Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 20. Bertemu Kembali


__ADS_3

"Selamat sore, Nyonya."


"Selamat sore."


Nyonya Eleanor mengerutkan keningnya, ketika seorang wanita muda bergaun ungu duduk di meja yang sama dengannya. Padahal meja di sebuah restoran mewah itu sudah dipesannya sejak dua hari yang lalu, untuk bertemu seseseorang yang sangat spesial.


Melihat wanita dengan bola mata sebiru laut itu gak kunjung pindah setelah menyapanya, Nyonya Eleanor pun terpaksa menegurnya.


"Maaf, tapi aku sudah memesan meja ini. Aku sedang menunggu seseorang. Meja lain tampaknya juga masih kosong."


"Hmm? Maksudnya Anella?"


Wanita muda itu hanya berdehem pelan dan mengucapkan sebuah nama, tapi tak juga bergerak untuk pindah dari sana.


"Ah, benar. Darimana kamu tahu?" ucap Nyonya Eleanor terkejut. Kedua matanya menatap perempuan cantik itu dengan seksama. Tetapi diingat beberapa kali pun, dia tetap tidak mengenali wanita itu.


Perempuan cantik bergaun ungu itu tak lantas menjawabnya. Matanya yang biru bak lautan di antara pulau tropis, tampak berkaca-kaca. Bibirnya terkatup rapat seperti menahan tangisan. Nyonya Eleanor pun semakin bingung melihatnya.


"Selamat sore, Nyonya Elea." Seorang wanita muda yang baru saja memasuki ruangan, mendekati dan menyapa Nyonya Eleanor. "Apa Anda masih ingat denganku?" tanya wanita muda itu.


"Selamat sore. Tentu saja aku masih mengingatmu, Rhea," ujar Nyonya Eleanor, sambil melirik ke arah pintu seperti menanti kedatangan seseorang. "Kamu berdua? Di mana Anella?" tanya Nyonya Eleanor bingung.


"Ehm..." Rhea dan wanita bergaun ungu itu kompak saling bertukar pandang, lalu menganggukkan kepalanya.


"Sebelum itu, Nyonya harus melihat berkas dan kartu-kartu ini dulu." Rhea meletakkan beberapa kartu dan lembaran kertas seperti sertifikat di hadapan Nyonya Eleanor.


Perempuan paruh baya itu pun mengambil kacamatanya, lalu mengeceknya satu per satu. Kartu pertama adalah KTP milik Anella. Kartu kedua adalah KTP seorang wanita bernama Arella Andzelika, wajahnya sangat mirip dengan perempuan bergaun ungu di hadapan Nyonya Eleanor. Lalu lembaran aketiga adalah sertifikat operasi plastik, yang melampirkan foto sebelum operasi dan setelah operasi.


"Ka-kamu ..." Suara Nyonya Eleanor tercekat di tenggorokan.


"Iya, Ma. Aku Anella, anak Mama. Ah, sekarang namaku Arella Andzelika."


Akhirnya Arella membuka bibirnya, dan mengucapkan kalimat itu dengan suara bergetar. Tangisnya pecah, karena akhirnya dia bertemu langsung dengan sang Mama, setelah empat bulan terpisah.


"Ta-tapi ... Kenapa wajahmu jauh berbeda? Padahal kita hanya berpisah selama empat bulan," ucap Nyonya Eleanor ragu.

__ADS_1


"Ma, wajahku memang berubah. Tetapi aku masih tetap anak Mama yang manja pada Mama. Masa Mama nggak mengenali anak sendiri?" ucap Arella meyakinkan.


Nyonya Eleanor tidak menyahut. Dia menatap Arella dengan wajah muram. "Suara dan cara bicaramu sih sama seperti Anella," gumamnya lirih.


"Ma, di sertifikat ini kan sudah tertulis identitas dan fotoku dengan jelas. Bahkan ada bukti sidik jariku juga," ucap Arella. "Masa aku harus buktikan lagi dengan tes DNA?" sambungnya pilu.


"I-iya, sih. Jadi kamu benar-benar anakku?" Nyonya Eleanor mengangkat kedua tangannya, dan meraba wajah Arella dengan lembut.


"Iya, Ma. Maafkan aku, telah mengubah nama yang Mama dan Papa berikan untukku. Maaf juga, aku udah mengubah wajahku hingga jadi orang yang berbeda." Arella menangis sesenggukan, menumpahkan rasa sedih yang selama ini terpendam di dalam hatinya.


"Nak, seperti yang kamu bilang tadi. Kamu tetap anak Mama yang paling cantik. Tetap malaikat kecil Mama dan mendiang Papamu," ucap Nyonya Eleanor dengan suara tercekat, di antara isak tangisnya.


