Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 45. Semua Bukan Milikmu


__ADS_3

Bam! Ellard membanting pintu kamar dengan kuat, hingga membuat rak buku di dekatnya ikut bergetar.


“Sayang, kamu mau ke mana?” tanya Lilith kebingungan. Dia melihat suaminya membawa satu koper berkas, lalu berjalan terburu-buru menuju pintu keluar.


“Aku mau ke kantor agrarian,” jawab Ellard seraya mencari kunci mobilnya.


“Ke kantor agraria? Untuk apa? Sekarang kan …”


“Duh, kenapa kamu cerewet banget, sih? Ada hal penting yang harus aku urus di sana,” kata Ellard tanpa menoleh.


“Iya, aku tahu. Tapi sekarang masih jam enam pa … gi.” Ellard sudah duluan keluar, sebelum Llilith selesai menyelesaikan kalimatnya. “Dia kenapa sih buru-buru banget? Padahal kantor belum buka juga,” gumam wanita itu kebingungan.


Dua jam kemudian. Ellard yang tampak kumal dengan kemeja kusut mondar mandir di dalam kantor agrarian sambil mengeluh. Keningnya membuat kerutan cukup dalam. Giginya yang rapat, menggeretak kuat.


“Pak, coba dicek lagi. Ini pasti salah. Masa semua gedung milikku berganti menjadi milik Nyonya Eleanor?” Ellard memaksa pegawai kantor untuk mengecek ulang kepemilikan gedung-gedung itu.


“Pak, saya sudah mengeceknya enam kali. Terhitung tanggal 1 Maret, gedung-gedung itu sudah menjadi milik Nyonya Eleanor,” kata pegawai itu sambil menghela napas panjang. Dia sudah lelah menghadapi Ellard yang terus menerus menerornya.


“Tapi gimana bisa? Sebelumnya istriku kan sudah mengurus balik nama gedung ini. Bahkan sertifikat tanahnya juga ada padaku,” kata Ellard tak mau percaya begitu saja.


“Maaf, yang Bapak tunjukkan itu bukan sertifikat tanah yang asli. Itu hanya hasil scan yang di print ulang.” jelas pegawai tersebut.


“Ck! Kok dia bisa tahu sih?” Pikir Ellard kesal. “Tapi tanah yang di tepi sungai dan ditepi hutan lindung ini punyaku, kan? Ah, gedung kecil yang di kota sebelah juga,” sambungnya.


Pegawai kantor agraria tersebut menggelengkan kepalanya. “Itu semua juga milik Nyonya Eleano,” jawabnya. “Lagian bukannya Bapak sendiri yang menandatangani surat balik nama gedung ini menjadi milik Nyonya Eleanor?” Pria itu balik bertanya.


“Aku? Tanda tangan surat balik nama? Hah, mana mungkin! Aku sudah susah payah merebut … Ehm! Maksudnya mengurus gedung-gedung itu sejak dulu. Untuk apa malah memberikannya pada orang lain,” kata Ellard yang hampir aja keceplosan.


“Tapi ini ada buktinya. Ini tanda tangan dan cap jari Bapak. Kami sudah memverifikasinya dan ini asli,” jelas pegawai tersebut.


“Terus ini gimana? Saya bisa menuntut kalian, lho,” ancam suami sah dari Anella itu.

__ADS_1


“Ya silakan kalau Bapak mau menuntut kami, karena aku yakin pihak kami nggak bersalah. Nggak ada unsur penipuan di sini.”


Pikiran Ellard berkecamuk. Dia nggak bisa berpikir jernih lagi saat ini. Napasnya begitu berat bagaikan tak ada masa depan.


“Aku meminjam uang pada rentenir itu untuk menutupi biaya renovasi toko. Tapi uang itu malah kami habiskan lagi selama dua bulan ini untuk berfoya-foya.” Ellard menyesali gaya hidupnya bersama Lilith yang terlalu boros.


Ellard melangkah gontai menuju parkiran. Pandangannya kosong. Berkas sebanyak satu koper yang dibawanya sudah nggak ada gunanya lagi.


“Sekarang uang pinjaman telah habis, sebelum toko direnovasi. Rekeningku entah kenapa juga kosong total. Padahal seharusnya uang hotel dan sewa gedung masuk ke sana. Sekarang aku harus bagaimana? Aku nggak sanggup memperlihatkan wajahku di depan Arella kalau dia pulang nanti.”


Tiiin!


Sebuah mobil menekan klakson dan mengerem mendadak, karena Ellard mendadak menyeberangi jalan dan hampir tertabrak.


“Duh, maaf.”


