Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 36. Rugi Besar


__ADS_3

"Gimana? Apa mereka udah tidur?" bisik Railo pada Arella yang duduk tepat di sebelah Ellard.


Arella mengguncang pelan tubuh suaminya itu. Pria itu bergeming di kursinya. Punggungnya tersandar ke belakang dengan mulut menganga. Kondisi selingkuhannya, Lilith, tak jauh berbeda dengan Ellard. Mereka sudah benar-benar tak sadarkan diri.


"Iya. Tugasmu udah selesai," ujar Arella setelah memastikan keadaan kedua tamunya itu. "Kok bisa sih mereka tidur dalam waktu lima menit? Apa yang kamu masukkan ke dalam vodka itu?" tanya Arella penasaran.


"Rahasia, dong. Aku bisa dipenjara kalau membongkarnya, karena udah mela ggar kode etik kedokteran," balas Railo sambil megedipkan matanya. "Untung makanan yang dihidangkan dan keindahan pantainya asli. Jadi kerjaku menghipnotis mereka nggak terlalu berat," imbuh dokter tampan itu.


"Ha ... Ha ... Ha ... Kau benar. Ternyata semudah itu menipu mereka. Bodohnya lagi, Lilith bahkan melarang Ellard membaca isi kontrak." Arella terbahak-bahak menertawai kedua orang yang telah membunuhnya itu.


"Jangan terlalu senang dulu. Jalanmu untuk membalaskan dendam pada mereka masih panjang," ucap Railo mengingatkan.


"Iya, sih. Ini masih belum seberapa, jika dibandingkan dengan perbuatan mereka padaku."


Raut wajah Arella mendadak berubah. Dadanya bergemuruh, mengingat malam kelam kala dia dibunuh dan dibuang. Batinnya bertekad untuk nggak membiarkan kedua orang itu hidup bahagia setelah mencampakkannya.


"Terima kasih, ya. Karena bantuanmu, aku jadi bisa balas dendam sama mereka," ucap Arella setelah emosinya agak mereda.


"Hm, itu bukan apa-apa. Asalkan kamu menepati janjimu untuk traktir kue dan es krim," kata Railo menagih janji Arella.


"Astaga! Iya, Pak Dokter. Aku pasti menepati janjiku, kok. Kamu boleh makan es krim dan segala mavam kue sampai gigimu keropos," ucap Arella merasa gemas. "Nah, sekarang kamu makan aja dulu, sebelum kembali ke rumah sakit. Nanti di sana pasti gak bakalan sempat makan lagi," kata Arella.


Beragam makanan seafood dan steak yang semula disajikan untuk Ellard dan Lilith udah mulai dingin. Sedikit pun belum sempat mereka sentuh. Aromanya sangat menggoda. Hanya saja ruang makan yang penuh lumut dan tanaman merambat liliana ini membuat selera makan Railo hilang.


"Aku nanti aja deh makannya," ucap Railo sambil memandang jijik sekelilingnya. "Tapi kamu beneran yakin aku tinggal sendirian di sini? Sebentar lagi gelap lho. Di sini nggak ada lampu. Tadi katanya Rhea dan supir travel datang agak terlambat, karena jalanan tertutup kabut," kata Railo.


Dia sedikit khawatir meninggalkan Arella di bangunan tua yang mengerikan ini, bersama dua orang kriminal yang pernah melakukan pembunuhan.


"Aku nggak apa-apa, Rai. Lebih mengerikan mereka berdua dibandingkan para hantu di sini," kata Arella dengan yakin. "Kamu yakin, kan? Mereka nggak akan bangun sampai enam jam ke depan?" tanya wanita itu.


"Aku jamin itu. Bahkan Lilith mungkin baru bangun besok pagi," jawab Railo.


"Ya udah kalau gitu. Aku bungkusin makanan ini untukmu, ya. Tadi udah sengaja aku siapkan kotaknya," kata Arella.


Dengan cekatan, dia memasukkan kerang, cumi dan udang bakar, serta tumis daging sapi lada hitam ke dalam kotak makanan yang dia bawa dari rumah.


"Nih, untuk kamu makan nanti." Arella menyerahkan kotak makanan itu pada Railo.


"Thanks. Jaga dirimu, ya. Kalau ada apa-apa cepat telepon aku. Maaf gak bisa menemanimu di sini sampai Rhea datang," kata Railo. Hatinya masih merasa berat meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


"Iya, Rai. Aku ngerti. Pekerjaanmu lebih utama. Hati-hati di jalan," kata Arella dengan senyuman manis.


"Uh, jantungku. Tenanglah. Jangan baper dulu. Dia bukan istriku," ucap Railo dalam hati, pada dirinya sendiri.


...***...


"Uuhhhh ..."


Ellard menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal dan lelah. Perlahan kelopak matanya terbuka, kala seberkas sinar mentari menyinarinya.


"Loh, ini di mana?"


Ellard buru-buru bangun dan melihat sekeliling. Dia tidak mengenali tempat yang lebih mirip dengan hotel itu. Pakaiannya masih lengkap seperti kemarin, namun sedikit berbau minuman. Di sebelahnya Lilith masih tertidur pulas.


"Lilith, bangun! Ini di mana? Kenapa kita bisa ada di sini?" Ellard mengguncang tubuh istrinya, hingga wanita itu terjaga.


"Emh, sayang. Kamu kenapa, sih? Bukannya kita menginap di mansion mewah yang disewa Arella?"


