Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 51. Balas Dendam Level Empat


__ADS_3

"Duh, kamu datang terlambat, Railo. Aku udah pesan hot choco kesukaanmu, dengan whip cream yang banyak. Tapi kayaknya udah mulai dingin, deh."


Arella menyambut kedatangan Railo dengan seyuman tipis. Jemarinya yang mungil dengan nakal mengusap permukaan gelas layaknya menggoda seorang pria. Dada dokter muda itu berdegup kencang melihatnya.


"Maaf, tadi ada operasiku berjalan agak lama," jawab Railo.


Pemuda tampan itu menarik kursi di hadapan Arella, lalu duduk di sana. Matanya celingak-celinguk melihat sekeliling mereka, seperti memastikan semua keadaan cukup aman.


"Omong-omong ku dengar Ellard mendatangi apartemenmu. Gimana kalau dia meminta petugas mengecek CCTV?" ucap Railo seraya menyeruput hot choco miliknya yang sudah mulai dingin. "Aku tebak, sebentar lagi dia juga menelepon perusahaan. Atau bahkan mencarimu ke villa di tepi pantai," imbuhnya.


"Biarkan aja. Karena apartemen itu memiliki pengamanan yang sangat ketat dan nggak boleh sembarangan orang menyewa kamar di sana. Harus memiliki kartu anggota khusus. Untung saja aku menginap di sana menggunakan nama Rhea," kata Arella sambil tertawa kecil.


"Apa kamu nggak takut, dia bakal berbuat kekacauan dan mengumumkan wajahmu di media sosial? Kamu tahu sendiri kan, dia itu orang yang sangat nekat melakukan apa aja untuk mendapatkan keinginannya," balas Railo merasa sangat khawatir.


Arella menyeringai tipis sambil menyesap jus delima miliknya. "Aku ingin dia merasakan, bagaimana rasanya melihat semua hal yang sangat dia percaya mendadak hilang dan hancur begitu saja, dalam waktu sekejab mata," ucapnya.


"Arella, lama-lama kamu terlihat seperti psikopat. Mengerikan," komentar Railo dengan jujur.


"Masa, sih? Bagus, dong. Jadi balas dendamku sangat totalitas. Aku puas banget melihat dia dan Lilith hancur lebur," balas Arella tertawa kecil.


Railo menggeleng-gelengkan kepalanya. "La, ku harap kamu segera berhenti. Kalau berbuat terlalu jauh, kamu bisa kena tindak pidana," kata pria itu mengingatkan.


"Tenang aja. Aku bakalan berhenti setelah semuanya benar-benar hancur tak bersisa," ucap Arella lagi. "Oh, iya. Aku juga sudah menelepon showroom tempat mereka membeli mobil baru. Itu adalah awal dari kehancuran mereka yang sebenarnya."


...***...


"Gawat! Gawat! Aku harus bagaimana? Apa benar Arella menipuku?"


Ellard yang baru saja sampai di apartemennya, langsung masuk ke ruang kerja dan mencari surat-surat perjanjian dirinya dengan Arella. Kemarin dia belum sempat memeriksa semuanya, karena Lilith yang tiba-tiba mengajaknya bermain panas.

__ADS_1


"Apa ini? Surat persetujuan jual beli gedung seharga satu milyar? Gedung yang mana? Mana ada gedung milikku yang harganya satu milyar? Satu gedung saja bisa tiga sampai empat milyar. Sedangkan jumlah gedung milikku ada delapan. Apa ini maksudnya toko kue milik Lilith?"


Ellard akhirnya menemukan kejanggalan di dalam surat kontraknya dengan Arella. Dengan hati gusar, dia kembali membongkar semua surat perjanjian dengan Arella. Dia lantas menemukan surat serah terima dan balik nama toko kue, tanpa bayaran apa pun.


"Keparat! Ternyata wanita cantik itu menipuku? Ini semua nggak akan terjadi, kalau Lilith nggak melarangku membaca surat perjanjian kerja sama ini sebelum di tandatangani." Ellard melempar kertas-kertas itu hingga berserakan di lantai.


"Tapi kenapa semua gedung itu bisa berubah menjadi milik Nyonya Eleanor? Apa wanita itu saling kenal?" Kepala Ellard terasa berat memikirkannya.


