Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 7. Asal Usul Pria Laknat


__ADS_3

"Selamat siang, Bu Anella. Semua surat-surat balik nama untuk Pak Ellard sudah selesai semua." Pak Alex selaku notaris pribadi dan perusahaan keluarga Anella, memberikan laporan.


"Terima kasih, Pak Alex," jawab Anella.


"Apa Bu Anella nggak mau datang ke kantor, dan memberikan surat-surat ini secara langsung pada Pak Ellard?" tanya Pak Alex lagi.


"Nggak perlu, Pak. Saya percaya pada Bapak dan para pegawai kantor. Cukup berikan salinan suratnya saja padaku. Oh iya, jangan lupa dokumentasi berupa video dan foto saat penyerahan surat-surat itu," kata Anella dengan santai.


"Baik, Bu. Akan segera saya kirim," kata Pak Alex.


"Haaah, akhirnya harta yang telah dikumpulkan susah payah oleh papa, jatuh juga ke tangan hidung belang itu. Kalau bukan karena mama yang terlalu menyayanginya, aku enggan sekali memberikan harta ini padanya," kata Anella menghela napas panjang. "Tapi lihat saja nanti, aku pasti akan merebutnya kembali dengan mudah."


Anella berdiam di tepi kolam renang pribadinya, sambil menikmati secangkir teh hangat dan beberapa biskuit cokelat. Pikirannya menerawang jauh ke belakang, tepatnya saat usianya masih tujuh tahuh.


Saat itu papanya membawa seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya. Kata papanya, wanita itu adalah asisten rumah tangga baru di rumah mereka, dan bocah cilik bernama Ellard itu adalah anak tunggal wanita itu. Papanya juga menyekolahkan bocah itu di sebuah sekolah dasar dekat rumah mereka.


Anella yang sering kesepian pun senang karena memiliki teman baru. Namun ternyata keinginannya tak berjalan dengan mulus. Ellard adalah anak yang pendiam dan pemalu. Dia rupanya sering dibully oleh teman-temannya di kampung halaman, karena dianggap sangat miskin. Bahkan untuk membeli baju sekolah pun tak mampu.


Bukan Anella namanya, kalau cepat putus asa. Gadis cilik itu mendekati Ellard secara perlahan. Dia tak pernah bosan dan sakit hati, walau pun selalu diusir oleh Ellard.


Satu tahun pun berlalu, Anella dan Ellard tumbuh bersama dan semakin akrab. Hari-hari mereka dihabiskan dengan bermain dan belajar bersama. Bahkan banyak yang menyangka, jika mereka sebenarnya adalah saudara karena saking akrabnya.


Namun tidak ada yang tahu, jika Ellard menyimpan rasa iri pada sang gadis cilik itu. Dia merasa tak adil, karena harus tinggal di kamar yang lebih kecil, jika dibandingkan dengan kamar gadis kaya raya itu.


Ellard juga tak suka bersekolah di sekolahan biasa, berbeda dengan Anella yang mengenyam pendidikan di sekolah elit, dengan fasilitas serba lengkap. Ellard tak tahu, jika ibunya yang meminta dia disekolahkan di sama, karena merasa sungkan dengan majikannya yang harus membayar biaya sangat besar untuk sekolah anaknya.


Suatu hari di musim gugur, udara malam berembus sangat dingin. Penghangat udara yang telah dinyalakan, seakan nggak mampu mengentaskan udara yang teramat dingin.


Atas inisiatif bodohnya, Ellard pun mengambil beberapa ranting kering di halaman. Dia lalu membakarnya di sebelah kamar kecil mereka, untuk menghangatkan ruangan.


Naas, api tak hanya membakar tumpukan kayu, tetapi juga dedaunan. Angin yang bertiup cukup kencang, membuat api membesar dengan cepat, dan menyambar dinding rumah serta gorden jendela.

__ADS_1


Ellard yang ketakutan pun segera berlari ke kamar mandi, untuk mengambil air dan menyiram kobaran api tersebut. Namun nyala api yang terlalu besar, tak mampu dipadamkan oleh air satu ember kecil.


Alarm kebakaran pun berbunyi. Tuan Alarich dan Nyonya Eleanor bergegas melihat sumber kebarakan. Mereka pun mendapati asap yang telah mengepul pekat.


Tanpa menunggu pemadam kebakaran datang, Tuan Alarich pun kembali menerobos masuk ke dalam rumah untuk memasuki kamar. Dia berusaha menyelamatkan sang pembantu dan putra tunggalnya.


