
"Senang sih diajak makan malam bersama, tapi kenapa hatiku merasa ada yang aneh, ya?"
Anella duduk di depan meja makan yang penuh dengan hidangan mewah. Ini pertama kalinya Ellard mentraktirnya di tempat mahal, sejak empat tahun pernikahan mereka. Biasanya Ellard hanya mengajaknya makan di warung kaki lima atau food truck, di ulang tahunnya sekali pun.
Tapi Anella bukanlah wanita yang suka menuntut. Sejak dulu dia selalu menerima apa saja yang diberikan oleh Ellard, meskipun hanya makan malam di tempat sangat sederhana sekali pun.
Malam ini cukup berbeda dari biasanya. Ellard memintanya mengenakan gaun hitam yang sangat cantik, dengan riasan yang elegan. Pelayanan Ellard malam ini juga sangat spesial dibandingkan hari-hari biasanya. Makanan yang dia pesan, juga berasal dari bahan premium dengan harga tinggi.
Ada apa sebenarnya? Kenapa Anella justru merasa curiga dengan sikap suaminya itu?
"Ngomong-ngomong sekarang kan jam makan malam, tetapi kok sepi banget, ya?"
Anella mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Memastikan bahwa dia tidak hanya berdua dengan Ellard di sana. Namun yang anda temukan hanyalah para pelayan yang sedang bertugas.
"Daripada tempat yang ramai seperti food truck, Bukankah tempat sepi begini jauh lebih nyaman?" ucap Ellard sambil menyerahkan stew lamb pada Anella.
"Ya sesekali aku juga senang sih, diajak ke tempat seperti ini," balas Anella dengan senyum mengembang lebar di wajahnya.
"Bagaimana kalau aku meminta pelayan mengeluarkan desserts sekarang?" usul Ellard setelah meneguk minumannya.
"Hm? Tapi aku sudah kenyang," balas Anella.
"Kudengar desserts di sini sangat enak. Coba deh, cicip sedikit aja," pinta Ellard setengah mendesak.
"Boleh, deh," ujar Anella mengalah.
Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pun membawa desserts pesanan Ellard keluar.
"Wow! Desserts-nya cantik banget! Jadi sayang mau dimakan," komentar Anella saat melihat cake cantik dengan warna hijau muda kesukaannya itu.
Cake itu dihias seperti sebuah taman kecil penuh rumput dan bunga-bunga, serta seekor kelinci yang bermain di atasnya.
"Jangan senang dulu. Masih ada kejutan lain dalam kue ini," kata Ellard. Pria itu mengangkat sebuah pohon imitasi, dan mengambil benda berkilauan di dalam kue tersebut.
"Eh? Cincin?" gumam Anella tak percaya. Sejak kapan suaminya memberi hadiah mahal seperti itu?
"Iya. Masa kamu aja yang bisa memberiku hadiah? Aku juga bisa, dong. Sini aku pakai kan." Ellard nemasangkan cincin berlian itu di jari manis sang istri.
__ADS_1
"Duh, kayaknya aku gemukan, deh. Cincinnya terasa sempit di tanganku. Padahal kamu pasti sudah memilihkan yang terbaik untukku," rajuk Anella.
"Nggak apa-apa, sayang. Kamu agak gemukan juga tetap cantik, kok," kata Ellard mengecup pipi sang istri.
"Apa kamu menyiapkan ini semua sendirian?" tanya Anella dengan wajah sumringah.
"Ya tentu, dong. Ini semua khusus untukmu, sayang," ucap Ellard. "Nikmatilah kebahagiaan terakhirmu ini, sebelum hidupmu berakhir hari ini," lanjut Ellard dalam hati.
"Ya Tuhan, ku harap sikapnya ini beneran tulus," doa Anella dalam hati.
Diam-diam Ellard mengetik sebuah pesan melalui ponselnya. "Lilith, kamu sudah siap dengan rencana kita, kan?" tulisnya.
"Tentu saja aku sudah siap. Aku juga sudah menyewa orang-orang di sini untuk tutup mulut," lapor Lilith.
"Sip, tunggu perintahku selanjutnya. Anellla masih belum tertidur," balas Ellard.
"Duh, kenapa aku merasa ngantuk banget, ya? Aku merasa ada yang aneh setelah memakan cake itu? Ah, kalau diingat-ingat Ellard juga nggak memakan kue itu sejak tadi," pikir Anella curiga.
Anella berulang kali menguap. Kantuknya benar-benar nggak bisa ditahan.
