
"Emh ..."
Lilith mengatupkan bibirnya rapat-rapat, agar suara lenguhannya tidak terdengar jelas. Tubuhnya bergetar kuat, ketika Ellard merasuk ke dalam tubuhnya begitu dalam. Sesekali kedua kakinya terangkat, ketika urat syarafnya meregang merasakan nikmat yang tiada tara.
Setelah Lilith mencapai puncak lebih dari sepuluh kali, semangat sang suami masih tetap membara. Ellard masih berpacu di atas tubuh Lilith sambil membayangkan kemolekan Arella. Baginya, Lilith hanyalah cangkang kosong yang tidak bermakna apa-apa, tanpa khayalan Ellard yang mesum.
Setelah makan siang bersama tadi, Arella mengajaknya berenang di suatu tempat. Meskipun Ellard tidak pandai berenang, dia tetap mengikuti keinginan wanita itu demi menyenangkan hatinya.
Sebelum berenang, Arella pun mengganti gaunnya dengan bikini yang memperlihatkan perut rampingnya. Tubuhnya yang sintal dan padat pun terlihat jelas oleh Ellard. Namun wanita itu tetap teguh pada pendiriannya. Dia hanya mengizinkan Ellard melihat tubuhnya tanpa menyentuhnya.
"Tumben dia bisa sekuat ini staminanya? Apa yang terjadi pada dia dan Arella siang tadi?"
Lilith menatap wajah Ellard dengan rasa curiga. Namun di balik itu semua, dia merasa senang, karena sang suami melepaskan lahar putihnya untuk dirinya. Yah, setidaknya kebutuhan duniawi dia terpenuhi.
"Mau mandi bersama?"
"Hah?" Pertanyaan Ellard yang tiba-tiba membuat Lilith hampir melompat dari tempat tidur. "Tumben?" ucapnya kemudian.
"Ya nggak ada apa-apa. Cuma udah lama kita nggak melakukannya, kan?" kata Ellard. Tangannya yang jahil menarik selimut yang menutupi tubuh polos Lilith.
"Wah, berani kamu, ya?"
Wanita bermata cokelat itu menatap Ellard dengan tajam, sambil menyeringai lebar. Dia lalu turun dari tempat tidur dan menarik pria selingkuhannya ke dalam kamar mandi.
"Jangan salahkan aku, kalau aku meminta ronde berikutnya," ujar Lilith dengan nakal.
...***...
"Apa ini?"
Lilith yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, melihat potongan kertas kecil yang tergeletak di lantai. Dia lalu menundukkan kepala dan memungutnya.
"Astaga! Kok aku bisa Lalai!"
__ADS_1
Ellard menepuk jidatnya, menyesali kebodohannya sendiri. Karena terburu-buru pulang, dan meminta jatah pada Lilith, Ellard sampai lupa menyimpan bukti pencairan cek yang diberikan Arella lagi.
Lilith membuka handuk kimononya, dan memperlihatkan tubuh polosnya tanpa sehelai kain pun. Tubuhnya yang sintal pun terlihat dengan jelas oleh Ellard. Namun bagi Ellard saat ini, kemolekan yang dimiliki oleh Lilith masih kalah jauh jika dibandingkan Arella.
"Lilith ..."
"Gila! Ini beneran hampir satu milyar, kan? Aku nggak salah menghitung angkanya, kan? Jadi uang dari Arella udah cair?"
Lilith terus mengoceh tanpa mempedulikan Ellard yang berulang kali memanggilnya. Tubuhnya dibiarkan polos tanpa penutup, dan fokus pada kertas itu.
"Lilith ..."
"Bagusnya kita gunakan untuk apa dulu ya? Beli apartemen? Atau mobil?"
"Lilith, dengarkan aku dulu."
Ellard yang sudah geram, langsung menggenggam tangan Lilith dan memberikannya selembar dress untuk dipakai wanita itu. Setelah Lilith mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya, Ellard mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.
"Iya benar, itu uang dari Arella. Tapi bukan untuk berfoya-foya. Ini uang untuk merenovasi toko kue," jelas Lilith. Percuma dia menyembunyikan uang itu lagi. Lilith pasti dengan mudah bisa menemukannya.
"Iya. Arella memberikan uang ini khusus untuk merenovasi toko. Dia membiarkan kita yang mengelolanya," jawab Ellard.
