Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 48. Bagian untukmu


__ADS_3

“Waaah, segarnya. Rasanya badanku segar banget. Wajahku juga terasa semakin kencang.”


Lilith yang baru aja selesai mandi dan masih mengenakan handuk kimono, memasuki ruang kerja tempat suaminya berada. Sejak tiga puluh menit yang lalu, Ellard memang berada di sana, untuk mengecek surat-surat kontrak dengan Arella. Sejauh ini dia belum menemukan hal aneh dengan surat-surat kontrak mereka.


Lilith pun menunda pertanyaannya tentang hubungan Ellard dan Arella, demi menciptakan suasana menyenangkan terlebih dahulu.


“Udah selesai?” gumam Ellard tanpa menoleh ke arah sang istri. Pandangannya fokus pada kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. Hal itu membuat Lilith yang sedang mencari perhatian, merasa kesal.


“Harusnya kamu dipijat juga, supaya keningmu nggak berkerut terus. Setelah selesai pijat, aku memberinya segepok uang lima puluh ribuan. Tapi …”


“Apa? Kau memberinya tips sebesar itu?”


Ellard menoleh dengan cepat, ketika Lilith membahas soal uang keluar. Tentu saja hal itu semakin membuat Lilith kesal.


“Duh, kamu kampungan banget, sih? Saat orang-orang kaya mendapatkan perawatan seperti ini, memang harus memberikan tips. Itu menunjukkan tingkat kepuasan dan kekayaan kita,” jelas Lilith sambil mengusapkan pelembab kulit ke tangannya.


“Tapi wanita nggak tahu diri itu malah mengata-ngataiku. Dia menolak semua tips yang aku berikan. Sialan! Jadi orang miskin aja berlagak sok hebat,” umpat wanita itu. Tangan kirinya mengoles kutek berwarna merah terang, di jari-jari kukunya yang sebelah kanan.


“Syukurlah dia nggak menerimanya. Karena kita ini bukan orang kaya,” balas Ellard dengan ketus.


“Hah? Bukan orang kaya gimana? Penghasilan kita kan berkali-kali lipat dibandingkan dulu,” ucap Lilith tak setuju. “Ah, apa kamu mau menyaingi Mark Zukkerberrg dan Bill Gates? Kalau yan gseperti itu sih aku nggak bakalan menolak,” ucap Lilith tertawa senang.


“Lilith kamu udah keterlaluan hari ini. Aku ingin memberi tahu kalau belakangan ini …”


“Oh iya, apa kamu sedang bertengkar dengan Arella? Aku lihat wajahmu beberapa hari ini masam terus. Harusnya kamu bersikap baik dengannya, dong. Kamu harus memanfaatkan dia selama-lamanya, supaya keuangan kita nggak tersendat.”


Lilith sengaja tak memberikan waktu bagi Ellard untuk bicara, supaya dia nggak perlu mendengar omelan Ellard yang udah bisa ditebak itu.


“Haah, apa maksudmu? Kami baik-baik aja, kok. Masalahnya itu justru ada di diri kamu. Kamu terlalu banyak menghamburkan uang, sampai rekening kita kosong,” kata Ellard membantah tuduhan Lilith tersebut.


“Lah, terus apa masalahnya? Besok pagi juga bakal masuk uang puluhan juta lagi, kan? Kamu lupa? Sekarang uang kita itu unlimited,” kata Lilith.

__ADS_1


Ellard mendengus kesal. “Apa kamu tahu uang itu berasal dari mana? Aku terpaksa memin …”


Cup! Lilith membungkam bibir Ellard dengan ciuaman panas. Tangan wanita itu bergerak ke bawah dan masuk ke dalam celana. Seuatu yang menggantung di bawah sana pun terlihat mengeras.


Dengan cekatan, Lilith langsung mengeluarkan benda yang sudah mengkilat dan berwarna kemerahan itu lalu menancapkannya ke dalam rongga tubuhnya yang memang belum dilapisi kain penutup. Karena sudah sangat basah, benda panjang itu masuk ke dalam rongga tubuh Lilith dengan mudah, hingga ke pangkalnya.


“Engh!”


Ellard meng*era*ng pelan, saat benda miliknya dire*ma*as oleh otot-otot rongga kenikma*tan milik Lilith. Bibirnya masih dibungkam oleh wanita itu. Lilith tak membiarkannya rehat sedikit pun.


“Ya udahlah. Nggak ada gunanya juga mau mengatakan yang sejujurnya pada Lilith. Toh nanti dia juga bakalan dapat getahnya,” gumam Ellard dalam hati. N*fsu*nya yang sudah mencapai ubun-ubun, sudah tidak dapat dialihkan lagi.


