Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 19. Menyesal


__ADS_3

"Apa tugasmu, Ellard? Selama empat bulan ini kamu cuma bisa menghabiskan uang saja. Sedangkan yang bekerja cuma


aku!" bentak Lilith.


"Loh, kau menyalahkanku? Padahal kau sendiri juga ikut berfoya-foya dengan uang itu," balas Ellard merasa tersinggung.


"Itu kan sudah tugasmu sebagai laki-laki. Membiayai segala kebutuhan perempuan." Lilith berdecih kesal. Keinginannya untuk menjadi wanita sosialita dengan menikahi Ellard, kini gagal total. Lilirh masih harus bekerja di toko kuenya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


"Ya tapi jangan membeli tas mahal tiap hari juga. Kau pikir uang itu akan datang dengan sendirinya? Belasan tahun aku menunggu momen untuk menyingkirkan Anella dan merebut hartanya. Sedangkan kamu? Cuma menerima hasilnya dengan mudah," balas Ellard tak mau kalah.


"Nggak usah menyalahkan aku. Lalu gimana dengan bisnis propertimu? Masa udah empat bulan masih belum balik juga? Yang ada kita malah bangkrut karena harus Apa sebenarnya kau nggak pandai berbisnis seperti Anella?" sambung selingkuhan Ellard lagi.


Tak! Ellard menendang meja. Beberapa kaleng minuman di atasnya menggelinding ke lantai, dan menimbulkan suara bising. Semut-semut yang tadinya berkumpul pun, mendadak bertebaran mencari tempat baru.


"Tahu apa kau soal bisnis properti?" tanya Ellard tersinggung.


"Membiayai perawatan gedung dan membayar pajak yang cukup besar. Semua karyawan juga di-PHK, karena kita nggak punya pemasukan dan gak mampu membayar gaji mereka. " Lilith terus menerus mengomel dan menggerutu kesal.


"Ya mau gimana lagi? Karena semuanya sudah balik namaku, jadi pajak tahun ini aku yang wajib membayarnya," kata Ellard.


"Kenapa kau nggak minta balik nama, setelah pajak dibayar? Gimana sih caramu mengelola uang perusahaan? Sedangkan kau tertipu investor yang nggak bayar sewa gedung selama empat bulan," cibir Lilith sambil tertawa mengejek.


"Lalu kau sendiri? Apa kontribusimu, selain membeli tas, baju dan sepatu-sepatu mahal itu?" kata Ellard pula. "Belum lagi operasimu yang memakan baya puluhan juta," sambung Ellard.


"Itu kan modal utamaku untuk menjadi wanita sosialita. Kalau aku bisa memasuki kalangan mereka, maka bisnis kita pasti akan lebih lancar. Lagian itu bukan operasi plastik, tetapi treatment anti aging," kilah Lilith.

__ADS_1


"Kaum sosialita? Sampai kau tua pun gak bisa sejajar dengan wanita-wanita kelas atas, seperti Anella dulu. e


Pertengkaran antara keduanya tak bisa dielakkan. Ellard dan Lilith saling menyalahkan keadaan, yang mereka hadapi skarang. Lilith juga gak terima dibandingkan dengan istri sah Ellard yang telah mereka bunuh itu.


Semua harta benda yang telah dibalik nama Ellard kini terbengkalai. Beberapa gedung sudah tampak suram bak sarang hantu, karena tidak terawat. Sedangkan harta lainnya Sudah mereka habiskan untuk berfoya-foya dan liburan mewah di luar negeri, dalam waktu kurang dari sebulan.


"Sialan! Aku pikir dulu dia cowok mapan dan pekerja keras. Ternyata cuma cowok manja yang nggak bisa apa-apa," sesal Lilith dalam hati.


"Brengsek! Belum jadi istri sah aja udah berani marahin dan nyuruh-nyuruh aku. Tahunya cuma minta uang aja. Anella aja yang kaya raya nggak pernah merendahkan aku kayak gini," batin Ellard pula di dalam hati.


