
"Sayang, hari ini kamu lagi kecapekan, ya?" Ellard memandang istrinya sambil menyipitkan mata.
"Umm ... Nggak, kok. Memangnya kenapa?" jawab Lilith dengan kening berkerut. "Apa wajahku hari ini jelek banget? Aku udah pakai krim pagi apa belum, ya?" pikir Lilith dalam hati.
"Tumben masakanmu asin. Biasanya masakanmu selalu enak dan cocok di lidahku. Ladanya kayaknya juga terlalu banyak, deh," ucap Ellard.
"Ha? Masa sih?"
Lilith yang sejak dulu terkenal dengan masakannya yang lezat, tak terima dengan tuduhan pria selingkuhannya itu. Dia pun lalu mencicipi Sunday Roast, hidangan khas britania raya yang terdiri dari daging domba panggang, kentang panggang, puding Yorkshire, dan kacang buncis. Lilith pun meringis, ketik lidahnya menyentuh kuah daging yang super asin.
"Kok bisa begini, sih? Pasti Ellard sengaja mengerjaiku untuk membuat masalah, kan?" tuduh Lilith dalam hati.
Dia lalu kembali ke dapur, dan mencicipi masakan yang masih tersisa dalam panci. Dan ternyata memang benar, Sunday Roast masakannya super asin.
"Duh, aku kenapa sih?" pikirnya kesal. Jarang sekali masakannya gagal seperti ini.
"Kalau kamu kecapekan nggak usah masak dan beres-beres rumah. Kita sarapan di luar aja, dan sewa jasa bersih-bersih untuk membereskan rumah kita." Ellard ternyata mengikuti Lilith ke dapur, dan memeluk wanita itu dari belakang.
"Aku tuh nggak capek. Aku cuma lagi kepikiran aja, kamu waktu itu sama siapa semalaman di hotel mewah? Kenapa nggak pulang? Padahal Arella lagi berada di luar negeri," batin Lilith sambil berdecih kesal. "Aku juga kepikiran sama kontrak kerja sama yang dijanjikan Arella waktu itu. Ini udah molor seminggu, tapi dia belum ada kabar," pikirnya lagi.
"Kok kamu diam aja? Aku nggak marah, kok. Masakanmu tetap enak, cuma garamnya aja yang berlebih. Pagi ini kamu mau makan sarapan apa? Wertern food? Korean food? Atau Indonesian food?" Ellard terus merayu sang istri tanpa lelah.
"Ah, aku ngerti. Maaf ya, sayang. Padahal aku janji melayanimu dengan baik setelah menikah," balas Lilith. Dia melepaskan rangkulan Ellard di tubuhnya, lalu membalikkan badan berhadapan dengan pria itu.
"Huh, padahal aku tahu. Kamu baik padaku cuma waktu banyak uang aja. Kalau nggak, aku diinjak-injak seperti kemarin," batin Ellard mencibir istri sirinya tersebut. "Pokoknya aku tetap bersandiwara, sampai semua proyek jerjasama dengan Arella berjalan dengan lancar," pikirnya lagi.
"Jadi kamu mau makan apa, nih?" desak Ellard lagi.
"Ah, aku mau ..."
__ADS_1
Tringgg! HP Ellard mendadak berdering.
"Sebentar, ya. Arella meneleponku," kata Ellard, tak membiarkan Lilith menyelesaikan ucapannya.
"Huh! Wanita itu lagi. Maunya apa sih, mengganggu suamiku seperti itu?" gerutu Lilith. Sendok makan yang sedang dipegangnya pun dia lempar sembarangan. Dia lupa kalau sedang menunggu tanda tangan kontrak bersama Arella.
"Sayang, ada berita bagus, nih. Wekeend ini Arella mengajak kita ketemuan di sebuah mansion mewah tepi laut," kata Ellard.
"Eh, beneran? Dia cuma mengajakmu atau sama aku juga?" tanya Lilith tak percaya.
"Kita berdua, sayang. Dia mau membahas penandatanganan kontrak," kata Ellard lagi.
"Huh, baguslah. Aku nanti mau mengambil foto-foto bagus di sana, dan pamer ke grup sosialitaku," batin Lilith senang. "Oh iya, aku juga harus menyiapkan baju dan sepatu yang cocok untuk hari itu," gumamnya lagi.
...***...
Sabtu sore. Ellard dan Lilith berkendara bersama Arella dan Railo. Mobil mereka melaju kencang, membelah hutan dan pegunungan yang membentang luas. Suasana hijau nan sejuk perlahan berubah menjadi area yang lebih hangat dan terbuka.
