Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 38. Trauma (2)


__ADS_3

Ellard berdiri terpaku di depan pintu. Netranya nggak berkedip, mengagumi keindahan duniawi yang diciptakan Tuhan itu. Bibirnya berulang kali berdecak kagum. Sementara jantungnya berdegup kencang, merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.


"Kamu kenapa bengong gitu?" ucap Arella yang sedang memakai sepatu. Wanita bergaun biru itu sedikit membungkuk, dan memperlihatkan sedikit bagian sensitifnya di balik cup pengaman.


"Ngg ... Anu ... Kamu beda banget hari ini," ucap Ellard sambil menelan ludah. Sesuatu mulai mengeras di dalam sana. Bibirnya mengatup rapat, tak sabar ingin mecicipi dua bola kenyal itu. "Ini sih manusia spek bidadari," gumamnya pelan.


"Kenapa? Bajuku aneh, ya? Apa aku ganti baju dulu?" balas Arella pura-pura lugu.


"Nggak, kok. Maksudku kamu cantik banget. Lebih cantik dari biasanya," balas Ellard dengan cepat.


"Cih, dasar mesum. Kamu pasti mikir yang aneh-aneh, kan? Udah ku bilang aku nggak akan menjalin hubungan spesial dengan rekan bisnisku," ucap Arella memberi batasan ddngan jelas.


"Iya, aku ngerti, kok. Aku nggak akan berbuat semauku, tanpa izin darimu," ucap pria itu.


"Heleh! Gak usah sok berlagak gentleman, deh. Padahal dulu bisa-bisanya bekerja sama dengan selingkuhan untuk membunuh istri sah-nya," cibir Arella dalam hati.


"Ayo, pergi. Kamu mau makan di mana? Di rooftop atau restoran sebelah?" Ellard menggandeng tangan Arella dengan santai. Wanita itu pun membiarkannya, meskipun hatinya merasa jijik.


"Aku nggak mau makan di sana. Aku mau mengajakmu ke tempat spesial," kata Arella dengan manja. "Tenang aja. Kali ini aku yang akan mentraktirmu," sambungnya lagi.


"Oh, ke mana? Nggak apa-apa, kok. Biar aku aja yang traktir. Masa kamu terus yang bayar," balas Ellard.


"Wah, beneran? Terima kasih, ya. Ayo kita pergi. Aku tunjukkan jalannya. Kamu pasti bakalan suka dengan makananya," kata Arella.


"Yang benar? Awas ya kalau kamu berbohong. Aku akan memintamu traktir makan malam di tempat pilihanku," ucap E Ellard berseloroh.


"Ayo, siapa takut?" balas Arella menerima tantangan pria itu dengan berani.


...*** ...


Tiga puluh menit kemudian. Ellard yang mengendarai mobil sedan mewah itu mulai berkeringat dingin. Beberapa kali dia mengerem mendadak karena terlalu gugup.


Memang sih, jalanan di sekitarnya cukup terjal dan kanan kirinya adalah jurang. Tapi jalan tersebut sangat lebar dan lengang. Sebagai orang yang sudah biasa mengendarai mobil di berbagai medan yang sulit, seharusnya dia tak akan segugup itu.


"Gawat! Dia mau mengajakku ke mana, sih? Jangan-jangan restoran itu," pikir Ellard dalam hati. Matanya bolak-balik melirik ke kiri, memandang wanita jelita yang asyik bermain HP itu.

__ADS_1


Cekiiiit! Ellard mendadak mengerem mendadak. Tangannya gemetar kuat dan napasnya tersengal.


"Ada apa, sayang?"


Arella keceplosan memanggil pria itu, seperti saat mereka masih tinggal bersama. Ellard pun menganggapnya, bahwa Arella sengaja untuk menggodanya.


"I-itu tempat Pak Alex kecelakaan dulu, kan?"


Ellard bergidik ngeri ketika melalui sebuah tikungan tajam yang sedikit runtuh di salah satu sisinya. Pagar pembatasnya rusak.


Pria itu teringat kecelakaan tragis yang menelan korban jiwa dari asisten pribadi Anella dulu. Bentuknya sudah nggak dikenali lagi, ketika diangkat dari dalam jurang. Mobil yang dikendarai pria itu pun menjadi bangkai besi yang tak bernilai lagi.


"Ellard?" bisik Arella lagi. Dia mengusap punggung Ellard berkali-kali untuk menenangkan pria itu.


"Ah, nggak ada apa-apa, kok. Aku tadi cuma terkejut, karena tiba-tiba melihat retuntuhan tebing di sebelah kanan. Maklum, aku jarang sekali melewati jalanan ini," kata Ellard mencoba tersenyum.


"Uh, aku kenapa sih? Jangan berbuat bodoh, Ellard. Itu kan cuma tempat Pak Alex kecelakaan dulu. Dan bukan aku yang membunuhnya," batin Ellard menenangkan dirinya sendiri.


