Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 24. Tidur Bersama


__ADS_3

"Uh, a-aku cuma takut orang salah paham, kalau aku mendatangi rumah rekan bisnisku," kata Ellard memberikan alasan.


"Memangnya kamu mau datang kapan? Apartemenku memang gak pernah didatangi rekan bisnis sebelumnya. Tapi, sekarang aku membuat kantor kecil di sana, supaya aku nggak terlalu sering keluar rumah," kata Arella.


"Benarkah? Hahaha, aku nggak tahu kalau kamu punya kantor di rumah," ucap Ellard tertawa hambar.


"Memangnya kamu memandangku sebagai perempuan yang gimana?" Arella mengerucutkan bibirnya karena sedih.


"Duh, maaf. Maksudku bukan seperti itu." Ellard buru-buru meminta maaf pada Arella. Dia takut rekan bisnisnya itu membatalkan semua rencana mereka, karena merasa tersinggung.


"Sudahlah, aku nggak marah, kok. Aku tunggu kamu secepatnya, kalau mau bisnis ini berjalan lancar," kata Arella "Sepertinya kita harus menyudahi ini. Istrimu .. Ah, maksudnya pacarmu udah mabuk berat. Aku pergi duluan," imbuh wanita itu sambil berdiri dari kursinya.


"Baiklah. Apa supirmu udah datang menjemput?" kata Ellard.


Arella menganggukkan kepalanya. "Oh iya, aku juga udah membayar ini semua. Jadi kamu dan Lilith bisa langsung pulang. Wine yang tersisa banyak juga bisa di bawa," kata Arella.


"Gimana ini? Kayaknya dia beneran marah, deh. Kalau perempuan bilang nggak apa-apa, itu artinya ada apa-apa, kan?" pikir Ellard resah.


...***...


Tiga puluh menit kemudian, di apartemen Arella.


"Kalau melihat sifatnya yang sangat suka uang, pasti dia nggak akan membiarkanku pergi gitu aja. Karena dia nggak mau uangnya melayang karena aku ngambek."


Arella yang baru saa sampai di rumah, segera mengganti gaun ungunya dengan pakaian tidur yang nyaman. Seluruh make upnya dia hapus, dan memperlihatkan bekas operasi yang masih tersisa.


Sampai sekarang hatinya masih merasa pedih, jika mengingat wajahnya luka parah akibat di habisi oleh suami sendiri beserta selingkuhannya. Padahal Arella alias Anella, dulu adalah wanita paling cantik di sekolah. Hampir semua pria ingin mendekatinya, namun Arella tetap memilih Ellard yang selalu bersamanya setiap hari.


"Ah, kenapa aku dulu bego banget, sih?" gerutu Arella sambil mengusap krim wajah.


Ting! Tong!


Arella mendengar suara bell di depan rumahnya. Wanita itu pun tersenyum. Dia buru-buru mengambil sweaternya, untuk menutupi baju tidurnya yang tipis.


"Akhirnya, si mata duitan itu terjebak denganku," kata Arella tertawa senang.

__ADS_1


Keesokan paginya.


"Uh, kepalaku berat banget." Ellard berusaha untuk duduk, sambil memegang kepalanya yang terasa berat. "Ah, sekarang rasanya malah mau muntah." Dia lalu buru-buru menuju ke kamar mandi.


"Eh, ini bukan kamarku. Aku di mana sekarang?" seru Ellard setelah menyadari, interior kamar itu berbeda dengan kamar miliknya. Posisi kamar mandinya juga berbeda.


"Lilith, tolong aku." Ellard berseru memanggil Lilith berkali-kali.


"Kenapa kamu menyebut nama wanita lain saat bersamaku? Aku kan jadi merasa kesal.


Hampir saja bola mata Ellard melompat keluar, melihat wanita cantik yang hanya mengenakan handuk kimono yang cukup seksi.


"A-arella, apa yang kita lakukan?" ucap Ellard menutup dadanya, yang hanya mengenakan kaus singlet.


"Kita? Lebih tepatnya kamu," ujar Arella sambil tertawa.


"A-aku ngapain?" tanya Ellard cemas.


"Apa, ya? Coba kamu ingat-ingat, kamu tadi malam ngapain aja?"


Glek! Ellard menelan ludah melihat pemandangan itu. Tapi kemudian dia buru-buru membuang pikiran liarnya.


