Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 60. Happy Ending atau Sad Ending?


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


"Saudara Ellard. Ada terbukti telah melakukan tindak.pidana kejahatan berupa penipuan, pemerasan, pembunuhan berencana dan percobaan pembunuhan terhadap Nyonya Eleanor.


"Oleh sebab itu, pengadilan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup dan denda sebesar satu milyar rupiah. Dengan ketentuan, apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama sepuluh bulan.”


"Saudari Lilith. Anda terbukti telah melakukan tindak pidana kejahatan berupa penipuan, pembelian barang palsu, pemerasan, perbuatan tidak menyenangkan di tengah rumah tangga orang lain dan pembunuhan berencana."


"Oleh sebab itu, pengadilan menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa dengan pidana penjara seumur hidup dan denda sebesar satu milyar rupiah. Dengan ketentuan, apabila denda tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama sepuluh bulan.”


Bruk! Ellard terduduk lemas di kursi ruang sidang, ketika hakim membacakan hukuman untuknya. Ekor matanya melirik ke arah kiri. Memperhatikan Lilith yang duduk kaku dengan pandangan kosong.


Setelah sidang ditutup, Ellard dan Lilith pun digiring oleh beberapa polisi menuju ke mobil tahanan, untuk kembali masuk ke dalam sel tahanan di luar kota.


Ellard sempat bertemu pandang dengan Arella yang tersenyum puas melihatnya. Dada pria itu bergemuruh, karena hidupnya telah hancur total. Seorang pria tampan bernama Railo dengan sigap melindungi wanita itu dari sorotan kamera para wartawan, yang berjejer di depan pintu ruang sidang.


"Selamat menempuh hidup baru, mantan suamiku," ucap Arella sambil tersenyum begitu manis.


"Keparat!"


Arella bisa melihat gestur bibir Ellard yang mengucapkan kata-kata sampah itu. Arella hanya menaikkan alis sebagai responnya.


Di belakang Ellard, Lilith pun digiring oleh beberapa orang polisi dengan tangan diborgol. Wanita itu meminta berhenti sejenak, dan menatap wajah Arella dengan tatapan nanar.


"Puas kau udah membuat hidupku hancur?" ujar Lilith dengan suara melengking. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka pun sontak menoleh ke arah narapidana itu.


"Loh, bukannya kamu duluan yang menghancurkan hidupku? Ini sih cuma balasan kecil aja, supaya kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan dulu," balas Arella dengan dagu terangkat, menunjukkan kemenangannya.


"Bangsat! Sialan kau!" Bibir mungil Lilith mengumpat kesal.


"Sudah! Berhenti! Mau hukumanmu di tambah lagi?" bentak salah seorang polisi, menarik Lilith untuk segera pergi dari situ.


...***...


"Hei, kalian kok telat, sih? Es krim Railo udah abis nih aku makan."


Arella memanyunkan bibirnya, melihat si kembar Railo dan Rhea baru aja datang.


"Duh, ini si Rhea milih baju lama banget. Belum lagi make up-nya," kata Railo menunjuk Rhea dengan wajah sebal.


"Cih, kamu tuh nggak ngerti kalau cewek tuh harus mix and match setiap keluar. Memangnya kamu, setiap keluar kayak gembel gini," balas Rhea sambil mencibir.


"Dih, gembel? Gini-gini aku dokter yang banyak penggemarnya, lho. Cuma kamu yang bilang aku kayak gembel," bantah Railo tak setuju dengan ucapan kembarannya.


"Lah, kan emang iya. Tuh, lihat. Sendalmu aja udah belel," ejek Rhea. Bola matanya turun ke lantai, menatap sendal hitam milik Railo yang udah berumur lebih dari lima tahun.


"Hei, ini sendal mahal tahu. Aku beli langsung di Belgia," jawab Railo.


"Ehem! Bukannya Belgia terkenal dengan cokelat dan berliannya, ya?" sela Arella berusaha melerai pertengkaran saudara kandung itu.


"Hahaha, dokter culun itu mana tahu apa-apa soal fashion," tawa Rhea mengejek.

