Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 59. Hukuman Sepadan Untuknya


__ADS_3

"Kesalahanmu itu sangat banyak. Bukan hanya menipu, merebut harta dan membunuh satu orang. Tapi kau sudah dua kali membunuh perempuan," kata Arella. "Jadi kau mau minta pengampunan yang mana?" imbuhnya.


Kepala Ellard mendongak. Kelopak matanya terbuka lebar, menatap Arella dengan nanar.


"Kau ... Bisa tahu dari mana?" ucap Ellard semakin gugup.


"Nih! Pelacak GPS yang terpasang pada HP dan mobilmu." Arella mengangkat sebuah benda kecil seukuran jari kelingking ke depan wajah Ellard.


"Bangsat! Kenapa aku bisa lengah soal hal ini? Aku terlalu sibuk memikirkana gedung, sampai lalai memperhatikan sekecil ini," batinnya kesal.


Bibirnya yang terkatup hendak membalas ucapan wanita itu. Tetapi hatinya tak berani melawan para aparat hukum yang mengepung dirinya.


"Aku tahu, kau bukan menyesali perbuatanmu. Kamu memohon ampunan hanya untuk meminta keringanan hukum. Setelah itu, kau pasti bakal mengulangi perbuatanmu lagi, kan? Pria iblis dan tamak kayak kamu mana bisa dipercaya," ujar Arella.


"Arella, aku nggak mungkin berbohong. Aku sangat kapok dan menyesal telah melakukan hal ini. Tolong ampuni aku," ucap Ellard terus memohon ampunan pada sang istri.


"Nanti bicaranya di pengadilan saja. Sekarang ayo ikut kami."


Ellard tak kuasa mengelak, ketika kedua tangannya diborgol sambil ditodong beberapa senjata api.


"Sejak dulu kamu ingin berpisah denganku, kan? Nanti aku akan mengirimkan permohonan cerai padamu di penjara," ucap Arella sambil tersenyum tipis.


"Bangsat! Lihat aja nanti. Aku nggak akan mengalah begitu saja denganmu di pengadilan! Kau juga harus merasakan jeruji besi, karena telah menipuku dan merebut semua hartaku," batin Ellard dalam hati.


...***...


"Shhh ... Sakit!"


Lilith memegang bagian belakan kepalanya, sembari membuka kelopak matanya secara perlahan. Seberkas sinar lampu yang terang menyilaukan pupilnya yang belum beradaptasi. Berselang satu kedipan mata, keningnya berkerut. Dia berusaha mengenali tempat itu.


Pandangan pertamanya adalah sebuah langit-langit berwarna cokelat, dengan beberapa sarang laba-laba yang menjuntai ke bawah. Kemudian sebuah tiang dan selang infus yang mengalirkan cairan ke dalam tubuhnya. Lalu sebuah kipas angin tua yang berputar kencang. Terakhir, pandangannya tertuju pada sebuah kalender yang tergantung di dinding. Semuanya terasa begitu asing baginya.

__ADS_1


"A-aku di mana? Bukannya aku tadi berada di tengah hutan?" pikir Lilith bingung. Menggali ingatannya yang hilang, membuat kepalanya terasa berat dan berdenyut kuat.


"Kau udah bangun, ja*la*ng? Sudah ku bilang kau tak usah kabur, karena anak buahku pasti akan menemukanmu."


Terdengar suara berat dari seorang pria. Lilith melirik ke kiri, menatap asal suara itu berada. Namun, mulutnya ternganga melihat siapa yang berada di sampingnya. Pria itu tampak baru memasuki ruangan melalui pintu samping.


"Ka-kau?"


Lilith hanya mampu mengucapkan sebuah kata itu dengan tergagap. Dadanya berdesir, melihat seorang pria bertato dan bertubuh besar, duduk tepat di sebelah tempat tidurnya hanya dengan satu lembar kain penutup vitalnya. Tonjolan yang besar dan panjang pun membuat Lilith menggigit bibirnya pelan.


Wanita tak berdaya itu sontak melihat ke seluruh tubuhnya. Untunglah semua pakaiannya masih lengkap, hanya ada sedikit noda lumpur dan dedaunan kering yang menempel di kainnya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Ini berbeda jauh dengan milik para selingkuhanmu dulu, kan? Tubuhmu pasti tak sabar ingin merasakan benda ini," ujar Griffith menyeringai lebar.


"T-tolong lepaskan aku," pinta Lilith dengan lemah.


