
"Sayang, apa bagian yang dioperasi kemarin baik-baik aja? Jangan terlalu banyak bergerak. Nanti kalau kenapa-kenapa kan bisa bahaya," ujar Lilith setelah menyelesaikan kegiatan mereka bersama.
"Kamu mengkhawatirkan aku? Ya ampun, manis banget, sih? Ellard mengecup kening Lilith dengan lembut. "Ternyata bukan wajahmu aja yang cantik, tetapi juga hatimu, ya."
"Apaan, sih? Nggak usah menggombal. Itu udah menjadi kewajibanku sebagai calon istri," kata Lilith. Bahunya yang indah, tampak terekspose tanpa penutup.
"Tapi, kenapa kamu melakukan itu?" Raut wajah Ellard mendadak berubah menjadi lebih tegas.
"Eh, maksudmu apa?" Lilith menelan ludahnya, melihat Ellard seperti orang yang menahan emosi.
"Dasi itu. Kamu sengaja melakukannya, kan? Mana mungkin aku meninggalkan dasiku di toko?" ujar Ellard membentak kekasihnya.
Lilith menghela napas panjang. Air menggenang di pelupuk matanya. "Aku nggak mau jadi bayangan selamanya, El. Aku juga ingin diakui, bukan bersembunyi seperti ini terus.
"Lilith, biar pun begitu, semua kan ada urutannya. Aku nggak akan mengingkari janji, kok. Masa aku akan mengakhiri hubungan yang udah kita jalin selama tiga tahun ini?"
Lilith tak tahan menumpahkan air mata, di selimut putih yang menutupi tubuh polosnya.
"Eh? Kenapa kamu malah menangis?" tanya Ellard bingung.
"Apa benar aku ini cinta pertamamu? Kalau iya, kenapa kamu membiarkanku seperti ini? Katanya hubunganmu dengan wanita itu hanya sebatas balas budi?"
"Kamu salah, Lilith. Hubunganku dengan dengannya bukanlah balas budi. Aku hanya ingin mengumpulkan harta mereka sebanyak-banyaknya," batin Ellard.
"Apa balas budi jauh lebih penting daripada cinta sejati?" tanya Lilith lagi.
"Tentu saja cinta lebih penting." Ellard memeluk kekasihnya dengan erat.
"Aku nggak bisa menunggu seperti ini terus. Kalau kamu nggak bisa mengakhiri hubungan dengannya, maka lebih baik kita yang menyingkirkan wanita itu," ucap Lilith penuh amarah.
"Lilith, apa yang kau pikirkan? Aku nggak mau jadi seorang kriminal," kata Ellard tak setuju.
"Ya jangan ketahuan siapa-siapa, dong. Kalau kalian bercerai lalu dia minta harta gono gini gimana? Memangnya ada bagian untukmu nanti?" ucap Lilith meyakinkan kekasih gelapnya itu.
"Ah, benar juga. Kenapa aku nggak terpikir dari dulu? Kalau dia meninggal, semua harta warisannya akan jadi milikku." Ellard senyum-senyum sendiri membayangkannya.
__ADS_1
"Jadi kapan kita akan melakukannya?" tanya Lilith bersemangat.
"Tunggu dulu. Kita harus menyusun rencana dan mencari waktu yang tepat," kata Ellard. "Tunggu sampai semua harta itu jadi balik namaku, karena sudah dalam proses," sambung Ellard dalam hati.
...***...
"Kenapa nggak kedengaran apa-apa sejak tadi? Sepertinya yang jaga kasir hari ini bukan wanita itu."
Anella yang sejak tadi berusaha memantau pergerakan sang suami, tak bisa mendapatkan apa-apa. Beberapa penyadap yang dipasangnya di toko tak berhasil menangkap suara yang mencurigakan.
"Kalau aku meletakkan penyadap itu di barang milik Ellard, dia pasti akan curiga. Tadi pagi aja mobil barunya langsung dibawa ke tempat langganan, untuk mengecek ada alat pelacak atau nggak," kata Anella pada dirinya sendiri.
"Terus kalau kayak gini terus, kapan aku bisa mengungkap sikap bejat mereka berdua? Aku berusaha mencari nomor apartemen mereka tapi gagal," keluhnya.
Anella memandang arak-arakan awan yang melintas di langit dari balkon kamarnya. Udara musim gugur yang kian sejuk, menyapa kulit Anella yang hanya nengenakan baju katun tipis. Warna cokelat dari dedaunan kering, mendominasi seluruh halaman dan jalanan.
"Aku benci musim gugur," gumam Anella.
Musim gugur selalu mengingatkannya pada sang papa, yang pergi begitu mendadak tanpa meninggalkan pesan sedikit pun.
Di hari itu kakinya juga terluka parah karena menyelamatkan teman kecilnya yang begitu berharga, hingga dia harus meninggalkan taekwondo, yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.