Rhea mengambil selembar tisu, lalu memberikannya pada Nyonya Eleanor. Ibunda dari Arella tersebut pun mengusap air matanya dengan tisu tersebut.


"Mama ikhlas. Lebih baik kamu hidup dengan wajah baru seperti ini, dari pada kamu harus berhadapan lagi dengan pria laknat itu sebagai Anella," sambung Nyonya Eleanor, setelah tangisnya sedikit mereda. "Ah, tapi gimana kalau pertemuan kita ini diintai mereka?" katanya lagi.


"Tenang, Ma. Ellard sudah nggak mengawasi gerak-gerik Mama lagi sejak sebulan yang lalu. Dia sibuk memikirkan bisnisnya yang bangkrut," kata Arella tersenyum sinis.


"Syukurlah, dengan begitu kita nggak perlu berurusan dengan dia lagi," kata Nyonya Eleanor bernapas lega.


"Sudahlah, Nak. Lupakan semua benci dan amarahmu. Mama sudah cukup senang hidup begini. Biarkan Tuhan yang membalasnya," larang Nyonya Eleanor.


"Nggak apa-apa, Ma. Tenang aja. Persiapanku kali ini lebih matang. Dan aku akan membalaskan dendamku pada pria gak tahu berterima kasih itu," ucap Arella tak bisa dicegah.


"Kamu nggak merencanakan sesuatu yang berbahaya, kan? Cukup sekali saja Mama kehilangan kamu, Nak," kata Nyonya Eleanor dengan wajah muram.


"Tenang aja, Ma. Aku nggak akan menggunakan cara murahan seperti mereka, kok," kata Arella menjelaskan.


"Arella, apa kamu yakin cara ini bakalan berhasil?" sela Rhea yang sejak tadi diam saja.


"Tentu saja. Karena Ellard saat ini butuh uang untuk hidup berfoya-foya, setelah dia jadi pengangguran," kata Arella dengan yakin. "Tunggu saja, pasti dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam dia akan meneleponku," imbuh wanita berkulit cerah itu.


"Pengangguran? Lalu perusahaan milik ayahmu yang dia pimpin itu?" tanya Nyonya Eleanor bingung.


"Mama pikir dia sanggup mengelolanya tanpa aku?" cibir Arella tersenyum jahat. "Tak kusangka dia akan hancur secepat ini. Aku jadi lebih mudah membalasnya," sambung Arella.

__ADS_1


Nyonya Eleanor terunduk sedih. Karena terlalu sayang dan percaya pada menantunya itu, dia malah membuat perusahaan yang dirintis suaminya hancur, serta putri tunggalnya mengalami nasib buruk.


"Lihat! Baru aja diomongin, sekarang dia meneleponku, kan?" Arella mengangkat ponselnya yang berdering.


"Apa benar itu telepon dari mereka?" tanya Rhea.


"Aku yakin seratus persen, itu telepon darinya," jawab Arella mengedipkan sebelah matanya.


...***...


"Selamat malam. Senang bertemu dengan Anda. Aku Ellard, dan ini ca- ... Ehem, maksudku istriku." Ellard memperkenalkan dirinya pada Arella.


"Oh, selamat malam. Anda datang lebih cepat rupanya. Namaku Arella. Senang bertemu Anda juga." Arella tersenyum sangat manis.


"Uhuk!" Ellard mendadak tersedak, padahal dia tidak sedang minum ataupun makan.


"Maaf, Anda tidak apa-apa?" Arella menarik kembali tangannya yang hendak bersalaman dengan Ellad. Dia lalu memberikan segelas air mineral pada Ellard.


"Cih, dasar wanita genit. Padahal aku ada di sini, tapi dia masih aja tebar pesona pada Ellard," gerutu Lilith dalam hati.


"Aku tak apa-apa. Namamu mirip dengan seseorang yang sangat aku kenal. Arti dari namanya juga sama-sama malaikat," kata Ellard, setelah meneguk air mineral tersebut.


Lilith memijak kaki Ellard dengan cepat. Dia lalu buru-buru mengalihkan cerita dan membahas masalah bisnis.


...***...


"Uh, kepalaku berat banget." Ellard berusaha untuk duduk, sambil memegang kepalanya yang terasa berat. "Ah, sekarang rasanya malah mau muntah." Dia lalu buru-buru menuju ke kamar mandi.


"Eh, ini bukan kamarku. Aku di mana sekarang?" seru Ellard setelah menyadari, interior kamar itu berbeda dengan kamar miliknya. Posisi kamar mandinya juga berbeda.


"Lilith, tolong aku." Ellard berseru memanggil Lilith berkali-kali.


"Kenapa kamu menyebut nama wanita lain saat bersamaku? Aku kan jadi merasa kesal.


Hampir saja bola mata Ellard melompat keluar, melihat wanita cantik yang hanya mengenakan handuk kimono yang cukup seksi.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2