
"Kenapa kamu pergi ke luar negeri tanpa bilang-bilang pada Mama? Apa kamu marah sama Mama? Maafkan Mama, Nak," ucap Nyonya Eleanor penuh penyesalan.
"Eh? Keluar negeri?" Anella balik bertanya pada sang mama.
"Loh, bukannya kamu kabur ke luar negeri?"
"Mana ada orang pergi ke luar negeri meninggalkan Paspor dan Visanya, Ma. Semua bajuku masih lengkap di rumah. Aku juga menelepon Mama kan pakai nomor lokal," balas Anella.
"Astaga! Kalau gitu, sekarang kamu ada di mana, Nak? Apa keadaanmu baik-baik aja? Bisa video call nggak?" ucap Nyonya Eleanor.
Mulanya Anella menolak untuk melakukan panggilan video. Tetapi Nyonya Eleanor terus memaksa, ingin memastikan keadaan putrinya secara langsung.
"Astaga! Wajahmu, Nak!" Nyonya Eleanor tak bisa melanjutkan kalimatnya, melihat wajah cantik sang putri telah babak belur.
"Aku nggak apa-apa, Ma. Ini cuma luka kecil. Aku bisa mengobatinya," kata Anella meyakinkan sang ibunda.
"Ceritakan pada Mama dengan jujur. Apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kali ini Mama akan mempercayaimu, Nak," pinta Nyonya Eleanor.
Anella pun terpaksa menceritakan kisah pahitnya, mulai dari makan malam romantis yang disiapkan sang suami, hingga Rhea dan Railo yang bersedia menolongnya.
"Ma, tolong jangan menangis. Aku nggak apa-apa, kok. Justru bersyukur karena bisa melihat sifat asli pria itu. Setelah pulih aku akan pulang dan membalas semua perlakuan Ellard," kata Anella menyembunyikan pedih di hatinya.
"Tolong jangan pulang."
"Eh? Apa?" Anella tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
"Mama bilang, kamu jangan pulang. Pergilah sejauh mungkin dari kota ini. Maafkan Mama karena yang nggak percaya padamu dari awal. Maaf karena telah membuatmu mengalami hal mengerikan seperti ini."
Tangis Nyonya Eleanor semakin pecah. Wanita paruh baya itu tampaknya benar-benar menyesali sikapnya yang tak mempercayai putrinya sendiri. Berkali-kali dia mengusap air matanya dengan satu lembar tisu.
"Ma, jangan bicara seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Tentu aja aku harus pulang. Urusan kami belum selesai dan semua harta benda milikku ada di sana," kata Anella tak mengerti.
Nyonya Eleanor lalu menceritakan kembali semua yang dikatakan oleh menantunya. Bagaimana manipulatifnya pria itu, hingga semua orang termasuk polisi bisa mempercayainya.
__ADS_1
Anella bukanlah orang sembarangan. Dia adalah salah satu pengusaha muda yang terkenal di kota kelahirannya. Tapi mengapa bisa dirinya yang hilang tanpa jejak selama tiga hari nggak menimbulkan pertanyaan dari orang lain? Tentu saja semua itu karena Ellard yang mampu menipu dengan baik.
"Pria laknat! Bisa-bisanya dia berbuat seperti itu," umpat Anella.
"Pokoknya Mama harap, kamu jangan kembali lagi sebagai Anella. Lebih baik Mama menganggapmu sudah mati, daripada harus melihatmu terbunuh dua kali, Nak." Nyonya Eleanor terus memohon pada sang putri, agar mengikuti nasehatnya.
"Terus aku harus bagaimana, Ma? Semua pekerjaanku ada di sana. Aku juga nggak bisa sembarangan ganti identitas," kata Anella.
"Mama akan carikan kamu rumah dan pekerjaan di luar negeri. Seperti yang diinginkan oleh Ellard. Kalau kamu muncul lagi sebagai Anella, mungkin saja selanjutnya nyawa kita berdua yang akan terancam. Bocah itu sangat mengerikan," ungkap Nyonya Eleanor.
"Astaga! Benar juga. Kenapa aku nggak kepikiran dari awal?" batin Anella. "Tapi kalau aku nggak pulang, gimana caranya aku menjaga Mama?" Wanita malang itu merasa sangat galau. Jemarinya meremas kepalanya yang mulai terasa pusing.
"Ma, aku nggak tega meninggalkan Mama sendirian di sana. Aku tetap akan pulang. Aku nggak tega meninggalkan Mama hidup sendirian, di sekitar pria kejam itu," ucap Anella dengan berat hati.