__ADS_1


"Hm, kayaknya kalian gak bisa hidup tanpa bertengkar setiap hari, ya?" kata Arella yang udah mulai lelah dengan kelakuan si kembar.


"Duh, maaf La. Padahal kita datang sini kan mau balikin mood kamu yang berantakan. Tapi malah berantem sama dokter culun ini," kata Rhea. Dia lalu menarik kursi dan duduk di samping Arella. "Jadi gimana sekarang perasaan kamu?"


"Mood aku dah balik kok, gaes. Aku udah lega banget mereka menanggung akibat dari perbuatannya," kata Arella tersenyum lebar.


Sinar matanya tampak bercahaya. Berbeda saat pertama kali bertemu dengan Railo dan Rhea di tengah hutan. Wajahnya juga terlihat segar dan sumringah, dengan tawa yang renyah.


"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Tapi kenapa kamu nggak mengajukan banding supaya mereka dihukum mati aja?" tanya Rhea penasaran.


Arella menggeleng pelan. "Hukuman di neraka memang sangat berat, tetapi aku masih ingin melihat mereka menderita di dunia. Merasakan sakit yang pernah aku rasakan dulu," jawab Arella.


"Aku setuju. Terlalu cepat mengirim mereka ke neraka, semakin berkurang penderitaan mereka di dunia," ucap Railo menambahkan.


"Waduh, sejak kapan kalian jadi kompak gini? Apa aku ketinggalan sesuatu?" sela Rhea.


"Nggak ada sesuatu kok, Re. Kebetulan aja kami punya pendapat yang sama," balas Arella dengan cepat.


"Hm, aku agak kecewa nih mendengarnya. Padahal aku berharap kamu pura-pura mengakuinya," balas Railo dengan wajah sayu.


"Eh, apa maksudmu?" Arella terkejut mendengar ucapan Railo. Kalimatnya seperti sebuah candaan, tetapi juga menyiratkan keseriusan pria itu.


"Kamu pasti udah tahu perasaanku padamu sejak dulu, kan? Rencananya hari ini aku akan melamarmu."


Railo mendadak mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya. Dia lalu membuka kotak yang berisi satu set perhiasan dengan berlian biru itu.


Rhea ternganga melihat kakak kembarnya tiba-tiba melamar sahabatnya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Bola matanya kemudian berputar ke kanan, untuk melihat reaksi dari Arella.


"Maaf aku nggak menyadari perasaanmu selama ini," ucap Arella angkat bicara. "Bukan karena aku menutup mataku dari dirimu, tetapi karena aku masih merasa trauma dengan sosok pria," sambung Arella.


"La ..."


"Iya, aku tahu, Rai. Kamu berbeda jauh dari mantan suamiku yang laknat itu. Tetapi kamu juga bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku," ucap Arella memotong kalimat Railo.


"Tolong jangan katakan kalau aku terlalu baik untukmu," bisik Railo.


Arella tersenyum. "Kamu memang cowok yang baik dan tampan. Tapi rasa traumaku terhadap suatu hubungan masih sangat besar. Maaf, Rai. Untuk saat ini aku belum bisa menerimamu," ucapnya.


"Aku akan menunggumu sampai kamu siap," kata Railo dengan yakin.


"Aku percaya padamu. Tapi jika di tengah-tengah perjalanan nanti kamu bertemu wanita yang baik, maka akul akan mengikhlaskanmu," balas Arella. Tangan kanannya menyodorkan kotak beludru berisi cincin, kalung dan anting kembali pada Railo.


Railo hanya tersenyum kecil. "Baiklah. Aku nggak bisa memaksamu. Kebahagiaanmu ada di tanganmu sendiri," kata Railo berlapang dada. Ini kedua kalinya dia ditolak oleh Arella, setelah sebelumnya ditolak secara tidak langsung.


"Salah sendiri. Kalo ngelamar tuh yang romantis, dong. Jangan tiba-tiba kayak gini," bisik Rhea pada kembarannya.


"Heh, kakak kembarnya sedih tuh dihibur. Bukan diomelin," kata Railo.