"Apa? Melepaskan dirimu? Hahaha..." Pria itu merespon permintaan Lilith dengan tawa terbahak-bahak. "Aku akan melepaskanmu detik ini juga, kalau kau memberiku uang delapan ratus juta secara tunai," sambung Griffith sang bos rentenir.


Lilith menggeram dan menghela napas panjang. Dia berusaha bangkit dari ranjang dengan kasur lepek itu. Namun kepalanya yang terluka tak kuat dibawa bergerak.


"Uhhhh! Sialan! Kok dia bisa menangkap dan membawaku ke sini, sih? Pasti Ellard yang memberitahu semuanya," umpat Lilith dalam hati. Wanita itu semakin merasa kesal, karena tubuhnya tak mampu bergerak.


"Kau masih ingat ucapanku waktu itu, kan? Kalau kau nggak mampu membayar, maka tubuhmu lah yang akan membayarnya. Hahaha ..."


Griffith menurunkan kain penutup tubuhnya, memperlihatkan senjatanya yang berukuran jumbo. Lilith gelisah melihatnya. Meskipun dia sangat menyukai pekerjaan di ra*nja*ng, tetapi dia tak bisa bermain dengan sembarangan orang.


"Jangan! Jangan lakukan itu! Aku pasti akan membayarnya dengan cara lain nan ... ti ..."


Tepat di tengah-tengah ucapan Lilith yang belum usai, bos besar rentenir itu menarik kain penutup tubuh Lilith hingga, bagian bawahnya terpampang jelas. Griffith meneguk ludahnya dengan kasar, melihat lipatan berwarna merah gelap di antara kedua paha wanita itu.


"Lebih baik kau ada di sini, daripada membusuk di penjara seperti suamimu," balas Griffith dengan seringai tipis.

__ADS_1


"Ellard berada di penjara?" Lilith terkejut mendengar berita itu.


Sementara kedua tangan Griffith terus bergerilya di setiap inchi kulit cokelat wanita itu, hingga ke dua benda kenyal di bagian atas tubuhnya.


"Aku mohon, jangan lakukan itu."


Permohonan Lilith itu tidak berarti apa-apa bagi Griffith. Hanya bagaikan sebuah angin lalu yang berembus di padang savana yang luas. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya. Dia merayap ke atas tempat tidur, dan memenuhi kebutuhannya.


Lilith hanya bisa meringis kesakitan, ketika pria jahannam itu merisak tubuhnya. Air matanya mengalir penuh kemarahan.


Tok! Tok! Tok!


"Bos! Bos! Cepat lari! Bos!"


Baru saja lima menit pria itu merasakan kenikmatan dunia, anak buahnya menggedor-gedor pintu kamarnya dengan kuat.


"Brengsek! Kalian kenapa, sih?" Seru Griffith mengumpat kesal. Seleranya mendadak hilang. Dia menarik organ tubuhnya keluar, lalu turun dari atas tempat tidur.


"Bos! Cepat keluar! Polisi datang!" teriak para anak buah Griffith dari luar.


"Polisi?" Mendengar laporan dari anak buahnya itu, Griffith memakai celananya dengan cepat. "Sialan! Kok para polisi bisa tahu tempat ini?"


Bos rentenir itu kabur dan meninggalkan Lilith yang masih terbaring tak berdaya, dengan tubuh polos tanpa helaian benang. Griffith tak memikirkan hal lain, selain menyelamatkan dirinya sendiri. Rentenir adalah salah satu pekerjaan terlarang dan tindak kriminal di negara itu.


Lilith pun berusaha turun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Kepalanya kembali berdenyut kuat. Akan tetapi wanita itu tetap memaksakan diri untuk bergerak.


Gubrak! Pintu kamar mendadak dibuka paksa, sebelum Lilith sempat memasang seluruh pakaiannya.


"Ketemu, Pak! Di sini wanita itu," seru seorang pria berseragam. Dia lalu memberi waktu pada Lilith untuk berpakaian, lalu menyeretnya keluar bersama infusnya.


Lilith terpaksa mengikuti langkah para polisi itu dengan gontai. Hatinya tak berhenti mengumpat kesal. Dia fak terima diperlakukan seperti ini.

__ADS_1


Bruk! Baru berjalan beberapa langkah, Lilith pun ambruk ke lantai. Denyut nadinya sangat lemah. Para polisi pun segera membopongnya masuk ke dalam mobil tahanan.


(Bersambung)


__ADS_2