
"Anella, di mana kamu, Nak? Maafkan Mama yang nggak percaya padamu."
Nyonya Eleanor berjalan menuju ke lift dengan langkah gontai. Kedua polisi yang menemaninya, menatap wanita itu dengan iba.
Mereka telah membongkar semua isi kamar apartemen 1313 milik Ellard, namun tak menemukan hal yang mencurigakan. Rekaman CCTV satu minggu terakhir di gedung itu juga tak memperlihatkan pertemuan Ellard dengan siapa pun di sana. Kini, satu-satunya harapan Nyonya Eleanor adalah hasil pelacakan posisi HP milik Anella.
Wanita itu benar-benar nenyesali sikapnya, yang tak mempercayai ucapan putrinya tentang kebusukan Ellard, anak angkatnya sekaligus menantunya.
"Ma, Ellard selingkuh dariku. Dia sudah menjalin hubungan dengan wanita bernama Lilith selama tiga tahun terakhir," ucap Anella dua hari yang lalu.
"Omong kosong apa itu, Anella? Pria sebaik dia kau bilang berselingkuh darimu?" bantah Nyonya Eleanor.
"Aku tahu, Mam sangat mempercayai Ellard sejak dulu. Tapi cobalah buka sedikit mata Mama," pinta Anella sambil menggenggam kedua tangan mamanya.
"Suami kamu bukan orang seperti itu. Dia memang cukup pendiam dari kecil. Tapi dia adalah anak laki-laki paling santun yang pernah Mama temui," balas Nyonya Eleanor mulai tersulut emosi.
"Mama pura-pura nggak tahu, atau benar-benar nggak tahu?" tanya Anella sambil menahan air matanya agar tidak berderai. "Sekarang aja udah banyak bukti yang bertebaran. Mama pasti juga udah merasakan keanehannya, kan?"
"Kamu cuma nerasa iri karena Mama lebih memanjakan Ellard, kan? Mama mengizinkannya naik jadi direktur menggantikanmu. Lalu membelikannya mobil dan kapal mewah," kata Nyonya Eleanor.
"Ma, untuk apa aku berbohong? Bukan hal mudah bagiku untuk mencerikakan ini. Tapi aku harus tetap bilang, karena nggak mau semua hadiah yang Mama berikan, untuk berkencan sama wanita lain."
"Belum tentu perempuan yang kamu bilang itu pacarnya. Kamu cuma terlalu sensitif karena nggak kunjung hamil," balas Nyonya Eleanor.
Anella menarik napas panjang. Dia sudah nggak kuat lagi menerima penghianatan dari Ellard. Tapi dia juga nggak bisa memarahi sang ibu, yang terlalu sayang pada menantunya itu.
"Ma, seandainya suatu hari nanti aku terjadi apa-apa padaku, tolong datanglah ke apartemen ini kamar 1313 bersama seseorang," ujar Anella sambil menyerahnya sebuah kertas berisi alamat apartemen di kota sebelah.
Nyonya Eleanor hanya melihatnya sekilas, tanpa menggubrisnya.
...***...
"Kamu udah bangun? Sekarang kamu di rumah sakit dan mendapatkan perawatan.
Sebuah suara yang lembut dan sangat menenangkan, menyambut Anella yang baru terjaga dari tidurnya.
__ADS_1
"Terima kasih ..." Anella menggantung kalimatnya, sambil menatap wajah wanita manis yang duduk di tepi tempat tidur itu.
"Rhea. Namaku Rhea," ucap Rhea memperkenalkan dirinya.
"Terima kasih, Rhea," ucap Anella.
"Sama-sama. Tolong jangan bergerak, Anne. Jahitan di tubuhmu masih belum kering," ujar Rhea mengingatkan.
"Jahitan?" ulang Anella. Dia merasa ngeri mendengarnya.
"Iya. Dokter memutuskan untuk mengoperasi beberapa bagian tubuhmu yang terluka. Dan sekarang masih masa pemulihan. Karena kami tidak mengenali keluargamu dan kartu identitasmu juga tidak ada, maka Railo yang menjadi penanggung jawabnya," jelas Rhea.
"Railo?" pikir Anella mengingat-ingat. "Ah, dia pasti cowok yang malam itu bersama wanita ini," gumamnya dalam hati.
"Ah, lalu bagaimana dengan biaya rumah sakitnya?" ucap Anella merasa sungkan.
