Suami Titisan Iblis

Suami Titisan Iblis
Bab 32. Permintaan Arella


__ADS_3

"Hei, coba lihat ini."


"Villa tua? Kamu mau bikin panti asuhan lagi di sini? Ini sih lebih mirip wahana rumah hantu."


"Ish! Bukan itu maksudku. Ku dengar kamu bisa menghipnotis dan membuat orang berhalusinasi, ya?" selidik Arella. Kedua alisnya terangkat dengan bibir menyeringai kecil, menunggu jawaban dari Railo.


Railo yang mulutnya masih penuh dengan es krim, langsung buru-buru menelannya. "Kamu bercanda, ya? Aku nggak bisa. Mana ada ilmu kayak gitu di dunia ini," ujar Railo membantah ucapan Arella.


"Oh, ya? Tapi aku yakin kamu pasti bisa. Kamu kan bisa melakukan apa aja," balas Arella lagi.


"Sudah ku bilang, aku nggak bisa. Memangnya kapan aku bilang, kalau aku bisa melakukan apa aja?" kata Railo setelah menghabiskan sendokan terakhir es krimnya.


"Kamu memang gak pernah bilang. Yang selalu ku dengar, kamu itu nggak bisa atau susah dilakuin. Tapi pada akhirnya kamu tetap bantuin aku, kan? Kali ini kamu juga pasti bisa," goda Arella memaksa Railo, agar mau membantunya.


"Memangnya aku superman? Power Ranger? Atau pesulap handal? Aku cuma dokter biasa," kata Railo lagi.


"Duh, Mama pusing dengar kalian bertengkar," sela Nyonya Eleanor. "Arella, kalau Railo udah bilang nggak bisa jangan dipaksain. Permintaanmu selalu aneh-aneh, sih. Mama juga khawatir dengan rencana-rencana yang kamu buat," sambung wanita paruh baya itu.


"Tenang, Ma. Railo pasti bisa, kok. Karena dia punya ini." Arella mengangkat beberapa buah sertifikat yang dikeluarkan oleh instansi resmi, atas nama Railo Flynn.


"Siapa lagi kalau bukan adik kembarmu?" balas Arella sambil menyipitkan matanya. Dagunya dia angkat sedikit, dan tangan kirinya diletakkan ke pinggang. Wanita itu menunjukkan kemenangannya dengan angkuh.


"Dasar penghianat. Lihat aja nanti, dia gak akan kupinjami mobil lagi," gumam pria berambut priang dan mata hazel itu, sambil menggeretakkan giginya.


"Jadi? Kali ini kamu pasti membantuku, kan?" desak Arella lagi.


"Aku nggak bisa menggunakan ilmu itu sembarangan. Bisa-bisa aku kena teguran dari atasan, karena melanggar kode etik kedokteran," Railo tetap menolak permintaan Arella.


"Huh! Susah banget sih membujukmu. Aku jamin, kamu pasti gak bakalan kena pelanggaran kode etik. Kita bukan mau berbuat kriminal, kok." Tanpa menyerah, Arella terus membujuk Railo supaya mau membantunya.


"Um, memangnya apa rencanamu?" tanya Railo penasaran.


"Nah, ku anggap kamu setuju denganku. Ayo ikut aku ke villa. Nanti aku jelaskan rencanaku di sana," kata Arella kembali bersemangat.


"Hei! Aku belum bilang setuju. Aku cuma tanya, apa rencanamu?" Railo memperjelas kalimatnya, yang dipelintir eh Arella.


"Nggak usah Tsundere. Kamu pasti kasihan sama aku, terus diam-diam mau menolongku, kan?" balas Arella dengan senyuman menggoda. Dia lalu berdiri dari kursinya, lalu mengambil kunci mobil milik Railo yang diletakkan di meja.


"Siapa yang tsundere? Astaga! Bocah ini ngeselin banget, deh." Railo masih bergeming di kursinya, menolak untuk pergi ke villa serta membantu rencana wanita itu.

