Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 47. Prasangka


__ADS_3

“La, apa kamu nggak terlalu berlebihan mengerjai mereka seperti itu?” Nyonya Eleanor yang duduk di sebelah Arella dan mendengar semuanya sedikit merasa cemas. Dia kurang setuju dengan sikap dari putri tunggalnya tersebut.


“Duh, Mama. Ini sih masih belum apa-apa. Apa Mama lupa, seperti apa mereka memperlakukanku dulu? Selingkuh dariku, merebut semua harta milik kita, lalu membunuhku,” balas Arella sambil mendengus kesal.


“Iya, Mama tahu. Tapi dendam itu nggak baik. Biarlah Tuhan yang membalasnya,” balas Nyonya Eleanor lagi.


“Aku tahu hukuman mereka di akirat nanti akan jauh kebih berat daripada ini. Dan aku sih berharap mereka masuk penjara lalu dikurung selamanya. Tetapi, hukuman seperti itu aja msih belum cukup untuk menyadarkan dan membuka mata mereka lebar-lebar.”


Arella mengatupkan bibir rapat-rapat, memendam rasa marah yang membuncah hingga ke kepala.


“Nak …”


“Mama jangan khawatir. Kali ini aku nggak sendirian, kok. Mama cukup fokus nikmati liburan saja di sini. Kartu HP milik Mama aku sita dulu, supaya Ellard nggak bisa menelepon Mama. Untuk sementara, Mama pakai kartu local aja,” jelas Arella.


“Sebentar lagi kita akan memasuki babak utama. Ellard, Lilith, bersiap-siaplah menerima karma kalian,” ucap Arella sambil tersenyum licik.


...***...


“Hah?” Ellard menggeram kesal, saat kakinya tersandung tas belanja yang menumpuk di dekat pintu rumahnya.


“Duh, Lilith. Apa-apaan ini? Kamu baru membelinya hari ini? Berapa banyak lagi uang yang akan kamu hamburkan?” Pria itu mengomeli istrinya.


“Oh, sayang. Kamu udah pulang? Aku di sini. Kenapa marah-marah, sih? Telingaku jadi sakit.” Lilith yang sedang berada di ruang tengah, menyahut ucapan suaminya tanpa menampakkan diri. Pria itu pun langsung mencari keberadaan sang istri.


“Kamu lagi ngapain, sih? Sebenarnya sudah berapa banyak kamu menghamburkan uang hari ini?”


Ellard mendapati istrinya sedang melakukan massage dengan seorang ahli pijat wanita. Wanita itu menelungkup di atas matras kecil. Bahu dan punggungnya tampak terbuka lebar, sementara tubuhnya ditutup kain putih yang tipis. Sekilas, lekuk tubuh wanita itu, terutama di sela pahanya yang sedikit terbuka, dapat dilihat dengan jelas.


“Kenapa kamu mengomeliku kayak gitu, sih? Kan sekarang kita setiap hari selalu menghasilkan banyak uang. Belanjaanku itu masih tidak ada apa-apanya,” ucap Lilith menggerutu kesal. “Duh, Bu. Itu agak sakit. Jangan di urut terlalu kuat,” pinta Lilith, saat tukang pijat itu mengurut pergelangan kakinya.


“Ck! Selama ini aku membiarkannya menghamburkan banyak uang. Sebanyak yang diam au, untuk menutupi perselingkuhanku dengan Arella. Tapi bukannya ini sudah keterlaluan?”

__ADS_1


Ellard yangsudah merasa pusing dan bayak pikiran sejak tadi mlam, semakin mudah tersulut emosi melihat pemandangan itu.


“Kalau begini terus, uang yang seharusnya aku nikmati sendirian, bisa-bisa dihabiskan oleh Lilith seorang diri,” ucap Ellard dalam hati.


“Kenapa melihatku kayak gitu? Kamu mau dipijat juga? Ibu ini bisa mengembalikan fungsi benda pusaka. Jadi permaiananmu di atas ra*nja*ng bisa semakin memuaskan. Kamu nggak perlu malu, benda milikmu dilihat olehnya.” kata


Lilith menawarkan Ellard untuk ikut dipijat, tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sesekali dia mend*es*ah pelan, menikmati gerakan tangan wanita paruh yang memijat tubuhnya itu.


“Nggak perlu! Aku lelah!” balas Ellard sambil mendengus kesal.


“Oh, iya. Apa kamu mau kupanggilkan satu orang therapist lagi? Yang lebih muda dan cantik?” tawar Lilith masih belum peka.


“Udah kubilang, aku nggak perlu dipijat!” bentak Ellard. “Setelah kamu selesai pijat, kita bicara dulu. Ada banyak hal yang harus kamu selesaikan,” kata Ellard lagi. Dia kemudian meninggalkan ruang tengah dan pergi ke kamarnya.


Bam! Lilith mendengar Ellard membanting pintu dengan kuat.


“Ih, apa-apaan, sih? Kenapa dia kasar banget?” gerutu Lilith menggerem kesal. Mendadak Lilith teringat sesuatu. Dia pun membelalakkan matanya. “Astaga! Apa dia habis bertengkar dengan Arella? Sejak tadi malam dia memang terlihat nggak baik-baik aja, kan?” pikir wanita bertubuh mungil, namun kuat di kasur itu.