"Hm, ternyata tempat ini cantik juga. Padahal kemarin malam rasanya sangat mencekam dan menyeramkan," pikir Railo yang mengemudi. "Tapi kalau mengingat masa kelam tempat itu, mendingan aku cari tempat liburan di tempat lain aja, deh," sambungnya dalam hati.
Sepanjang perjalanan Railo tak hanya sibuk menyetir, tetapi juga sibuk mengambil alih pikiran kedua iblis yang pernah membunuh Arella alias Anella tersebut. Secara perlahan, dia mengacaukan ingatan Ellard dan Lilith, lalu meyakinkan bahwa tempat yang akan mereka kunjungi benar-benar mewah.
Singkatnya, dia menghipnotis kedua orang itu layaknya seorang pelaku penipuan.
Empat jam berlalu dari kota tempat tinggal mereka. Matahari yang tadi bersinar terang di langit, mulai beranjak turun. Langit biru pun perlahan berubah menjadi jingga.
"Woaaaah, cantik banget."
Berkali-kali Lilith berdecak kagum, ketika mereka sampai di depan gerbang mansion mewah tersebut. Pagarnya yang sangat tinggi cantik dihiasi lapisan seperti emas di setiap ujungnya.
__ADS_1
Bangunan yang mengadopsi design istana-istana di zaman romawi itu terlihat sangat megah dengan pilar-pilar besar yang menyangga setiap lantainya. Setiap pintunya memiliki ukiran yang unik dan cantik.
Semua keindahan itu belum termasuk taman-taman indah yang luas, dan dilengkapi pohon buah-buahan serta bunga-bunga aneka warna yang cantik. Puluhan ekor capung dan kupu-kupu tampak lincah bermain di sela-sela kuntum bunga yang bermekaran.
"Udara di luar cukup dingin. Ayo kita segera masuk," ajak Arella dengan ramah. Wanita itu tampak anggun dengan dress A-line sepanjang lutut dan coat berwarna putih. Rambutnya yang hitam dan panjang, dia biarkan terurai hingga ke punggung.
"Railo, kamu pasti kecapekan karena udah menyetir jauh. Isrirahaah," ucap Arella sambil tersenyum manis.
"Baiklah." Railo pun mematuhi perintah Arella. Dia pergi melalui sisi pintu yang berbeda, dibandingkan Arella dan dua orang tamunya.
"Dia asisten Arella yang diceritakannya itu, kan? Memang tampan, sih. Lilith juga beberapa kali meliriknya." Ekor mata Ellard membuntuti punggung Railo, hingga pria itu menghilang di balik pintu.
"Dia juga kelihatan sangat akrab dengan Arella sepanjang perjalanan tadi. Tapi aku juga nggak kalah keren. Apalagi dia cuma seorang asisten," kata Ellard mencibir Railo dengan angkuhnya.
"Mari masuk. Aku sudah menyiapkan kamar terbaik untuk kalian berdua. Anggap saja ini hadiah bulan madu kalian," kata Arella sambil mengedipkan matanya pada Ellard.
"Sialan! Masih sempat-sempatnya dia menggoda suamiku di depan mataku sendiri," pikir Lilith kesal. Dia nggak terima suaminya digoda oleh wanita yang lebih cantik dan kaya darinya.
"Sayang, kenapa kamu memandangi Arella seperti itu?" tegur Ellard. Dia melihat Lilith memandang rekan bisnis mereka dengan sorot mata tajam dan gigi gemeretak.
"Oh, nggak kok. Aku cuma kagum sama tempat ini aja. Ini sangat luar biasa. Arella pasti bukan orang sembarangan, sampai bisa memiliki tempat ini," kata Lilith sambil mwmasang wajah ceria.
"Hahah, iya benar. Dia bukan cuma kaya, tapi kekayaannya pasti sangat gila. Jauh di atas kekayaan Anella," balas Ellard dengan berbisik.
"Duh, kalian terlalu berlebihan. Aku cuma menyewa tempat ini dari temanku, kok. Supaya kita bisa membahas dan menandatangi kontrak perjanjian kerja sama dengan aman."
Ellard dan Lilith terlonjak kaget, karena tak menyangka bahwa Arella mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Kalau kalian bersikap baik, maka aku akan memberikan surat kontrak yang aku janjikan," ucap Arella sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Bersikap baik? Apa maksudnya?" pikir Ellard dan Lilith dalam hati.
(Bersambung)