
"Jadi, sekarang kalian mau ke mana?" selidik Lilith, sekalian mengalihkan pembicaraan.
"Kami mau makan malam di luar. Ellard tadi janji mengajakku makan malam di tempat yang enak," balas Arella
"Oh ..." jawab Lilith dengan wajah masam.
"Duh, maaf. Kamu pasti kesal ya mendengarnya. Aku nggak bermaksud begitu. Tapi kami tetap nggak bisa mengajakmu. Karena kami cuma pesan untuk dua orang," kata Arella dengan wajah tersenyum senang.
"Aku mengerti. Lagian aku udah terlanjur janji ketemuan dengan seseorang di sini," kata Lilith dengan nada agak tinggi.
Dia sengaja memasang wajah datar, walau hatinya berkecamuk. Lilith tak ingin Arella melihatnya cemburu. Karena dia tahu, semakin cemburu seorang perempuan pada suaminya, maka perempuan lain pun akan semakin senang menggoda sang lelaki. Ya, bisa dibilang ini adalah pengalaman pribadi Lilith itu sendiri, ketika Ellard masih menjadi suami sah Anella.
"Memangnya kalian mau makan di restoran mana? Pasti restoran mahal ya, sampai harus pesan dulu?" pelan-pelan, Lilith masih terus menyelidiki kegiatan sang suami dengan Arella.
"Bukan, kok. Kami sudah memesan suite room," jawab Arella dengan lantang dan tegas.
"Hah!"
Lilith dan Ellard kompak membuka mulut lebar-lebar. Bahkan jantung Ellard berdegup sangat kencang, mendengar jawaban dari Arella yang gak terduga.
"Bukankah tadi dia hany mengajakku makan malam di sebuah restoran mewah tepi sungai?" pikir Ellard dalam hati.
"Saat sedang membicarakan bisnis banyak sekali hal yang mengganggu, meskipun berada di restoran VVIP sekali pun. Belum lagi rahasia bisnis yang harus di jaga," jelas Arella.
"Mungkin kamu terkejut mendengarnya, tapi para pebisnis biasa melakukan hal seperti ini, bahkan kadang sampai nggak pulang," sambungnya.
Ellard tergagap mendengar jawaban Arella barusan. Kalimatnya sama persis dengan yang diucapkannya pada Anella, ketika dia menghabiskan malam bersama Lilith dulu.
__ADS_1
"Be-begitu, ya? Tapi apa kata orang-orang kalau laki-laki dan perempuan berduaan di kamar semalaman?" ucap Lilith lagi. Gesekan antara kedua wanita itu pun semakin panas.
"Seperti yang aku bilang tadi. Dalam dunia bisnis udah biasa hal seperti ini. Gak ada yang menganggapnya aneh. Bukankah kamu dan Ellard juga pernah melakukan hal yang sama, kan? Bahkan merayakan anniversary di hotel mewah sebelum menikah, kan?" Arella langsung menyindir Lilith terang-terangan.
"Eh? Tapi kami kan memang memiliki hubungan? Bukan hanya rekan kerja atau rekan bisnis?" balas Lilith tak terima disamakan dengan Lilith.
"Oh, ya? Tapi yang kudengar, Ellard baru kehilangan istrinya empat bulan yang lalu. Bahkan statusnya masih orang hilang," ungkap Arella.
"I-itu ..." Tubuh Ellard gemetar mendengarnya. Tak disangka, Arella bukanlah wanita polos seperti yang dia kira.
"Jadi kamu menuduhku sebagai perempuan simpanan? Kenapa kamu bisa menuduhku kayak gitu?" kata Lilith. Hembusan napasnya terdengar kasar, dengan mata menyala.
"Nggak, kok. Kan kamu sendiri yang bilang, pernah menginap di hotel ini satu tahun yang lalu. Dan para pebisnis di kota ini juga tahu, kalau Ellard memiliki istri yang cantik jelita. Kalau aku sih menganggapnya, kalian hanya membicarakan bisnis."
Arella tersenyum puas setelah mengucapkan kalimat itu. Dia melihat wajah Lilith yang masam, namun tidak bisa membalasnya lagi. Sedangkan Ellard yang tadi terlihat tegang, kini udah mulai tersenyum. Dia pasti mengira, bahwa Arella pelan-pelan mulai membuka hati untuk dirinya.
