
"Oh iya, aku mau renovasi toko kue diserahkan padaku. Kita bisa menyesuaikan design interiornya sesuai keinginanku. Terus yang paling penting, kita bisa memanipulasi biaya renovasinya. Jadi kita untung besar," kata Lilith sambil tersenyum licik.
"Aku nggak setuju. Kalau dari awal kita udah berbohong, selanjutnya bisnis kita nggak akan berjalan lancar. Ini berbeda dengan Anella dulu." Ellard menolak ide sang istri tanpa berpikir lebih dulu.
"Cih, padahal itu salah satu trik bisnis yang aku pelajari. Kamu kan bisa menenangkan hatinya dengan ketampananmu dan kepiawaianmu di atas kasur. Kemarin aku sengaja memancingnya untuk menguasaimu, waktu kita nggak sengaja berpapasan."
Lilith terus mengucapkan ide-ide gilanya. Dia melakukan segala cara untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan dampaknya di kemudian hari.
"Nggak sengaja ketemu? Aku yakin kamu sengaja menguntitku sampai ke sana," kata Ellard.
"Ah, rupanya aku nggak bisa berbohong padamu, ya? Aku memang sengaja menjebaknya agar terjerat padamu." Lilith memainkan ujung rambutnya sambil tertawa kecil.
"Aku nggak khawatir bermain dengannya, karena kamu kan udah operasi vasektomi. Jadi walaupun ragamu bersamanya, tapi hatimu harus tetap padaku," imbuhnya.
"Dia pikir laki-laki bisa gitu? Kalau udah dekat dengan seorang wanita, mana bisa lagi menjaga hatinya untuk istri?" kata Ellard dalam hati. Dia sangat percaya diri, bahwa Arella pasti menyukainya.
"Ayo kita makan. Supnya sampai dingin karena kita kelamaan mengobrol," ajak Lilith.
Ellard tiba-tiba menggenggam tangan sang istri, lalu menatapnya dengan hangat. "Jangan khawatir, sayang. Hatiku pasti akan selalu bersamamu. Mana mungkin aku meninggalkan wanita yang udah berjuang dari bawah bersamaku?" kata Ellard, persis seperti para buaya darat lainnya.
"Iya, aku percaya. Ayo makan. Aku bisa mendengar suara cacing demo dari perutmu, tuh," kata Lilith sambil tertawa kecil.
"Wah, iya kah?" Ellard menyendokkan sup ayam yang sudah agak dingin itu ke dalam mulutnya. "Hm, enak. Makananmu selalu sesuai dengan seleraku." Pria itu menghabiskan sup dengan lahap.
"Beneran? Kalau mau tambah atau masakan lain bilang aja," kata Lilith senang.
Ellard menggelengkan kepalanya. "Aku cuma mau tambah sup aja. Nanti malam kamu nggak usah masak lagi, karena aku mau mengajakmu makan malam di luar. Kamu yang pilih tempatnya," kata Ellard.
__ADS_1
"Ka-kamu serius? Aku boleh memilih tempat paling mahal?" tanya Lilith bersemangat.
"Boleh, dong. Kalau perlu kita sekalian beli baju yang sesuai untuk pergi makan malam nanti," kata Ellard dengan senyuman manisnya yang khas.
"Hah, syukurlah Ellard tetap memihak padaku. Akulah yang berhasil membuatnya menyingkirkan istri, yang udah bersamanya sejak kecil," ucap Lilith penuh kemenangan. "Dan sekarang aku nggak akan membiarkan Ellard lepas dari cengkeramanku, walau pun Arella menggodanya habis-habisan," batinnya lagi.
"Bersenang-senanglah kamu sementara waktu ini, sampai aku mengumpulkan kekayaan darimu. Karena aku cuma memanfaatkanmu untuk mengumpulkan harta kekayaan, Arella." Lilith tersenyum sendiri, memikirkan ide gilanya yang sangat briliant.
Diam-diam dia mengirim pesan singkat pada Arela. "Ternyata kamu menepati ucapanmu, ya. Memulangkan suamiku di pagi hari," tulisnya penuh kata sindiran.
Tak berselang lama, balasan dari Arella pun diterima Lilith.
"Wah, masa? Padahal kami berpisah sejak pukul sembilan malam, karena aku ada perjalanan dinas mendadak ke Indonesia." Arella mengirimkan foto bukti cek in hotelnya di Pulau Belitung, bersama fotonya di pantai penuh bebatuan indah.