__ADS_1


"Udah, deh. Ikut aja dulu. Kamu pasti setuju sama rencana ini." Kali ini Arella menarik lengan Railo, lalu menggenggamnya dengan erat. Dia memaksa dokter ahli bedah itu berdiri dan mengikuti kehendaknya.


"Jangan bikin rencana yang aneh-aneh, Nak. Mama khawatir kamu celaka lagi seperti dulu," ucap Nyonya Eleanor.


"Tenang aja, Ma. Kali ini pasti aman, kok. Justru ini sangat menguntungkan Ellard dan wanita iblis kt"Hei, coba lihat ini."


"Villa tua? Kamu mau bikin panti asuhan lagi di sini? Ini sih lebih mirip wahana rumah hantu."


"Ish! Bukan itu maksudku. Ku dengar kamu bisa menghipnotis dan membuat orang berhalusinasi, ya?" selidik Arella. Kedua alisnya terangkat dengan bibir menyeringai kecil, menunggu jawaban dari Railo.


Railo yang mulutnya masih penuh dengan es krim, langsung buru-buru menelannya. "Kamu bercanda, ya? Aku nggak bisa. Mana ada ilmu kayak gitu di dunia ini," ujar Railo membantah ucapan Arella.


"Oh, ya? Tapi aku yakin kamu pasti bisa. Kamu kan bisa melakukan apa aja," balas Arella lagi.


"Sudah ku bilang, aku nggak bisa. Memangnya kapan aku bilang, kalau aku bisa melakukan apa aja?" kata Railo setelah menghabiskan sendokan terakhir es krimnya.


"Kamu memang gak pernah bilang. Yang selalu ku dengar, kamu itu nggak bisa atau susah dilakuin. Tapi pada akhirnya kamu tetap bantuin aku, kan? Kali ini kamu juga pasti bisa," goda Arella memaksa Railo, agar mau membantunya.


"Memangnya aku superman? Power Ranger? Atau pesulap handal? Aku cuma dokter biasa," kata Railo lagi.


"Duh, Mama pusing dengar kalian bertengkar," sela Nyonya Eleanor. "Arella, kalau Railo udah bilang nggak bisa jangan dipaksain. Permintaanmu selalu aneh-aneh, sih. Mama juga khawatir dengan rencana-rencana yang kamu buat," sambung wanita paruh baya itu.


"Tenang, Ma. Railo pasti bisa, kok. Karena dia punya ini." Arella mengangkat beberapa buah sertifikat yang dikeluarkan oleh instansi resmi, atas nama Railo Flynn.


"Siapa lagi kalau bukan adik kembarmu?" balas Arella sambil menyipitkan matanya. Dagunya dia angkat sedikit, dan tangan kirinya diletakkan ke pinggang. Wanita itu menunjukkan kemenangannya dengan angkuh.


"Dasar penghianat. Lihat aja nanti, dia gak akan kupinjami mobil lagi," gumam pria berambut priang dan mata hazel itu, sambil menggeretakkan giginya.


"Jadi? Kali ini kamu pasti membantuku, kan?" desak Arella lagi.


"Aku nggak bisa menggunakan ilmu itu sembarangan. Bisa-bisa aku kena teguran dari atasan, karena melanggar kode etik kedokteran," Railo tetap menolak permintaan Arella.


"Huh! Susah banget sih membujukmu. Aku jamin, kamu pasti gak bakalan kena pelanggaran kode etik. Kita bukan mau berbuat kriminal, kok." Tanpa menyerah, Arella terus membujuk Railo supaya mau membantunya.


"Um, memangnya apa rencanamu?" tanya Railo penasaran.


"Nah, ku anggap kamu setuju denganku. Ayo ikut aku ke villa. Nanti aku jelaskan rencanaku di sana," kata Arella kembali bersemangat.


"Hei! Aku belum bilang setuju. Aku cuma tanya, apa rencanamu?" Railo memperjelas kalimatnya, yang dipelintir eh Arella.