Arella menunjukkan kartu pas sebuah hotel mewah yang berlokasi di tepi danau dan perbukitan pada Lilith sambil menyeringai lebar. Dia tahu, Lilith nggak akan bisa lagi membuntutinya sampai ke hotel itu. Karena untuk masuk ke gerbangnya saja, ada banyak sekali pemeriksaan.
Aku meminjamnya selama beberapa jam, ya. Aku janji nggak akan mencicipinya," kata Arella beberapa saat kemudian. "Ayo, Ellard. Perutku udah berbunyi dari tadi," ujar Arella. Tangannya kembali menggandeng tangan Ellard dengan mesra.
"Ya, baiklah. Aku juga udah lapar," sahut Ellard.
"Y-ya, silakan." Lilith nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Dia terpaksa menyimpan rasa kesalnya dalam-dalam, agar tak semakin dipermalukan oleh Arella.
"Em, Arella. Maaf kemarin kami terbawa suasana sampai kurang istirahat. Jadi jangan terlalu lama meminjamnya, ya. Agar suamiku bisa cepat pulang dan istirahat," pesan Lilith sebelum mereka berpisah.
Arella tersenyum tipis mendengarnya. "Jangan khawatir, aku hanya meminjamnya sebentar untuk membahas urusan bisnis," jawab Arella. "Kecuali kalau dia yang nggak mau pulang. Terpaksa aku membiarkannya pulang pagi seperti tadi," sambung Arella sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"Kurang ajar. Lihat aja nanti. Akan kupastikan dia nggak akan bisa mendekati laki-laki lagi, setelah aku merusak wajah menyebalkannya itu," batin Lilith mendengus kesal.
"Arella, apa kita nggak terlalu menyakiti Lilith? Sepertinya dia tadi agak marah," ucap Ellard ketika mereka telah memasuki lift.
"Eh, masa? Kupikir kalian udah biasa menjalani hidup bebas. Ah, maksudku dengan mindset terbuka," balas Arella tak merasa bersalah sedikit pun.
"Lilith itu agak cemburuan. Apalagi kalau membahas mantan istriku dulu," jelas Ellard hati-hati.
"Oh, jadi aku cuma sebatas mantan istrinya? Padahal belum ada surat cerai dari pengadilan, ataupun surat kematian dariku." Arella berdecih kesal dalam hati.
"Aku khawatir dia akan mengacaukan rencana bisnis kita," imbuh pria itu lagi.
Ting! Pintu lift terbuka. Arella pun keluar terlebih dahulu dari dalam lift. Ellard menyusul kemudian.
"Jangan khawatir. Dia pasti nanti justru akan mendukungmu. Lilith pasti mengerti alasannya kenapa kita harus seperti ini," ucap Arella kemudian, sambil tersenyum penuh rahasia. Kepalnya disandarkan di bahu Ellard dengan manja. Toh, pria itu masih suami sahnya, kan?
"Tapi dari mana kamu tahu soal aku dan mantan istriku dulu? Apa kamu mengenalku sebelumnya?" selidik Ellard yang menyimpan rasa penasaran pada Arella.
"Aku mengetahuinya dari berita. Tapi kasusmu sangat terkenal di kalangan pebisnis dan pengusaha di kota ini. Makanya banyak dari mereka yang enggan melakukan jerja sama bisnis denganmu," jelas Arella. "Aku sih nggak peduli, asalkan kamu bisa bekerja sama denganmu," sambung Arella.
"Ya, itu benar. Aku sangat profesional dalam berbisnis. Lagian semua aset itu memang atas namaku, kok. Jadi jangan khawatir bakalan ada konflik sengketa bangunan nantinya," jawab Ellard.
"Haaaah ... Aku baru tahu, kalau bisnisku nggak lancar gara-gara Anella menghilang dan aku dikabarkan selingkuh. Ternyata Lilith hanya membawa sial bagiku. Semoga aku bisa mendapatkan hati Arella dan kembali sukses," pikir Ellard dengan licik.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Apa yang kamu pikirkan? Pasti mikirin hal-hal mesum, ya?" goda Arella yang bergelayut manja di lengan Ellard. "Jangan berpikir terlalu jauh, aku nggak akan mau mencampuri urusan bisnis dan kesenangan pribadi," imbuhnya.
"Oh, ya? Kita lihat aja nanti," kata Ellard menatap wanita di sebelahnya dengan nakal.
__ADS_1
(Bersambung)