
"Oh ya. Apa Anda nggak berminat investasi denganku? Aku tertarik untuk memiliki toko kue dan roti seperti ini. Daripada bersaing, lebih bagus kita bekerja sama, bukan?"
Arella menahan Lilith untuk pergi, dan memberikan penawaran kerja sama bisnis. Namun Lilith mengabaikan Arella, dan hendak pergi melayani pelanggan lain.
"Ah, anda nggak tertarik, ya? Padahal aku berniat menawarkan harga yang sangat tinggi. Kamu yakin nggak mau mendengarnya dulu? Bukankah kamu lagi butuh uang, karena bisnis kalian sedang sulit?" ucap Arella melontarkan senjata ampuhnya.
"Hah, menyebalkan sekali. Dia pikir aku ini gelandang yang butuh uang? Aku ini calon istri menjadi pengusaha kaya. Seharusnya aku sedang liburan di luar negeri bukan bekerja di toko roti." Lilith mengumpat dalam hati. Wajahnya benar-benar masam dan tak bersahabat.
"Lagian dari mana dia tahu aku butuh duit? Apa jangan-jangan dia agen dari rentenir?"
"Sepertinya membuka baking class juga bisa melipatgandakan penghasilan. Dengan ilmu yang kamu miliki, kita bisa membuat beberapa bisnis dalam satu tempat. Ah, tentu aja gedung sebelah akan kita sewa biar lebih luas," kata Arella tidak menyerah. "Ini kartu Namaku. Kalau kamu ..."
"Maaf, biaya kursus denganku sangat mahal. Karena aku mempelajarinya langsung dari luar negeri." Lilith mengabaikan tangan Arella yang memberikan kartu nama.
"Lagipula sudah banyak orang yang menawarkan investasi bodong di sini jadi aku harus berhati-hati," sambung sang pemilik toko.
"Hm, aku suka dengan cara berpikirmu itu. Saat kita memulai bisnis, memang harus selektif dan berhati-hati memilij mitra." Arella masih tak menyerah untuk membujuk Lilith, agar mau bekerja sama dengannya.
"Simpan saja kartu namaku ini. Kalau sewaktu-waktu kamu berubah pikiran, kamu bisa menghubungiku." Istri yang telah dibuang oleh Ellard tersebut, menyerahkan kartu namanya pada Lilith.
"Ya, baiklah. Tapi aku nggak terlalu yakin," balas Lilith tanpa senyum di wajahnya.
"Oh iya, kalau boleh tahu, berapa biaya yang diperlukan untuk satu kali kursus padamu?" tanya Arella.
"Daripada buang-buang waktu, lebih baik aku menyebutkan nominal tinggi agar dia mundur sendiri," batin Lilith yang sudah malas menghadapi Arella. "Aku juga belum pernah mendengar nama perusahaan ini. Sepertinya dia hanya bermodalkan baju bermerk mahal dan menawarkan investasi bodong," pikir Lilith saat membaca kartu nama.
"Duh, maaf. Aku nggak memaksa untuk membuka kursus di sini, kok. Aku hanya penasaran saja sama biayanya. Agar bisa membandingkannya dengan tempat lain. Kalau kamu setuju dengan harga yang kutawarkan, mungkin bisa membantu masalah keuanganmu," ucap Arella.
"Tuh, lihat. Dia pikir aku pengemis yang cuma butuh uang? Seharusnya suamiku yang bekerja keras dan memanjakanku," balas Lilith dalam hati.
__ADS_1
Arella memandang Lilith sambil tersenyum kecil dan mengangkat dagunya, menunggu jawaban dari wanita itu.
"Ehem, untuk pertemuan dua kali seminggu selama dua jam, aku menawarkan biaya sebesar lima juta. Itu sudah termasuk dengan biaya bahan premium yang digunakan," ucap Lilith.
"Lima juta untuk dua kali seminggu?" ulang Arella.
"Aku udah nyebutin besar biayanya tanpa pikir panjang, karena penampilannya yang terlihat mewah. Tapi apa ini terdengar masuk akal? Biaya kursus baking sebenarnya cuma tujuh ratus ribu, sampai dua juta rupiah aja. Sudahlah, toh aku memang sengaja menyebut biaya segitu agar dia mundur." Lilith perang dengan pikirannya sendiri.
