Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 26. Aroma Spesial


__ADS_3

"Udah jelas, kan? Pokoknya besok kita bertemu dengannya lagi untuk membahas bisnis," kata Ellard dengan lancar.


"Tunggu! Aku nggak percaya. Apa ada fotonya?" pinta Lilith.


"Foto?" ucap Ellard sambil menelan ludah, lalu menghela napas panjang.


"Nah, sekarang pasti dia nggak bisa mengelak lagi. Kebohongannya bakalan terbongkar," kata Lilith dalam hati. "Awas saja nanti, ular betina yang mau merebut suamiku itu nggak bakalan bisa hidup tenang," sambungnya lagi.


"Ini, kamu lihat aja sendiri. Kami mengobrol di warung pinggir jalan sampai lupa waktu." Pria itu memberikan HP-nya pada sang istri.


"Eh, jadi beneran? Ku pikir dia berbohong." Lilith melihat sekilas, ke deretan foto-foto di galeri HP milik Ellard. Seharusnya merasa senang, Lilith justru merasa kecewa karena tuduhannya pada Arella tidak terbukti.


"Fyuh, syukurlah. Kayaknya dia percaya. Entah gimana caranya mereka mengedit foto-foto itu tadi malam," batin Ellard bernapas lega.


"Apa nggak ada hal lain yang mau kamu bilang?" tanya Lilith sambil mengembalikan HP milik Ellard. Ekspresinya seakan menunggu sesuatu dari sang suami.


"Hal lain? Apa lagi maksudmu? Bukannya aku udah bilang semuanya? Lalu besok kita akan tanda tangan kerja sama. Nggak ada lagi yang aku sembunyikan.," kata Ellard dengan wajah bingung.


Pria itu merasa sedikit kesal, karena terus-menerus dituntut oleh Lilith, padahal tubuhnya sangat lelah dan ingin istirahat. Memang sejak dulu sifat Lilith sangat berbeda, jika dibandingkan dengan Anella. Wanita itu lebih ekspresif dan blak-blakan, sedangkan Anella cenderung kalem dan pendiam, namun pekerja keras.


Dulu Ellard menyukai sifat Lilith yang seperti itu. Namun setelah menikah di bawah tangan, sifat wanita itu bagaikan bumerang baginya. Dia merasa bahwa wanita kalem seperti Anella memang lebih cocok dengannya.


"Coba diingat-ingat lagi. Masa beneran gak ada?" Lilith terus mendesak Ellard melakukan sesuatu.


"Beneran nggak ada. Suer!" Ellard pun menyerah, lalu mengacungkan kedua tangannya membentuk angka dua.


"Apanya yang gak ada? Kamu ninggalin aku begitu aja, dengan make up dan sepatu masih menempel. Apa kamu nggak tahu, kalau hal itu bisa membuat kulitku gatal-gatal dan iritasi?"

__ADS_1


"Hah? Kamu mempermasalahkan hal itu?" Ellard yang sejak tadi berusaha bersabar, akhirnya meledak juga. "Jadi maksudmu itu kesalahanku? Siapa suruh kamu mabuk sampai mengigau dan tertidur?" kata Ellard sambil membuang napasnya dengan kasar.


"Bukan cuma itu. Kamu pergi tanpa memberi tahu aku. Rumah dalam keadaan gelap gulita dan kamu nggak mengangkat teleponku. Apa kamu tahu aku bingung dan ketakutan saat bangun? Ku pikir aku telah dibuang." Lilith mengeluarkan semua ganjalan di hatinya sejak tadi.


"Duh, iya. Aku minta maaf karena udah ninggalin kamu sendirian. Tapi harusnya kamu jangan mabuk begitu, dong. Aku kan jadi malu sama Arella," balas Ellard sambil menghela napas berkali-kali.


"Malu sama dia? Memangnya aneh kalau seseorang mabuk karena minum? Bukannya dia sendiri yang mengajak kita minum?" balas Lilith. Dia tak terima di salahkan. Menurutnya, Ellard terlalu membela wanita itu.


"Kamu minum terlalu banyak, gak bisa dicegah. Pembahasan bisnis kita juga sempat terhambat gara-gara kamu mabuk berat. Makanya aku buru-buru mengantarmu pulang," jawab Ellard.


