Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 42. Wanita Nomor Dua


__ADS_3

"Yes, akhirnya aku punya baju yang cocok untuk dipakai bersama perhiasan ini. Ellard pasti nggak tahu kalau perhiasan ini milik Anella. Kalau pun dia tahu, dia nggak akan bisa mengambilnya lagi dari tanganku, selama aku masih hidup."


Lilith mengeluarkan cincin dan liontin dengan permata pink yang sangat langka milik Anella. Lilith sengaja mencurinya dari lemari Anella bersama surat-suratnya, saat Ellard membawanya ke rumah yang ditinggalinya bersama Anella dulu untuk mengambil beberapa barang berharga, beberapa minggu setelah membunuh Anella.


Perhiasan dengan permata pink dan emas seharga tiga ratus empat puluh lima miliar itu luput dari pengawasan. Lilith tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan langsung mengamankannya.


"Aku akan pakai gaun dan perhiasan ini pada pertemuan dengan Arella besok. Dia pasti nggak akan merendahkan aku lagi. Enak saja dia merendahkanku dan mau merebut suamiku."


Hanya membayangkannya saja, Lilith sudah tertawa puas. Dia nggak sabar untuk segera melakukan pertemuan dengan Arella Andzelika. Wanita selingkuhan Ellard itu bahkan tidak ingat lagi tentan renovasi toko kuenya yang masih terbengkalai.


"Tetapi Ellard ke mana sih pagi-pagi begini? Padahal aku sudah menyiapkan kalkun bakar madu kesukaannya."


Jemari Lilith berulang kali menekan tombol call di nama yang sama. Namun tak kunjung ada jawaban.


"Dia nggak pergi sarapan bareng Arella, kan? Awas aja kalau dia ternyata bareng wanita itu. Aku pasti menghabisinya," gerutu Lilith.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Ellard duduk terdiam di mobil lama miliknya. Kerutan di keningnya sudah menghilang dan berganti dengan senyuman.


"Aaah, syukurlah. Masalah dana renovasi toko beserta seluruh laporan keuangannya udah selesai. Aku udah bisa menatap wajah Arella sekarang," ucap pria itu pada dirinya sendiri. "Tapi uang kali ini Lilith nggak boleh tahu," gumamnya lagi.


Rrrrr ... Rrrrr ...


HP milik Ellard berdering. Seseorang meneleponnya. Ellard tersenyum tipis melihatnya


"Hm, baru aja aku omongin. Dia malah dia yang menelepon duluan."


"Halo, Ellard."


"Ada apa, La. Ini masih pagi banget. Tumben kamu meneleponku? Padahal matahari aja baru terbit," ujar Ellard dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Mau nelpon aja. Sore kemarin kok yang mengangkat teleponku istrimu, sih?" ujar Arella dengan suara mendayu-dayu.


"Em, aku lagi mandi. Maaf, ya," jawab Ellard.


"Halah, dasar buaya pembohong. Padahal kata Lilith dia cuma lagi santai di kamar, kok," batin Arella mencibir kesal. "Tapi kok dia sekarang berani angkat teleponku, ya? Apa masalah renovasi toko udah selesai?" pikir Arella bingung


"Jadi kamu meneleponku karena kangen?" tanya Ellard frngan berani.


"Ih, apaan sih? Nggak usah ge'er. Aku cuma mau ngajakin kalian ketemuan, kok. Maaf tadi malam tiba-tiba aku membatalkan pertemuan kita," kata Arella dengan nada rendah bagaikan penuh penyesalan.


"Iya, nggak apa-apa. Aku maklum, kok. Kamu kan sibuk, klien-mu juga banyak," jawab Ellard penuh pengertian.


"Syukurlah kamu nggak marah. Aku rencananya mau ngajakin kamu sarapan pagi bareng. Tapi istrimu pasti udah masak, kan?" kata Arella sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Ah, itu pagi ini aku free ..."


"Makanya aku mengajak kalian ketemuan jam sepuluh di kafe dekat apartemenku aja. Kita membahas masalah pekerjaan. Ada beberapa masalah perhotelan yang harus kita bahas," kata Arella dengan profesional. Dia sengaja memotong ucapan Ellard yang belum selesai.


