikkan sesuatu di internet.
"I-ini beneran? Mansion dan Villa Vroisette udah terbengkalai selama dua belas tahun? Bahkan pemilik beserta ahli warisnya meninggal bunuh diri di dalam sana? Udah banyak yang mencoba merenovasinya, tapi mereka semua justru celaka?"
Ellard ternganga membaca berita yang ditulis di media sosial itu. Bulu kuduknya merinding, mengingat dia tadi malam pergi sendirian ke tempat angker tersebut.
"Apa aku salah tempat, ya? Nggak mungkin Arella membawaku ke tempat mengerikan seperti itu," batin Ellard masih nggak percaya.
Dia lalu melihat riwayat perjalanannya dua bulan lalu bersama Arella dan Lilith. Ternyata benar, Arella mengajaknya ke villa dan mansion berhantu itu. Ellard juga mencocokkan foto-foto mansion tersebut saat masih digunakan, dan saat dia datangi kemarin.
"Kenapa bisa begini? Padahal dua bulan lalu aku datang, tempat itu masih tampak mewah dan indah. Apa aku masuk ke dunia hantu? Gimana caranya Arella dan Railo melakukannya?" gumam Ellard bergidik ngeri.
Nggak cuma mencari keberadaan Arella Andzelika yang bagaikan hantu gentayangan, Ellard juga mencoba mencari informasi tentang Railo di media sosial. Namun tetap saja, hasilnya nihil. Ada banyak sekali orang yang memiliki nama Railo di negara itu, tetapi ciri-cirinya gak ada yang sesuai dengan pria yang mendampingi Arella kala itu.
"Aku udah nggak tahu lagi mana yang nyata dan yang nggak. Gimana caranya meluruskan kejadian gak masuk akal ini? Memangnyq Railo dan Arella itu hantu? Nggak, kan? Buktinya orang-orang di perusahaan juga mengaku pernah bekerja sama dia."
__ADS_1
Ellard berkutat sama isi pikirannya sendiri. Dia udah kehabisan akal mencari keberadaan rekan bisnisnya tersebut.
"Apa aku harus memajang fotonya di media sosial, lalu meminga netizen mencarinya? Tapi kalau kayak gitu, semua kejahatanku selama ini juga bisa terbongkar."
Pria yang sering berbuat curang di sana sini itu, takut untuk mengambil keputusan dan berbuat sesuatu. Dia nggak mau tindakan yang diambilnya nanti, justru menjadi bumerang dan membongkar semua kejahatannya selama ini.
Sebenarnya meski hal itu cukup aneh, ini menjadi jawaban yang masuk akal, kenapa alergi debunya jambuh ketika pulang dari mansion tersebut. Ya tentu saja karena mereka mendatangi bangunan terbengkai yang penuh debu dan lumut.
Diterpa rasa gelisah dan putus asa, Ellard terus memutar otaknya untuk keluar dari kemelut ini. Melalui kaca spion di tengag mobil, kedua bola matanya melihat tumpukan barang berharga, yang dia bawa dari rumah tadi malam. Senyumnya pun sedikit mengembang. Itu adalah cara sementara untuk bertahan hidup.
Tangannya dengan lincah memutar kemudi, lalu menekan gas mobilnya dengan kuat. Dia pergi ke beberapa tempat di pinggiran kota untuk menjual barang-barang mahal itu.
"Pak, ini juga surat palsu. Kalau surat ini asli, waktu aku scan pasti akan muncul di sini datanya," jelas wanita itu sambil menunjuk ke layar komputer.
"Tapi istriku membeli ini dengan harga belasan juta," ucap Ellard bersikeras.
"Ya itu artinya Bapak kena tipu," balas wanita itu dengan jelas.
"Kena tipu? Nggak mungkin. Dia membelinya di ..." Ellard menghentikan kalimatnya yang belum usai. Dia nggak tahu, Lilith membelinya di mana. Semua struk belanja sudah dia berikan dengan para rentenir.
__ADS_1
"Gini aja, deh. Kalau Bapak memang percaya tas dan sepatu ini asli, kenapa nggak Bapak jual aja di toko tempat membelinya, atau toko barang-barang ternama lainnya," usul wanita itu.
"Ck, aku lagi butuh cepat. Bayar aja berapa pun harganya," kata Ellard kemudian.
"Pak, udah aku bilang ini barang KW. Aku beli dengan harga murah pun nggak bakalan laku dijual lagi. Yang barang aali cuma itu," tolak pegawai toko itu dengan tegas. Dia juga menunjuk ke arah perhiasan milik Anella, yang dicuri oleh Lilith.
"Ya udah, kamu beli yang ini aja," paksa Ellard menyodorkan kalung dengan berlian pink itu.
"Wah, maaf. Kalau ini kami nggak sanggup beli. Harga perhiasan ini jauh lebih mahal dari harga toko kami beserta isinya," jawab wanita itu.
"Huh! Banyak alasan. Bilang aja kalian miskin! Nggak sanggup membeli perhiasan ini," bentak Ellard. Dia nggak menyangka, jika perhiasan milik istrinya dulu bisa memiliki harga yang sangat mahal.
"Sebaiknya Bapak berhati-hati menjual benda itu. Karena cuma ada delapan di seluruh dunia. Apalagi kalau surat ini bukan atas nama Bapak dan nggak ada surat kuasa jual beli atau surat wasiat. Bisa-bisa Bapak kena pidana."
Mendengar ucapan pegawai toko itu, nyali Ellard sedikit menciut. Dia takut ketahuan jika menjual barang berharga milik Anella yang sampai sekarang masih dinyatakan orang hilang sama polisi.
"Haah! Wanita-wanita sialan! Harusnya aku udah bisa bersantai di kepulauan tropis tanpa perlu memikirkan uang lagi. Bukan jadi gembel begini," umpat Ellard sambil meninggalkan toko itu.
"Sebelum mengurus gedung-gedung milik Nyonya Eleanor, aku harus memiliki modal. Cuma ada satu tempat yang bisa aku datangi saat ini," pikir Ellard sambil tersenyum licik.
__ADS_1
(Bersambung)