"Aku bisa dengar, lho," ucap Arella sambil tertawa geli melihat tingkah absurd si kembar. "Tapi ini bukan karena cara melamarnya, kok. Aku memang masih belum siap untuk menjalin hubungan lagi. Apalagi kalian berdua udah kayak saudaraku sendiri," jelas Arella.


"Ututu ... Kasian banget Lu kena brotherzone," ejek Rhea terkekeh.

__ADS_1


"Nah, ini frappuchino ekstra whip cream dan sirup karamel untuk Railo. Lalu jus wortel tanpa gula dan susu untuk Rhea," kata Arella, ketika pelayan datang membawa pesanannya.


"Lho, kamu pesan lagi?" tanya Railo.


"Hu'um. Es krim mu kan tadi udah abis ku makan," kata Arella.


"Uwaw, kamu tahu aja kesukaan kami berdua," kata Rhea antusias. "Rai, kamu emang pinter banget cari kakak ipar untuk aku," kata Rhea menepuk bahu kembarannya.


"Uhuk! Aku masih di sini lho, Re," kata Arella disusul tawa mereka bertiga.


...***...


Tiga tahun kemudian.


"Ellard! Gantilah bajumu dengan ini. Ada seseorang yang ingin bertemu."


Seorang sipir penjara memanggil seorang pria kurus kering berkulit hitam, yang sedang mencangkul kebun sayur kecil belakang penjara.


"Hah! Siapa yang mengunjungiku?" tanya Ellard penasaran.


"Nanti kamu juga bakalan tahu. Sekarang cepat mandi, lalu gantilah bajumu dengan kemeja ini," perintah sipir penjara itu.


Sepuluh menit kemudian, Ellard yang telah rapi pun berjalan ke ruang tamu penjara, untuk bertemu seseorang yang mencarinya.


"A-anella? Ah, maksudku Arella," gumam Ellard malu.


Matanya terbelalak melihat wanita cantik dan berambut hitam panjang itu duduk di balik kaca. Mereka memang tidak boleh bertemu langsung. Terutama karena Railo merupakan tahanan kelas berat.


"Iya, aku datang ke sini karena tahu, nggak bakalan ada seseorang yang menjengukmu," kata Arella.


Wanita itu menahan air matanya, melihat penampilan mantan suaminya yang udah jauh berubah dibandingkan dulu. Pria itu sekarang lebih mirip tengkorak hidup, karena sangat kurus. Bagaimana pun juga, dia pernah menghabiskan masa-masa bahagia bersama teman kecilnya itu.


"Makasih, ya," balas Ellard.


"Tapi jangan senang dulu. Karena mungkin ini terakhir kalinya aku ke sini. Jadi aku akan memberimu dua kabar," kata Arella.


"Kabar apa itu?" tanya Ellard.


"Pertama, wanita pilihanmu kini menjadi pembantu di penjara wanita. Dia menempati kasta terendah di sana," ucap Arella tersenyum sinis.


"Ah..." Ellard hanya menggumam pelan, karena nasibnya nggak jauh beda dibandingkan Lilith.


"Terus kabar yang kedua, aku akan menikah lagi bersama Railo minggu ini. Karena kamu nggak bisa datang, maka aku bawakan makanannya dan minumannya untukmu di sini," kata Arella dengan sangat lancar.


"O-oh, ya? Selamat, ya." Sinar mata Ellard meredup, mendengar kabar itu.


Entah dia menyesali perbuatannya, atau merasa kesal karena kehilangan posisi itu, yang jelas dia sekarang hanya bisa pasrah menerima keadaan. Arella dapat melihat bulir air mata di pelupuk mata pria itu.


"Tapi kamu jangan khawatir. Aku masih sering mengunjungi makam ibu mertuaku," jelas Arella lagi.


"Terima kasih masih mengingat ibuku. Aku minta maaf. Aku menyesali semua perbuatanku dulu," gumam Ellard lirih. Air matanya tak terbendung lagi.

__ADS_1


"Ya, maafmu aku terima. Tetapi kamu harus tetap menerima hukumanmu sampai selesai," balas Arella dengan tegas. "Selamat tinggal Ellard. Ku harap ini terakhir kalinya kita bertemu," sambung wanita itu.


...-- Tamat --...


__ADS_2