Pria itu menundukkan tubuhnya untuk meminta maaf. Setelah masuk ke mobil, dia kembali melamun. Pikirannya terbang entah ke mana.


“Sejak Anella meninggal, aku nggak pernah menandatangani berkas apa pun. Tapi bagaimana semua ini bisa terjadi?” Ellard memutar ulang semua ingatannya.


“Tapi mana mungkin. Arella kan sasngat mencintaiku. Setiap malam kami melakukan video call. Mana mungkin orang sekaya dia melakukan semua ini. Lagipula, dia kan nggak kenal sama Nyonya Eleanor.”


Pikiran Ellard semakin ruwet. Dia nggak bisa mencari jalan keluar di tengah masalah besar yang membelit dirinya. Tanpa harta benda peninggalan sang istri, Ellard mana mungkin bisa hidup di dunia ini. Sejak kecil dia sudah terbiasa hidup mewah berpangku tangan pada orang lain, tanpa tahu susahnya mencari uang.


Hati kecil Ellard masih mencurigai wanita cantik kaya raya itu. Untuk menghilangkan kegundahan hatinya, Ellard pun mencoba menghubungi Arella Andzelika.


Tapi …


“Nomor yang Anda tuju salah. Silaka periksa kembai nomor tujuan Anda.” Ellard sudah mendengarkan jawaban dari operator telepon itu sebanyak sebelas kali.


“Nggak! Nggak mungkin Arella menghilang, kan? Dia pasti nggak bisa di hubungi karena sedang di luar negeri, atau berada di dalam pesawat,” ucap Ellard menenangkan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Tunggu! Masih ada satu orang lagi yang harus aku telepon. Ah, bukan! Aku temui.”


...***...


“Kepar*at! Apa-apaan ini? Hanya lengah beberapa bulan saja kenapa rumah ini sudah kosong? Ke mana perginya wanita tua itu?”


Ellard mengambil HP-nya dari dalam saku, lalu mencari nama seseorang dalam kontaknya.


“Halo, Nak.”


“Mama, gimana kabar Mama? Padahal aku sudah membeli ayam kalkun dan buah-buahan untuk mengunjungi Mama. Tapi rupanya rumah ini kosong. Hahaha.”


“Ellard? Kamu tertawa? Gimana kamu bisa tertawa di saat istrimu menghilang seperti ini? Mana mungkin kabar seorang Ibu bisa baik-baik aja, setelah berbulan-bulan tak mendengar kabar dari putrinya?”


Bukannya bahagia, Nyonya Eleanor justru mengomeli menantunya tersebut.


“Duh, Ma. Kita kan juga nggak bisa hidup dalam kesedihan seperti ini terus. Orang yang masih hidup, harus tetap melangkah ke depan melanjutkan hidup,” jawab Ellard dengan nada sedih.


“Orang yang masih hidup? Kamu bicara seolah-olah anakku telah meninggal. Tega sekali kamu bicara seperti itu. Mama juga tahu, kamu sudah memiliki wanita lain, kan?” balas Nyonya Eleanor semakin marah.


“Ma, aku juga merindukan Anella setengah mati. Tapi mau bagaimana lagi? Aku nggak menemukannya di mana pun. Entah dia sudah meninggal atau tinggal di luar negeri bersama kekasih barunya. Aku nggak bisa menemukan jejaknya lagi.”


Suara Ellard terdengar bergetar karena menahan tangis. Tentu saja tangisan itu hanyalah tangisan buaya. Nyonya Eleanor sama sekali tak merasa iba melihatnya.


“Karena itulah aku hendak menemui Mama di rumah. Keluargaku satu-satunya tinggal Mama seorang. Kalau aku terus menerus bersedih lalu sakit, Mama yang tinggal sendirian pasti akan sangat sedih. Jadi tolong beritahu aku, sekarang Mama tinggal di mana?” sambung Ellard lagi.


“Mama baru saja hendak pergi ke luar negeri, untuk mencari keberadaan Anella. Sebelumnya Mama tinggal di panti sosial, untuk mengusir rasa sepi.”


Nyonya Eleanor memang tidak bohong. Beberapa bulan yang lalu dia memang tinggal di panti asuhan, mengasuh anak-anak bersama Rhea. Dan sekarang dia hendak menyusul Arella ke Korea.


“Mama, tunggu. Mama di bandara mana. Aku ingin menemui Mama sebelum pergi. Ada beberapa hal yang …”

__ADS_1


“Maaf, Ellard. Sebentar lagi pesawat Mama take off. Mama harus mematikan HP.” Nyonya Eleanor memutus ucapan Ellard yang belum selesai.


(Bersambung)


__ADS_2