Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 49. Rencana Terbaik


__ADS_3

Lilith melirik ke arah sang suami yang sudah terlelap. Lampu kamar yang temaram, memperlihatkan wajah tampan Ellard. Alisnya yang melengkung sempurna. Hidungnya yang mancung, serta bola matanya yang indah. Wanita mana pun pasti akan terpikat dengannya, pada pandangan pertama.


Tapi semua itu tidak berlaku bagi Lilith. Wanita itu butuh waktu dua tahun untuk menyeleksi Ellard, di antara para pria kaya raya lainnya, dan menjadikannya pacar. Lilith yang dulu bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran Perancis, sering menemui pria-pria kaya. Itulah kesempatannyauntuk mencari pria paling kaya, di antara yang kaya.


Wajah tampan Ellard hanyalah bonus baginya. Sebelum menjalin hubungan dengan suami Anella tersebut, Lilith pernah menjalin hubungan dengan duda kaya raya yang usianya terpaut dua puluh lima tahun darinya. Bahkan putri pertama pria itu satu tahun lebih tua darinya.


Lilith juga pernah menikah diam-diam dengan pemilik restoran tempat dia bekerja. Namun hubungan mereka nggak sampai tiga bulan. Lilith pun dipecat dan diusir, karena tertangkap basah bermesraan di dalam dapur, bersama pria gendut itu.


Lilith yang lahir dari rahim seorang wanita malam tanpa tahu ayahnya itu, sempat menjadi tunawisma sebelum bertemu dengan Ellard. Hanya dengan cinta satu malam yang tanpa sengaja, dia pun akhirnya bisa menggaet pria itu ke dalam pelukannya.


"Sebenarnya kakek duda itu yang paling sempurna, sih. Karena dia memiliki harta yang unlimited. Sayangnya kami harus putus, karena putrinya yang ingin menguasai harta ayahnya sendirian," pikir Lilith penuh penyesalan.


Dengkuran pelan Ellard, membuat ekor mata Lilith kembali menatapnya Senyum kembali merekah di bibir wanita itu, tatkala teringat kembali teringat kata-kata pria itu siang tadi.


"Untung aja dia bisa dibujuk. Sekarang aku nggak perlu memusingkan apa-apa lagi. Nanti begitu ada kesempatan, aku akan membeli apartemen di luar negeri lalu pindah ke sana. Pelan-pelan aku akan mengakhiri hubungan dengan pria ini."


Dalam remang cahaya lampu, Lilith yang masih terjaga sibuk menyusun rencana untuk membawa kabur harta benda dari Ellard. Dia tak ingin hidup lebih lama lagi bersama pria itu. Lilith ingin menikmati hidup layaknya miliarder, tanpa hubungan dengan siapa pun.


"Lagian Ellard sudah menjalani operasi vasektomi. Jadi aku nggak mungkin memiliki anak darinya. Aku pun nggak perlu keluar uang untuk mengasuh seorang anak. Uang yang kudapatkan darinya nanti, bisa kupakai sendirian seumur hidup."


Lilith menyeringai lebar, memikirkan rencananya yang begitu sempurna. Dia tak peduli dengan apa pun lagi. Yang terpenting saat ini hanyalah uang dan harta kekayaan.


"Duh, aku lupa. Perhiasan mahal milik Anella juga sebaiknya aku jual aja. Rasanya mengerikan memakai barang milik orang mati. Lagian perhiasan itu juga nggak bagus-bagus amat. Masih kalah jauh dibandingkan milik Arella."


Lilith rupanya masih menyimpan rasa kesal, karena Arella memakai perhiasan yang jauh lebih mahal dan langka darinya.


"Lihat aja nanti. Setelah aku menjual perhiasan dan gedung bagianku, aku bisa membeli apa aja yang aku inginkan, tanpa mendengar omelan dari Ellard lagi," tekad Lilith.


...*** ...


Lima hari kemudian.


Ellard berjalan di antara pohon maple yang mengeluarkan bau harum. Senyum lebar merekah di wajahnya. Sesekali dia bersenandung kecil, sambil melempar kacang ke arah tupai yang berlompatan di dahan pohon maple.


"Akhirnya semua yang harus diurus selesai juga. Aku sudah membagi-bagi semuanya sesuai permintaan Lilith. Sekarang tinggal mencari cara supaya mencari keberadaan Nyonya Eleanor lalu menghabisinya, agar gedung-gedung itu kembali menjadi milikku."

__ADS_1


Kepala Ellard penuh dengan rencana jahat, untuk melenyapkan jejak sang ibu mertua yang juga orang tua angkatnya itu. Dia berpikir bahwa satu-satunya ahli waris dari Nyonya Eleanor adalah dia. Maka dengan melenyapkan wanita itu, otomatis semua harta benda pun kembali jatuh ke tangannya, tanpa perlu bersusah payah.


"Aku sudah mencari tahu keberadaan wanita renta itu. Kemarin dia ke Korea, lalu hari ini berangkat ke Jepang untuk mencari purtrinya."


Ellard membaca kembali pesan singkat yang dikirimkan salah seorang detektif swasta yang dibayarnya. Detektif itu melaporkan, bahwa KTP dan passpor milik Nyonya Eleanor terakhir kali terlacak di Bandara Internasional Incheon.


"Hahaha ... Teruslah mencari putrimu hingga ke ujung dunia. Sampai kapan pun, kamu nggak akan pernah menemukannya lagi. Kecuali kamu pindah alam. Hanya aku satu-satunya ahli warismu," pikir Ellard.