"Hm, oke. Jadi Lilith ikut juga, nih?" kata Ellard keberatan.


"Iya, dong. Karena pembahasan kita kali ini jauh lebih banyak. Aku juga membawa asistenku, kok," jawab Arella.


"Ya udah. Nanti kita ketemuan di sana jam sepuluh," balas Ellard lagi.


"Jangan sedih gitu, dong. Nanti aku pasti siapkan waktu untuk kita berdua, seperti rencana liburan kita kemarin," kata Arella dengan suara mende*sa*h manja.


"Iya, aku ngerti, kok. Santai aja. Kita memang harus memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan," balas Ellard sok bijak, padahal hatinya sedang berbunga-bunga mendengar ucapan Arella.


"Hei, tiba-tiba aku penasaran. Gimana dengan hasil renovasi tokonya? Kapan kita bisa launching? Aku udah ggak sabar mengundang rekan-rekan artisku, nih," kata Arella antusias.


"To - Toko aman, kok. Renovasinya se-dang berjalan. Nanti kalau udah selesai, aku pasti kabarin k-kamu," jawab Ellard terbata-bata karena gugup.


"Oh ya? Hasilnya nanti pasti bagus sekali, kan? Aku udah nggak sabar untuk melihatnya," pancing Arella.


"Hahaha, kalau sekarang jangan ke sini dulu. Karena masih banyak debu," jawab Ellard dengan cepat. Dia tak ingin Arella mengetahui kebohongannya.


"Baiklah, aku serahkan urusan toko pada kalian. "Tapi bisakah aku melihat laporan keuangannya? Karena aku juga harus laporan ke bagian keuangan di perusahaan," pinta Arella.


"Aku tunggu, ya. Sampai jumpa jam sepuluh nanti," kata Arella lalu menutup telepon.


"Fyuuh, akhirnya aku bisa bernapas lega. Sekarang aku harus cepat-cepat pulang dan bersiap-siap," gumamnya.


...*** ...


"Kamu beneran mau pakai gaun dan perhiasan itu?"


Ellard memprotes pakaian istrinya yang terlalu mewah dan mencolok. Keduanya baru saja keluar dari kamar apartemen, dan melangkahkan kaki menuju lift.


"Iya, memangnya kenapa?" balas Lilith.


Wanita bertubuh mungil itu mengenakan A-line dress sepanjang lutut, dan atasan bergaya off shoulder yang memperlihatkan lehernya yang jenjang dan bahunya yang mungil. Gaun berwarna pink itu dihiasi brokat halus pada bagian roknya.


Senada dengan warna gaunnya, Lilith menggunakan cincin dan liontin pink milik Arella. Rambutnya yang sepanjang bahu di tata low bun dengan jepit kupu-kupu yang manis.


"Duh, apa komentar Arella nanti? Dia pasti curiga kita menggunakan uang untuk renovasi toko itu," kata Ellard tak setuju.


"Jadi maksudmu aku nggak cocok pakai ini? Masa aku harus pakai baju kumal seperti dulu lagi? Aku dan Arella kan sekarang berada di kelas yang sama?" ucap Lilith menggerutu kesal. Bukan hanya dilarang mengenakan pakaian bagus, dia juga dibandingkan dengan Arella.

__ADS_1


Ting! Pintu lift terbuka. Ellard melangkahkan kakinya terlebih dahulu keluar lift. Namun dia menahan istrinya untuk tetap berada di dalam.


"Bukan begitu maksudku, sayang. Tapi ini kan cuma pertemuan biasa. Pakaianmu terlalu berlebihan," kata Ellard lagi. "Kamu masih punya cukup waktu untuk berganti pakaian," imbuhnya.


"Apa? Aku udah capek-capek berdandan sejak satu jam yang lalu. Tapi kamu malah menyuruhku ganti baju? Menurutku ini gak terlalu berlebihan, kok," balas Lilith sambil menerobos keluar dari lift.


"Aku setuju. Lilith memang terlihat cantik, kok."