"Lihatlah, sekarang orang yang telah aku selamatkan justru menusukku dari belakang," kata Anella geram. "Tapi kenapa dia membuat kue dengan tema musim gugur, ya? Apa mereka sengaja melakukannya untuk mengorek luka lamaku?"
Hati Anella kembali merasa pedih, ketika mengingat semua fasilitas yang diberikan ibu dan dirinya pada Ellard, digunakan untuk memanjakan wanita lain.
"Padahal dari dulu keluargaku selalu memberinya pendidikan, pekerjaan, uang dan barang-barang mahal. Apa dia nggak bisa bersikap baik padaku sedikit pun? Apa kurangnya aku di bandingkan wanita itu? Apa aku pernah berbuat salah padanya?" ucap Anella di sela isak tangisnya.
Sesuai permintaan Ellard, hari ini dia nggak boleh bekerja di kantor. Semua pekerjaan telah ditangani sendirian oleh Ellard, sementara dia hanya diizinkan bersantai di rumah. Ini sangat bertolak belakang dengan sifat Anella yang sangat rajin dan produktif sejak kecil. Berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa pun, semakin membuat Anella overthinking.
"Kayaknya Ellard sengaja melakukan hal ini, karena pelan-pelan ingin mengusirku dari perusahaan. Aku harus melakukan sesuatu," gumam Anella.
...***...
"Sayang, aku pulang."
__ADS_1
"Eh, sayang? Tumben kamu pulang siang hari? Apa ada sesuatu?" tanya Anella bingung.
Berbeda dari biasanya yang selalu pulang larut malam, kali ini Ellard justru pulang lebih cepat. Wajahnya juga terlihat sangat ceria dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Aku pulang sebentar, karena hari ini ingin makan siang denganmu," ucap Ellard sambil nengecup pipi sang istri.
"Oh ya? Kebetulan hari ini aku memasak sup daging. Aku panaskan sebentar, ya," kata Anella beranjak dari kursinya.
"Lho, kenapa kamu yang memasak? Bibi ART ke mana? Aku kan sudah bilang supaya kamu jangan terlalu capek," kata Ellard menunjukkan rasa sayangnya pada sang istri.
"Bibi ART ada, kok. Aku cuma merasa bosan aja karena nggak melakukan apa pun seharian. Lagipula aku mengerjakannya dibantu oleh Bibi ART," kata Anella.
"Tumben dia baik banget hari ini? Apa karena sedang menunggu hasil balik nama harta bendaku?" pikir Anella curiga.
"Ya sudah kalau begitu. Aku juga ingin merasakan sup buatanmu," kata Ellard. "Tapi ngomong-ngomong, kamu sedang melakukan apa?" tanya Ellard ketika melihat beberapa benda aneh berserakan di atas meja kerja Anella.
"Oh, ini black box mobilmu. Kamu kan sekarang udah dapat mobil baru, jadi mobil lamamu nggak digunakan lagi, kan? Aku ingin menyalin datanya ke laptop, agar tidak memenuhi memori," kata Anella.
"Black box mobil?"
Pupil mata Ellard membesar, saat mengingat ada benda itu di mobilnya. Peraturan di negara mereka, setiap mobil harus memiliki black box, untuk mengantisipasi ketika ada kecelakaan atau kejadian kriminal lainnya. Dan tentu saja alat itu dapat merekam semua kejadian di dalam mobil saat digunakan, dan melacak jejak perjalanan kendaraan roda empat tersebut.
"Bodoh sekali aku sampai melupakan benda kecil itu. Selama ini aku hanya fokus pada alat pelacak yang bisa dibongkar pasang saja," pikir Ellard panik.
"Kenapa kamu lakukan itu? Kamu belum menyalinnya ke laptop, kan?" Suara Ellard yang sejak tadi lemah lembut, langsung berubah menjadi sebuah bentakan.
"Eh, belum sih. Memangnya kenapa?" tanya Anella dengan wajah polos.
"Jangan lakukan itu. Apa kau tahu, nggak boleh sembarangan menyalin data dari dalam black box?" kata Ellard.
"Eh? Benarkah? Maafkan aku. Ini aku kembalikan," ucap Anella menyerahkan benda kecil itu pada sang suami.
"Duh, kenapa sikapnya beberapa hari terakhir ini selalu membuat jantungku hampir copot, sih? Kalau kayak gini bisa-bisa kebohonganku bisa ketahuan lebih cepat," ujar Ellard dalam hati.
Sementara Anella tersenyum kecil memandang wajah Ellard yang gusar. "Aku memang belum menyalin data black box itu ke dalam laptop, tetapi aku sudah menyimpannya di data cloud," ucap Anella dalam hati.
__ADS_1
(Bersambung)