
Gluk! Gluk! Gluk!
"Uh, andai saja bukan demi uang, aku pasti sudah meninggalkan acara makan malam menyebalkan ini. Dasar wanita ular, perebut suami orang!" batin Lilith.
Lilith meneguk vermouth untuk yang ke enam belas kalinya. Sebelumnya dia juga meneguk tequila sebanyak lima gelas. Tubuhnya mulai terasa panas dan sempoyongan, karena meminum alkohol begitu banyak. Makanan yang dihidangkan tidak disebtuh sama sekali.
"Sayang, kamu jangan minum vermouth dan tequila lagi. Kamu udah mabuk berat, lho." Ellard mengguncan tubuh Lilith.
"Ah, benar! Aku gak boleh minum vermouth dan tequila lagi. Kalau begitu aku mau sake dan wine saja," jawab Lilith dengan suara parau.
"Astaga, Lilith. Jangan begitu. Ini minum air hangat." Ellard membantu Lilith
"Sudah, biarkan saja. Dia pasti merasa senang, karena rencana bisnis kita berjalan lancar," kata Arella.
"Tapi aku takut merepotkan. Dia kalau mabuk bisa nggak bangun-bangun," ujar Ellard merasa sungkan sama rekan bisnisnya tersebut.
"Ya sudah, sambil menunggunya sadar, kita bisa mengobrol, kan?" sambung wanita itu dengan sangat lembut. Jemarinya menyelipkan rambut hitamnya yang halus bak sutera.
"Tentu bisa, dong. Kalau begitu biar aku aja yang membayar semua minuman ini," kata Ellard yang merasa sungkan, karena Lilith terlalu banyak minum.
"Nggak perlu. Karena aku yang memesannya, jadi aku juga yang harus membayarnya. Jadi kalian bisa minum sebanyak mungkin," balas Arella.
"Loh, jangan begitu. Kan kami yang mengajak bertemu. Tentu saja kami yang harus membayar," ucap Ellard memaksa. Ekor matanya melirik ke arah Lilith yang telah lemas dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Wah, aku baru tahu sifat dia yang suka cari muka begini," komentar Arella dalam hati.
"Nggak apa-apa. Awal mulanya kan aku juga yang mengajak untuk merintis bisnis ini. Aku nggak biasa makan gratisan, sebelum transaksi ini berhasil. Karena aku enggak mau berhutang budi kepada siapapun," kata Arella tegas. Meski begitu, senyuman manis tetap mengembang di wajahnya yang cantik.
"Anda pasti sudah bisa menjalin bisnis dengan kalangan atas, ya? Attitude anda sangat bagus sekali," puji Ellard.
__ADS_1
"Duh, nggak kok. Aku cuma nggak mau diomongin di belakang. Bisa gawat kalau ada orang perusahaan, yang melihat dan mengatai kalau aku mendapat perlakuan istimewa," ujar Arella.
memberikan alasan.
"Sepertinya bisnis ini bakal berhasil. Sejak awal sikapnya sangat santun, seperti orang yang sudah biasa melakukan bisnis besar," pikir Ellard dalam hati.
Matanya yang kecoklatan, meneliti setiap inchi wajah rekan kerjanya itu. Menurutnya, Arella adalah tipe wanita berwajah manis yang tidak membosankan jika dilihat terlalu sering. Garis mata dan bentuk alisnya juga sedikit mirip dengan samg istri, yang kini telah tiada.
"Astaga! Aku mikir apa, sih? Kenapa aku malah mengingat orang yang sudah mati?" Ellard menggelengkan kepalanya, untuk menyadarkan pikirannya.
"Nah, gimana kalau kita ganti topik pembicaraan kita, dengan hal yang lebih pribadi," ucap Arella dengan suara men*de*sah manja. Tangan kanannya memutar gelas bening, yang berisi vermouth.
"Ah, sudah kubilang, kan? Aku ini orang yang membosankan. Kehidupan pribadiku datar-datar aja," balas Ellard mengalihkan pandanngannya dari Arella.