"Railo yang membayarnya," jawab Anne.
"Jangan merasa sungkan, Anne. Kondisimu waktu itu sangat kritis dan butuh pertolongan darurat. Hanya itu yang bisa kami lakukan untukmu."
"Hanya? Ini sudah lebih dari cukup. Padahal suami yang seharusnya menjaga dan melindungiku, justru ingin melenyapkanmu," gumam Anella sambil menahan tangisnya.
"Suamimu? Sekarang ceritakan tentang dirimu. Apa yang terjadi padamu malam itu?" pinta Rhea seraya memberikan tisu untuk Anella. Dia tahu bahwa sejak tadi wanita malang itu menahan air matanya sejak tadi.
"Namaku Anella. Malam itu aku baru saja selesai makan malam merayakan anniversary pernikahan dengan suamiku. Ternyata itu hanyalah tipu muslihatnya untuk membunuhku."
Anella kemudian menceritakan semua kisahnya, yang diselingkuhi sang suami, lalu hendak dibunuh dan dibuang ke tengah hutan pinus.
"Kurang ajar! Kenapa masih ada makhluk bedebah di zaman modern seperti ini?" umpat Railo. Senyuman di wajahnya memudar, berganti dengan rahang yang nengeras dan mata berapi-api.
"Aku sebenarnya tidak pingsan. Aku bisa mendengar semua obrolan mereka dengan jelas. Tapi aku terpaksa pura-pura pingsan, karena tak berdaya untuk melawan mereka berdua," jawab Anella. "Aku pun berpura-pura mati, saat mereka berdua memukuliku," sambungnya dengan suara lirih.
"Astaga, jahat banget sih?" Rhea tak kuasa mendengar kisah pahit Anella. "Lalu gimana caranya kamu bisa kabur dari sana?" tanya Rhea penasaran.
"Mereka membuangku ke jurang. Beruntung aku tersangkut di pohon, tak jauh dari atas. Aku pun mengalami patah tulang kaki dan merangkak hingga ke tepi jalan raya."
__ADS_1
Anella menceritakan perjuangannya yang begitu pedih. Bahunya bergerak naik turun, seiring dengan isak tangisnya yang menyayat hati.
"Mengerikan! Kenapa bisa ada orang sekejam itu, sih?" Railo mengepalkan kedua tangannya. Dia turut merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Anella.
"Terima kasih sudah menolongku. Kalau aku pulang nanti, akan aku ganti semua biayanya," ucap Anella.
"Jangan pikirkan hal itu, Anne. Fokus pada kesehatanmu saja dulu. Tapi ku harap, kamu menerima bantuan kami tanpa balasan," kata Railo.
"Sebenarnya malam itu kami melaporkanmu keadaanmu ke polisi, untuk membantu mencari keluargamu. Tapi sayangnya hingga tiga hari berlalu, laporan kami tidak digubris, karena pada saat itu ada longsor dan banjir bandang di desa sisi bukit," ungkap.
"Tiga hari yang lalu?" Anella terlonjak kaget mendengarnya.
"Iya, kamu koma selama tiga hari karena pendarahan di kepala dan luka-luka lainnya di tubuhmu," ucap Railo.
"Astaga! Mama! Gimana dengan Mamaku? Dia pasti kehilangan aku beberapa hari ini," kata Anella berteriak histeris.
"Apa kamu mau menghubungi Mamamu, Anne?" Rhea memberikan ponselnya pada Anella.
"Bolehkah aku meminjamnya?" tanya Anella.
"Tentu saja. Kamu harus mengabari keluargamu, Anne," ucap Rhea sambil tersenyum.
Drrttt!
"Halo?"
"Mama, ini aku."
"Astaga, Nak. Ini beneran kamu?" Nyonya Eleanor menangis sekaligus bernapas lega, setelah kehilangan putri tunggalnya selama tiga hari.
"Tenru aja ini beneran anak mama yang cantik dan manja," jawab Anella sambil terisak.
"Kenapa kamu pergi ke luar negeri tanpa bilang-bilang pada Mama? Kenapa baru menghubungi Mama sekarang? Apa kamu marah sama Mama? Maafkan Mama, Nak," ucap Nyonya Eleanor penuh penyesalan.
"Eh? Keluar negeri?" Anella balik bertanya pada sang mama.
__ADS_1
(Bersambung)