"Nak, Mama nggak masalah hidup sendirian. Mama bersedia melakukan apa pun, demi kebahagiaanmu. Bahkan hidup sendirian sekali pun. Anggap aja Mama sedang menebus kesalahan, karena terlalu mempercayai Ellard," ucap Nyonya Eleanor.
"Ah, Mama matikan teleponnya, ya. Sepertinya ada yang datang." Tanpa menunggu jawaban dari Anella, Nyonya Eleanor pun
"Anella! Kamu nggak apa-apa?"
Railo buru-buru memasuki ruangan, ketika mendengar jeritan dari Anella. Saat Anella menelepon sang ibunda, Rhea dan Railo memang meninggalkannya seorang diri, untuk menjaga privasi.
"Aku nggak apa-apa. Aku cuma khawatir sama Mama," kata Anella.
"Jangan berpikir terlalu berat, Anne. Keadaanmu belum pulih betul," kata Railo.
"Ya, terima kasih, Rai. Di mana Rhea? Aku ingin mengembalikan HP-nya," ucap Anella.
"Dia pergi keluar sebentar. Ah, kamu lapar? Mau ku belikan sop?" Railo menawarkan sop pada Anella.
Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Aku makan makanan rumah sakit aja, Rai. Dari dulu aku nggak pemilih soal makanan, kok," jawabnya. "Aku juga merasa nggak enak sama Rhea. Gimana kalau dia marah karena kamu terlalu memperhatikanku?" imbuhnya.
"Untuk apa Rhea marah? Justru dia senang membantu siapa pun, karena dia bekerja di panti sosial," jawab Railo dengan kening berkerut.
__ADS_1
"Bukan itu maksudku. Tapi ..."
"Ah, kamu pasti salah paham sama hubungan kami. Dia itu adik kembarku. Namaku Railo Flynn dan dia Rhea Flynn. Aku lebih tua dua belas menit darinya," kata jelas Railo.
"Heee? Beneran? Pantas aja aku merasa kalian berdua cukup mirip. Ah, nama kalian juga mirip." Anella menertawai kebodohannya sendiri.
"Aku suka melihatmu tersenyum. Jangan sedih lagi, nanti kamu makin lama sembuhnya." Railo mengembangkan senyum di wajahnya, hingga gigi taringnya yang agak panjang pun terlihat. "Kalau ada sesuatu yang bisa aku bantu lagi bilang saja," ujarnya.
"Emm ... Mungkin aku terdengar nggak tahu malu. Tapi aku mau minta tolong padamu dan Rhea. Tolong jagain Mamaku untuk sementara waktu," ucap Anella lirih.
Railo mengambil sebuah kursi, lalu duduk menghadap Anella. Wajahnya yang tersenyum, tampak teduh dan menenangkan. Bola matanya yang berwarna kecoklatan, sangat kontras dengan kulitnya yang cerah.
"Baiklah, nanti aku bilang sama Rhea, ya. Biar dia bisa kirim anak buahnya di sekitar rumah mama kamu," ucap Railo.
"Ah, te-terima kasih. Tapi mau sampai kapan kamu di sini? Memangnya kamu nggak pulang?"
Anella mengalihkan pandangannya dari pria itu. Railo memang cukup tampan. Tetapi hati Anella masih merasa trauma terhadap laki-laki.
"Justru aku merasa tempat ini sudah seperti rumah, dibandingkan rumahku yang sebenarnya. Aku bekerja di sini dan menghabiskan waktu lebih dari enam belas jam di sini setiap harinya," kata Railo.
"Eh? Beneran? K-kamu bekerja sebagai apa?" tanya Anella. Dia menebak bahwa pria itu adalah seorang dokter. Tapi kenapa dia nggak mengenakan jas dokter?
"Aku asisten perawat di sini. Dan sekarang lagi jam istirahatku, makanya bisa mengunjungimu sebentar," jawab Railo.
Tebakan Anella ternyata salah.
"Kayaknya bentar lagi waktunya makan siang. Aku harus kembali bekerja melihat para pasien yang lain. Sampai jumpa nanti."
"Ya, sampai jumpa nanti, Rai," balas Anella sambil tersenyum. "Astaga! Apa yanh kulakukan? Padahal masalahku dengan pria laknat itu aja belum selesai. Aku malah terseny pada pria lain," batin Anella dalam hati.
"Hmm, tapi kenapa aku merasa ada yang janggal dari sikap Railo, ya? Dia kayak menyembunyikan sesuatu," gumam Anella.
(Bersambung)
__ADS_1