"Wah, bagus dong. Kalau gitu kita bisa menekan biaya renovasi, dan membuat laporan palsu. Lalu sisa uangnya kita gunakan untuk hal lain," usul Lilith. "Toh, dia pasti nggak akan memeriksanya sedetail itu, kan?" kata perempuan itu lagi.
"Sialan! Itu kan rencanaku sejak awal. Andai aja aku nggak sembarangan meletakkan bukti pencairan cek itu, pasti semua uang itu jadi milikku." Ellard menggerutu kesal di dalam hati.
...***...
Beberapa hari kemudian. Ellard terpaksa mengikuti keinginan Lilith berfoya-foya. Sama persis seperti waktu mereka baru mendapat harta dari Anella dulu.
"Wah, beneran kalian mau membelinya? Jarang sekali lho, kami menjual penthouse seperti ini. Kalian lagi beruntung."
Seorang agen properti mengantar Lilith dan Ellard ke sebuah penthouse berharga dua milyar rupiah, yang berada di lantai tiga puluh satu.
__ADS_1
"Pemandangan di luar jendela sangat indah. Posisi lantainya cukup tinggi, jadi pandangan keluar terasa leluasa tanpa terhalang gedung lain," jelas wanita berusia empat puluh tahunan, yang bernama Linda itu.
"Iya, benar. Indah sekali pemandangan dari sini. Bahkan pegunungan di barat daya pun terlihat jelas.
"Tapi karena posisi lantainya dan dinding kacanya tinggi, biaya pemeliharaan tempat ini termasuk mahal. Kira-kira sebulannya mencapai belasan juta hanya untuk membersihkan kaca," jelas Linda.
"Hei, kenapa kamu bilang gitu? Kalau takut dengan biaya pemeliharaan, mana mungkin kami mau melihat tempat ini?" kata Lilith sambil berdecak kesal. Wajah cerianya hilang seketika.
"Lilith, dia kan cuma menjelaskan saja. Itu bagian dari tugasnya sebagai marketing. Kamu kenapa, sih?" Ellard merasa tak enak dengan marketing penthouse tersebut.
"Kamu kok malah membela perempuan tua ini, sih?" ucap Lilith sewot. Dengus napasnya yang kasar terdengar jelas.
"Ya aku tersinggung lah. Masa dia berpikiran kita nggak bisa membayar uang perawatan gedung? Itu kan kurang ajar sekali. Harusnya dia menyebutkan kelebihan tempat ini, karena kita mau membelinya," jelas Lilith dengan nada tinggi.
Hei, Bu. Suamiku ini bernama Ellard. Dia adalah pengusaha dan pemilik banyak gedung di kota ini. Dia bukan orang sembarangan." Lilith membentak perempuan yang berprofesi sebagai marketing itu.
Kedua tangannya dia letakkan di pinggang. Dagunya terangkat, menunjukkan kalau dia lah yang memiliki posisi paling tinggi di tempat ini.
"Pak Ellard pemilik apartemen A di dekat kantor gubernur?" gumam wanita itu. "Masa pemilik gedung mencari gedung untuk tempat tinggal, sih?" pikir wanita itu nggak percaya.
"Ya, kamu memang nggak salah. Tapi nggak perlu bicara kasar gitu, kan?" Ellard menghela napasnya berkali-kali, mencoba bersabar dari sikap arogan sang istri.
"Kita ini pembeli. Pembeli adalah raja. Bukan malah direndahkan seperti ini. balas Arella dengan ketus.
"Aku minta maaf telah membuat Anda tersinggung, Nyonya. Aku nggak bermaksud begitu," ucap Linda meminta maaf berulang kali pada Lilith dan Ellard.
"Sayang, ayo kita pergi. Aku malas berlama-lama di sini. Lebih baik kita mencari agen properti lainnya," kata Lilith dengan kasar.
"Duh, aku minta maaf atas nama istriku, ya," kata Ellard merasa tak enak.
"Kamu kenapa malah meminta maaf padanya, sih? Ayo kita pergi." Lilith yang sudah tak sabaran, menarik lengan Ellard untuk segera keluar dari penthouse mewah itu.
"Lalu kamu, sebagai pengusaha sukses aku akan memberimu nasehat. Kamu harus menjaga sopan dan santunmu pada pelanggan, kalau mau tetap berads dalam industri ini. Kamu harus ingat, bahwa dasar dari kesuksesan bisnis ini adalah sikap dan perkataanmu."
__ADS_1
Lilith menasehati Linda, tanpa becermin pada sikapnya yang jauh lebih kasar dan arogan pada orang lain.
(Bersambung)