Lilith tiba-tiba mengangkat bahunya. Kain putih yang menutupi tubuhnya pun meluncur ke lantai. Bagian depannya yang bulat dan mungil, dengan ujung coklat kemerahan pun terpampang dengan jelas. Namun Lilith cuek, karena tidak ada seorang pun lawan jenis di situ.


Kretek! Punggung Lilith tanpa sengaja ditekan dengan keras oleh tukang pijat itu, karena Lilith mendadak berubah posisi.


“Aww! Sakit, sialan! Buknkah sudah kub ilang tadi, supaya memijatnya perlahan saja.” Lillith membentak wanita paruh baya itu dengan segala sumpah serapah yang memekakkan telinga.


“Ma-maafkan aku. Aku nggak sengaja,” ucap wanita itu sambil menunduk meminta maaf.


“Haah, dasar orang miskin rendahan! Kau memang gak memiliki adab. Percuma kau bekerja di tempat teraphist terkenal kalau kemampuanmu masih kampungan.” Lilith masih terus membentak dan menghardik wanita tua tersebut.


“Aku minta maaf, Nyonya. Bagian mana yang sakit? Bia raku urut lagi,” ujarnya memberikan penawaran.


“Cih! Udahlah! Aku udah nggak mood lagi untuk dipijat,” kata Arella sambl menutupi bagian depan tubuhnya yang terbuka. “Hei, sebenarnya berapa banyak uang yang kamu hasilkan dalam sehari, kalau bekerja seperti ini? Lilith tiba-tiba melemparkan pertanyaan random pada ahli pijat tersebut.

__ADS_1


“Duh, rasanya malu untuk dibilang. Karena untuk kebutuhan sehari-hari aja masih nggak cukup. Makanya aku juga bekerja sambilan sebagai tukang cuci piring di restoran,” jawab wanita itu.


“Kalau untuk hidup sekarang aja nggak cukup, gimana waktu kamu tua renta nanti? Memangnya kamu punya suami kaya raya yang bisa membiayai hidupmu nanti? Ah, aku lupa. Memangnya siapa yang mau menikahi wanita tua dan jelek kayak kamu, ya?”


Wajah sang teraphist berubah masam, mendengar ucapan Lilith yang sangat merendahkan dirinya. “Aku punya suami, kok. Dia bekerja di sebuah pabrik gula dan permen. Lalu, aku juga memiliki seorang anak yang kuliah di Jerman,” ungkap wanita itu. Dia nggak terima direndahkan oleh Lilith seperti itu.


“Hmm … Iya … Iya .. Aku percaya. Perjuangan hidupmu memang layak diapresiasi,” komentar Lilith sambil tertawa mengejek. “Tapi berbisnislah kalau mau menghasilkan uang banyak. Manfaatkan waktumu selagi masih muda. Duh, maaf. Aku lupa kalau kamu sudah tua, ya? Masa mudamu pasti terlewat begitu aja.” Lilith tertawa kecil, penuh dengan kesombongan. Dia menatap wantita berseragam hijau itu dengan tatapan remeh.


“Harusnya kamu mencontohku. Membuat orang yang bisa memberikan aliran dana unlimited percaya padamu. Lalu berinvestasilah pada hal yang di masa depan harganya akan berkali-kali lipat. Contohnya saja tanah dan gedung. Dengan begitu nggak perlu keluar banyak tenaga untyk menghasilkan uang banyak. “


Lilith sok-sokan menasehati perempuan yang usianya dua decade lebih tua darinya.


“Jadi maksud Nyonya, kita harus jadi benalu pada kehidupan orang kaya. Lalu saat dia lemah dan terjatuh, kita harus mencari inang baru untuk tempat hidup?” Tak disangka, wanita berpenampilan sederhana itu berani menyidir Lilith secara langsng di depan wajahnya.


“Apa kamu bilang? Kamu bilang kayak gitu karena iri dengan kehidupanku, kan?” benrak Lilith nggak terima.


“Untuk apa aku iri dengan wanita benalu yang punya mulut lebih tajam daripada silet? Aku bahagia dengah kehidupanku sekarang, tanpa ada tekanan sosial dari siapa pun,” ucap wanita tua itu sambil mengemas barang-barangnya.


“Kalau begitu, aku pamit dulu, Nyonya.”


“Tunggu! Ini uang untuk membungkam mulut kotormu itu! Kamu pikir aku berbohong soal uang itu, kan? Tuh lihat, aku bisa membayarmu sepuluh bahkan serratus kali lipat dari gaji harianmu.” Lilith melemparkan uang jutaan ke hadapan wanita itu, berharap wanita itu segera memungutnya.


“Maaf, gaji dari perusahaan yang menaungiku sudah cukup membuatku bahagia. Gunakan saja uang itu untuk les kepriadian. Permisi.”


Tukang pujat itu lalu pergi meninggalkan Lilith yang menggerqm kesal. Dia nggak percaya, bahwa ada orang di dunia ini yang menolak uang.


“Lihat aja. Suatu hari nanti dia pasti akan mengemis di kaki orang-orang kaya, untuk menyambung hidupnya,” ucap Lilith dengan angkuh.


Wanita yang masih mengenakan kain putih tipis untuk menutupi tubuhnya itu tiba-tiba teringat, ada satu hal lagi yang belum dikerjakannya.


“Aku harus mengomeli Ellard, supaya dia cepat-cepat baikan pada Arella,” gumam Lilith dalam hati.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2