"A-aku ingat. Tadi malam aku mengantar Lilith pulang ke rumah, lalu aku datang ke sini," ucap Ellard terbata-bata.


"Terus?" Arella melipat kedua tangannya di depan dada, lalu berjalan perlahan mendekati Ellard, yang sejatinya masih menjadi suami sahnya.


"Te-terus?" Ellard menggali ingatannya dalam-dalam, tapi tetap aja dia nggak bisa mengingat apa pun, setelah memencet bel apartemen wanita cantik itu.


"Terus kamu muntah di depan pintu karena mabuk berat. Aku terpaksa memanggil dua asitenku di kantor untuk membopongmu ke dalam, serta mengepel sisa muntahnya," kata Arella sambil tertawa kecil. Wanita itu juga membuka sedikit pintu kamarnya, dan menunjuk dua pria yang sedang tidur di ruang tengah.


"A-apa?" Ellard hampir saja terkena sakit jantung mendengarnya. "Ellard bodoh. Kenapa ceroboh banget, sih? Padahal bisnis ini belum sempat dimulai." Ellard memarahi dirinya sendiri dalam hati.


"Tapi kenapa hanya aku yang tidur di dalam kamar?" selidik pria itu.


"Awalnya kamu juga tidur di sana, kok. Tapi pagi-pagi kamu tiba-tiba menerobos masuk, dan menyebut nama Anella dan meminta maaf padanya berulang kali. Kalau nggak percaya, boleh cek CCTV." Arella menaikkan alisnya dan menunggu reaksi pria itu.

__ADS_1


"Mampus aku! Belum apa-apa aku udah bikin kesalahan fatal," ujar Ellard dalam hati.


"Ngomong-ngomong Anella siapa? Mantanmu? Bukankah kekasihmu bernama Lilith?" selidik Arella pula.


"Hm, i-itu dia salah satu kenalanku. Lilith juga mengenalnya, kok," kata Ellard terbata-bata. Keringat dingin meluncur di punggungnya.


"Salah satu kenalan? Sialan! Aku nggaj dianggap apa-apa selain ladang emas baginya," umpat Arella dalam hati.


"Dia percaya kata-kataku, kan?" pikir Ellard cemas.


"Oh, aku pikir kamu punya hubungan spesial dengan perempuan bernama Anella itu? Karena kayaknya kamu sangat mengenalnya?" ucap Arella beberapa detik kemudian.


"Hahaha, kamu bercanda? Mana mungkin aku selingkuh." Ellard semakin merasa panik.


"Ya, aku percaya, kok. Tapi Ellard, gara-gara kamu aku terpaksa tidur dengan tiga pria dalam satu rumah untuk pertama kalinya. Kamu harus tanggung jawab," ucap Arella pura-pura merajuk.


"Tanggung jawab?" ulang Ellard. "Apa dia mau lapor polisi, karena mengganggu kenyamanannya?" tebak pria itu.


Arella menganggukkan kepalanya. "Kamu harus bikin bisnis kita lancar. Aku ini cewek baik-baik, loh. Baru kali ini membiarkan cowok menginap di rumahku," pinta Arella."


"Aku janji. Aku pasti akan membuat bisnis kita sukses besar. Aku janji itu," kata Ellard meyakinkan Arella. Udah jelas dia nggak mau kehilangan peluang besar ini.


"Nah, sebelum itu kamu mandilah dulu. Tapi maaf, aku cuma bisa pinjamkan baju olahragaku dan celana training ini. Karena semua baju yang dipinjamkan mereka padamu, kotor kena muntah. Aku sedang mencucinya," kata Arella.


"Oh, terima kasih," ucap Ellard.


"Sebelum pergi nanti kamu sarapan dulu. Aku mau memasak sarapan untuk kita berempat," kata Arella sambil mengambil pakaian ganti di dalam lemari. Dia pun menuju ke kamar lainnya untuk berganti baju.


Klak! Pintu kamar tertutup. Ellard pun bergegas mencari HP dan dompetnya.


"Mati aku! Sekarang udah jam tujuh rupanya."


Ellard melihat puluhan pesan dan misscall dari Lilith. Padahal dia tadi malam berniat buru-buru pulang sebelum Lilith terbangun.


"Aku pasti dicincang Lilith nanti di rumah," ujar pria itu pasrah.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2