
[Perhatian! Episode kali ini memuat adegan kekerasan dan berbahaya yang tidak pantas ditiru. Harap bijak menanggapinya.]
"Duh, kenapa kamu lama banget, sih? Kalau kita terlalu malam ke gunung itu, bisa-bisa diganggu anjing liar," gerutu Lilith, saat Ellard membawa Anella yang dalam keadaan pingsan.
"Obatnya lama banget bereaksi. Aku jadi terpaksa menunggunya dulu," kata Ellard dengan napas ngos-ngosan.
"Tuh, kan? Kamu ngeyel, sih? Harusnya langsung kita bunuh aja pakai racun. Lalu tinggal kita kuburkan." Lilith mengomeli kekasihnya tersebut.
"Kalau kita membunuhnya dengan racun lalu jasadnya ditemukan, polisi mudah melacak pelakunya," jawab Ellard yang tak setuju dengan pendapat kekasihnya.
"Ya makanya kita buang dia di tempat paling terpencil, dong."
"Sudahlah, jangan memprotesku terus. Kau sudah pastikan semua CCTV aman, kan? Aku yakin dia meminta seseorabg untuk datang ke sini menjemputnya. Kalau kau gagal kali ini, maka aku batal memberi harta bagianmu," kata Ellard sambil menukar pakaiannya.
"Aku jamin semua CCTV di sini mati sejak kita datang tadi. Dan restoran juga mau kita suap, agar prostitusi anak di bawah umur yang mereka lakukan, tidak terendus polisi dan masyarakat," kata Lilith dengan sangat yakin.
"Cerdas juga kamu, bisa menemukan rumah makan mewah yang bermasalah," ucap Ellard. "Kau sudah siap, kan? Kita berangkat sekarang." Ellard menekan pedal gas dengan sangat dalam.
"Mengerikan! Aku baru tahu kalau suamiku sangat mengerikan. Tapi aku bisa apa saat ini?" pikir Anella yang dalam keadaan sangat lemah.
Rupanya wanita itu nggak benar-benar pingsan. Dia masih bisa mendengar obrolan pasangan kekasih laknat itu dengan sanhat jelas, meski tubuhnya sangat lemah dan nggak bisa digerakkan. Bahkan untuk sekedar membuka kelopak mata pun, rasanya sanga sulit sekali.
...***...
"Maaf, Anda mau ke mana, Pak?" Seorang satpam menahan Pak Alex untuk memasuki halaman restoran.
"Ah, saya sudah ada janji dengan teman saya di sini," jawab Pak Alex sambil tersenyum ramah.
"Janji di sini? Maksudnya di restoran ini?" tanya Satpam tersebut.
"Iya, benar," sahut Pak Alex.
"Bapak nggak salah restoran? Tempat ini sedang tutup, karena pemiliknya lagi berkabung," kata Pak Satpam, menolak kedatangan Pak Alex.
"Eh? Mana mungkin. Ini restoran La Cuisine, kan? Aku benar-benar janjian dengan temanku di sini," kata Pak Alex kukuh pada pendapatnya.
__ADS_1
"Iya, benar. Tapi hari ini restoran sedang tutup, besok baru buka lagi," kata Pak Satpam tak mau mengalah.
"Masa, sih? Padahal tadi Bu Anella meneleponku dengan nomor asing, dan meminta bantuan karena sedang kesusahan. Mana mungkin Bu Anella berbohong," batin Pak Alex bingung.
"Tunggu apa lagi? Ayo segera pergi," usir satpam itu, melihat Pak Alex masih berdiri di depan pagar restoran.
"Apa aku boleh melihatnya?" tanya Pak Alex mulai curiga. Tadi saat menelepon, Anella juga terdengar bicara buru-buru dan suara bergetar. Apalagi letak restoran ini cukup sepi dan jauh dari bangunan lainnya di sana.
"Haaah, Bapak ini keras kepala juga, ya? Ya sudah lihat sendiri, sana kalau nggak percaya," kata Pak Satpam membiarkan Pak Alex masuk dengan mobilnya.
"Ah, ternyata benar. Restoran ini gelap gulita. Lampu taman pun hanya beberapa yang menyala. Padahal baru jam sembilan malam," pikir Pak Alex bingung.
...***...
Sebuah mobil tua berwarna hitam, berdecit memecah keheningan dan kegelapan malam. Jalanan berkelok-kelok membelah perbukitan yang terjal. Pohon pinus yang tumbuh tinggi dapat menghalangi sinar rembulan.