Arella menyeringai lebar. "Mampus kamu. Kalau kamu memang masih punya hati, pasti merasa trauma saat melewati tempat mengerikan ini. Arwah Pak Alex pasti senang, melihatmu ketakutan seperti ini," tawa Arella dalam hati.


Ellard mengatur napasnya, lalu perlahan kembali menjalankan mobilnya.


"Ah, aku nggak apa-apa, kok. Tadi cuma agak kaget aja." Pria itu gengsi bergantian menyetir dengan seorang wanita. Dia pun kemudian menekan gas dengan kuat, lalu melanjutkan perjalanan.


Sepuluh menit kemudian, mimpi buruk Ellard pun menjadi kenyataan. Arella benar-benar membawanya, ke restoran tempat dia dan Anella merayakan anniversary untuk terakhir kalinya.


...***...


"Ellard, kok diam aja? Kamu mau pesan apa? Kalau aku mau pesan ini aja, deh," ucap Arella sambil menunjuk beberapa menu, yang dulu dipilihkan Ellard untuk Anella.


"A-aku ..." Ellard kembali termenung.


"Duh, pikiranku kacau balau teringat kejadian malam itu. Para pegawai di sini nggak mengenaliku, kan? Arella bukanlah Anella. Ayo fokus." Ellard berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


"Hm, apa menu makananku terlalu mahal, ya? Kalau gitu aku ganti menu aja, deh." Karena Ellard tak kunjung memesan makanan, Arella pun berupaya menarik perhatian pria itu.

__ADS_1


"Duh, jangan. Nggak apa-apa kok kamu pesan itu. Aku tadi cuma bingung memilih menu," balas Ellard. "Kayaknya ini enak, deh." Pria itu pun mencoba menu timur tengah yang best seller di sana.


"Oke. Sambil menunggu pesanan datang, aku mau bicarakan tujuan utama pertemuan kita." Setelah para pelayan yang mencatat pesan mereka pergi, Arella pun langsung memasang wajah serius.


"Apa ada masalah sama proyek kita?" tanya Ellard cemas.


"Nggak, kok. Aku cuma mau berikan ini." Arella pun mengeluarkan selembar kertas dan menyodorkannya ke hadapan Ellard.


"Apa ini?" Kedua mata Ellard membulat besar, melihat tulisan bertinta hitam yang di kertas itu.


"Sesuai perjanjian yang tertera di surat kontrak, aku memberimu modal untuk merenovasi toko kue milik Lilith. Kemarin kalian minta renovasi diserahkan pada kalian, kan?" ucap Arella.


"Kamu serius? Merenovasi toko kue dengan uang segini?" tanya Ellard tak percaya.


"Iya. Kenapa? Kurang, ya?" balas Arella lagi.


"Gila sih ini. Dia polos atau gimana? Masa dia nggak tahu, berapa besar biaya untuk renovasi toko seperti itu?" gumam Ellard dalam hati. Dia masih nggak percaya, Arella memberikan cek sebesar hampir satu milyar untuk biaya renovasi toko kue milik Lilith.


Arella menggeser kursinya, lalu duduk di dekat Ellard. Dia pun menggenggam tangan pria itu dengan lembut.


"Maaf, ya. Anggaran yang aku punya untuk renovasi cuma segitu. Jadi kalian harus memanfaatkannya dengan baik, biar nilai jual toko kue kita bisa cocok untuk kalangan atas. Kalau dananya kurang, aku tak bisa menambahnya lagi," ucap wanita itu.


"Oh, aku pasti akan mengelola dana ini dengan baik," kata Ellard dengan cepat. "Ini sih lebih dari cukup. Aku bisa berfoya-foya dengan uang ini," pikir Ellard.


"Baguslah. Aku tunggu hasil renovasinya dua minggu lagi, lalu kita launching toko itu mengundang gubernur dan beberapa rekan artisku," balas Arella dengan senang.


"Wah, ide bagus, tuh," balas pria itu.


"Tapi ada satu syarat sebelum kamu mengambil uang ini," bisik Arella dengan manja.


"Syarat apa?" Detak jantung Ellard tak beraturan, saat Arella menempel manja padanya.


"Jangan kasih tahu istrimu kalau aku memberi uang sejumlah ini. Bukan apa-apa, aku sedikit ragu dengan sifatnya," kata Arella lagi.


"Oh, aku mengerti. Dia memang agak boros. Aku pasti akan berhati-hati dan melaporkan penggunaan uang ini padamu," kata Ellard.

__ADS_1


"Huh! Padahal tanpa di suruh pun aku nggak bakalan memberi tahu dia. Karena ini adalah uang hasil kerja kerasku. Aku akan menggunakannya sendirian," batin Ellard dengan tamak.


(Bersambung)


__ADS_2