"Hei, apa kita meminjam uang dari bank saja, ya? Kalau kita bisa berinovasi gedung-gedung itu, investor dari berbagai belahan dunia pasti akan datang sendiri. Gedung itu pasti nggak laku karena designnya sudah kuno," usul Lilith, setelah mereka saling diam selama hampir tiga puluh menit.


"Jangan! Kita mau memberi jaminan dengan apa? Gedung? Gimana kalau kita nggak bisa membayar tagihannya? Gedung kita bisa disita oleh bank. Katanya kau jago berbisnis. Tapi masa hal seperti itu tidak kau pikirkan?" Ellard menolak usul yang diberikan oleh Lilith.


"Terus apa dong solusinya? Masa aku harus bekerja di toko roti terus?" gerutu Lilith kesal. Kepalanya sudah gak bisa lagi dibawa berpikir keras. Pikirannya buntu. Yang ada di dalam hatinya saat ini adalah penyesalan, telah menjalin hubungan dengan pria yang tidak kompeten.


"Nggak ada. Memangnya kenapa? balas Lilith dengan nada tinggi.


Dia kesal, karena hampir setiap hari Ellard menanyakan hal itu padanya. Tetapi pria itu tak berbuat apa pun, untuk mencari jalan keluarnya.


"Sialan! Aku tertipu habis-habisan. Tak kusangka dia cuma anak manja yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa perhitungan." Lilith kembali bergumam penuh penyesalan di dalam hatinya.


"Kalau ada seseorang yang mau menyewa gedung kita, setidaknya kita bisa membayar biaya pemeliharaan," balas Ellard.


"Terus kamu mau tertipu lagi seperti sebelumnya? Lebih baik kita jual saja yang itu yang itu," balas Lilith.

__ADS_1


"Terus kamu ingin meminta bagian hasil penjualannya sama besar dan meninggalkanku?" celetuk Ellard.


Kedua bola mata Lilith membesar, karena isi pikirannya dapat ditebak oleh Ellard dengan tepat.


"Asal kau tahu, menjual gedung itu lebih sulit daripada menyewakannya. Dan prosesnya sangat panjanh," sambung Ellard lagi. "Huh, dia pikir bisa menipuku, dan mendapatkan harta yang sudah kuincar sejak lama dengan mudah?" batin Ellard sambil menyeringai tipis.


"Untuk apa punya banyak gedung dan properti? Kalau semuanya hanya menjadi rumah hantu," cibir Lilith. "Terus uang untuk makan sehari-hari kita juga dari mana? Kamu bekerja dong, jangan cuma menunggu uang dari gedung saja,"sambungnya.


"Aku kan sedang mencari pekerjaan. Untuk sementara ini uang keperluan sehari-hari ambil saja dari keuntungan toko kue," perintah Ellard.


"Kamu gila? Aku bekerja keras setiap hari, tapi kamu malah mau menggunakan uang itu sesuka hati."


Lilith menendang meja, karena tak terima dengan permintaan EIlard barusan. Isi tasnya jatuh dan berserakan di lantai. Mata Ellard langsung menuju pada sebuah kartu nama di dekat kakinya.


"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Ellard.


"Hanya orang iseng yang datang gak sengaja ketemu," jawab Lilith acuh.


"Apa? Nggak mungkin orang iseng. Ini perusahaan jasa terbesar di negara. Masa kau nggak tahu? Dia pasti datang langsung ke toko kita, kan?" Mata Ellard berbinar-binar melihat lembaran kertas kecil itu, seperti menemukan mainan yang telah lama hilang.


"Hmm? Masa?" Lilith masih nggak yakin. "Dia memang cantik dan pakaiannya cukup modis, sih. Tetapi aku masih nggak yakin dengannya," sambung Lilith.


"Apa katanya tadi?" tanya Ellard, mengabaikan ucapan Lilith.


"Dia mau berinvestasi di sekitar toko kita dan membuka baking class denganku," jawab Lilith dengan malas.

__ADS_1


"Itu menarik sekali. Kenapa kau nggak bilang dari tadi? Pasti ini jalan keluar dari kesulitan kita selama ini. Ayo cepat hubungi dia," kata Ellard lagi.


(Bersambung)


__ADS_2