Tuan Alarich cemas, karena tidak menemukan Ellard di tengah kobaran api tersebut. Dia hanya menemukan sang pembantu yang telah lemas menghirup terlalu banyak asap.


Sementara Anella yang turut menyaksikan kebakaran itu, samar-samar mendengar suara jeritan dan tangisan anak kecil dari dalam kamar mandi.


Anella bergegas berlari menuju ke kamar mandi yang letaknya cukup jauh dari kamar. Rupanya Ellard terperangkap disana, dan tak bisa keluar karena sudah dipenuhi kepulan asap. Pintu juga tak bisa dibuka, karena gagangnya mulai terasa panas.


Dengan kemampuan taekwondonya, Anella menendang pintu kamar mandi dengan kuat berkali-kali hingga pintu itu terbuka. Gadis pemberani itu lalu menarik Ellard yang penakut untuk keluar dari sana, dan menjauhi kobaran api yang kian mendekat.


Namun Anella tidak bisa menggerakkan kakinya dengan sempurna. Sepertinya kakinya terluka, saat menendang pintu tadi.


Gubrak! Anella tersandung benda cukup keras, karena pandangannya terhalang oleh asap tebal. Untung saja mereka telah cukup jauh dari api. Anella juga sempat kehilangan jejak Ellard, yang telah berlari lebih dulu menuju ke halaman belakang rumah.


Duar!


Tiba-tiba terjadi ledakan dahsyat, tepat saat mobil pemadam kebakaran datang. Tak disangka, ternyata api tersebut juga membakar puluhan tabung gas portabel, yang mereka simpan di dalam gudang.


Tuan Alarich dan sang asisten rumah tangga pun tak selamat. Sementara Nyonya Eleanor terluka parah, akibat terpental jauh ke belakang.


Ceplash!


Anella tersadar dari lamunannya, saat seekor burung menyambar permukaan kolam renang.


"Ah! Ngapain sih aku mengingat kejadian menyebalkan itu? " ucapnya pada diri sendiri.


"Kenapa dulu aku menyelamatkannya, sampai kakiku patah akibat menendang pintu dan tersandung benda keras? Harusnya aku biarkan saja dia mati," umpat Anella lagi.

__ADS_1


Ekor matanya melirik ke arah layar ponsel, yang menunjukkan waktu pukul tiga sore.


"Sudah sepuluh menit sejak Pak Alex meneleponku. Sebentar lagi pria itu juga pasti akan menghubungiku," kata Anella dengan yakin.


Benar saja. Tak lama kemudian layar ponselnya pun menyala.


"Halo, Anella. Semua surat-surat balik nama sudah aku terima," kata Ellard melalui sambungan telepon.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya," balas Anella.


"Tetapi kenapa kamu membuat wasiat kalau aku enggak ada nanti semua hartaku diwariskan padamu atau ibumu?" Nada suara Ellard, seakan tak setuju dengan keputusan istrinya tersebut.


"Terus nanti warisannya mau diberikan pada siapa? Kita kan belum punya anak, dan keluargamu cuma aku dan mama," balas Anella lagi. "Dengan begini kamu nggak bisa sembarangan membagi hartamu kepada orang lain," sambung Anella dalam hati.


"Kamu ingin aku cepat mati, supaya hartanya cepat kembali padamu?" tanya pria itu dengan oktaf tinggi.


"Nggak dong, sayang. Aku justru berharap kita bisa hidup bahagia sampai tua. Aku bahkan sudah mendaftarkan asuransi kesehatan untuk kita berdua," jawab Anella tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Huh! Kalau begini kan aku jadi susah untuk meminta cerai," gerutu Ellard dalam hati.


"Ah, aku tahu kenapa kamu kesal. Kamu pasti mau membagi sedikit harta itu untuk kaum fakir miskin dan anak yatim, kan?" kata Anella pura-pura polos.


"I-iya begitu. Hahahah," jawab Ellard. "Sial! Dipikirnya aku ini adalah panti amal? Harta ini sudah susah payah aku kumpulkan dari dulu. Enak saja dia mau membaginya pada orang lain," umpat pria itu dalam hati.


"Sayang, kok diam? Ada apa?" tanya Anella.


"Aku cuma lagi berpikir, gimana caranya membalas semua kebaikanmu ini. Gimana kalau nanti kita makan malam bersama, sekaligus merayakan anniversary kita yang kedua kalinya," usul Ellard.


"Wah, aku mau banget," balas Anella.


"Lilith, sepertinya kita harus mempercepat rencana kita," batin Ellard.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2