"Ah, ternyata jauh lebih murah dari yang aku kira," ucap Arella tersenyum angkuh.
"Eh? Jauh lebih murah? Dia pasti nggak mengerti dunia baking," kata Lilith dalam hati.
"Daripada harus belajar ke luar negeri, biaya ini cukup murah. Para orang kaya yang ingin belajar baking untuk menaikkan gengsinya, pasti suka belajar di sini," kata Arella.
"Apa benar gitu? Dia bukan cuma bermanis mulut, kan?" kata Lilith mulai goyah.
"Tapi tempatnya harus direnovasi dulu, biar bisa sesuai dengan selera mereka," sambung Arella. Netranya yang biru laut, memandang ke setiap sudut toko, seperti saat dia baru datang lagi.
"Ya, tidak apa-apa. Berbisnis itu tidak bisa buru-buru mengambil keputusan. Kalau gitu kami permisi dulu," ucap Arella.
***
"Arella, kenapa kamu malah menemui Lilith? Bukankah kamu mau membalas dendam pada Ellard?" Rhea yang duduk di balik kemudi mobil, masih bingung dan penasaran terhadap rencana yang dibuat Arella.
"Ellard itu sulit sekali ditemui di luar rumah, apalagi kalau dia sedang ada masalah," jawab Arella, sambil mengunyah donat glazelle yang dibelinya di toko Lilith tadi.
"Masalah? Dari mana kamu tahu dia lagi ada masalah? Tadi kamu juga bilang gitu kan sama Lilith? Bukankah mereka udah ngambil sebagian besar aset milikmu?" tanya Rhea semakin penasaran.
Arella hanya memutar bola matanya sambil tersenyum rahasia.
__ADS_1
"Ellard pasti cuma akan mengurung diri di dalam rumah dan menyalahkan orang lain. Jadi aku harus menggunakan Lilith untuk memancing nya keluar. Lagian aku juga ingin balas dendam sama mereka berdua," jelas Arella, yang sudah sangat paham dengan sikap suaminya tersebut.
"Kamu yakin cara itu bisa berhasil? Sepertinya Lilith gak tertarik dengan tawaran kita," balas Lilith lagi.
"Semoga saja. Lilith itu sangat gila harta, sama seperti Ellard. Di saat kesulitan keuangan seperti ini, mereka pasti berpikiran pendek. Yang terpenting adalah gimana caranya mendapatkan uang dengan cepat," kata Arella dengan sangat yakin.
***
"Dasar brengsek! Kenapa bisnisku nggak ada yang lancar sih? Para penyewa gedung itu juga menunggak pembayaran hingga sekarang."
Ellard mengumpat kesal, sambil membuang bekas permen karet yang dikunyahnya sembarangan. Botol-botol minuman bersoda berserakan di sekelilingnya. Sekelompok semut yang berkerumun di sekitar botol bekas itu, tidak dihiraukan oleh Ellard.
Pria itu duduk di sofa dengan kakinya berada di atas meja. Rambutnya panjang dan tidak disisir. Wajahnya pun terlihat sangat, kusut seperti nggak tidur selama berhari-hari.
Klak!
"Aku pulang."
Seorang wanita dengan sweater merah muda yang sudah mulai pudar dan celana plisket kedodoran, memasuki apartemen sempit itu dengan wajah kusut.
"Astaga! Kamu nggak mencuci piring dan membereskan rumah? Lihat semut-semut ini, sudah menjadikan rumah kita sebagai sarangnya." Lilith mengomel, ketika melihat rumah yang lebih mirip dengan tempat pembuangan sampah.
"Kau menyuruhku membereskan rumah? Itu kan tugas kamu sebagai perempuan," balas Ellard tak terima.
"Lalu apa tugasmu? Selama empat bulan ini kamu cuma bisa menghabiskan uang saja. Sedangkan yang bekerja cuma
aku!" bentak Lilith.
"Sialan! Aku pikir dulu dia cowok mapan dan pekerja keras. Ternyata cuma cowok manja yang nggak bisa apa-apa," sesal Lilith dalam hati.
__ADS_1
"Brengsek! Belum jadi istri sah aja udah berani marahin dan nyuruh-nyuruh aku. Tahunya cuma minta uang aja. Anella aja yang kaya raya nggak pernah merendahkan aku kayak gini," batin Ellard pula di dalam hati.
(Bersambung)