Seorang wanita dengan little black dress klasik yang dipadukan dengan flat shoes berwarna senada. Tampilannya yang sangat sederhana itu justru membuat Arella terlihat anggun dan mewah. Rambutnya yang hitam dan panjang, dia biarkan terurai.


"Wah, itu pink diamond yang sangat langka, kan? Hebat kamu bisa memilikinya," puji Arella sambil menyelipkan rambut panjangnya di balik telinga. "Hah, sudah kuduga barang-barsng milikku akan berpindah tangan padanya," gumamnya dalam hati.


"Oh, terima ka -"


Lilith membungkam mulutnya, sebelum menyelesaikan kalimatnya. Kedua matanya terbelalak saat melihat Arella mengenakan Anting-anting Termahal di Dunia, Memory of Autumn Leaves & Dream of Autumn Leaves di kedua telinganya.


Anting-anting ini dihiasi berlian biru muda dan berlian peach yang super langka. Anting-anting ini hanya dimiliki oleh beberapa orang di dunia, karena harganya yang mencapai delapan ratus enam puluh milyar.


"Ck! Menyebalkan! Kenapa dia bisa mengenakan perhiasan yang lebih mahal dariku?" umpat Lilith dalam hati. Dia tidak memperhatikan suaminya yang sudah gemetaran dan pucat pasi.


"A-arella? Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kita janjian di kafe dekat apartemenmu?" tanya Ellard dengan senyum kecut di wajahnya.


"Hm, aku penasaran banget sama proses renovasi tokonya. Jadi aku ke sini untuk melihatnya. Lalu ku dengar kalian tinggal di apartemen ini. Jadi aku pun berinisiatif untuk menunggu kalian di sini," balas Arella sambil tersenyum.


"O-oh, gi-tu. S-soal renovasinya ..." Ellard tak mampu membuat kebohongan lagi. Arella pasti udah melihat toko kue yang sama sekali belum tersentuh sedikit pun. Padahal dari laporan keuangan yang dikirimkannya tadi, biaya renovasi gedung sudah berjalan separuh dari perencanaan.


"Hmm, aku mengerti, kok. Kamu pasti membuat rancangan keuangannya dengan sangat teliti, sebelum pelaksanaannya, kan? Padahal aku sudah menyiapkan masker untuk menghindar dari debu halus, lho," kata Arella dengan nada sindiran.


"Jadi, kita udah bisa pergi sekarang, kan? Aku siang nanti ada meeting dengan invstor lain," ajak Arella seakan tak begitu peduli pada kondisi toko.


"Ya, benar. Ayo kita pergi sekarang," ajak Lilith. "Tapi di mana kamu memarkirkan mobil? Aku nggak melihatny. Kami tak bisa mengajak kamu pergi bersama. Karena muatana mobil kami cuma dua orang."


Lilith menunjuk mobil sport mewah yang terparkir di halaman apartemen, dengan gayanya yang sombong. "Kali ini dia nggak akan bisa mengalahkanku, kan?" gumamnya angkuh.


Ellard lemas melihat sikap Lilith yang pamer harta. "Mampuslah aku. Arella pasti tahu, ke mana uang yang diberikannya pergi," pikirnya pasrah.


"Kalian tenang aja. Aku dan Railo juga membawa mobil sendiri, kok. Railo menungguku di mobil." Arella menunjuk ke sebuah mobil sedan mewah berwarna vanta black, yang parkir di bawah pohon rindang. Tepat di sebelah mobil Ellard dan Lilith.


"Astaga! I-itu mobil mewah seharga sebelas milyar yang harus dipesan khusus sebelum membelinya, kan?" Lilith dan Ellard tercengang melihatnya.


"Sial! Kenapa aku selalu menjadi wanita nomor dua, sih? Dulu Anella, sekarang Arella Andzelika. Apa dia reinkarnasi dari Anella?"


Lilith yang kalah saing dengan Arella pun, hanya bisa menggerutu kesal di dalam hati. Sementara Arella tersenyum sinis merayakan kemenangannya dari selingkuhan sang suami.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2