"Sepertinya aku harus memberi tahu seseorang, bahwa aku disini bersama Ellard. Harus ada saksi jika aku bersamanya saat ini." Kepalanya berpikir keras mencari bantuan, tanpa dicurigai Ellard.
"Loh kenapa hp-ku nggak ada sinyal? Gimana caranya aku menghubungi seseorang?" pikir Anella bingung.
"Kenapa sayang?" tanya Ellard curiga.
"Oh, nggak ada apa-apa, kok. Kayaknya aku lupa mengecharge HP-ku," kilah Anella. Ekor matanya melirik ke arah ponselnya yang masih tak ada sinyal.
"Duh, kepalaku semakin berat. Aku harus cari cara lain," pikir Anella mulai resah.
Wanita itu lalu meminta izin ke toilet. Padahal sebenarnya dia sedang berusaha mencari telepon untuk meminta bantuan. Anella juga memesan kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya.
"Astaga, Anella. Kamu lagi ngapain, sih? Kenapa malah minum kopi di sini? Kopi kan nggak bagus untuk wanita yang sedang mempersiapkan kehamilan."
Ellard merebut cangkir kopi yang pegang oleh Anella. Pria itu awalnya hendak menguntit Floretta, dan membekapnya selagi wanita itu berada di kamar mandi. Tetapi dia malah menemukan Anella meminum secangkir kopi. Kalau dibiarkan ini bisa menggagalkan rencana yang telah dia susun rapi.
"Oh, sayang. Maaf aku ngantuk banget. Ku pikir beberapa teguk kopi bisa menahan mataku sampai kita pulang," jawab Anella dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Lagipula aku berubah pikiran, sayang. Aku ingin ikut program bayi tabung saja," kata Anella sambil mengangkat sebelah alisnya. Dia melangkahkan kakinya menuju ke meja mereka tadi.
"Kenapa tiba-tiba? Bukannya program bayi tabung itu mahal dan tingkat keberhasilannya cuma lima puluh persen?" ujar Ellard yang mengikuti langkah kaki Anella di belakang.
"Ya terus gimana, dong? Aku kan nggak bisa hamil lagi, karena kamu udah menjalani vasektomi," kata Anella tanpa memasang wajah emosi sedikit pun. Padahal sesungguhnya di dalam hatinya saat ini sedang berkecamuk.
"A-apa? Omong kosong macam apa itu?"
Seluruh tubuh Ellard bergetar hebat. Dadanya memburu dan emosinya memuncak, karena sang istri sudah mengetahui kebohongannya.
"Kenapa kamu nggak jujur padaku, sayang? Aku pasti akan mendukung setiap keputusanmu. Kamu pasti punya alasan sendiri kenapa melakukan hal itu, kan?"
Alih-alih marah, Anella justru semakin menunjukkan kasih sayang dan dukukangannya pada sang suami.
"Cepat katakan! Dari mana kamu mengetahuinya?"
Seluruh sikap manis Ellard pada Anella tadi lenyap seketika, dan berganti menjadi sebuah bentakan. Namun Anella masih tak gentar untuk membongkar kebusukan pria itu dengan cara elegan.
"Aku menemukan antibiotik ini di antara tumpukan baju, saat mencari dasimu kemarin."
Anella sambil meletakkan sebuah kantong plastik dari rumah sakit, berisi beberapa strip antibiotik di atas meja.
"Kayaknya kamu sering lupa minum, deh. Kalau kamu bilang padaku, aku kan bisa mengingatkanmu supaya rutin meminumnya," sambung Anella.
Matanya melirik ke arah pintu masuk. Dia sengaja mengajak Ellard bicara panjang lebar, sambil menunggu seseorang datang untuk membantunya.
Sementara Ellard tak bisa berkutik lagi, di kantong plastik tersebut tertulis dengan jelas nama dan umurnya.
"Kamu salah paham, Anella. Antibiotik ini bukan ... "
"Oh iya, aku juga udah mengambil brosus program bayi tabung dari rumah sakit Elizabeth dan beberapa rumah sakit lainnya. Tapi aku mengambil keputusan, setelah kamu setujui," ucap Anella memotong kalimat sang suami.
"Sejauh apa yang kamu selidiki, Anella? Apa saja yang telah kamu ketahui?" tanya Ellard dengan nata berapi-api.
"Hm? Memangnya masih ada hal lain lagi yang kamu sembunyikan?" Anella justru balik bertanya.
"Sialan! Aku malah terjebak dua kali. Aku jadi nggak sabar secepatnya menghabisi nyawanya," umpat Ellard dalam hati.
__ADS_1
(Bersambung)