"Ah, masa? Mau aku tuangkan wine? Ini wine kualitas tinggi yang dibuat langsung di Perancis. Bahkan umur wine ini jauh lebih tua dariku. Anda masih bisa minum segelas lagi, kan?" kata Arella tidak menggubris kalimat Ellard.
"Pak Ellard?"
"Ah, ya. Tentu saja aku mau mencoba wine spesial ini. Tolong tuangkan untukku." Ellard yang udah mulai mabuk, menyodorkan gelasnya pada Arella.
Arella pun menuangkan wine ke dalam gelas pria yang pernah menjadi suaminya itu. Dalam dua kali teguk, Ellard menghabiskan isi gelasnya.
"Wah, baru kali ini aku benar-benar angkat tangan. Padahal aku baru meminum dua gelas tequila dan segelas wine," kata Ellard yang wajahnya mulai memerah.
"Tentu aja mabuk. Karena minuman yang kalian minum ini, kadar alkoholnya sudsh dinaikkan hingga menjadi enam puluh persen. Aku akan terus menipu kalian, sama seperti kalian menipuku," tawa Arella dalam hati.
"Mau gantian aku tuangkan wine?" ujar Ellard menawarkan.
"Tentu aja. Aku menyukai pria sopan kayak kamu," kata Arella dengan wajah riang.
__ADS_1
Hati Ellard berbunga-bunga mendengarnya. Dia semakin optimis, bahwa bisnis mereka akan berhasil. Pria bejat itu pun menuangkan wine ke dalam gelas Arella. Namun, Arella yang cerdik dengan hanya mengangkat gelas itu ke bibirnya, tanpa neminumnya setetes pun. Untung saja Ellard sudah mulai mabuk, jadi dia tidak menyadari kecurangan Arella.
"Ah, aku baru sadar. Biasanya kalau membicarakan bisnis, pasti ditemani oleh asisten atau sekretaris, kan? Tapi kenapa dari tadi kamu terlihat sendirian?" tanya Ellard.
"Hmm? Kenapa kamu bertanya sekarang? Apa kamu mulai curiga padaku? Atau karena kamu khawatir Aku pulang sendirian malam-malam?" tanya Arella.
"Mana mungkin aku curiga pada Anda. Aku hanya khawatir kalau kamu pulang sendirian di tengah malam. Zaman sekarang banyak sekali kejahatan pada perempuan. Bahkan dilakukan oleh sopir taksi sekalipun."
Ellard memang pandai sekali merangkai kata-kata manis. Arella tercengang mendengarnya.
"Kenapa aku butuh waktu lama untuk menyadari, bahwa dia hanyalah seorang penipu?" sesal Arella dalam hati.
"Memang benar, biasanya kegiatan bisnis itu tidak dilakukan oleh satu orang. Tetapi karena pertemuan awal aku ingin pembicaraan kita lebih santai," jelas Arella. "Jangan khawatir, nanti orang perusahaan akan menjemputku pulang," sambungnya lagi.
"Ngomong-ngomong, Pak Ellard. Apa Anda sadar, kalau Anda sangat memesona dan berkharisma?" celetuk Arella tiba-tiba. Jarinya membuat gerakan memutar, di bibir gelas miliknya.
"Ah, benarkah? Aku nggak tahu. Tapi dulu juga ada satu orang yang bilang seperti itu padaku," kata Ellard tersipu malu.
"Wah, pasti Bu Lilith, ya? Apalagi Anda tampan dan punya banyak gedung. Pasti wanita-wanita cantik selalu menempel, kan?"
Suara Arella terdengar mendayu-dayu di telinga Ellard. Wajah pria itu semakin memerah, karena mabuk dan juga berbunga-bunga.
"Sayangnya buka Lilith yang mengatakannya," kata Ellard berbisik, sambil melirik ke arah Lilith yang benar-benar mabuk.
"Dia pasti sedang ngomongin aku. Dasar dulu aku cewek cupu dan lugu." Arella memarahi dan menyumpahi dirinya sendiri.
"Nah, betul kan yang aku bilang? Anda pasti jadi incaran para cewek-cewek. Aku pun jadi menginginkanmu," ucap Arella dengan berani.
(Bersambung)
__ADS_1