"Kalau aku harus menghapus make up-mu dan mengganti pakaianmu, bisa-bisa Arella sebal dan membatalkan rencana bisnisnya. Apa kamu mau kita kesulitan cari uang kayak kemarin?"


"Katanya kamu mencintaiku? Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu gak akan meninggalkan aku semalaman seperti ini, hanya untuk berkumpul dengan orang-orang yang baru kamu kenal!"


Lilith meninggikan suaranya. Dia ingin perhatian Ellard hanya untuknya. Tak boleh ada wanita lain yang mengusiknya dengan pria tampan itu.


Ellard menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Bahunya bergerak naik-turun, seiring dengan hembusan napasnya yang terdengar kasar.


"Asal kamu tahu, aku berbuat begini demi kamu juga. Bukankah kamu ingin menikah resmi di luar negeri?" ucap Ellard.


Nada suaranya mulai terdengar rendah, dibandingkan tadi. Pria tampan itu menarik tubuh Lilith ke dalam pelukannya.


"Jangan banyak berpikir yang terlalu berat. Pertemuan besok, kamu ikut aku, ya. Kita menandatangani bisnis ini bersama-sama," bisik Ellard. Kedua tangannya melingkar erat di tubuh mungil wanita itu. Mendekapnya seakan tak ingin melepaskannya.


"Eh, aroma ini? Rasanya sangat familier." Lilith nengendus leher Ellard perlahan. Pria itu menggeliat menahan geli.


"Aku ingat! Ini aroma sabun favorit milik Anella. Dari mana dia mendapatkan sabun ini? Sudah pasti dia pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang. Nggak mungkin dia pergi ke rumah wanita sialan itu, kan? Karena saat ini sudah jadi bangunan terbengkalai."

__ADS_1


Dada Lilith terasa sesak, melihat suaminya masih mengenakan barang-barang dari istri sah-nya dulu. Dia sangat membenci barang-barang milik Anella, yang mewah dan berkelas. Lilith sejak dulu ingin memilikinya, namun pernah bisa. Meskipun sudah berusaha sekeras apa pun, levelnya tetap jauh berada di bawah Anella.


"Sayang, aku lelah semalaman nggak tidur. Aku mau istirahat dulu, ya." Ellard melepaskan pelukannya dari wanita selingkugannya itu, dan beranjak dari sofa.


"Tunggu dulu!" Lilith menarik lengan Ellard, agar pria itu nggak pergi meninggalkanya.


"Ada apa lagi?" ucap Ellard sambil menghembuskan napas kesal.


"Aku mencium aroma sabun milik Anella. Dari mana kamu mendapatkannya? Apa kamu tadi malam pergi ke rumah itu?"


"Eh? Apa maksudmu? Aku nggak ada pergi ke rumah itu, kok," jawab Ellard dengan santai. Kali ini dia berkata jujur.


"Eh, mana mungkin. Aku yakin banget ini aroma sabun favorit milik Anella. Karena setiap dia datang, tubuhnya selalu wangi aroma ini. Sedangkan aku hanya sekali memakai sabun aroma ini," pikir Lilith bingung.


"Sudah, ya. Aku malas berdebat denganmu. Aku mau tidur dulu. Jangan diganggu."


Lilith tak menyahut ucapan Ellard. Dia juga tak menahan pria itu pergi. Kepalanya sibuk mengingat-ingat aroma khas dari vanilla yang menyegarkan itu.


"Tunggu! Aku memang cuma sekali menggunakan sabun itu. Dan ada satu tempat yang memiliki aroma sabun yang sama."


Lilith baru teringat. Sewaktu dia dan Ellard merayakan anniversary hubungan mereka yang ke dua tahun, Ellard membawanya menginap di sebuah hotel dan apartemen mewah di kota mereka. Hotel itu terkenal dengan pelayanan spa yang sangat baik, bahkan menyediakan perlengkapan mandi ekslusif.


"Nggak salah lagi, aroma khas perlengkapan di hotel yang aku datangi bersama Ellard tahun lalu. Aromanya persis seperti ini. Apa mungkin semalaman dia pergi ke hotel itu bersama Arella?"


Kecurigaaan Lilith semakin menguat. Dia sudah tak sabar ingin membuktikan bahwa firasatnya benar. Tapi, dia nggak punya bukti apa pun selain parfum itu.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2