Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 54. Balas Dendam Level Lima


__ADS_3

"Loh, Lilith? Mau ke mana pergi buru-buru? Ellard di mana? Semalaman aku nggak bisa menghubunginya."


Mulut Lilith menganga lebar, melihat orang yang semalaman dia cari dan di telepon berkali-kali muncul di hadapannya dengan santai. Matanya terbelalak, melihat sebuah mobil mewah seharga empat milyar parkir tepat di sebelah mobil sport miliknya.


"Kau? Dasar pelakor! Penipu! Kau udah bikin hidupku hancur!" Lilith mengumpat kesal di hadapan Arella.


"Ha? Maksudmu apa sih? Aku datang ke sini karena mau menepati janji sama Ellard. Tapi dia malah nggak bisa dihubungi," kata Arella sambil melangkah maju.


"Janjimu pada Ellard? Emang kamu menjanjikan apa padanya? Bukannya kau menipunya? Semua gedung itu kau beli dengan harga sangat murah, kan? Bahkan toko kue milikku, kau revut begitu aja," ucap Lilith tak percaya begitu saja.


"Maksudnya toko kue yang dibelikan oleh Ellard, dengan uang milik istrinya? Sebenarnya siapa pelakornya di sini?" sindir Arella.


"Kalau jual beli gedung itu sih hanya kalimat di atas kertas aja. Tapi sebenarnya itu adalah uang kompensasi untukmu, sebelum Ellard pergi bersamaku. Dia nggak perlu perjanjian kerjasama lagi, karena nanti semua harta benda itu jadi milik kami berdua," jelas Arella kemudian.


"Pergi denganmu? Untuk apa dia pergi denganmu, sementara dia sudah punya aku sebagai istrinya?" balas Lilith dengan ketus.


"Sejak awal dia udah berjanji, untuk merebut hatiku. Lagian kalau seorang pria pergi mencari wanita lain, berarti ada yang kurang dari istrinya," cibir Arella.


Lilith terperanjat mendengar ucapan Arella. Itu adalah kalimatnya yang pernah diucapkan pada dirinya sendiri, sewaktu menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ellard dan Anella.


"Cih, aku nggak percaya sama ucapanmu begitu aja. Ke mana-mana levelku tetap jauh berada di atasmu. Nggak usah banyak ngomong! Cepat kembalikan semua gedung milik kami. Surat perjanjian kerjasama itu nggak sah," balas Lilith.


"Oh, ya?"


Arella nggak banyak berkomentar. Dia hanya berselancar di HP-nya sejenak, lalu membuka rrkaman saat Ellard menembaknya beberapa waktu lalu. Lilith pun mematung mendengarnya. Rasa sakit hatinya yang sudah teramat dalam, ditambah lagi semua kejadian yang menimpanya sejak tadi malam, membuat mental wanita itu hancur lebur.


"Aku udah nggak peduli lagi sama hubunganmu dengan Ellard. Yang penting sekarang, kau kembalikan semua harta yang udah kau rampas padak," desak Lilith pada Arella.


"Mana bisa begitu. Sejak awal gedung-gedung itu memang bukan milikmu. Jadi aku nggak akan membaginya padamu," balas Lilith.


"Keparat! Aku akan menghubungi polisi untuk menangkap penipu kayak kamu!"


Kesabaran Lilith yang setipis tisu dibagi seratus itu pun sirna. Tangannya merogoh tas-nya, untuk menemukan HP miliknya. Namun karena buru-buru, dia malah meninggalkan HP miliknya di atas meja ruang tamu. Dia hanya membawa kunci mobil dan dompetnya yang telah kosong.


"Permisi! Anda Nyonya Lilith, kan?" Tepat di tengah suasana genting, beberapa orang pria berpakaian rapi menyapanya.


"Ya, kalian siapa?" tanya Lilith bingung.

__ADS_1


"Kamu staf dari showroom mobil sport, tempat Anda membeli mobil," ucap pria itu. "Kami ditugaskan untuk menyita mobil milik Anda, karena terlambat membayar tagihan bulanan," sambungnya.


"Huh?"


Kedua mata Lilith sontak melotot. Mimpi buruk yang ingin dia hindari akhirnya datang juga. Otaknya membeku sesaat, tak mampu berpikir. Hati Lilith semakin terasa sakit, saat melihat Arella tersenyum sinis padanya.


"Nyonya silakan tanda tangan di sini, agar kami bisa membawa mobilnya," kata pria lainnya, menyodorkan sebuah kertas pada Lilith.


"Nggak! Ini mobilku. Aku bisa membayarnya!" Lilith menolak menandatangani berkas itu.


"Kalau begitu silakan Anda bayar tagihannya yang udah menunggak dua bulan, beserta dendanya," jelas para staf dari showroom tersebut.


"Memangnya besar tagihannya berapa, sih? Biar aku bayar. Tunggu di sini biar aku ambil HP dulu," kata Lilith dengan arogan. Dia merasa gengsi pada Arella, kalau saingannya itu tahu dia nggak mampu membayar tagihannya.