__ADS_1


"Nggak usah Tsundere. Kamu pasti kasihan sama aku, terus diam-diam mau menolongku, kan?" balas Arella dengan senyuman menggoda. Dia lalu berdiri dari kursinya, lalu mengambil kunci mobil milik Railo yang diletakkan di meja.


"Siapa yang tsundere? Astaga! Bocah ini ngeselin banget, deh." Railo masih bergeming di kursinya, menolak untuk pergi ke villa serta membantu rencana wanita itu.


"Udah, deh. Ikut aja dulu. Kamu pasti setuju sama rencana ini." Kali ini Arella menarik lengan Railo, lalu menggenggamnya dengan erat. Dia memaksa dokter ahli bedah itu berdiri dan mengikuti kehendaknya.


"Jangan bikin rencana yang aneh-aneh, Nak. Mama khawatir kamu celaka lagi seperti dulu," ucap Nyonya Eleanor.


"Tenang aja, Ma. Kali ini pasti aman, kok. Justru ini menguntungkan Ellard dan wanita iblis itu," kata Arella mengedipkan sebelah matanya.


Nyonya Eleanor tak bisa berkata apa-apa lagi. Sejak kecil sifat Arella Andzelika alias Anella, sangat keras kepala seperti dirinya. Jika ada sesuatu yang ingin dilakukan, tak seorang pun bisa mencegahnya.


"Ya udah kalau gitu, hati-hati ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi polisi," ucap Nyonya Eleanor mengalah.


"Bu, please tolong aku." Railo memandang ke arah Nyonya Eleanor untuk meminta bantuan. Tapi Nyonya Eleanor hanya tersenyum sambil bicara dengan isyarat mata, supaya Railo menjaga putrinya.


...*** ...


"Arella, kamu tidur? Kayaknya kita udah sampai di lokasi yang kamu tunjukin tadi. Di mana villa-nya?" Railo mengguncang tubuh Arella.


"Emhh, sudah sampai?" tanya Arella.


Wanita itu bergumam pelan, sambil menggeliatkan tubuhnya. Matanya terasa berat dan lengket. Seharian kemarin dia memang kelelahan dan kurang istirahat, karena baru saja pulang dari Indonesia.


"Kata GPS sih kita udah sampai. Tapi aku nggak lihat, villa-nya ada di mana. Tempatnya jauh banget, sih? Padahal kita berangkat dari jam tiga sore, baru sampai ke sini jam tujuh malam," ujar Railo.


"Sorry banget ya, ganggu waktu kamu. Nanti pasti bakal aku kasih tips gede pokoknya," jawab Arella. Wanita itu mengenakan jaketnya, karena udara di sekitarnya sangat dingin. "Ayo jalan. Villa-nya ada di bawah sana," ucapnya.


Arella dan Railo pun memarkir mobil di bawah pohon. Mereka kemudian berjalan kaki menuruni tangga batu, yang dikelilingi pohon maple dan apel. Suasana di sana gelap gulita. Tak ada penerangan sedikit pun, karena lokasinya sangat jauh dari perumahan penduduk dan bangunan lainnya.


Sebenarnya di bawah sana ada pelabuhan kecil, tempat para nelayan mendaratkan kapalnya setelah melaut. Namun di awal musim dingin begini, para nelayan pun menghentikan aktivitas mereka sementara waktu.


"Nah, itu dia tempatnya. Kamu bisa lihat, kan?" Arella berseru, sambil menunjukkan bangunan besar di antara pepohonan besar yang tumbuh rapat dan dipenuhi lumut. "Kamu bisa lihat mansion mewah di antara pepohonan itu, kan?" sambungnya.


Railo pun menyalakan senter yang dibawanya, lalu mengarahkannya ke bangunan yang ditunjuk Arella barusan.


Glek! Mau ngapain dia di tempat tinggal para hantu ini?" Railo reflek mundur beberapa langkah, saat senternya menerangi bangunan tua yang sudah dipenuhi lumut dan benalu itu.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2