Lilith menggeliatkan badannya. Matanya mengerjap beberapa kali, menghindari silau mentari yang menerobos masuk melalui celah ventelasi.


"Ya ampun! Kok aku bisa lupa, ya?" ucap Ellard sambil tertawa kecil.


"Iya. Ini semua berkat kerja sama kita. Untung kemarin kamu mengingatkanku untuk berhati-hati. Kalau nggak, entahlah. Mungkin kita bisa kehilangan investor lagi," ucap Ellard senang.


"Iya, dong. Aku gitu, loh," ujar Lilith bangga. "Tapi kenapa sih dari tadi kamu garuk-garuk terus? Kamu nggak alergi seafood, kan?" Lilith merasa risih, melihat Ellard terus menerus menggaruk leher dan belakang telinganya.


"Duh, nggak tahu. Rasanya gatal banget. Apa aku digigit serangga, ya?" jawab Ellard bingung. Kini dia menggaruk siku dan dagunya.


"Musim dingin gini kan nggak ada nyamuk. Dan kamar kita juga bersih. Nggak mungkin di mansion mewah begini ada serangga, kan?" balas Lilith bingung.


Kamar dengan ukuran cukup besar itu memang tertata sangat rapi dan bersih. Karpet dan tirai jendelanya sangat halus dan wangi. Sofa-nya juga terlihat bersih. Bahkan sudut-sudut ruangan sekali pun tetap tak terlihat debu atau pun sarang laba-laba.


"Ya ampun, sayang. Kayaknya kamu beneran digigit serangga, deh."


Kulit Ellard terlihat memerah dan bentol-bentol. Lilith kemudian membongkar tas-nya untuk mencari salep. Sayangnya dia nggak menemukan benda itu.


"Tapi aku kena gigit serangga di mana? Masa kamu nggak kena gigit juga. Ini menjalar ke semua kulitku, deh," balas Ellard sambil menggaruk seluruh tubuhnya. "Apa aku kena alergi, ya? Rasanya alergi debu-ku kambuh, deh," gumamnya lagi.


"Tapi tempat ini gak berdebu, sayang. Memangnya kamu habis berguling-guling di pasir?" balas Lilith lagi.

__ADS_1


Wanita itu kemudian membantu Ellard membuka jaketnya. Ternyata seluruh leher, punggung dan tangan pria itu telah memerah dan bentol-bentol.


"Hachim!" Lilith mendadak bersin. Rupanya jaket milik Ellard penuh dengan debu. "Loh, kenapa jaketmu banyak debu begini? Padahal dari kemarin kita nggak ada pergi ke tempat berdebu, kan?" gumam Lilith bingung.


Wanita itu lalu mengecek tempat tidur beserta selimut yang mereka gunakan tadi malam. Tapi nggak terlihat debu di mana pun, selain bekas tempat yang mereka tiduri.


"Duh, nggak tahu, deh. Pokoknya badanku gatal banget. Malah leherku udah terasa perih sekarang," kata Ellard. Dia melepaskan seluruh kain yang menempel di tubuhnya, dan hanya menyisakan pakaian dalam. "Aku mandi duluan, ya?" ujarnya lagi.


"Cih, dasar lemah. Masa gitu aja udah alergi," cibir Lilith.


Wanit bertubuh mungil itu membuka lemari untuk mengambil plastik laundry. Tanpa sengaja dia melewati meja rias, dan melihat blazer serta rok-nya hitam legam.


"Eh? Apa-apaan ini? Kenapa bajuku juga penuh debu? Ini kan baju mahal yang sengaja ku beli di butik mahal," keluh Lilith menggeram kesal. "Aku harus menemui wanita itu untuk minta ganti rugi. Aku rugi besar, nih," gumam Lilith dalam hati.


Ceklek!


"Astaga! I-ini hotel?"


Lilith ternganga melihat deretan kamar bak sebuah hotel. Dia lalu kembali ke kamar dan memperhatikan barang-barang di sana. Matanya pun tertuju pada plastik laundry yang diambilnya tadi. Kemudian dia juga melihat sebuah notes kecil dengan nama hotel, di dekat meja telepon. Ternyata benar, mereka berada di sebuah hotel mewah, di kota tempat tinggal mereka.


"Kok aku dan Ellard bisa menginap di sini? Gimana ceritanya?" Lilith lalu menghubungi resepsionis.


"Bukankah tadi malam Bapak dan Ibu sendiri yang cek ini ke sini? Lalu memesan kamar paling mahal di sini," ungkap resepsionis melalui telepon.


"Ha? Masa sih? Kok aku nggak ingat apa-apa, ya?" ucap Lilith bingung. "Lalu siapa yang membayar hotel ini?" tanya Lilith lagi.


"Em ... Kalau dari catatan di sini, dibayar dengan kartu debet atas nama Nona Lilith," balas sang resepsionis lagi.


"Apa? Sialan Ellard. Dia nggak mau keluar uang sama sekali," umpat Lilith. "Emangnya berapa harga sewa kamar ini per malam?" lanjutnya.


"Untuk kamar suite president yang Ibu tempati sekarang, per malam harganya sebelas juta. Sudah termasuk semua fasilitas hotel ini."


"Apa? Se-sebelas juta?" Lilith menjerit kaget.


Ceklak!


"Kenapa, sayang?" Ellard yang masih penuh sabun dan sampo segera keluar dari kamar mandi, karena mendengar jeritan sang istri.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2