Mobil yang dikendarai oleh Ellard dan Lilith itu terus membelah jalanan yang gulita dan sepi. Mereka hampir tidak berpapasan sama kendaraan lain selama perjalanan.
Perjalanan mereka masih berlanjut, dari jalanan aspal yang mulus dan cantik, sampai berbelok ke jalan tanah berbatu di antara rerimbunan pohon pinus.
Lilith meminta Ellard untuk menepi ke area yang agak landai. Udara dingin bersuhu sekitar sebelas derajat celcius, menyapa tubuhnya yang berbalut jaket tebal.
Sepertinya tempat itu tidak pernah didatangi orang. Terlihat dari rumput dan tanaman perdu yang membentuk semak tinggi. Lilith menyenter sekitarnya, untuk memastikan bahwa keadaan sekitar cukup aman.
"Mobilmu bisa dibawa ke sini. Tanahnya datar dan lapang," kata Lilith sambil menunjuk ke sebuah tempat di balik pohon pinus raksasa.
Ellard pun menyembunyikan mobil sewaan mereka di sana. Lalu mengeluarkan Anella yang masih belum sadarkan diri.
"Mana pisaunya?" tanya Ellard.
"Apa? Ku pikir kau yang membawanya?" balas Lilith.
"Kenapa aku membawa pisau saat mau berkencan dengan istriku? Dasae b*d*h!" bentak Ellard. Dia lalu mencari batu untuk menghabisi nyawa sang istri.
Kedua pasangan itu menghantam tubuh Anella dengan benda keras berkali-kali, hingga mereka merasa yakin, kalau wanita itu sudah tak bernapas lagi.
__ADS_1
Ketika sedang menggali lubang untuk mengubur jasad Anella, mereka mendengar suara guntur dan gemuruh dari puncak gunung. Bersamaan dengan itu, mereka mendengar suara serombongan pria yang berasal dari dalam hutan.
"Sial! Bukannya kau bilang hutan ini aman?" umpat Ellard sambil membanting cangkul. Moodnya udah berantakan sejak tadi.
"Biasanya nggak ada orang mendaki atau berkunjung ke sini," ujar Lilith membela diri.
Suara sekelompok pria itu semakin mendekat. Cahaya senter mereka juga menembus pepohonan yanh berdiri rapat. Jl Kedua sejoli itu merasa panik, melihat jasad Anella terbujur kaku di tanah.
"Ayo kita jatuhkan dia ke jurang," usul Ellard.
Tak punya pilihan lain, mereka pun menjatuhkan jasad Anella ke dalam jurang, yang jaraknya sepuluh meter dari tempat mereka berada. Mereka juga menutup lubang yang baru saja mereka gali dengan daun-daun kering.
Pekerjaan mereka nggak berhenti sampai di sana. Ellard dan Lilith mendorong mobil sampai cukup jauh, agar gak terlihat oleh rombongan dari dalam hutan pinus tersebut. Setelah itu, mereka pun pergi dari sana.
"Sayang, dia beneran udah mati, kan?" tanya Lilith dengan cemas.
"Pasti, dong. Mana ada orang yang bakal selamat karena terjatuh dari jurang setinggi puluhan meter," jawab Ellard. Napasnya masih belum stabil, karena merasa takut dan panik.
"Astaga! Aku lupa melepas cincinnya." Ellard tiba-tiba menepuk keningnya.
"Cincin apa?" tanya Lilith.
"Oh, aku membeli cincin untuk melamarmu. Karena nggak punya waktu untuk membeli cincin lain hari ini, aku pun memberika cincin itu untuk Anella," jelas Ellard.
"Hah? Kamu mau memberikan cincin yang sudah dipakai orang mati?" celetuk Lilith.
"Bukan begitu maksudnya. Cincin itu kan awalnya memang untukmu. Aku secara khusus memesannya sesuai ukuran jarimu. Makanya Anella merasa kesempitan memakainya."
"Gila! Maksudnya apa?" gerutu Lilith nggak suka.
"Sudahlah, ikhlaskan aja cincin itu. Walau pun cuma dipakai sebentar, pasti bakalan bawa sial karena udaj dipakai orang mati," kata Lilith.
"Hm, baiklah. Nanti aku akan belikan cincin yang lebih mahal untukmu. Lagi pula sebentar lagi kita akan jadi miliarder. Apa kita menikah di luar negeri saja?" tanya Ellard.
"Boleh. Aku mau di Maldives, atau New Zealand," kata Lilith senang.
__ADS_1
(Bersambung)