"Total tagihannya empat ratus tujuh puluh delapan juta," ungkap salah seorang pria itu. "Lalu aku akan ikut denganmu naik ke atas, untuk mengambil HP."


"Kamu takut aku bohongi?" balas Lilith dengan wajah merah padam. "Besar banget tagihannya? Harusnya Ellard yang membayar semua ini," sambung Lilith dalam hati.


"Nggak, Nyonya. Ini memang sudah menjadi SOP pekerjaan kami. Kalau pun Nyonya nggak muncul kembali, kami tetap akan menyita mobil ini," kata para pria berkemeja hitam itu.


"Hei, bangs*t! Kau jangan kabur! Urusan kita belum selesai!" Lilith berdiri di depan mobil, dan menghalagi Arella untuk pergi.


"Jangan bermain-main dengan kami, Nyonya. Selesaikan dulu urusan dengan kami!" Para pria itu menarik lengan Lilith dan memaksanya untuk menyelesaikan tunggakan tagihan mobil sport mewah tersebut.


"Arrrrghhh! Sialan! Kenapa nggak ada kebaikan yang berpihak padaku sejak tadi malam, sih?" Jerit Lilith histeris.


"Hahaha ... Rasakan pembalasanku, Lilith. Aku lah yang meminta pihak showroom untuk mengambil kembali mobil milikmu. Sekarang kamu pasti merasa malu denganku, kan?"


Arella yang sedang mengemudi pun tertawa lepas. Hatinya riang karena bisa membalaskan sebagian kecil dendamnya pada wanita yang menghancurkan hidupnya itu.


"Hidup bersama Ellard? Memangnya aku bodoh, memerima kembali benalu itu? Aku melakukannya cuma untuk membuat dia panas. Biar dia tahu, gimana rasanya diselingkuhi," kata Arella sambil terbahak.


Rrrrr! HP milik Arella berdering.


"Halo?"


"La, tepat seperti dugaanmu. Pria itu datang ke kantor untuk mencarimu." Seorang pria melaporkan kabar terbaru dari kantor saat ini.

__ADS_1


"Nah, benar kan? Sekarang terserah Pak CEO aja mau jawab apa. Pokoknya jawaban yang memuaskan aku lah. Sebuah gedung pencakar langit sudah siap untuk Bapak, kalau misi ini berhasil," jawab Arella dengan anada rendah namun mencekam.


...***...


"Arella udah nggak kerja di sini lagi?" Ellard tercengang mendengar jawaban seorang staf HRD perusahaan jasa dan konsultan terbesar di negara itu.


"Benar, Pak. Bu Arella Andzelika memang pernah bekerja di sini sebentar sebagai konsultan. Tapi dua bulan yang lalu, dia memutuskan untuk resign dan mengembangkan bisnisnya di Korea Selatan dan Jepang," jelas wanita dengan blazer abu-abu itu.


"Ck! Kalau gitu kalian pasti memiliki alamat, nomor telepon serta emailnya, kan?" ujar Ellard.


Tanpa diminta dua kali, wanita itu dengan ramah memberikan alamat lengkap, nomor telepon, serta alamat email milik Arella. Tetapi Ellard semakin mengamuk.


"Kalau ini sih aku juga tahu. Tapi alamatnya palsu. Nomor HP-nya juga nggak bisa dihubungi. Terus emailnya juga nggak pernah direspon," protes Ellard. "Apa perusahaan besar gini nggak punya informasi lebih lengkap lagi?" ujar Ellard.


"Kalau Bapak mau mencari informasi lengkap tentang Bu Arella ya ke detektif, dong. Bukan pergi ke kami. Ini semua adalah data yang pernah diberikan Bu Arella selama bekerja di sini," balas wanita itu tegas.


"Lalu surat perjanjian kerjaku dengan Arella? Artinya perusahaan ini juga terlibat, kan? Aku bisa menuntut kalian dengan pasal penipuan," ancam Ellard.


"Maaf, tapi di perusahaan kami nggak terdaftar surat perjanjian kerja sama dengan Bapak. Gedung-gedung yang Bapak sebut tadi juga nggak pernah dibahas Bu Arella dalam rapat," kata wanita itu.


"Jadi maksudmu?"


"Maksud saya, bukan perusahaan yang menipu Bapak. Tetapi Bu Arella," jelas staf itu.


"Nggak! Kalian bilang kayak gini cuma untuk mengelak dari masalah, kan?" balas Ellard nggak percaya.


"Apa Bapak pernah dibawa rapat ke kantor kami? Apa Bapak pernah bertemu pegawai kami selain Bu Arella? Terus di surat perjanjian itu, apa ada stempel dan tanda tangan pejabat perusahaan?"


Pertanyaan wanita berambut keriting itu membuat Ellard terdiam. Jawabannya udah jelas. Semua itu nggak pernah ada.


"Tapi ada seorang pria yang pernah mengaku sebagai asisten pribadi Arella dari perusahaan ini. Namanya Railo," ungkap Ellard.


"Railo? Di bagian Bu Arella nggak ada staf yang namanya Railo," jawab wanita itu dengan wajah tegas dan yakin.


"Mampus aku! Sekarang aku harus mencari Arella ke mana?" batinnya.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2