"Nggak bisa begini. Aku harus menyelamatkan semua benda berharga yang masih tersisa, lalu pergi mencari wanita itu."


Bola mata Ellard berbinar, melihat tumpukan kantong kertas berisi tas mahal milik Lilith yang berserakan di lantai. Dia lalu meraup semuanya tanpa menyisakan apa pun. Pria itu kemudian bergerak ke kamar dan membongkar lemari. Dia menemukan perhiasan milik Lilith.


"Ini apa?" gumamnya ketika melihat sebuah kotak silver yang tersembunyi di sudut laci. Tak perlu pikir panjang, Ellard pun mengambil kotak itu lalu membukanya.


"Hah? Ini milik Anella? Jadi Lilith mencuri perhiasan mahal milik Anella? Sialan!" Ellard mengumpat kesal, melihat surat kepemilikan barang mewah yang terdapat di dalam kotak itu. "Mulai sekarang, benda ini adalah milikku," gumamnya sambil memasukkan benda itu ke dalam sakunya.


Tak lupa, dia juga membawa beberapa surat-surat berharga miliknya. Nanti dia akan mengambil kembali hak gedung-gedung itu dari ibu mertuanya.


Tujuannya saat ini hanya satu. Mansion dan villa mewah yang pernah dia kunjungi dulu.


"Mereka pasti punya informasi tentang Arella. Aku harus menemukan wanita itu dan menuntut kembali semua harta benda milikku," ujarnya geram.


...***...


"Akhirnya ... Aku mendapatkan tas limited edition ini."


Lilith bersenandung riang keluar dari lift. Langkah kakinya begitu ringan menuju ke bilik apartemennya di kamas 1313.


"Nggak sia-sia aku menjual kembali gelang mewah itu. Sialan, Ellard. Dia memberikan Arella hadiah perhiasan mahal seharga dua puluh lima juta. Tapi dia malah nggak pernah memberiku hadiah apa pun setelah menikah."

__ADS_1


Dia masih merasa kesal karena mengetahui sang suami mengeluarkan uang banyak, untuk memberi hadiah pada wanita lain.


Tut! Tut! Tut! Ceklek!


"Loh, apa yang terjadi? Kenapa rumah ini berserakan? Ke mana perginya tas-tas mahal milikku?"


Hampir saja jantung dan kedua bola mata Lilith terjatuh, ketika melihat barang-barang mewah yang baru saja dibelinya lenyap seketika. Padahal dia baru saja sampai di rumah. Lilith lalu berlari ke kamar dan memastikan semuanya.


Ternyata kondisi di dalam kamar lebih mengerikan. Isi lemarinya bertebaran di lantai. Laci khusus tempatnya menyimpan perhiasan mewah telah kosong. Demikian juga tempat Ellard menyimpan jam tangan mahal miliknya, telah bersih.


"Apa rumah ini kemalingan? Apa aja tugas petugas keamanan di apartemen ini?"


Lilith mengomel tanpa mencurigai suaminya sedikit pun. Dia pikir Ellard belum kembali pulang, sejak pergi tadi. Wanita itu lalu pergi ke ruang kerja Ellard untuk menelepon pihak apartemen melalui telepon kabel.


"A-apa lagi ini?"


Wanita berkulit pucat itu tercengang, melihat kertas-kertas yang berserakan di lantai. Dia lalu memungut dan membacanya.


"Menjual gedung dengan harga murah? Lalu balik nama toko? Jadi Ellard kena tipu wanita itu?"


Lilith meremas kertas itu hingga membentuk bola kecil. Pluk! Bola kertas itu terlempar ke sembarang tempat, lalu menggelinding hingga ke kolong meja.


"Dasar cowok bodoh. Padahal dari awal aku juga udah mengingatkan, supaya nggak tertipu oleh wanita itu," gumamnya kesal. Batinnya bergejolak saat dia menyadari hal lain yang lebih mengerikan.


"Berarti semua ini bukan ulah maling. Ellard membawa kabur semua ini. Dasar brengsek! Aku harus gimana sekarang?"


Lilith mencari-cari HP-nya dan hendak menelepon sang suami. Tapi seperti yang sudah bisa ditebak, Ellard tidak bisa dihubungi.


"Jadi dia meninggalkanku dalam keadaan miskin begini? Sialan! Lihat aja nanti, aku pasti akan menemukannya."

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2