Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 37. Trauma


__ADS_3

Rrrrrr! Rrrrrr!


"Halo, Arella. Ada apa meneleponku pagi-pagi?" Ellard menjawab telepon dari Arella dengan wajah sumringah. Tangan kirinya mengusap rambutnya yang masih basah.


"Ooh, aku hanya mau menanyakan keadaanmu. Kamu udah sampai rumah dengan selamat, kan? Aku kecewa, karena tadi malam kamu batal menginap di mansion dan ingin segera pulang," ujar Arella dengan nada sedih.


Ellard yang sudah mendengar ceritanya dari Lilith pun langsung cepat tanggap. "Hm, iya. Kami sudah sampai di rumah, kok," balas Ellard berbohong. Dia nggak mau keributan antara dirinya dan Lilith gara-gara harga kamar hotel tadi pagi terdengar sampai ke telinga Arella.


"Syukurlah kalau begitu. Aku tadi malam sempat khawatir gara-gara kalian mendadak membatalkan rencana," balas Arella.


"Wah, hebat. Arella meneleponku karena khawatir." Ellard merasa sombong, karena Arella menelepon dan menanyakan kabarnya duluan.


"Duh, aku sebenarnya nggak ingat sama sekali soal tadi malam. Tapi ku rasa Lilith mendengar percakapan kita tentang connecting door, makanya dia minta pulang," kata Ellard berasumsi.


"Oh, benar juga, ya. Aku jadi merasa nggak enak," kata Arella.


Dalam hati dia tertawa kecil. "Padahal aku yang membawa kalian kembali ke kota dan menyuruh supir travel itu mengantar dan memesan kamar paling mahal. Gak sia-sia aku menyadap HP Lilith dan membongkar pin atm-nya. Sekarang pasti mereka sedang bertengkar. Rasanya aku jadi pengen menjahili Ellard sedikit."


"Jangan merasa nggak enak. Ini kan bukan salahmu," balas Ellard dengan suara lembut khas buaya darat.


"Hm, iya sih. Kapan-kapan aku akan mengajakmu menginap di tempat yang lebih bagus lagi, deh," kata Arella berjanji pada Ellard.


"Beneran? Rencana kita weekend ini kan batal, karena tanda tangan kontrak. Apa kamu mau ke resort mewah di kepulauan saat musim panas nanti?" tanya Ellard sekalian memberikan usul.


"Mau, dong. Tapi ..." Arella menggantung kalimatnya yang belum seleai.


"Tapi apa?" tanya Ellard penasaran.


"Tapi kali ini cuma kita berdua, kan?" ucap Arella setengah berbisik. Suaranya terdengar manja dan mendayu-dayu.


"Iya, tentu saja. Pokoknya apa pun sesuai keinginanmu," kata Ellard dengan hati berbunga-bunga. Tak menyangka kalau Arella bakal seagresif ini.


"Tapi, Ellard. Apa rencana kita ini bakal aman? Maksudku ..."


"Tenang aja. Lilith sedang mandi, kok," balas Ellard dengan cepat. Dia langsung paham apa yang dicemaskan oleh Arella.


"Oh, syukurlah kalau begitu," kata Arella. "Tapi, sebenarnya aku meneleponmu bukan cuma kerena hal itu."


"Lalu? Kamu merindukanku?" kata Ellard dengan sangat percaya diri.


"Aduh, bukan. Ge'er banget sih, kamu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan langsung padamu, terkait masalah renovasi toko kue. Apa kita bisa ketemuan jam satu siang ini? Tapi kalau bisa jangan bawa Lilith," kata Arella.

__ADS_1


"Oke. Nanti jam satu aku datang ke apartemenmu," balas Ellard dengan hati gembira.


"Uh, jangan jam satu dong. Aku kan mau makan siang sama kamu ... Kamu tega membuarkan aku makan siang sendirian?" pinta Arella dengan nada manja.


"Oh, kalau gitu jam sebelas deh aku datang ke sana," kata Ellard lagi.


...***...


"Loh, foto-foto di villa kemarin mana sih? Kok nggak ada yang tersimpan?"


Lilith membuka galeri HP-nya, lalu mengevek semua foto yang tersimpan di sana. Sayangnya dia nggak menemukan satu pun foto dirinya di villa dan mansion mewah kemarin. Foto terakhir yang tersimpan di sana adalah saat dia dan Ellard makan malam bersama Arella di pertemuan pertama.


"Ih, nyebelin deh. Kayaknya kemarin aku mengambil lebih dari dua puluh foto selfie. Tapi kok bisa hilang semua, sih?"


Lilith masih mengutak-atik HP-nya. Jemarinya dengan lincah scoll layar benda elektronik itu ke atas bawah. Beberapa kali dia berdecak kesal karena semua foto-foto di pantai nggak ditemukan lagi.


"Padahal aku berencana memposting foto itu di media sosial. Biar ibu-ibu sosialita yang sombong itu nggak bisa merendahkan aku lagi," gerutu Lilith dalam hati. "Apa Ellard yang menghapus semua foto-foto itu, ya? Tapi rasanya nggak mungkin, deh. Dia kan nggak tahu password HP-ku."


Pikiran Lilith berkecamuk kesal. Rencananya untuk pamer gaya hidup hedon di media sosial pun gagal. Padahal dia sudah mempersiapkan fashion terbaik untuk itu.


"Hei, kami mau ke mana?"


"Aku mau keluar sebentar," balas Ellard acuh.


"Keluar? Tapi kita kan baru aja sampai di rumah. Enak banget kamu langsung keluar lagi? Itu biaya hotel tadi malam juga belum kamu ganti, kan?"