Permainan panas pun tak dapat terelakkan. Mereka saling memacu adrenalin dalam irama yang sama. Ellard yang terkenal kuat dan ganas pun mampu mem*ua*skan sang istri hingga belasan kali. Tiga pulu menit kemudian permainan pun usai dengan semburan lava putih yang hangat dan membanjiri goa milik Lilith.


Tak berhenti sampai di sana, Lilith pun mengajak Ellard mandi bersama. Dia sengaja mengulur waktu, untuk meredakan emosi pria itu.


“Sayang. Kamu tahu kan, kalau mengurus surat cerai yang status suami atau istrinya hilang itu harus menunggu dua tahun? Proses perceraian baru bisa dilakukan, setelah polisi mengumumkan secara resmi bahwa salah satu pasangan telah hilang tanpa kabar tepat dua tahun.”


“Iya, aku tahu. Terus kenapa?” tanya Ellard bingung.


“Artinya kita baru bisa menikah secara resmi dua tahun lagi, meskipun dilakukan di luar negeri. Itu kan lama banget.” Lilith menyambung ucapannya. Kali ini tangan mungilnya memainkan benda yang menggantung di antara kedua paha Ellard. Benda imut itu pun perlahan kembali mengeras dan memanjang.


“Nggak dua tahun, dong. Tapi satu setengah tahun lagi,” ralat Ellard.


“Oh iya, sih. Tapi tetap aja itu masih lama. Jadi tolong, ubah nama pemilik gedung menjadi milik kita berdua,” pinta Lilith tiba-tiba.


“A-apa?” Telinga Ellard mendadak sakit, mendengar permintaan sang istri.


“Aku bilang, ubah nama kepemilikan gedung menjadi nama kita berdua,” ulang Lilith tanpa tahu malu.


Bibirnya yang imut mengecup bulatan kecil merah muda di dada sang suami. Napas Ellard mulai terasa sesak. Ditambah lagi senjata miliknya yang sudah mengeras sempurna. Padahal baru selesai digunakan dua puluh menit yang lalu.

__ADS_1


“Mana bisa begitu? Semua surat kontrak dengan para investor, kan mencantumkan namaku di sana. Kalau tiba-tiba diubah lagi, maka kita harus repot mengubah semua suratnya. Dan itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.”


Ellard menolak memberikan gedung itu. “Enak saja dia memintanya. Aku sudah dua puluh tahun mengincar semuanya. Lalu sekarang aku juga harus berjuang, agar merebutnya kembali dari Nyonya Eleanor,” batin Ellard.


“Duh, kamu pelit banget sih sama istri sendiri. Padahal kita jadi kaya raya begini kan karena aku juga. Aku yang mengenalkan Arella padamu,” ucap Lilith.


“Hm, memang sesuai namanya. Wanita ini adalah iblis betina yang sebenarnya. Berfoya-foya saja masih belum cukup. Sekarang dia malah memintaku membagi kepemilikan gedung. Memangnya aku udah gila?” batin Ellard menggerutu kesal.


“Kamu mau, kan?”


“Aku nggak mau,” jawab Ellard dengan tegas. “Kata siapa kamu yang mengenalkan Arella padaku? kan aku yang memaksamu untuk bertemu dengannya,” imbuh pria itu.


“Huuuh, kok gitu, sih? Padahal kalau kita menikah lagi, hartamu kan bakalan menjadi hartamu juga,” ucap Lilith mengeluarkan bujuk rayunya pada sang suami.


Ellard menghela napas dalam-dalam. Dia lalu mengguyur tubuhnya dengan air hangat selama beberapa menit.


“Duh, dia kok diam aja, sih? Aku harus merayunya dengan cara apa lagi?” pikir Lilith bingung.


“Lilith, dengarkan aku.” Ellard yang sudah selesai mandi, melingkarkan handuknya lalu menghadap ke arah Lilith.


“Gawat! Kenapa wajahnya serius banget? Dia nggak mengajakku untuk berpisah, kan?” pikir Lilith cemas.


“Mana mungkin aku bisa mengelak dari permintaanmu?” ucap Ellard tiba-tiba.


“Wah, beneran?”


Ellard menganggukkan kepalanya. “Aku pasti akan mengabulkannya. Tapi bukan minggu ini. Karena ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu. Apalagi kita bukan suami istri secara resmi. Jadi kita bisa mengurus pembagian gedung dan harta atas namamu bulan depan. Kamu nggak keberatan, kan?”


“Jelas aja aku nggak merasa keberatan. Makasih, sayangku,” kata Lilith mencium pipi Ellard.


“Hm, tunggu aja karmamu. Bukan mendapat gedung, kamu juga akan mendapatkan hal lainnya yang lebih mengejutkan,” batin Ellard tersenyum licik. 

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2