Pria itu berencana menyuruh seseorang untuk membunuh ibu mertuanya, ketika wanita itu berada di Jepang. Ellard berharap semua rencananya berjalan mulus, lalu pergi ke luar negeri membawa semua harta bendanya. Dia ingin memulai hidup baru di negara tetangga.


"Setelah itu, aku akan memberikan bagian yang Lilith minta. Bukan harta, tapi karma untuk dia," ucap Ellard tertawa terbahak-bahak.


"Ehem!"


"A-arella?"


Tawa Ellard menghilang seketika, saat dia melihat seorang wanita berdiri di dekat mobil hadiah anniversary dari ibu mertuanya itu. Hanya harta itu yang selamat dari genggaman tangan Lilith saat ini.


"Ekspresimu kok kaget gitu, sih? Kamu nggak senang bertemu lagi denganku, setelah dua bulan berpisah?" Arella mengerucutkan bibirnya ke depan. Kakinya yang jenjang dia langkahkan mendekati Ellard.


"A-aku senang, kok. Tapi kenapa kamu bisa tiba-tiba ada di sini?" jawab Ellard tergagap.


"To-toko? Kamu belum lihat, kan?" balas Ellard dengan napas tertahan. "Mampus aku! Pasti dia bakalan marah, karena sampai sekarang aku belum juga merenovasi toko.


"Aku udah lihat, kok."


Deg! Jawaban Arella barusan membuat lutut Ellard lemas.


"Aku suka sama hasilnya. Bagus banget. Nggak nyangka kamu punya selera yang sangat tinggi," kata Arella memuji Ellard.


"Haha? Hasil apa yang bagus? Apa sih yang dia maksud? Kok dia nggak marah?" Ellard membatin dalam hati, seraya mengerutkan keningnya.


"Jadi, kapan kita bisa launching toko baru itu? Aku udah nggak sabar mengembangkan sayapku di bisnis kuliner ini," kata Arella lagi. Wajahnya yang ceria, sama sekali tak menyiratkan kemarahan. "Kalau hari sabtu depan gimana?" sambungnya lagi.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sih? Nanti aku harus pulang lewat toko, supaya paham apa yang dia maksud," ucap Ellard dalam hati.

__ADS_1


"Ellard? Kamu kok diam aja? Apa sabtu depan itu terlalu cepat untuk launching?" Arella mengguncang bahu Ellard yang sedang melamun.


"Astaga! Maaf. Sabtu depan aku sudah ada kegiatan lain. Lagian itu memang terlalu cepat. Kita butuh persiapan yang lebih matang untuk melaksanakan acara ini," kata Ellard asal.


"Hm, ya udah. Nanti kita atur ulang jadwalnya," timpal Arella.


"Terus La, soal yang waktu itu ..." Ellard menggantung kalimatnya.


"Yang waktu itu?" Arella mengerutkan keningnya menanti kelanjutan ucapan Ellard. "Ah, maaf. Maksudnya soal rekening itu? Nanti siang tim keuangan di perusahaan akan mengurusnya," sambung Arella beberapa saat kemudian.


"Jadi nanti uang hasil sewa gedung dan hotel kembali masuk ke rekeningku, kan?" ucap Ellard memastikan.


"Iya, tentu aja. Kamu nggak usah khawatir," kata Arella mengedipkan sebelah matanya.


"Baguslah. Dengan begini aku bisa cepat-cepat meninggalkan Lilith si ular betina itu sendirian," batin Ellard senang.


"Nggak cuma itu. Aku juga menyiapkan hadiah lain yang lebih spesial untukmu," bisik Arella di telinga Ellard beberapa saat kemudian.


"Hadiah spesial?" Ulang Ellard.


Arella mengangguk pelan. "Kamu suka kapal, kan? Aku sengaja membelinya untuk liburan kita berdua," bisik Arella dengan manja. "Sebenarnya itu hadiah anniversary dari mama waktu itu, sih," sambungnya dalam hati.


Jemarinya berselancar di layar HP, menunjukkan sebuah kapal berwarna putih. Kapal berukuran kecil itu berlabuh di sungai besar kota mereka.


"Tentu aja aku suka. Apalagi berduaan sama kamu," balas Ellard.


"Kalau gitu kita ketemuan lagi nanti malam di apartemenku. Sekarang aku harus pergi dulu. Masih ada rapat di tempat lain," ucap Arella.


"Oh, oke. Aku tahu kamu pasti sibuk banget. Nanti malam aku hubungi kamu lagi," kata Ellard.


Dia sedikit bernapas lega, setelah Arella pergi meninggalkannya. Dia pun memasuki mobilnya dan beranjak pergi.


"Aku harus melihat keadaan toko. Setelah itu pergi membeli hadiah untuknya. Ku rasa uang di dalam rekening Lilith bisa ku tarik semua untuk beli hadiah," batin Ellard tertawa nakal. Lilith tak tahu, jika beberapa hari yang lalu Ellard membobol pin atm miliknya. Namun baru hari ini dia hendak mengambil uangnya.


Dua puluh menit kemudian, Ellard telah sampai di depan toko kue milik Lilith. Dia tercengang melihat toko tua itu sudah berubah dengan tampilan lebih baru. Memang tidak terlihat perubahan dari bentuk bangunannya. Namun design interior dan eksteriornya berubah jauh lebih modern.

__ADS_1


"Siapa yang merenovasinya? Kenapa bisa berubah hanya dalam waktu semalam? Nggak mungkin kan Arella yang mengurusnya?" Ellard merasa kebingungan.


(Bersambung)


__ADS_2