Lilith mengomeli Ellard. Kekesalannya yang sudah bertumpuk-tumpuk sejak tadi pagi pun ditumpahkannya pada pria itu.


"Iya, nanti uangmu yang terpakai untuk bayar hotel pasti aku ganti," kata Ellard dengan nada datar. Dia malas bertengkar dengan Lilith seperti di hotel tadi pagi. "Toh, nanti aku bakalan dapat uang besar dari Arella," pikirnya dalam hati.


"Janji, kan?" desak Lilith.


"Iya, aku janji," jawab Ellard dengan cepat.


"Tapi kamu bakalan tetap mau pergi? Sebentar lagi juga makan siang, aku sudah memasak untuk kita berdua." Lilith melarang suaminya pergi dari rumah dengan cara halus.


"Tapi aku udah buat janji. Gak enak kalau tiba-tiba dibatalkan," kilah Ellard.


"Pergi sama Arella?" tebak Lilith. Kedua matanya mendelik tajam. Barisan giginya saling merapat dan bergeretak.


"Iya. Kenapa? Kamu cemburu?" balas Ellard dengan berani. Percuma juga dia menyembunyikannya dari Lilith, karena wanita itu pasti dengan mudahnya menemukan posisinya nanti.

__ADS_1


"Anu ... Itu ..."


"Kan kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus pandai menggoda Arella. Supaya proyek kita berjalan terus," ucap Ellard. Dia membalikkan kata-kata yang pernah diucapkan oleh Lilith dulu.


"Aku juga harus mengganti uang hotel itu secepatnya, kan?" sambung Ellard lagi. Dia tahu, Lilith sangat lemah jika berhadapan dengan uang dan kemewahan.


"Iya. Aku nggak cemburu, kok. Aku kan cuma tanya. Tapi kamu malam ini pulang ke rumah, kan? Aku capek tidur sendiri mulu. Kamu juga udah jarang mengajakku bermain di atas r*anj*ang," kata Lilith memasang wajah sendu.


"Iya, aku pasti pulang, kok. Malam ini aku menemanimu di rumah," ucap Ellard sambil mengecup pipi dan kening sang istri.


"Huek! Sudah muak aku bersama wanita ular ini. Semoga bisnisku bersama Arella cepat berjalan. Jadi aku bisa membuang cewek benalu ini secepatnya," batin Ellard sambil berjalan keluar kamar apartemen mereka.


"Duh, aku nggak bisa menanyakan soal foto-foto yang hilang itu. Aku takut dia tersinggung dan malah nggak jadi mengganti uang hotel itu," keluh Lilith dalam hati.


...*** ...


"Kamu lagi nungguin siapa? Mau pergi sama Railo lagi?"


Nyonya Eleanor meletakkan puding strawberry yang baru saja dibuatnya, di atas meja makan. Dia melihat putri tunggalnya itu sudah berdandan rapi dan mengenakan gaun biru yang senada dengan warna bola matanya.


"Nggak, Ma. Nanti jam sebelas aku mau pergi ke kota, dan bertemu sama Ellard," jawab Arella. "Pagi ini aku mau ke bank dulu mengurus sesuatu," imbuhnya lagi.


"Hati-hati, Nak. Mama selalu was-was kalau kamu pergi bersama Ellard," kata Nyonya Eleanor. "Mama malah lebih percaya pada Railo," sambungnya lagi.


"Loh, bukannya dulu Mama juga gitu sama Ellard? Mama percaya banget sama dia, sampai Mama nggak percaya kalau dia selingkuh sama iblis betina itu," sindir Arella terang-terangan.


"Iya, sih. Ini kesalahan terbesar Mama." Nyonya Eleanor tak mampu mengelak dari perkataan putrinya. "Tapi menurut Mama, Railo ini berbeda. Dia santun dan hormat pada orang tua. Kayaknya dia juga menyukaimu," sambung wanita paruh baya itu.


"Iiih! Mama apaan, sih? Kami kan baru kenal empat bulan yang lalu. Sifat aslinya belum kelihatan. Ellard yang udah dua puluh tahun bersamaku aja masih nggak bisa ditebak sifatnya," balas Arella merasa risih.


"Tapi nggak ada salahnya kan, kamu mulai membuka hati untuk orang lain lagi?" sela Nyonya Eleanor. "Kamu cantik, pintar, baik dan berbakat. Pasti bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Ellard," imbuh wanita itu menasehati putri tunggalnya.


"Ma, status Anella sampai sekarang ini adalah orang hilang. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu identitas asliku. Jadi, kalau aku mau menikah secara resmi dengan siapa pun, harus menunggu dua tahun dulu. Karena pada saat itulah aku dan Ellard dinyatakan resmi bercerai tanpa melalui persidangan," ucap Arella secara rinci dan tegas.


"Lalu, aku masih trauma dengan laki-laki. Sebaik apa pun mereka, hati kecilku masih menyimpan rasa curiga pada para lelaki itu," sambung Arella dengan lantang.


Seorang pria yang bersembunyi di balik dinding, tertunduk lesu mendengar ucapan Arella pada sang ibunda. Sebuah bingkisan makanan yang dia bawa menggunakan kotak makanan dan sebuah boneka lucu, dia sembunyikan ke sembarang tempat dalam semak bunga marigold. Nanti ketika Arella pergi, barulah dia akan mengambilnya lagi


"Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaanku pada Arella. Aku nggak mau dia menjauh gara-gara sikapku yang cringe," gumam pria yang masih mengenakan jas dokter berwarna putih bersih itu.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2