"Hah? Apa? Terus kenapa dia nggak pulang tadi malam? Sama siapa dia semalaman?" Lilith mendadak memandangi Ellard dengan tatapan tajam.
"Huh! Menyebalkan. Dasar sok cantik. Lihat aja. Dia pasti bakalan cinta mati pada Ellard. Pada saat hal itu udah terjadi, aku akan menguasai semua harta Arella dan Ellard, lalu meninggalkan pria itu ke luar negeri. Istri pertamanya aja bisa aku bunuh, apalagi kamu yang hanya orang luar," pikir Lilith dalam hati.
"Kenapa, sayang?" Ellard meletakkan sendoknya, lalu menggenggam tangan istrinya dengan lembut.
"Eh, nggak apa-apa, kok," ucap Lilith kembali tersenyum.
"Aku tahu, dia pasti menyimpan sesuatu. Karena nggak mungkin Lilith setenang ini setelah memergoki aku bersama wanita lain."
Ternyata Ellard gak percaya begitu aja pada Lilith. Dia mengetahui gerak-gerik Lilith sangat mencurigakan.
"Tapi aku gak bakalan terjebak trik bodohnya itu. Aku pura-pura mengikuti rencana Lilith, dan mendapatkan semua harta Arella, sebelum Lilith merebutnya. Pokoknya orang yang akan menguasai harta Arella dan Anella adalah aku, bukan wanita tamak ini." Ellard menyusun rencana liciknya sendiri.
__ADS_1
***
"Waktu itu kamu ke sini membawa macaroon dua kotak. Sekarang kamu bawa cake apel kayu manis dan es krim vanilla. Padahal Ibu nggak kuat makan manis," ucap Nyonya Eleanor sambil terkekeh. "Kamu suka makan makanan manis, ya?" imbuhnya.
"Makanan manis itu membantu kita rileks, Bu. Ini gulanya sudah di atur, dan bisa dimakan sehari sekali," jelas Railo sambil menyendokkan es krim ke dalam mulutnya.
"Kamu benar-benar suka makanan manis, ya? Hati-hati, nanti gigimu bisa berlubang, loh," ucap Nyonya Eleanor lagi.
Railo terbahak mendengarnya. "Sekarang aku tahu, darimana sifat bawel dan perhatian Arella turun. Ibu dan dia sama persis, bahkan kata-kata yang diucapkannya," kata Railo.
"Huh, apa ini? Kenapa Mama dan Railo kelihatan akrab? Dari dalam kamar tadi aku juga dengar, kalau Railo pernah datang ke sini bawain macaroon untuk mama," ujar Arella dengan bibir manyun.
"Iya, aku memang pernah ke sini untuk jengukin Ibu. Karena Ibu baru aja pindah ke daerah sini, ku pikir Ibu bakalan kesepian. Eh, rupanya malah happy terus, tuh," kata Railo.
"Ibu senang, villa ini dijadikan panti asuhan dan perpustakaan umum sama Rhea. Villa yang udah lama kosong dan terbengkalai, jadi lebih bermanfaat. Ibu juga jadi punya teman setiap hari," balas Nyonya Eleanor.
"Yah, aku dan Rhea udah kehilangan orang tua sejak kecil. Dan hanya dirawat oleh paman, sampai dia nggak mau menikah demi kami. Tapi delapan tahun lalu dia meninggal karena sakit." Mata Railo berkaca-kaca mengingat momen yang sangat menyedihkan itu.
"Jadi karena itu, Rhea aktif di kegiatan sosial?" tanya Arella.
Railo menganggukkan kepalanya. "Aku dan Rhea paham, bagaimana sedihnya hidup tanpa keluarga. Jadi kami berusaha, agar tidak ada lagi anak-anak yang hidup seperti kami," ucapnya.
"Nak, jangan bersedih. Ayah, Ibu dan Pamanmu pasti sudsh bahagia di sana. Sekarang anggap aja Ibu sebagai Ibumu dan juga Rhea," kata Nyonya Eleanor dengan suara bergetar menahan tangis.
"Haaah, kenapa aku merasa de javu dengan kejadian ini, ya?" Arella mengingat momen di mana Ellard di angkat anak oleh Ibunya, saat mereka masih berusia sembilan tahun.
"Semoga Railo nggak seperti Ellard," doa Arella yang merasa trauma.
__ADS_1
(Bersambung)